Anak Kecil Berlari di Atap Masjid Tua Gorontalo Tengah Malam

Anak Kecil Berlari di Atap Masjid Tua Gorontalo Tengah Malam post thumbnail image

Waktu Magrib yang Selalu Terasa Berbeda

Masjid tua di Desa Biawu, Gorontalo, bukan sekadar bangunan ibadah. Selain menjadi titik berkumpul, ia juga menyimpan lapisan cerita yang lebih tua dari usia balok kayunya sendiri. Namun, sejak puluhan tahun lalu, penduduk mulai merasakan perbedaan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.

Menjelang malam, suasana di sekitar masjid berubah selalu lebih cepat dari desa lainnya. Bahkan sebelum langit benar-benar gelap, keheningan sudah lebih padat, seolah suara pun enggan berlama-lama lewat. Dengan demikian, banyak orang yang memilih mempercepat langkah setelah Isya berlalu.

Di sisi lain, tidak ada yang pernah melaporkan kejadian buruk di dalam masjid. Sebaliknya, keganjilan itu selalu bermula… di atap masjid.

Meski begitu, tidak semua orang berani membicarakannya. Tetapi, dari generasi ke generasi, detail ceritanya tidak pernah berubah: suara anak kecil berlari di genteng, di jam ketika semua anak seharusnya tidur.


Suara yang Terlalu Berpola untuk Disebut Angin

Pada awalnya, warga menganggap itu hanya binatang. Namun begitu, ritmenya terlalu teratur. Sesekali terdengar cepat, lalu melambat, kadang berhenti, dan kemudian kembali berlari—seperti anak kecil yang sedang bermain lompat garis, bukan hewan yang mencari makan.

Karena itu, banyak yang mulai curiga. Lebih jauh lagi, suara itu tidak pernah drag kasar seperti gesekan kuku hewan. Sebaliknya, nadanya ringan, bersih, seperti telapak kaki tanpa alas.

Anehnya, ketika seseorang menengok ke atas atau menyorot dengan senter, suara itu otomatis berhenti. Tetapi, saat perhatian dilepas… bunyinya kembali, sering kali dari arah yang berbeda. Hal itu membuat banyak orang merasa—“ia sedang bermain, bukan sedang mengganggu.”


Saksi Pertama yang Tidak Pernah Mau Disebut Namanya

Jika ditanya siapa yang pertama kali mendengar, jawabannya selalu merujuk pada satu orang: marbot sepuh yang sudah lama mengurus masjid itu. Meskipun demikian, ia menolak namanya ditulis dalam cerita apa pun.

Suatu malam, seusai menutup pintu serambi, beliau berkata pada seorang pemuda yang duduk menunggu ayahnya pulang dari i’tikaf:

“Dia bukan ingin menakutimu. Dia cuma ingin didengar.”

Kalimat itu menggantung sampai beberapa detik, sebelum akhirnya disambut bunyi lari kecil… dari atap masjid.

Bagi pemuda itu, momen tersebut bukan sekadar kaget. Alih-alih melarikan diri, tubuhnya justru kaku—bukan karena teror, tetapi kebingungan. Apalagi, suara itu terdengar begitu dekat, padahal dari luar tidak ada cara seseorang bisa naik ke atap tanpa tangga.

Dengan begitu, malam itu menjadi bukti pertama bahwa ini bukan isu, melainkan pengalaman.


Empat Pemuda, Satu Rekaman yang Tidak Pernah Berhasil Disimpan

Beberapa bulan kemudian, empat pemuda desa mencoba merekam kejadian itu. Awalnya, mereka berencana membuktikan bahwa cerita tersebut hanya sugesti.

Rencananya, salah seorang akan merekam suara, dua orang mengamati, dan satu lagi menyorot area dari luar masjid. Meskipun begitu, semua yang direncanakan logis, hasilnya justru sebaliknya.

Pertama, bunyi lari muncul lebih cepat dari prediksi. Kemudian, intervalnya berubah-ubah, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Selanjutnya, suara berhenti tepat saat tombol rekam ditekan. Setelah itu, baru terdengar lagi saat ponsel diturunkan.

Anehnya, file rekaman akhirnya tersimpan… tetapi tanpa suara apa pun selain angin.

Walaupun begitu, tidak satu pun di antara mereka mengatakan ini ulah aplikasi atau kerusakan perangkat. Karena, empat orang mendengar hal yang sama, bersamaan, tanpa perbedaan detail.


Saat Tawa Menjadi Lebih Menyeramkan dari Langkah

Di suatu malam Jumat, suara yang muncul bukan lagi langkah. Melainkan tawa anak kecil—jernih, ringan, tanpa nada menakutkan. Tetapi, justru karena terdengar polos, situasinya terasa tidak masuk akal.

Namun demikian, respons warga bukan panik. Sebaliknya, beberapa orang justru merasakan kesedihan samar, seolah suara itu bukan ancaman, melainkan isyarat kerinduan.

Di sisi lain, sebagian yang mendengar memilih beristighfar. Lalu, beberapa menjauh. Tetapi ada juga yang hanya berdiri sambil menatap genteng, seperti sedang menunggu tawa itu menjelma bentuk.

Tak lama setelah itu, suara menghilang… dan malam kembali normal seperti sebelumnya—tanpa jeda dramatis, tanpa klimaks, hanya hilang, seperti seseorang selesai bermain lalu pulang.


Dokumen Lama yang Terselip di Balik Rak Mushaf

Beberapa hari setelah fenomena tawa itu, salah seorang pengurus menemukan catatan tua di ruang penyimpanan masjid saat memindahkan kotak Al-Qur’an wakaf. Isinya ditulis dalam bahasa Melayu lama bercampur arab pegon, memuat daftar donatur dan kejadian desa sejak 1902.

Di halaman terakhir, terdapat catatan yang berbeda nada, tidak resmi, seperti ditulis tergesa oleh seseorang yang menyaksikan langsung peristiwa:

“Anak kecil itu bernama Hasan. Ia senang berlari di atap rumah panggung. Sebelum masjid berdiri, tanah ini adalah pekarangan rumah ulama. Hasan jatuh saat mengejar burung kertas. Ia tidak sempat dewasa. Jika suatu hari langkahnya masih terdengar, jangan diusir. Ia hanya pulang ke tempat bermainnya.”

Catatan itu tidak bertanda tangan. Akan tetapi, tintanya sama dengan teks lain yang ditulis sekretaris kampung puluhan tahun silam. Artinya, ini bukan karangan baru.


Upaya Bukan Mengusir, Melainkan Mengantar

Setelah isi catatan menyebar, masyarakat sepakat bahwa ini bukan sekadar fenomena suara. Ini adalah cerita yang belum selesai. Oleh karena itu, musyawarah desa memutuskan hal berbeda dari kebiasaan kisah angker pada umumnya: tidak ada ritual pengusiran, tidak ada pagar gaib, tidak ada sesajen.

Yang dipilih justru pembacaan doa selama tujuh malam berturut-turut, niatnya bukan menolak, tetapi “melepas”.

Langkah itu dipandu imam desa, disaksikan tokoh adat, dan dihadiri warga lintas usia. Meskipun begitu, tidak semua ikut duduk di serambi. Tetapi hampir semua mendengar.

Pada malam ketujuh, sesuatu terjadi.

Tidak ada langkah… hingga doa selesai.

Begitu amin terakhir terucap, terdengar lari kecil—cepat, pendek, lalu berhenti. Disusul suara sangat lirih, hampir seperti angin yang tersangkut di genteng:

“Makasi…”

Hanya satu kata.

Meskipun begitu, semua yang hadir merasakan hal yang sama—bukan takut, melainkan relasi yang akhirnya tuntas.

Setelah malam itu, atap masjid tidak lagi ramai oleh langkah.


Masjid yang Tidak Lagi Gelisah

Saat ini, masjid tetap menjadi rumah doa. Anak kecil kini berlari bukan di atap, melainkan di halaman setelah mengaji. Remaja duduk di serambi tanpa rasa ragu. Orang tua bercerita tentang masa lalu tanpa suara bergetar.

Sementara itu, genteng yang dulu menjadi panggung langkah kecil, kini hanya jadi tempat burung pipit hinggap di pagi hari. Dengan demikian, apa yang pernah dikira teror, berubah menjadi kenangan kolektif yang dihormati.

Walau begitu, kadang saat hujan turun ringan di dini hari, ada ritme yang mirip langkah. Tetapi, tidak ada lagi rasa takut—hanya senyum kecil dari orang yang pernah mendengar.

Karena pada akhirnya, tidak semua yang berkeliaran di batas dunia ingin menakuti. Sebagian hanya ingin… diingat.

Teknologi & Digital : Cloud Computing Sebagai Solusi Digitalisasi Perusahaan Kecil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post