Prolog: Bisikan di Pinggir Sungai
Malam itu, angin dingin berhembus deras di tepi Kali Brantas. Kabut pekat menyelimuti alur sungai, seakan menyembunyikan rahasia kelam di dasar aliran. Petualang muda, Dimas dan Laras, nekat menelusuri tepian setelah mendengar legenda tentang suara tawa seram kuntilanak yang sering terdengar menjelang tengah malam. Menurut warga desa, tawa itu bukan sekadar gema angin atau ulah nakal remaja, melainkan panggilan arwah korban yang terseret deras dan tak pernah ditemukan jasadnya.
Jejak Pertama: Tangan Kecil di Batu Kerikil
Setelah menuruni tangga batu tua yang licin, Dimas menyulut senter dan menyorot ke permukaan air. Tanpa sengaja, Laras menendang kerikil, lalu terhenti saat menatap sesuatu yang menancap di batu: sepasang tangan kecil—bagian lengan bayi—terlihat mengering, seolah menempel sendiri. Seketika, hati mereka berdegup keras. Transisi udara berubah tebal; suara detak jantung terdengar menggema di kepala. Dimas membungkuk, meraih lengan mungil itu dengan ujung sarung tangan, tetapi tangan tersebut ambruk ke air, menyebabkan percikan dingin yang menembus tulang.
Kedatangan Suara Tawa Seram Kuntilanak
Tak lama kemudian, dari kejauhan, terdengar bisikan wanita tertawa—simpul tawa panjang, tajam, dan berulang. “Ha… ha… ha…” Gemanya memenuhi ruang kosong di antara pepohonan bambu. Bahkan senter Dimas bergetar ringan, seakan tak kuat menembus kelam suara itu. Laras terjebak antara rasa takut dan penasaran: suara tawa itu semakin mendekat, perlahan seolah mengikuti aliran air. Masing-masing langkah mereka diiringi riak kecil, menandakan bahwa sesuatu—atau seseorang—bergerak di permukaan sungai.
Legenda Kuntilanak Brantas
Menurut cerita sesepuh setempat, puluhan tahun lalu, seorang gadis hamil muda tercebur ke sungai saat mengejar suaminya yang kabur setelah perkelahian. Ia tenggelam dengan janinnya, dan jasad keduanya tak pernah ditemukan. Sejak itu, pada malam tertentu, suara tawa seram kuntilanak kerap terdengar di tepi Kali Brantas. Warga yang mendengarnya percaya roh itu tersiksa, setengah menertawakan kesedihan—tawa sebagai penolak tangis—sebelum kembali lenyap ke dalam air.
Kegelapan Menelan Cahaya
Ketika Dimas menyalakan lampu sorot, cahaya hijau redup muncul di dasar sungai. Pantulan itu terus berkedip, seolah mengundang mereka turun ke dalam arus. Namun Laras menarik lengan Dimas: “Jangan… kita belum siap.” Meski demikian, naluri jurnalistik mereka memaksa kedua sahabat itu merekam momen tersebut. Kamera ponsel merekam gemerlap di bawah air, sementara suara tawa makin jelas—lebih dekat, lebih menyayat. Tiba-tiba, aliran air beriak kuat, memusnahkan cahaya hijau, dan lampu sorot terlepas dari genggaman Dimas, jatuh ke dasar kerikil.
Pertarungan di Atas Jembatan Kayu
Karena kegelapan total, Dimas dan Laras buru-buru naik ke jembatan kayu reyot di atas sungai. Setiap papan kayu berderit di bawah berat kaki mereka. Lalu, dari balik pepohonan, muncul sosok berbalut kain putih compang-camping, wajahnya pucat—mata kosong menatap lurus. Sosok itu tertawa, suara yang sama, menembus kalbu. Dengan sigap, Laras melemparkan botol air ke arah bayangan. Pecahnya suara kaca menimbulkan gema keras, membuat kuntilanak itu terhuyung, lalu menghilang di balik kabut.
Suara Tawa dan Bisikan Meminta Tolong
Meski berhasil “mengusir” bayangan, tawa itu belum berhenti. Kini berpadu dengan bisikan lirih: “Tolong… bawa aku pulang…” Tawa dan tangis bercampur menjadi satu. Dimas merekam suara itu, berharap bisa jadi bukti. Namun saat memutar rekaman, yang terdengar hanya deru air dan desir angin. Suara tawa seram kuntilanak lenyap di luar jangkauan teknologi. Laras terisak, merasakan penderitaan arwah. Ia menuntun Dimas kembali ke tepian, di mana tangan kecil tadi telah lenyap, seolah tak pernah ada.
Ritual Pengantaran Arwah
Keesokan pagi, keduanya berinisiatif menemui seorang dukun kampung. Dengan nuansa penuh hormat, mereka menyiapkan sesajen: bunga kenanga, kemenyan, dan seikat daun sirih. Malamnya, mereka kembali ke tepian Kali Brantas. Dukun membacakan mantra, mengarahkan doa ke arah aliran. Sekali lagi, terdengar tawa pelan, lalu diiringi alunan kidung Jawa halus. Sesosok putih muncul, kali ini dengan gestur merunduk, mengambil bunga kenanga, lalu menghilang di dalam air. Suasana mendadak hening, ditandai decitan jangkrik yang kembali bersahutan.
Penutup: Gema Tawa yang Terhenti
Sejak ritual itu, suara tawa seram kuntilanak tak pernah terdengar lagi di Kali Brantas. Warga pun lega, menganggap arwah gadis malang telah menemukan ketenangan. Namun bagi Dimas dan Laras, pengalaman itu selamanya terpatri: tawa yang menolak tangis, jejak penderitaan di batu kerikil, dan tangan kecil yang menghilang di kedalaman. Mereka belajar bahwa di balik legenda menakutkan, terdapat kisah kemanusiaan yang meratap, menuntut keadilan bahkan setelah ajal menjemput.
Lifestyle : Mengelola Waktu Sosial Media demi Keseimbangan Diri