Awal Perjalanan ke Labuan Bajo
Bayu padang rumput selalu digambarkan sebagai angin sejuk yang menenangkan. Namun, siapa sangka hembusan itu bisa berubah menjadi teror dalam mimpi. Perjalanan Raka ke Labuan Bajo awalnya hanya untuk mencari ketenangan setelah melewati tekanan pekerjaan di kota. Ia mendengar cerita tentang padang rumput yang indah di bukit sekitar pelabuhan, tempat terbaik untuk menyaksikan matahari tenggelam.
Namun, sejak pertama kali menapakkan kaki di sana, Raka merasa seakan ada sesuatu yang berhembus mengikuti langkahnya. Bayu padang rumput yang seharusnya menenangkan justru menimbulkan rasa dingin menusuk tulang. Ia mencoba mengabaikannya, berpikir mungkin tubuhnya hanya lelah.
Pertanda dari Angin
Malam pertama di penginapan, Raka bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah padang rumput luas dengan bulan purnama menggantung tinggi. Bayu padang rumput berembus kencang, membawa bisikan lirih yang tak dapat ia pahami. Suara itu semakin lama semakin jelas, seperti ada seseorang yang memanggil namanya.
Ketika ia menoleh, bayangan tinggi menjulang tampak berdiri di kejauhan. Tubuhnya samar, namun matanya berkilat merah menembus kegelapan. Raka terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jantungnya berdegup cepat, dan bayu padang rumput yang terasa menusuk itu seakan masih mengikuti hingga ke ranjangnya.
Jejak di Padang Rumput
Keesokan harinya, rasa penasaran mendorong Raka kembali ke padang rumput yang ia lihat dalam mimpi. Namun ada sesuatu yang membuatnya bergidik. Ia menemukan jejak kaki di tanah yang basah oleh embun. Jejak itu besar, jauh lebih besar dari kaki manusia biasa.
Bayu padang rumput kembali berembus, kali ini membawa aroma besi berkarat, mirip bau darah yang lama mengering. Raka mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa itu hanya halusinasi. Tetapi, bulu kuduknya berdiri ketika mendengar kembali bisikan lirih yang pernah hadir dalam mimpi.
Warga dan Kisah Tersembunyi
Saat malam tiba, Raka memberanikan diri bertanya pada pemilik penginapan tentang bayu padang rumput yang menghantui mimpinya. Wajah pemilik penginapan itu mendadak pucat, seakan ia sudah mendengar hal yang sama sebelumnya.
Menurut cerita lama, padang rumput di bukit Labuan Bajo itu pernah menjadi tempat persembunyian prajurit pada masa kolonial. Banyak yang terbunuh tanpa sempat dimakamkan dengan layak. Sejak saat itu, roh mereka diyakini gentayangan, tertiup dalam bayu padang rumput yang menghantui setiap orang yang tak sengaja melewati wilayah itu.
Malam Kedua: Mimpi yang Lebih Gelap
Malam berikutnya, mimpi Raka semakin menakutkan. Ia melihat dirinya berjalan di padang rumput yang sama, namun kali ini tubuhnya terasa kaku, seakan ada sesuatu yang mengendalikan langkahnya. Bayu padang rumput bertiup deras, membuat suara jeritan samar terdengar di telinganya.
Dari balik semak, muncul sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Bajunya putih lusuh penuh noda hitam. Ia mendekat perlahan, sementara suara angin semakin keras hingga menyerupai raungan. Raka terbangun sambil berteriak, tubuhnya gemetar hebat. Ia sadar mimpi ini bukan sekadar bunga tidur, melainkan peringatan.
Ketertarikan yang Berbahaya
Meski diteror, ada sesuatu yang membuat Raka terus tertarik pada padang rumput itu. Bayu padang rumput seolah memanggilnya, mengikat langkahnya agar kembali. Setiap kali ia mencoba pergi menjauh, angin berembus lebih keras, membawa bisikan yang terdengar seperti perintah.
Ia semakin yakin, roh-roh yang gentayangan di sana ingin menyampaikan sesuatu. Namun, ia juga tahu rasa penasaran itu bisa membawa dirinya pada bahaya yang tak bisa ia bayangkan.
Pertemuan dengan Sosok Penjaga
Pada malam ketiga, Raka memutuskan untuk tidak tidur. Namun, rasa kantuk akhirnya membuatnya tertidur di kursi dekat jendela. Mimpi itu datang lagi, kali ini lebih nyata dari sebelumnya. Ia melihat sosok pria berpakaian hitam dengan wajah penuh luka. Pria itu membawa lonceng kecil yang berdenting seiring embusan angin.
Suaranya serak, namun jelas: “Kau tidak seharusnya di sini. Bayu padang rumput telah memilihmu.”
Raka berusaha berlari, tetapi langkahnya berat. Padang rumput berubah menjadi lautan darah, dan sosok-sosok samar muncul dari setiap arah, menatap dengan mata kosong. Ia terbangun dengan teriakan tertahan, merasa napasnya nyaris terhenti.
Keputusan untuk Mengakhiri Teror
Raka sadar ia tidak bisa terus dikejar mimpi dan teror ini. Ia memutuskan kembali ke padang rumput pada siang hari untuk mencari jawaban. Saat tiba, angin berembus lembut, seakan tidak ada apa-apa. Namun, ketika ia berdiri di tengah lapangan, bayu padang rumput tiba-tiba berubah dingin, menusuk tulang, dan suara bisikan kembali terdengar.
Dengan berani, Raka berteriak, memohon agar roh-roh itu mengungkapkan maksud mereka. Seketika tanah bergetar, dan dalam bayang-bayang ilalang, ia melihat sosok wanita yang muncul dalam mimpinya. Wajahnya penuh luka, namun sorot matanya menatap penuh kesedihan, bukan kebencian.
Pesan dari Dunia Lain
Wanita itu mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Raka merinding. Ia berkata bahwa roh-roh yang terikat di padang rumput itu tidak bisa beristirahat karena tak pernah dimakamkan dengan layak. Mereka membutuhkan seseorang untuk mendoakan dan melepaskan mereka dari ikatan tanah berdarah itu.
Bayu padang rumput menjadi sarana roh-roh itu mencari perhatian, menghantui mimpi manusia agar ada yang mendengar jeritan mereka. Raka menangis, menyadari bahwa teror yang ia alami bukan sekadar kebencian, melainkan jeritan jiwa yang terjebak dalam penantian panjang.
Pelepasan di Tengah Angin
Raka menyalakan dupa dan berdoa di tengah padang rumput, meski tubuhnya gemetar hebat. Bayu padang rumput berembus kencang, kali ini membawa aroma bunga, bukan lagi bau besi berkarat. Perlahan, suara bisikan menghilang, digantikan keheningan yang tenang.
Sosok wanita itu tersenyum samar sebelum lenyap dalam cahaya. Sejak saat itu, mimpi Raka tidak lagi dihantui. Namun, kenangan tentang malam-malam penuh teror itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
Flora & Fauna : Habitat Orangutan Kalimantan Terus Menyusut Drastis