Wujud Bayangan Merunduk di Teras Rumah Mangkurat Sunyi

Wujud Bayangan Merunduk di Teras Rumah Mangkurat Sunyi post thumbnail image

Suara Langkah di Ambang Pintu

Pada malam yang kelam, Hendra menepi di depan gerbang besi rumah Mangkurat. Wujud bayangan merunduk di teras menantinya, memantulkan sinar rembulan yang terhalang daun pohon beringin tua. Meski angin berbisik pelan, langkah kaki itu terdengar jelas, seolah mustahil bagi makhluk hidup. Pertama-tama, rasa penasaran memecut Hendra untuk mendekat, namun hati kecilnya bergetar tak karuan.

Bisikan dari Kegelapan

Kemudian, terdengar bisikan melekat di sudut telinga: “Tolong… pulang…” Kata-kata itu bergema di udara dingin. Dina, sahabat Hendra, tiba-tiba merapat, menatap pintu kayu teras yang setengah terbuka. Wujud bayangan merunduk kini terlihat lebih jelas—siluet tubuh manusia tanpa wujud wajah, dengan lutut menekuk di atas ubin retak. Meskipun ketakutan, keduanya tahu bahwa ini bukan khayalan.

Gerimis dan Hawa Menyengat

Lalu, menuruni anak tangga teras, tetesan gerimis jatuh berirama di genteng seng. Suara tetesannya berpadu dengan detak jantung Hendra yang kian kencang. Meski demikian, bayangan di teras tak bergeming. Ia tetap dalam posisi merunduk, seolah menunggu instruksi yang hanya diketahui sendiri. Dina mengulurkan tangan, hendak menepuk lengan Hendra, namun napasnya tertahan oleh hawa dingin yang menusuk.

Cahaya Senter yang Bergetar

Hendra menyalakan senter, lalu memandangi sosok itu. Sekilas, siluet itu tampak mengenakan kain lusuh, dengan lipatan lembab di sekitar lekuk tubuh. Wujud bayangan merunduk kini bergeser perlahan ke kiri, meninggalkan jejak kabut tipis di udara. Transisi dari gelap ke cahaya senter seperti membuka tirai rahasia, memperlihatkan detail sosok tanpa mata—hanya cekungan hitam pekat.

Bayangan yang Bergerak Mendekat

Sementara itu, Dina berbisik, “Jangan dekati, Hendra.” Namun, rasa tanggung jawab mendorongnya maju. Begitu langkahnya menjejak ubin, bayangan itu menoleh—tidak dengan wajah, melainkan dengan kefanaan. Suara kayu tua retak di balik teras terdengar, seakan menyambut kedatangan mereka. Wujud bayangan merunduk kini merambat, mengikuti setiap hembusan napas.

Kenangan Lama yang Terkuak

Tiba-tiba, kilatan ingatan menghantam Hendra: legenda tentang Mangkurat, pemilik rumah yang hilang di malam hujan sepuluh tahun lalu. Dikatakan, ia pernah melihat bayangan sendiri di teras sebelum menghilang selamanya. Kini, teras itu kembali menampakkan wujud kelam. Dina mencoba menenangkan Hendra dengan lagu pengusir arwah, namun nyanyiannya terhenti karena bayangan ikut membalas dengan suara rintihan.

Gemeretak Pintu Belakang

Tak lama kemudian, terdengar gemeretak di pintu belakang gudang kayu. Kedua sahabat itu menoleh, menemukan pintu itu bergetar—seolah ditekan dari luar. Wujud bayangan merunduk bergerak mundur, lalu menghilang di celah. Dalam sekejap, teras kembali gelap gulita. Sekali detik kemudian, pintu depan rumah Mangkurat terbuka sendiri, memanggil mereka masuk.

Melangkah ke Dalam yang Mematikan

Dengan jantung berlompatan, Hendra dan Dina melangkah pelan-pelan masuk ke koridor. Lampu gantung di plafon berayun, menghasilkan bayangan menari di dinding retak. Mereka dapat merasakan tatapan kosong yang mengikut. Meskipun takut, Hendra yakin bahwa hanya dengan memasuki rumah, mereka bisa mengungkap misteri. Dina menutup mata sejenak, lalu menggenggam tangan Hendra agar tetap bersama-sama.

Lorong yang Penuh Coretan

Di dinding, coretan kapur putih bertuliskan angka dan kalimat terputus: “23… kemarin… ia menunggu…”. Coretan itu membentuk pola melingkar di lantai berubin. Wujud bayangan merunduk sesekali muncul di sudut pandang, namun selalu hilang ketika dilihat langsung. Dina mengabadikan coretan dengan ponsel, berharap ada jejak yang bisa dijadikan petunjuk. Sayangnya, layarnya berkedip, menampilkan garis hitam sebelum mati.

Detak Jam Tua di Ruang Tengah

Setelah melewati lorong sempit, mereka tiba di ruang tengah. Jam tua di dinding berdentang, menandai pukul tiga pagi. Suara dentang itu bergema panjang, lalu terhenti di denting ketiga. Hendra merasakan reset emosi—antara lega dan takut. Namun, aura teror belum pergi. Di sudut ruangan, bayangan panjang merunduk menghadap sudut, membelakangi mereka.

Kaca Pecah dan Jeritan

Kemudian, terdengar suara kaca pecah dari ruang dapur. Jeritan Dina pecah, memecah kesunyian. Mereka berlari menuju sumber suara, mendapati jendela kecil berantakan. Pecahan kaca tergeletak di lantai, sementara bayangan di luar tampak menunduk, berdiri di balik rerimbunan tanaman kering. Wujud bayangan merunduk mengangkat kepala—meski tanpa wajah—dan mengarahkan tatapan kosong ke arah mereka.

Dikejar di Halaman Belakang

Kedua sahabat itu keluar lewat pintu dapur menuju halaman belakang. Rumput liar basah oleh embun memijak kaki telanjang mereka, menambah kengerian. Sosok merunduk itu merangkak cepat, seolah tubuhnya bisa melesat tanpa suara. Dina jatuh terpeleset, dan Hendra berlutut menolongnya. Dalam sekejap, bayangan sudah dekat, siap merenggut.

Senter Terakhir dan Cahaya Penyelamat

Dalam kepanikan, Hendra menyalakan senter satu kali lagi. Sinar terpusat menembus kabut malam, mengungkap sosok penuaan—tangan keriput, lutut menekuk—sesaat sebelum cahaya memudar. Sorot itu memaksa bayangan terhenti. Meski begitu, pendirian keduanya melemah. Dina mengajak Hendra untuk lari, namun jalur keluar tertutup tanaman rambat yang tumbuh liar.

Kerjasama untuk Bertahan

Lalu, Hendra mengingat gerbang samping yang mereka lewati masuk tadi. Walaupun pintu terkunci, kunci gembok tampak berkarat parah. Dengan sisa tenaga, mereka merogoh senter dan memfokuskan kilatan ke arah gembok. Cahaya terpantul, memperlihatkan lekukan gembok yang menua. Dina mengangkat sepatu kayu sebagai pengungkit, dan dengan dentang keras, gembok patah.

Bebas tapi Terguncang

Begitu gembok terlepas, mereka mendorong pintu besi semaksimal tenaga. Angin malam memuntahkan hujan deras yang membasahi tubuh mereka. Dalam gerimis itu, wujud bayangan merunduk muncul sekali lagi di ambang pintu, lalu memudar tanpa suara. Mereka berlari ke jalan, tak peduli sepatu basah maupun bajunya yang koyak.

Bayangan yang Tak Pernah Hilang

Beberapa hari berlalu, Hendra dan Dina masih terjaga di malam sunyi. Wujud bayangan merunduk menghantui mimpi mereka, muncul di sudut teras rumah sendiri—meski tempat itu berbeda. Apa pun yang mereka lakukan, bayangan itu selalu kembali menampakkan diri, memanggil mereka dengan ketukan lembut. Kini, setiap rembulan muncul, teror itu kian nyata.

Politik : Iran Gempur Israel: Tel Aviv Dihujani 100 Rudal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post