Peta yang Berakhir di Garis Putus-putus
Mula-mula aku menganggapnya cuma tugas biasa: memotret jalur lama untuk konten pendakian. Saat senja turun, suara kentongan gaib terdengar dari arah yang tidak tercatat di peta. Karena kabut muncul lebih cepat dari perkiraan, lereng Lawu terasa seperti mulut yang menelan cahaya.
Awalnya aku berjalan mengikuti patok kayu yang rapi. Tiba-tiba, patok itu mendadak berhenti, seolah ada tangan yang sengaja mencabut sisanya. Di sana, peta kertas milikku menunjukkan garis putus-putus dan catatan tua: “Jangan lewat setelah ketukan ketiga.” Dengan penasaran, aku menertawakan peringatan itu. Meski begitu, telingaku menangkap satu ketukan pelan—lalu dua—dan akhirnya tiga, tepat ketika angin memutar arah. Kentongan gaib itu tidak sekadar bunyi; rasanya seperti panggilan yang mengenal namaku.
Tidak lama kemudian, dari balik pohon pinus, samar-samar tampak gapura bambu tanpa papan nama. Sementara itu, tanah di depan gapura terlihat lebih hitam, seakan sering diinjak kaki basah. Begitu hujan rintik mulai turun, aku mengambil keputusan cepat: masuk sebentar, berteduh, lalu kembali. Sayangnya, langkah itu ternyata bukan “sebentar,” melainkan awal dari sesuatu yang panjang.
Gapura Bambu dan Jalan yang Menghapus Jejak
Pertama-tama, aku melewati gapura itu tanpa merasa apa-apa. Namun setelah dua puluh langkah, suara hutan mendadak menipis, seperti radio yang dikecilkan. Selain itu, aroma tanah berubah; bukan lagi wangi lumut, melainkan bau kayu tua yang diasapi. Di saat yang sama, kentongan gaib kembali berbunyi, kali ini lebih dekat, seolah dipukul dari dalam dadaku.
Anehnya, jalan setapak yang tadi jelas kini tampak seperti kain kusut. Bahkan jejak sepatuku sendiri memudar dengan cepat, seakan kabut menghapusnya memakai telapak tangan. Karena panik, aku berhenti untuk menandai pohon dengan pisau lipat. Alih-alih membekas, goresanku tidak meninggalkan apa pun. Sesudah itu, kulit pohon tampak “menutup” kembali, rapi seperti semula.
Lalu kulihat sesuatu di tanah: pecahan genteng tua, serpihnya berlumut. Benda itu bukan hal wajar di jalur pendakian. Maka, meski logika menolak, aku mengikuti serpihan-serpihan itu, sebab mereka membentuk arah seperti remah roti. Pada ujung arah itu, samar-samar terlihat atap—dan aku sadar, aku sedang menuju sebuah desa.
Desa yang Tidak Ada di Peta, Tapi Ada di Nafas
Ketika kabut sedikit membuka, rumah-rumah kayu muncul satu per satu. Tidak ada suara manusia. Tak terdengar ayam. Tidak terdengar radio. Walau begitu, lampu minyak menyala di beberapa jendela, redup seperti mata mengantuk. Di tengah desa, berdiri pos ronda kecil yang catnya mengelupas. Dari situlah kentongan gaib terdengar, teratur, seperti jam yang mengukur kesalahan.
Aku memanggil, “Permisi!” Suaraku memantul aneh, seolah diserap dinding basah. Sesaat kemudian, seorang lelaki tua keluar dari pos ronda. Ikat kepalanya lusuh, dan matanya tajam, tetapi kosong. “Pendaki?” tanyanya singkat. Aku mengangguk, lalu mencoba menjelaskan soal tersesat. Sebelum kalimatku selesai, ia memotong, “Kalau begitu, jangan dengar ketukan itu. Kalau sudah dengar, jangan jawab.”
Seharusnya aku langsung pergi. Akan tetapi, hujan rintik berubah jadi gerimis rapat, dan kabut menutup jalur pulang. Karena terpaksa, aku meminta izin berteduh. Lelaki tua itu menatapku lama, seakan menimbang harga sebuah nyawa. Pada akhirnya, ia berkata pelan, “Boleh. Tetapi duduk di sini. Jangan melangkah ke rumah mana pun. Dan kalau kentongan gaib memanggil nama, biarkan saja.”
Pos Ronda dan Ketukan yang Menghitung Orang
Aku duduk di bangku pos ronda. Kayunya dingin, seperti disimpan di sungai. Di sisi lain, lelaki tua itu mengambil rokok linting, namun tidak menyalakannya. “Di sini api cepat mati,” ujarnya, seolah memberi petunjuk tentang nasibku. Kemudian ia menunjuk kentongan yang tergantung: kayu hitam, retaknya seperti urat.
Aku bertanya, “Desa ini namanya apa?” Lelaki itu menggeleng. “Nama sudah ditinggal,” katanya. “Yang tersisa cuma tugas.” Ucapannya membuat tengkukku merinding, apalagi saat kentongan gaib terdengar sekali, padahal tidak ada yang memukul.
Dari kejauhan, langkah kaki terdengar di jalan tanah. Harapanku muncul, karena kupikir ada penduduk lain. Kenyataannya, yang datang hanyalah bayang-bayang manusia, bergerak di balik kabut, seperti arang yang berjalan. Karena takut, aku merapatkan jaket. Lelaki tua itu menahan lenganku. “Jangan menatap lama,” bisiknya. “Kalau kau menatap, mereka mengira kau mengenal.”
Setelah itu ketukan berbunyi dua kali. Lalu lelaki tua menghitung dengan bibir nyaris tak bergerak. “Satu… dua…” Pada ketukan ketiga, ia memejam, lalu berkata, “Ada yang kurang. Jadi malam ini harus ada yang mengganti.”
Sejarah & Budaya : Sejarah Jalur Rempah yang Membentuk Perdagangan Dunia Timur