Malam Penelitian di Situs Majapahit
Malam itu, langit Mojokerto menggantung berat di atas kompleks situs Majapahit, seolah menyimpan sesuatu yang enggan dibocorkan. Di antara reruntuhan bata merah yang lembap, Damar melangkah perlahan sambil menyalakan senter kecil di tangannya. Ia adalah mahasiswa sejarah yang tengah menyusun skripsi tentang ritual pemakaman bangsawan Majapahit. Namun, sejak beberapa hari terakhir, ia justru lebih tertarik pada satu hal yang tak pernah tercatat di buku mana pun: aroma kemenyan yang muncul tiba-tiba setiap lewat tengah malam.
Meskipun kawasan situs sudah sepi, suara jangkrik dan serangga malam terus memenuhi udara, menempel di telinga seperti dengung yang tak mau hilang. Di sisi lain, angin yang lewat di celah-celah pohon jati memukul sisa kabut tipis yang tertahan di antara nisan tua. Sejak sore, juru kunci situs sudah memperingatkannya agar tidak terlalu lama di area makam tua di belakang museum kecil. Namun, rasa ingin tahu Damar justru semakin kuat, karena ia merasa ada cerita yang belum lengkap di balik peringatan itu.
Sementara itu, jam di ponselnya menunjukkan pukul 23.47. Waktu yang menurut catatan pribadinya, selalu berdekatan dengan munculnya aroma kemenyan yang samar namun menusuk ingatan. Karena penasaran, ia memutuskan untuk sekali lagi mendekati kompleks makam tua yang katanya masih menyimpan jasad orang-orang penting dari masa akhir Majapahit.
Makam Tua yang Tersembunyi di Belakang Museum
Untuk mencapai makam tua itu, Damar harus melewati jalan setapak tanah yang diapit semak dan batu bata berserakan. Selain itu, beberapa bagian tanah terasa lebih lembek, seakan pernah digali dan ditutup kembali tanpa rapi. Di ujung jalan setapak, tampak sebuah gerbang kecil dengan gapura bata merah yang sudah dimakan lumut. Di baliknya, barisan nisan batu tak beraturan berdiri miring, sebagian retak, sebagian hampir rebah.
Karena lampu taman di area itu sudah lama padam, satu-satunya sumber cahaya hanyalah senter kecil Damar dan sedikit sinar bulan yang lolos di sela ranting. Maka, setiap langkahnya memunculkan bayangan aneh di permukaan batu nisan, membuat tulisan-tulisan kuno tampak bergerak dan berubah bentuk. Menurut papan informasi, makam itu diyakini sebagai tempat peristirahatan seorang brahmana sekaligus penasihat raja pada masa keruntuhan Majapahit.
Namun, satu nisan di bagian tengah tampak berbeda. Batu tegaknya lebih tinggi, dan di depannya ada sisa-sisa wadah kecil dari tanah liat yang sudah pecah. Damar mendekat, lalu berlutut untuk mengamati. Saat matanya berusaha membaca ukiran yang sudah nyaris aus, angin yang tadi tenang mendadak berhenti. Udara di sekelilingnya menjadi lebih padat, dan keheningan yang turun terasa seperti selimut dingin yang menutup mulut dan telinga.
Saat Aroma Kemenyan Mulai Menguat
Beberapa detik kemudian, sesuatu yang ia tunggu sekaligus ia takuti mulai terasa. Awalnya, hanya sekilas. Namun, kemudian, aroma kemenyan itu perlahan muncul, merambat pelan di antara udara lembap. Baunya halus, tidak seperti kemenyan baru dibakar, melainkan seperti sisa asap lama yang menempel di kain dan kulit selama berabad-abad.
Damar menegakkan badan. Hidungnya mencoba mencari arah datangnya bau itu, tetapi tidak ada asap, tidak ada bara, dan tidak ada wadah pembakaran yang masih utuh. Walau begitu, baunya makin kuat, seolah ada tangan yang sengaja mendekatkan sumber kemenyan ke wajahnya.
Karena panik bercampur penasaran, ia mengeluarkan buku catatan kecil dan mulai menuliskan waktu, lokasi, dan intensitas bau. Meskipun tangannya sedikit gemetar, pikirannya tetap mencoba bertahan logis. Ia berencana menjadikan fenomena aroma kemenyan ini sebagai bagian menarik di bab interpretasi budaya dalam skripsinya. Namun, semakin ia memaksa diri untuk bersikap ilmiah, semakin jelas ia merasakan sesuatu yang tak ilmiah mengelilingi tubuhnya.
Sementara itu, di ujung penglihatan, bayangan nisan-nisan lain tampak mulai memanjang, seperti jika ada cahaya baru yang menyinari dari arah tempat lain yang tak terlihat. Damar mengangkat kepala, dan untuk sesaat ia merasa ada seseorang berdiri di belakang nisan tertinggi, meski ketika disorot senter, hanya batu retak yang kembali menatap.
Juru Kunci dan Peringatan yang Terlambat
Beberapa hari sebelumnya, juru kunci situs, Pak Suyat, sudah menceritakan padanya tentang kejadian aneh di area makam tua. Menurut cerita pria tua itu, pernah ada pengunjung yang diam-diam membakar kemenyan di depan nisan brahmana karena ingin “meminta restu” untuk kelancaran hidupnya. Namun, setelahnya, orang itu justru jatuh sakit dan terus-menerus mencium aroma kemenyan di mana pun ia berada, sampai akhirnya meninggal dalam keadaan bingung.
Kala itu, Damar hanya mengangguk sopan. Namun, dalam hati ia menganggap kejadian itu sebagai kisah sugesti bercampur ketakutan. Kini, ketika bau kemenyan yang sama memenuhi paru-parunya, peringatan Pak Suyat kembali terngiang jauh lebih tajam. Ia teringat kata-kata juru kunci yang pelan tetapi tegas: “Di sini, kemenyan bukan hanya untuk mengantar doa. Terkadang, kemenyan juga untuk memanggil yang belum rela pergi.”
Karena merasa dadanya mulai sesak, Damar berdiri dan mundur beberapa langkah. Namun, bukannya memudar, aroma kemenyan justru seakan mengikuti, menempel di pakaiannya, di rambutnya, bahkan di kulit tangannya. Dalam upaya menenangkan diri, ia memutuskan untuk meninggalkan area makam dan kembali ke mess kecil dekat museum.
Sayangnya, pada saat ia berbalik, senter di tangannya berkedip dua kali lalu mati. Dunia di sekelilingnya langsung ditelan gelap, hanya menyisakan garis samar dari bentuk-bentuk batu. Bersamaan dengan itu, bau kemenyan mencapai puncaknya, seakan ada gumpalan asap tak terlihat yang melingkari lehernya.
Suara yang Muncul dari Dalam Batu
Dalam kegelapan itu, Damar terdiam, mencoba mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri. Awalnya, hanya ada kesunyian pekat. Namun, segera setelah itu, telinganya menangkap suara tipis seperti bisikan jauh. Suara itu tidak jelas, seperti bahasa yang sudah lama dilupakan. Walau demikian, ritmenya seperti doa, diulang-ulang dengan tekanan tertentu.
Pelan-pelan, suara itu terdengar seolah berasal dari arah nisan tertinggi. Bukan dari belakang, bukan dari samping, melainkan seakan muncul langsung dari dalam batu. Di antara bisikan tersebut, Damar merasa ada beberapa kata yang anehnya ia pahami, meskipun ia tidak pernah mempelajari bahasa Kawi secara mendalam. Kata-kata seperti “janji”, “persembahan”, dan “ditinggalkan” muncul di kepalanya, tidak lewat telinga, tetapi lewat sesuatu yang lebih dalam.
Karena ketakutan bercampur keingintahuan, ia meraba-raba tasnya dan menemukan korek kecil yang disimpan untuk jaga-jaga. Dengan tangan bergetar, ia menyalakannya. Api mungil itu memantul di permukaan nisan, menampilkan ukiran samar yang nyaris hilang. Namun, di antara guratan yang tak jelas, sekilas ia melihat bentuk yang tak ia sangka: simbol kecil menyerupai wadah asap dan lingkaran seperti gelang di atasnya.
Simbol itu, menurut artikel yang pernah ia baca, sering diasosiasikan dengan ritual khusus untuk mengikat janji antara dunia manusia dan sesuatu yang lain. Maka, ketika api korek padam karena angin kecil yang entah dari mana, suara bisikan itu berubah, menjadi lebih rendah dan lebih mendekat, seakan menyadari bahwa ia kini mengerti sedikit maknanya.
Mimpi yang Terlalu Nyata di Mess Tua
Dengan segala tenaga, Damar akhirnya berhasil keluar dari area makam dan kembali ke mess. Lampu neon di kamar sempit itu menyala terang, memberikan kenyamanan semu yang ia genggam erat. Ia menutup pintu rapat, mematikan ponsel, dan mencoba meyakinkan diri bahwa semua tadi hanya kombinasi kelelahan dan sugesti.
Namun, meski tubuhnya berbaring di kasur tipis, kepalanya masih penuh oleh aroma kemenyan yang menempel tak mau pergi. Setiap kali ia menarik napas, bau itu seolah keluar dari paru-parunya sendiri, bukan lagi dari luar. Akhirnya, karena sangat lelah, matanya tertutup juga, menyerah pada tidur yang datang mendadak.
Dalam tidurnya, ia bermimpi berdiri di tengah aula batu yang luas dengan dinding-dinding dihiasi relief Majapahit. Di sekelilingnya, puluhan sosok berbusana kuno duduk bersila, wajah mereka tertutup bayangan. Di ujung aula, seorang brahmana tua berdiri di depan tungku besar yang mengeluarkan aroma kemenyan sangat kuat. Namun, kali ini, bau itu tidak hanya memenuhi hidungnya, tetapi juga menekan dadanya hingga sulit bernapas.
Brahmana itu mengangkat tangan, dan seluruh ruangan hening. Kemudian, ia memandang lurus ke arah Damar, meskipun wajahnya masih tertutup kabut. Gerakan bibirnya menyusun kata-kata yang asing sekaligus terasa dekat. Dalam mimpi itu, Damar tidak bisa menggerakkan tubuh, hanya bisa menjadi saksi ketika seseorang di tengah ruangan maju, membawa nampan berisi kepala manusia yang masih meneteskan darah.
Janji yang Terus Berulang Lewat Waktu
Ketika terbangun, Damar mendapati dirinya duduk di sudut kamar, bukan di kasur. Tangan kirinya menggenggam sesuatu yang dingin dan keras. Saat membuka genggaman, ia hampir menjatuhkannya karena kaget: ada potongan kecil batu nisan dengan guratan simbol wadah asap yang tadi ia lihat di makam.
Sementara itu, ruangan messnya berbau sangat kuat. Aroma kemenyan memenuhi setiap sudut, jauh lebih pekat dibanding saat di makam. Namun, ia tidak melihat ada dupa, tidak ada asap, dan tidak ada sumber bau yang logis. Pintu kamar masih terkunci dari dalam. Jendela tertutup rapat. Walau begitu, seolah-olah kamar itu berada tepat di tengah ruang ritual dalam mimpinya.
Dalam kebingungan, ia meraih ponsel dan cekikikan gugup melihat jam: 03.03. Angka itu membuat perutnya mual tanpa alasan yang jelas. Di layar, ada satu notifikasi pesan dari nomor tak dikenal berisi foto yang membuat tenggorokannya tercekat: foto dirinya di depan nisan tertinggi, diambil dari sudut yang jelas bukan dari manusia yang berada di belakangnya. Di ujung foto, samar-samar, ada bayangan seperti tangan tua yang memegang wadah kemenyan, seolah berdiri tepat di sampingnya.
Kembali ke Makam untuk Mengembalikan Sesuatu
Pagi harinya, wajah Damar pucat ketika menemui Pak Suyat. Namun, ia tetap memaksa diri menceritakan sebagian dari pengalamannya, meski tidak semuanya. Ia hanya mengatakan bahwa tanpa sengaja ia mungkin memecahkan sedikit bagian nisan dan membawanya ke mess secara tidak sadar.
Pak Suyat mendengarkan dengan raut serius yang tak biasa. Kemudian, dengan suara pelan, ia menjelaskan bahwa makam brahmana itu dulu sering menjadi tempat orang meminta berkah dengan cara yang tidak semestinya. Karena itu, beberapa sesepuh desa menyegel area tersebut dengan ritual kemenyan khusus, bukan untuk mengundang, tetapi untuk menidurkan.
“Kalau kamu bawa pecahan batu itu, berarti kamu bawa bagian dari ikatan lama keluar dari tempatnya,” ucap Pak Suyat. “Tidak heran aroma kemenyan ikut ke mana-mana. Itu bukan bau biasa. Itu tanda kalau sesuatu sedang mencari rumahnya.”
Karena tidak ingin permainan ini berlanjut, Damar memohon agar mereka melakukan sesuatu untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Maka, menjelang senja, mereka berdua kembali ke makam tua, membawa pecahan batu itu, sedikit kemenyan baru, dan doa-doa yang disusun dengan hati-hati.
Ritual Penutup yang Tak Sepenuhnya Menutup
Di depan nisan tertinggi, Pak Suyat menyalakan kemenyan dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Asap tipis naik perlahan, membentuk garis-garis yang melingkari batu. Aroma kemenyan kali ini terasa berbeda: lebih lembut, lebih hangat, tetapi tetap menyimpan sesuatu yang dalam. Damar menempelkan pecahan batu ke bagian nisan yang retak, dan entah bagaimana, potongan itu seakan menyatu kembali, meski garis retakkan masih samar terlihat.
Sambil melafalkan doa, juru kunci menyuruh Damar menutup mata. Namun, bahkan dengan mata tertutup, ia masih bisa melihat bayangan aula batu dalam mimpinya. Bedanya, kali ini para sosok berbusana kuno perlahan bangkit dan berjalan ke arah yang berlawanan darinya, menjauh, bukan mendekat. Brahmana tua itu menunduk, lalu memadamkan tungku besar di hadapannya, satu demi satu bara lenyap.
Ketika doa selesai, angin bertiup pelan, mengusir sebagian asap kemenyan. Suara serangga malam kembali mendominasi, dan udara yang semula berat menjadi sedikit lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, Damar menarik napas dan hanya mencium bau tanah lembap serta daun kering. Aroma kemenyan yang tadinya menempel seperti bayangan akhirnya memudar, meninggalkan ruang kosong yang melegakan sekaligus membuatnya merinding.
Namun, sebelum mereka pergi, Damar sempat melirik sekali lagi ke nisan itu. Di bagian bawah batu, ia melihat guratan baru yang sebelumnya tidak ada: garis tipis menyerupai lingkaran yang terputus, seakan menggambarkan ikatan lama yang baru saja dilepas sebagian, bukan seluruhnya.
Teror yang Menjadi Bagian dari Sejarah
Beberapa minggu kemudian, skripsi Damar selesai dengan satu bab tambahan yang tidak ia ceritakan detilnya kepada dosen pembimbing. Bab itu membahas hubungan ritual pemakaman Majapahit dengan fenomena modern, menyinggung peran kemenyan sebagai medium antara dunia hidup dan mati. Ia menuliskan pengamatan tentang bagaimana aroma kemenyan dapat bertahan melampaui waktu, bukan hanya di udara, tetapi juga di ingatan dan rasa bersalah manusia.
Sejak ritual pengembalian batu nisan, hidupnya perlahan kembali normal. Ia bisa tidur tanpa mimpi aula batu, ia bisa berjalan di kampus tanpa tiba-tiba mencium bau kemenyan yang tak terlihat sumbernya. Namun, tiap kali ia melewati toko kecil di dekat terminal Mojokerto yang menjual perlengkapan sembahyang, dan hidungnya menangkap sedikit aroma kemenyan, ada bagian kecil dari dirinya yang selalu teringat malam di makam tua itu.
Pada akhirnya, ia menyadari bahwa tidak semua sejarah berhenti di dalam buku dan museum. Beberapa bagian justru hidup di udara, di bau, di suara yang kadang datang di jam-jam yang salah. Dan di Mojokerto, khususnya di dekat makam tua peninggalan Majapahit, sejarah itu sesekali masih bernafas lewat aroma kemenyan yang muncul tiba-tiba, mengingatkan bahwa janji dan doa yang pernah diucap tidak selalu hilang ditelan tanah.
Food & Traveling : Eksplorasi Wisata Alam Pegunungan dengan Udara Segar