Anak Tanpa Bayangan Berlari Di Istana Maimun Malam Itu

Anak Tanpa Bayangan Berlari Di Istana Maimun Malam Itu post thumbnail image

Lorong-Lorong Istana yang Terlalu Sunyi

Rendra tiba di Istana Maimun pada sore terakhir perjalanannya di Medan. Ia sengaja menunggu pengunjung lain pulang agar bisa memotret interior istana yang terkenal dengan perpaduan arsitektur Melayu, India, dan Eropa. Namun begitu petugas pintu menutup pagar dan langit berubah keunguan, suasana istana perlahan berubah. Udara yang awalnya hangat justru terasa semakin dingin setiap langkah Rendra memasuki lorong utama.

Saat ia berjalan perlahan sambil menata kamera, ia menyadari sesuatu: setiap langkahnya memantul sebagai bayangan panjang di lantai marmer. Namun anak bayangan itu bukan miliknya. Bayangan itu lebih kecil, seperti milik anak umur tujuh tahun, dan bayangan itu berlari melewatinya meski tidak ada anak satu pun di ruangan itu.

Bayangan itu muncul begitu cepat, namun sangat jelas: dua kaki kecil berlari tanpa suara, seakan bergerak di dunia lain. Rendra langsung mundur selangkah karena ia sadar bahwa bayangan apa pun seharusnya melekat pada asalnya. Tetapi lorong itu kosong. Bahkan suara dari luar pun tidak terdengar lagi.


Jejak yang Tidak Ditimbulkan Manusia

Saat cahaya lampu kuning temaram menyinari dinding, Rendra masih terpaku. Walaupun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa efek cahaya bisa menciptakan ilusi, ia tahu betul arah datangnya bayangan itu. Karena penasaran, ia mengikuti jejak langkah kecil yang tercetak samar di lantai, seolah ada seseorang yang berlari sambil kaki basah.

Jejak itu berhenti tepat di depan tangga menuju lantai atas. Saat Rendra menunduk untuk memeriksanya, bau tanah basah tiba-tiba tercium. Padahal lantai istana bersih mengilap. Bau itu menyeruak dari arah tangga, seolah seseorang yang baru saja keluar dari tanah berlumpur melintas beberapa menit lalu.

Ketika Rendra mengarahkan kamera ke tangga, suara tawa kecil terdengar dari balik tembok. Namun tawa itu tidak seperti tawa anak manusia. Tawa itu pecah, terpotong, dan terdengar dipaksa untuk terdengar ceria.

“Main… yuk…”

Suara itu sangat dekat. Bahkan terlalu dekat bagi lorong sebesar itu.


Anak Tanpa Bayangan Mulai Muncul

Saat Rendra menatap ke arah tangga, ia melihat seorang anak kecil berlari melintasinya. Namun tubuhnya hanya terlihat separuh, seperti asap yang belum memadat. Meski begitu, bentuk tubuhnya cukup jelas: baju putih lusuh, rambut pendek acak-acakan, dan kaki kecil yang bergerak cepat.

Akan tetapi ketika cahaya lampu jatuh pada tubuh anak itu, tidak ada bayangannya sama sekali. Tubuh itu berada di bawah lampu, namun lantainya kosong. Efeknya membuat tubuh anak itu seperti melayang, tidak pernah menjejak dunia nyata. Rendra membeku.

Karena panik, ia memotret tanpa diarahkan. Namun lampu blitz membuat anak itu berhenti. Ia menoleh. Wajahnya tampak samar saat pertama kali berbalik. Tetapi setelah satu detik, wajah itu menjadi jelas: mata hitam bulat, kulit pucat kebiruan, dan mulut terlalu lebar untuk ukuran anak kecil.

“Foto aku… bang…”

Rendra terjatuh saat mundur. Saat ia mengangkat kamera lagi, anak itu sudah berada setengah meter di depannya. Tidak berlari. Tidak bergerak. Hanya tiba-tiba ada di sana.


Cerita Lama dari Penjaga Istana

Karena ketakutan, Rendra langsung berlari ke arah pagar belakang. Namun seorang penjaga tua muncul dari ruang kecil dekat halaman dalam. Penjaga itu menatap Rendra dengan wajah pucat karena kaget, lalu buru-buru menutup pintu ruangannya.

“Aku sudah bilang sama petugas lain untuk tidak biarkan pengunjung bertahan setelah senja… kenapa kau di sini?” katanya dengan suara gemetar.

Rendra hanya bisa menunjuk ke arah lorong tempat anak bayangan itu muncul.

Penjaga itu menarik napas panjang.

“Kalau sudah lihat, susah hilang,” katanya. “Dulu ada anak bangsawan yang mati jatuh dari tangga ketika istana masih dipakai raja. Malam-malam tertentu, dia masih berlari mencari ayahnya.”

Ia menatap lantai dengan mata berkaca.

“Tapi yang menyeramkan bukan itu. Sejak ia mati, bayangannya tidak pernah ditemukan.”

Rendra langsung merinding.

“Bayangan… menghilang?” tanyanya.

Penjaga mengangguk pelan.

“Tidak hilang—bayangannya pergi duluan. Tubuhnya cuma mengikuti ke mana bayangan itu menuju.”


Main Petak Umpet yang Dipaksakan

Katanya, anak itu sering muncul kepada mereka yang berani berjalan sendirian di istana pada malam hari. Kadang ia muncul sebagai siluet. Kadang sebagai suara. Namun sering kali sebagai bayangan yang bergerak duluan sebelum tubuhnya terlihat. Yang lebih buruk, katanya lagi, anak itu menyukai permainan.

Terutama permainan petak umpet.

Baru saat itu Rendra ingat suara tawa kecil dari lorong.

Penjaga memperingatkan Rendra agar tidak menoleh cepat-cepat jika merasa ada yang memanggil namanya. Menurutnya, anak itu suka memanggil secara samar agar seseorang menoleh ke arah yang salah. Jika seseorang menoleh ke arah yang benar, ia akan melihat hal yang tidak seharusnya.

Namun sebelum penjaga sempat menyuruh Rendra keluar, suara langkah kecil terdengar dari balkon atas. Meski langkahnya ringan, lantai kayu tua berderit jelas. Ketukannya berirama, seolah anak itu melompat-lompat.

Tok—tok—tok.

Rendra dan penjaga sama-sama menatap ke atas. Namun balkon itu kosong.

Tok—tok—tok.

Kini langkah itu pindah ke belakang mereka.

Tok—tok—tok.

Lalu langkah lain muncul, namun langkah ini lebih berat. Seperti langkah seseorang dewasa yang menyeret kaki.

Penjaga langsung menutup mata. “Sudah mulai,” bisiknya.


Bayangan yang Tidak Sinkron Dengan Dunia

Rendra memperhatikan lantai. Ia terkejut ketika melihat dua bayangan muncul di dekat tiang: satu bayangan kecil berlari melingkar, dan satu bayangan besar berdiri diam.

Tidak ada tubuh yang memantulkan kedua bayangan itu.

Tiba-tiba bayangan kecil itu berhenti. Kepala bayangan itu menghadap ke arah Rendra. Meskipun hanya bentuk hitam, Rendra merasa anak itu sedang tersenyum. Kemudian kulitnya merinding ketika bayangan kecil itu merangkak perlahan ke arah bayangan besar.

Namun yang membuat Rendra paling takut adalah ini: bayangan besar itu mengikuti gerakan bayangan kecil, seperti refleks orang tua mengikuti anaknya.

Penjaga berbisik lagi.

“Itu ayahnya. Tapi yang masih tersisa hanya bayangannya.”

Rendra merasa lututnya melemah. Anak itu benar-benar sedang bermain dengan bayangannya sendiri—tanpa tubuh ayahnya. Hanya sisa jejak gelap yang hidup sendirian.

Sementara itu, tubuh anak itu—yang tadi terlihat jelas—tidak muncul.


Lorong yang Menelan Cahaya

Karena merasa keadaan semakin kacau, penjaga memaksa Rendra berlari keluar. Namun saat mereka menuju pintu samping, semua lampu lorong tiba-tiba padam satu per satu. Setiap lampu padam diikuti tawa kecil yang bergerak mendekat.

Lampu 1 padam.

Tawa kecil di belakang.

Lampu 2 padam.

Jejak kaki kecil mendekat.

Lampu 3 padam.

Napas dingin menyentuh tengkuk Rendra.

Saat lampu keempat padam, Rendra melihat sesuatu dari sudut mata: anak itu berdiri di ujung lorong, tubuhnya tidak solid dan tidak memantulkan apa pun. Tetapi bayangannya—yang berlari lebih cepat dari tubuhnya—sudah mendekati Rendra.

“Ketangkap…” bisik suara itu.


Tawa Kecil yang Selalu Mengikuti

Rendra berhasil didorong penjaga keluar dari pintu samping. Namun sebelum pintu tertutup, anak itu melambai dari dalam istana. Tangannya kecil, namun gerakannya patah seperti boneka kayu rusak. Saat pintu tertutup rapat, suara tawa terakhir menggema.

Sejak malam itu, Rendra tidak pernah kembali ke Istana Maimun.

Namun terkadang, saat ia berjalan sendirian melewati tempat yang terang, bayangannya tiba-tiba terbelah dua di bawah kakinya: satu mengikuti gerak tubuhnya, satu lagi berlari lebih dulu.

Yang berlari itu selalu lebih kecil.

Dan kadang, jika ia melihat cukup cepat, bayangan kecil itu sempat melambaikan tangan sebelum menghilang ke balik tembok.

Namanya tetap tidak disebutkan lagi.

Karena anak itu tidak suka seseorang memanggil balik.

Lifestyle : Menemukan Ketenangan Diri di Tengah Tekanan Sosial Modern

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post