Ruang Operasi Lama yang Dikunci
Malam itu hujan baru saja berhenti ketika Dewa, perawat baru di RSU Singaraja, menyadari sesuatu yang janggal di ujung koridor lantai tiga. Meskipun lampu-lampu neon masih menyala pucat, bayangan di sana terasa lebih tebal, seolah menyembunyikan sesuatu. Di ujung lorong, sebuah pintu tua bertuliskan “Ruang Operasi 1” tampak tertutup rapat dengan gembok berkarat. Namun, dari celah bawah pintu itu, aroma anyir samar menyelinap, bercampur bau obat antiseptik yang seharusnya mendominasi.
Walaupun ia sudah diperingatkan senior agar tidak terlalu penasaran, pikirannya tetap menggantung pada pintu yang tak pernah dibuka itu. Katanya, ruang operasi tersebut sudah tidak dipakai sejak bertahun-tahun lalu setelah satu kasus meja operasi berakhir tragis. Akan tetapi, tidak ada yang mau menceritakan detailnya sampai habis.
Sementara itu, di ruang jaga, jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat. Dewa menarik napas dalam, mencoba menepis rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap ke tengkuknya. Namun, setiap kali ia melirik ke lorong kosong itu, ia merasa seolah ada mata yang mengintip dari balik jendela kecil di pintu ruang operasi lama.
Shift Malam Pertama Dewa
Ini adalah shift malam pertama Dewa setelah satu minggu orientasi. Sementara perawat lain tampak sudah terbiasa dengan ritme malam, ia justru masih kikuk dan terlalu peka pada suara-suara kecil. Selain itu, RSU Singaraja terasa berbeda di malam hari: lebih sunyi, lebih dingin, dan lebih jujur menunjukkan sisi gelapnya.
Di nurse station, Suster Wati—perawat senior dengan nada bicara tajam—memberinya daftar tugas. Walaupun nada suaranya datar, matanya sesekali melirik ke arah koridor ruang operasi. “Kalau mungkin, jangan keluyuran ke ujung sana sendirian,” katanya lirih. “Terutama kalau nanti bau darah mulai kecium, pura-pura saja tidak sadar.”
Dewa tersenyum kaku dan menganggap itu hanya cara senior menguji mental anak baru. Namun, seiring jam bergeser mendekati tengah malam, udara di lantai tiga pelan-pelan berubah. Pendingin ruangan mendadak terasa terlalu dingin, dan suara monitor jantung di ruang rawat berdentang pelan seperti metronom yang menghitung sesuatu yang ia tidak mengerti.
Bisikan di Koridor dan Bau yang Menguat
Sekitar pukul satu dini hari, Dewa menyelesaikan pengecekan terakhir di bangsal bedah. Sementara beberapa pasien tidur gelisah, sebagian lain mengerang pelan karena nyeri pascaoperasi. Namun, begitu ia melangkah kembali ke lorong utama, hidungnya menangkap sesuatu yang berbeda. Kali ini, aroma anyir itu jauh lebih kuat.
Selain bau darah, ada juga wangi logam dan sesuatu yang mirip daging basah yang terlalu lama terbuka di udara. Walaupun logikanya berkata bahwa mungkin ada kantong darah pecah di ruang steril, arah baunya justru datang dari tempat yang tidak seharusnya berbau apa-apa: pintu ruang operasi lama yang dikunci.
Pelan-pelan, Dewa berjalan mendekat. Sementara langkahnya bergema di lantai, ia mendengar sesuatu di balik pintu: suara logam beradu, denting halus pisau bedah menyentuh mangkuk, dan bisikan lirih beberapa orang yang seakan sedang berdiskusi cepat. Namun, di antara semua itu, ada satu suara berat yang jelas terdengar berkata, “Tekan lebih keras, darahnya terlalu banyak keluar.”
Jendela Kecil di Pintu Operasi
Pintu ruang operasi lama itu memiliki jendela kecil di bagian atas, ditutup dengan kaca buram. Walaupun dari luar tidak mungkin melihat jelas, bayangan di balik kaca tetap tampak bergerak. Kadang terlihat seperti siluet orang berseragam operasi, kadang seperti lengan yang terangkat, dan sekali waktu seperti kepala yang miring menatap keluar.
Dewa menelan ludah. Namun, rasa ingin tahunya memaksa ia melangkah lebih dekat. Sementara itu, aroma anyir semakin menusuk, membuat ujung lidahnya berasa pahit. Ia mengangkat tangan, hampir mengetuk pintu, ketika sesuatu tiba-tiba mengetuk balik dari dalam—tiga kali, teratur, keras.
Ketukan itu membuatnya mundur spontan. Pada saat yang sama, suara dari dalam ruangan mendadak hilang sepenuhnya, seolah seseorang menekan tombol mute di dunia lain. Hanya suara AC dan langkahnya sendiri yang tersisa. Namun, dari sela bawah pintu, setetes cairan merah gelap merembes ke lantai, menyebar pelan di antara garis-garis keramik putih yang dingin.
Cerita Suster Wati
Pagi harinya, setelah shift selesai, Dewa tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Ketika mereka duduk di ruang ganti, Suster Wati menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas dan mulai bercerita. “Kalau kamu sudah dengar bau itu, berarti kamu secara tidak sengaja sudah ‘dikenalin’ ke ruangan itu,” katanya pelan.
Menurutnya, beberapa tahun lalu, terjadi operasi darurat yang berakhir buruk di ruang operasi lama. Seorang pasien perempuan mengalami pendarahan hebat. Tim bedah panik, dan salah satu dokter—dr. Surya—dipaksa mengambil keputusan cepat. Namun, karena tekanan tinggi dan kelelahan, satu prosedur terlewat, dan pendarahan tak terkendali. Pasien meninggal di atas meja operasi, sementara keluarga menunggu tanpa tahu kebenaran.
Setelah itu, dr. Surya dikabarkan gantung diri di ruang ganti dokter, meninggalkan catatan yang penuh kalimat putus asa. Sejak hari itu, ruang operasi 1 ditutup. Akan tetapi, setiap malam tertentu, terutama saat jumlah operasi darurat sedang banyak, staff sering mencium aroma anyir dan mendengar suara alat operasi dari balik pintu yang seharusnya kosong.
Malam Kedua: Monitor yang Berbunyi Gila
Walaupun cerita itu membuatnya merinding, Dewa tetap harus masuk shift malam lagi dua hari kemudian. Kali ini, suasana RSU Singaraja jauh lebih sibuk. Ada kecelakaan beruntun di luar kota, sehingga beberapa korban dilarikan ke ruang IGD dan ruang bedah. Sementara tim dokter bekerja keras di ruang operasi baru, lantai tiga dipenuhi suara langkah, trolley, dan teriakan singkat.
Menjelang pukul dua, keadaan mulai sedikit reda. Namun, tepat ketika Dewa hendak duduk sebentar, semua monitor jantung di bangsal bedah tiba-tiba berbunyi bersamaan. Bukan alarm berbahaya, tetapi bunyi ritme yang naik turun tak wajar, seolah sinyalnya diseret sesuatu yang tak terlihat.
Dewa dan dua perawat lain segera memeriksa satu per satu pasien. Anehnya, sebagian besar dari mereka tertidur pulas, denyut nadi stabil, dan tanda vital normal. Meskipun begitu, di layar monitor terlihat garis-garis yang sesekali bergetar liar, lalu kembali seperti biasa. Sementara itu, di belakang, dari arah koridor, aroma anyir kembali datang, kali ini jauh lebih tebal, seakan seseorang membawa cairan yang baru saja menetes dari meja operasi.
Panggilan Nama dari Ruang Operasi 1
Setelah memastikan semua pasien aman, Dewa berjalan pelan ke arah lorong ruang operasi lama. Lampu di sana berkedip sebentar sebelum stabil lagi, menambah kesan bahwa tempat itu tidak suka diganggu terlalu sering. Sementara ia melangkah, suara bercampur antara desahan dan bisikan terdengar lebih jelas.
Kali ini, bukan hanya suara alat medis. Ada suara seseorang yang memanggil namanya. “Dewa…” panggil suara berat di balik pintu. “Masuk sebentar… kami butuh tambahan tangan.” Nada suaranya tidak marah, justru terdengar profesional, persis seperti gaya bicara dokter saat berada di tengah-tengah operasi genting.
Dewa berhenti. Walaupun ia tahu itu mustahil, telinganya tak mungkin salah. Namun, ia berusaha menenangkan diri dan berkata pelan bahwa ia hanya perawat baru, bahwa ruangan itu sudah lama ditutup, dan bahwa ia tidak punya kewenangan untuk membuka pintu. Namun, suara itu kembali, kali ini lebih dekat, seakan mulutnya menempel di permukaan kayu. “Kamu sudah mencium bau darah kami… berarti kamu sudah masuk jadwal.”
Celah Pintu dan Tangan Bersarung
Ketika Dewa memutuskan untuk mundur, angin dingin tiba-tiba berhembus dari celah bawah pintu. Udara itu dingin dan basah, membawa aroma anyir yang begitu kuat hingga membuatnya hampir muntah. Di saat sama, sesuatu menyelinap ke luar dari celah sempit itu: sepasang jari bersarung lateks putih, tipis, dengan noda merah kecokelatan menempel di ujungnya.
Jari-jari itu meraba lantai, kemudian bergerak seperti laba-laba, mencari kaki Dewa. Walaupun ia terpaku ketakutan, naluri membuatnya melompat mundur tepat sebelum jari-jari itu sempat menyentuh sepatu. Dalam sekejap, tangan bersarung itu kembali menghilang, ditelan celah pintu yang kemudian terdiam seolah tidak pernah mengeluarkan apa pun.
Pada saat yang sama, semua suara dari balik pintu berhenti lagi. Hanya saja, Dewa merasa pintu itu kini sedikit lebih hangat, seakan di balik sana ada tubuh-tubuh yang masih hidup, berkeringat, dan sibuk bekerja di bawah lampu operasi yang menyilaukan.
Pengakuan Petugas Kebersihan
Keesokan paginya, Dewa tidak sengaja bertemu Pak Narta, petugas kebersihan senior yang bertugas sejak rumah sakit itu masih kecil. Mereka bertemu di tangga belakang, saat Dewa mencoba menghindari keramaian. Ketika ia menyebut tentang aroma anyir di koridor ruang operasi lama, wajah Pak Narta menegang, lalu ia menghela napas berat.
Menurutnya, pada malam ketika pasien perempuan itu meninggal dulu, ruangan operasi tidak pernah benar-benar dibersihkan tuntas. Bukan karena staff lalai, tetapi karena setiap kali pel mereka menyentuh lantai di bawah meja operasi, darah baru seperti muncul lagi dari sela-sela keramik. Akhirnya, ruangan itu ditutup begitu saja, dengan keyakinan bahwa waktu akan menghapus jejak tragedi.
Namun, ternyata waktu hanya memindahkan masalah. Kini, darah itu sudah tidak lagi terlihat, tetapi baunya tetap berkeliaran. Kadang-kadang, Pak Narta mengaku melihat bekas tapak kaki berdarah di koridor, menuju pintu ruang operasi 1. Tapak itu selalu berakhir tepat di depan pintu, lalu lenyap, seolah pemiliknya masuk ke ruangan yang sudah lama tidak punya kunci di dunia ini.
Malam Terakhir: Operasi yang Diulang
Malam ketiga Dewa berjaga bertepatan dengan hujan lebat dan pemadaman listrik singkat. Genset rumah sakit menyala beberapa menit kemudian, tetapi selama jeda itu, lantai tiga seperti ditelan gulita. Sementara lampu darurat menyala redup, semua suara terdengar lebih jelas: erangan pasien, batuk panjang, dan… denting logam dari ujung lorong.
Begitu listrik kembali normal, Dewa sadar bahwa suara itu tidak ikut padam. Dari arah ruang operasi lama, terdengar teriakan singkat, “Tekanan darah turun! Cepat, jahit!” diikuti suara bergesek kain, denting gunting, dan suara seseorang menangis tercekik. Walaupun ia tahu itu bukan tugasnya, langkahnya bergerak sendiri menuju sumber suara.
Ketika ia tiba di depan pintu ruang operasi 1, jendela kecil di pintu tidak lagi buram. Entah bagaimana, kaca itu kini jernih, memperlihatkan pemandangan di dalam ruangan: meja operasi penuh darah, lampu sorot menyala terang, dan beberapa sosok berseragam hijau bergerak cepat. Di atas meja, seorang perempuan terbaring dengan perut terbuka, sementara seorang dokter dengan wajah lelah—yang persis sama dengan foto dr. Surya di dinding direktur—menatap panik ke arah monitor.
Saat Dewa Menjadi Bagian dari Tim
Yang membuat Dewa membeku bukan hanya pemandangan horor itu, tetapi juga sosok di sudut ruangan yang ia kenali. Di sana, ada seorang perawat muda yang wajahnya sangat mirip dirinya sendiri, berdiri kaku sambil memegang klem. Namun, di dunia nyata, Dewa berdiri di luar pintu, tangan kosong, gemetar.
Dokter di dalam ruangan menoleh langsung ke arah jendela, seolah tahu sedang diperhatikan. Mulutnya bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara: “Masuk. Gantikan dia.” Seketika, perawat yang mirip Dewa di dalam ruangan mendadak berhenti bergerak. Matanya kosong, tubuhnya goyah, lalu dia roboh ke lantai tanpa ada yang peduli.
Sementara itu, gagang pintu di hadapan Dewa berputar sendiri. Pintu terbuka perlahan, menyajikan aroma anyir yang jauh lebih pekat, bercampur udara dingin dan kilau logam tajam. Di ambang pintu, ia merasakan tarikan halus, seakan lantai di dalam ruangan itu miring ke arahnya, mengundang untuk melangkah masuk dan mengambil posisi di samping meja operasi.
Pagi Tanpa Dewa dan Ruang yang Benar-Benar Kosong
Pagi harinya, Suster Wati menyadari bahwa Dewa tidak ada di ruang jaga. Di buku jadwal, namanya tertera jelas sebagai petugas shift malam, namun bangkunya kosong, dan seragam cadangannya tetap tergantung rapi di loker. Di lantai tiga, beberapa staff lain menyebut terakhir kali melihat Dewa berjalan ke arah koridor ruang operasi, tetapi setelah itu, tidak ada yang tahu lagi.
Ketika mereka memeriksa pintu ruang operasi 1, gembok tua masih menggantung di sana, karatnya utuh, tanpa tanda pernah disentuh. Kaca jendela kecil tetap buram, dan di dalam hanya terlihat ruangan kosong ketika disenter lewat celah. Tidak ada meja operasi, tidak ada lampu, hanya debu tebal dan peralatan kuno yang dikemas dalam plastik.
Namun, di lantai depan pintu, mereka menemukan jejak sepatu yang jelas milik perawat: satu mengarah ke pintu, dan satu lagi… tidak pernah berbalik. Di udara, samar-samar, aroma anyir muncul sekali saja sebelum menghilang seperti menguap ke langit-langit.
Ruang Operasi RSU Singaraja Setelah Itu
Beberapa bulan setelah hilangnya Dewa, manajemen rumah sakit memutuskan untuk merenovasi lantai tiga. Ruang operasi lama rencananya akan dibongkar dan dijadikan gudang biasa. Akan tetapi, pekerja bangunan melaporkan kejadian aneh: palu mereka sering jatuh sendiri, lampu proyek berkedip setiap kali mereka mendekati pintu ruang operasi, dan sesekali terdengar bunyi langkah dari dalam ruangan yang seharusnya kosong.
Bahkan, salah satu tukang mengaku melihat sekelibat orang berseragam perawat berdiri di depan meja operasi berkarat, memegang klem dengan tangan bergetar. Wajahnya pucat, matanya bingung, dan bajunya penuh bercak merah. Sementara di seberangnya, seorang dokter tua menunduk, sibuk menjahit daging yang tidak terlihat bentuknya, diselimuti cahaya lampu operasi yang terlalu putih untuk datang dari dunia sekarang.
Karena itu, rencana renovasi ditunda entah sampai kapan. Pintu ruang operasi 1 tetap terkunci, dan staff baru selalu diberitahu untuk tidak mendekat jika hidung mereka mulai menangkap aroma anyir yang muncul tanpa sebab. Mereka bilang, kalau bau itu sudah menempel di masker, berarti ada meja operasi lain yang sedang disiapkan di batas tipis antara hidup dan mati.
Kini, di RSU Singaraja, setiap kali malam terlalu sepi dan hujan turun pelan, perawat-perawat lama enggan berjalan sendirian di lantai tiga. Mereka tahu, di balik satu pintu tua yang tak pernah benar-benar kosong, ada operasi yang tidak pernah selesai, darah yang tidak pernah berhenti mengalir, dan nama-nama baru yang sesekali dipanggil dari balik kayu dan kaca.
Konon, jika seseorang berdiri cukup lama di depan ruang operasi itu, menahan napas, dan membiarkan aroma anyir memenuhi paru-paru, ia akan mendengar suara dokter memanggilnya dengan tenang: mengajak memegang klem, mengelap darah, dan menemani pasien yang sudah lama kehilangan kesempatan untuk pulang ke bangsal—atau ke dunia mana pun selain ruang operasi yang terjebak di antara penyesalan dan janji yang tidak pernah ditepati.
Teknologi & Digital : Teknologi 5G Membuka Peluang Baru dalam Komunikasi Modern