Kedatangan Malam di Pantai Selatan
Pada malam tanpa rembulan, Raka dan Lilis tiba di bibir pantai yang terkenal mistis: Pantai Selatan Angker. Mereka mengangkat senter, menembus gulita yang ditingkahi desir ombak pelan. Suara gemerincing rantai pertama kali terdengar saat angin laut mengoyak daun kelapa. Tanpa disadari, kedua sahabat itu melangkah ke arah sumur kuno yang bersembunyi di balik bukit pasir, tergerak oleh kisah-kisah penunggu laut yang mereka dengar berbulan-bulan sebelumnya.
Misteri Sumur Kuno
Meskipun penampilannya sederhana—dinding batu penuh lumut dan tutup kayu lapuk—sumur itu menyimpan aura tak wajar. Banyak warga sekitar mengaku melihat bayangan putih di balik sumur pada dini hari. Selain itu, suara gemerincing rantai kerap bergema, seakan ada sosok tak kasat mata yang memperbarui janji kelamnya. Raka, yang selama ini skeptis, mulai merasakan kegelisahan menjalar di tulang belakangnya.
Langkah Pertama yang Menyelidik
Dengan hati berdebar, Lilis menurunkan tubuhnya perlahan hingga menempel di bibir sumur. Ia menoleh ke Raka dan berbisik, “Dengar… ada sesuatu.” Sementara itu, lantai pasir di sekitar sumur bergetar halus, seakan memperingati kehadiran mereka. Tanpa berpikir panjang, Raka mengikat seutas tali pada senter, lalu mendekat untuk mengintip rongga sumur. Cahaya senter menembus kegelapan, menyingkap patung kayu setengah hancur—sekilas tampak seperti sosok perempuan terikat rantai.
Pertanda Pertama
Kemudian, suara gemerincing rantai terdengar kian keras, seolah menjawab senter yang dicelupkan ke dasar sumur. Lilis mundur, menabrak batu pipih dan menekuk lututnya. Raka, berdiri terpaku, mencoba menyalakan ponsel untuk merekam audio. Namun, layar ponselnya berkedip dan mati sendiri. Dalam kegelapan pekat itu, sosok bayangan putih muncul, merunduk di bibir sumur, memandang mereka tanpa kelopak mata.
Kilas Balik Legenda
Sebelum malam itu, Raka sempat mendengar cerita juru kunci sumur: konon, ratusan tahun lalu, seorang gadis korban pelayaran tenggelam mengutuk para pelaut yang gagal menolongnya. Ia merasa dikhianati, lalu mengikatkan rantai di pergelangan kaki hingga dia tinggal di antara dunia dan kematian. Sejak itu, suara gemerincing rantai menjadi pertanda kematiannya kembali mencari korban untuk disertai dalam lautan gelap.
Ketegangan Meningkat
Tiba-tiba angin berkecamuk, menimbulkan awan pasir menari di antara lampu senter. Bayangan gadis itu bergerak cepat: melingkar, menyingkir di balik batu karang, lalu muncul lagi dengan rambut terurai basah. Dentuman rantai semakin keras, menandakan kemarahan roh yang terperangkap. Keheningan pantai pun sirna, digantikan raungan lembut yang berganti tawa dingin. Raka dan Lilis tercekat—antara kabur dan penasaran, keduanya tak mampu bergerak.
Usaha Melarikan Diri
Meski takut, Raka mengajak Lilis lari menuju jalan setapak di tepi bukit. Namun, suara gemerincing rantai mengikuti setiap langkah. Kadang terdengar di sisi kiri, kadang di belakang—sejak kaki mereka menginjak trampling pasir hingga ke tanjakan kecil. Satu kali Raka menoleh, melihat rantai panjang terhampar di tanah, menghunjam batu andesit. Lilis memekik histeris, tetapi rantai itu seakan menari, menuntun mereka kembali ke sumur.
Titik Puncak Teror
Sesampainya di dekat pintu masuk bekas gubuk juru kunci, angin berhenti mendadak. Malam jadi hening—justru menegangkan. Kemudian, sosok gadis di sumur mengangkat tangan berlubang, memanggil: “Kembalilah…” Suaranya memicu getaran di tulang rusuk. Raka menggenggam tangan Lilis, meraih senter terakhir yang menyala. Saat sorot cahaya menembus kegelapan, bayangan itu terpaku, lalu melesat keluar dengan rantai berderet di belakangnya—menyergap mereka dengan wajah pucat penuh noda air laut.
Pembebasan Kutukan
Dalam kepanikan, Lilis teringat mantra penenang yang pernah ia baca di buku folkor: doa agar arwah tenang dan rantai dilepas dari tubuhnya. Dengan suara bergetar, ia membacakan baris-baris kuno sambil menepuk air laut yang menetes dari bibir sumur. Berkat transisi spiritual itu, rantai berhenti bergerincing, sementara sosok gadis terhuyung, suaranya berubah menjadi rintihan meratap. Perlahan-lahan, wujud basahnya memudar, dan rantai perlahan turun ke dasar sumur, terbenam dalam air hitam.
Epilog: Pantai yang Berubah
Fajar merekah ketika Raka dan Lilis menuruni bukit pasir. Sumur kuno itu kembali diam, hanya angin laut yang bergema di antara batu karang. Suara gemerincing rantai tak lagi terdengar—setidaknya malam itu. Namun, ketika Raka memeriksa rekaman ponsel, ia mendapati satu detik sunyi sebelum rantai berhenti: suara tawa sayup, penuh kepedihan. Kedua sahabat itu pun sadar bahwa meski kutukan telah terpecahkan, sisa energi arwah masih bergelayut, menunggu bisikan ombak selanjutnya.
Gaya Hidup : Gaji UMR Jogja: Bisa Hidup Layak atau Sekadar Cukup?