Darah Di Surat Cinta Lama Dari SMA Pare Pare Sunyi

Darah Di Surat Cinta Lama Dari SMA Pare Pare Sunyi post thumbnail image

Kotak Arsip yang Tidak Pernah Kubuka

Malam itu, darah surat cinta menjadi kalimat pertama yang terlintas ketika aku menemukan kotak karton kusam di loteng rumah ibu di Pare Pare. Aku pulang karena libur panjang; selain itu, ibu minta aku merapikan barang-barang sekolah lama sebelum rumah direnovasi. Karena loteng penuh debu, aku memakai masker, lalu menyalakan lampu bohlam yang cahayanya kekuningan. Namun, di antara koper rusak dan buku tahunan, kotak itu tampak paling “baru”—padahal warnanya sudah pudar.

Di samping kotak, ada map plastik bertuliskan: SMA – 2011. Karena rasa penasaran mengalahkan malas, aku duduk bersila, kemudian membuka kotak itu pelan. Isinya rapi: foto-foto kelas, pita OSIS, beberapa notes kecil, dan satu bundel amplop yang diikat dengan karet gelang yang sudah rapuh.

Anehnya, ketika karet gelang itu putus, ada bau logam menyengat—seperti bau koin basah atau besi berkarat. Karena bau itu tidak wajar untuk kertas, aku menahan napas. Lalu, tanpa sadar, mataku tertarik pada satu amplop yang paling tua: warnanya kecokelatan, sudutnya mengeriting, dan bagian pengirimnya kosong. Namun, di bagian penerima, namaku tertulis rapi.

Amplop Tanpa Pengirim dan Tanggal yang Tidak Masuk Akal

Pertama-tama aku membalik amplop itu. Tidak ada cap pos. Tidak ada stempel sekolah. Bahkan, tidak ada tanggal. Walaupun begitu, ada satu tanda kecil: titik merah tua di dekat lipatan, seperti noda yang pernah mengering lama.

Karena aku mengira itu tinta, aku menyentuhnya sedikit dengan ujung kuku. Namun, noda itu tidak pecah seperti tinta. Sebaliknya, teksturnya seperti kerak halus yang menempel pada kulit. Selain itu, bau besi tadi semakin kuat, sehingga perutku terasa tidak enak.

Aku menertawakan diri sendiri. “Kamu kebanyakan nonton horor,” gumamku. Namun, saat kalimat itu selesai, bohlam di atas kepalaku berkedip sekali, lalu kembali stabil.

Akhirnya, aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada selembar kertas lipat, menguning, dengan tulisan tangan yang kukenal setengah mati: tulisan miring, rapi, dan selalu menekan di huruf “t”—tulisan Arman, teman sekelas yang dulu paling sering minjam pulpenku.

Aku terdiam. Karena Arman pindah sekolah di pertengahan semester, kami putus kontak begitu saja. Bahkan, kabarnya ia tidak lulus di Pare Pare. Jadi, kenapa surat ini ada di loteng rumah ibu?

Nama yang Kembali Hidup di Kertas Menguning

Aku membuka lipatan pertama. Kalimat awalnya terlihat normal, bahkan manis: ia menulis tentang kantin, tentang hujan di lapangan, dan tentang bagaimana aku selalu lupa mengancingkan manset seragam. Karena nostalgia itu, dadaku sempat hangat.

Namun, setelah beberapa baris, tintanya berubah. Seolah-olah bolpoinnya diganti di tengah jalan. Tulisan Arman yang biru menjadi lebih gelap, lalu berangsur kemerahan, seperti tinta yang dicampur air.

Aku menelan ludah. Walaupun lampu tetap menyala, ruangan terasa lebih dingin. Selain itu, bau logam tadi berubah menjadi bau darah yang samar, tajam, dan membuat lidahku kering.

Aku melanjutkan membaca, sebab rasa penasaran mengunci tanganku.

“Kalau kamu baca ini, berarti kamu sudah buka yang seharusnya kamu kubur.”

Aku mematung. Kalimat itu jelas bukan gaya Arman yang kukenal. Dulu ia suka bercanda, bukan mengancam. Namun, hurufnya tetap sama. Karena itulah, pikiranku berputar: apakah ini prank yang terlambat sebelas tahun?

Lalu, noda merah kecil di sudut kertas tampak melebar. Awalnya hanya sebesar biji cabai, kemudian merambat seperti akar, mencari serat kertas, lalu membentuk garis.

Aku menutup surat cepat. Namun, noda itu menembus lipatan, seolah sudah basah dari dalam.

Kenangan SMA yang Tiba-Tiba Berbau Ruang UKS

Karena panik, aku turun dari loteng membawa surat itu. Ibu sedang di dapur, jadi aku memilih duduk di ruang tamu, dekat kipas angin. Namun, kipas angin justru menyebarkan bau besi itu lebih jelas.

Aku mencoba menenangkan diri: pertama menarik napas, lalu minum air, kemudian mengalihkan pandangan ke foto keluarga. Akan tetapi, telingaku menangkap bunyi kecil dari kertas itu—seperti krek… krek…, mirip orang mengepal pelan.

Aku menatap amplop. Tidak ada yang bergerak. Namun, ketika aku menyentuhnya, permukaannya terasa dingin, seperti baru dikeluarkan dari kulkas.

Akhirnya, aku membuka surat lagi, kali ini sambil menahan gemetar. Aku memutuskan membaca sampai selesai agar tidak terjebak rasa penasaran.

Baris berikutnya membuat tengkukku menegang.

“Jangan sebut namaku di rumah ini.”

Aku membaca pelan, lalu menelan ludah. Namun, karena otakku keras kepala, aku berbisik, “Arman?”

Pada saat itu, lampu ruang tamu meredup sebentar, lalu kembali terang. Selain itu, pintu kamar belakang terdengar seperti diketuk sekali—pelan, tapi tegas.

Aku membeku. Ibu masih di dapur, dan suara ketukan itu bukan dari arah dapur.

Lorong Rumah dan Pelajaran Lama yang Tidak Pernah Dijelaskan

Aku berdiri perlahan. Karena takut membuat ibu khawatir, aku tidak memanggilnya. Sebaliknya, aku melangkah ke lorong kamar belakang dengan napas ditahan.

Di lorong, udara lebih dingin. Selain itu, ada bau karbol yang tiba-tiba muncul, seperti bau ruang UKS sekolah dulu. Kenangan itu menampar: aku pernah mengantar Arman ke UKS sekali, saat ia pingsan setelah upacara. Waktu itu, bibirnya pucat, dan tangannya dingin seperti es.

Aku menelan ludah lagi. Kemudian, aku menoleh ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka, padahal aku yakin pintu itu tadi tertutup.

Karena langkahku berat, aku kembali ke ruang tamu dan menatap surat itu seolah surat bisa memberi jawaban. Lalu, aku membaca lagi, kali ini dengan lampu yang sengaja kuterangkan.

“Kalau kamu memanggil namaku, kamu akan mengingat cara aku pergi.”

Dadaku sesak. Namun, justru karena kalimat itu, ingatanku seperti dipaksa membuka laci yang lama terkunci.

Arman pindah mendadak. Pada hari terakhirnya, ia menitipkan sesuatu pada wali kelas. Katanya, itu untukku. Namun, aku tidak pernah menerima apa pun. Wali kelas bilang Arman tidak sempat datang lagi, lalu berkasnya hilang di bagian tata usaha.

Aku selalu menganggap itu drama remaja. Namun, malam ini, surat itu ada di rumahku.

Tanda Tangan yang Berganti Menjadi Noda

Aku membuka lipatan terakhir. Seharusnya ada salam penutup. Namun, di bagian bawah, bukan tanda tangan. Yang ada justru garis merah memanjang, seperti seseorang menekan jari basah pada kertas.

Di bawah garis itu tertulis satu kalimat yang membuat kulitku dingin:

“Ini bukan tinta.”

Tepat saat aku selesai membaca, noda merah di kertas bergerak lagi. Kali ini, ia membentuk huruf, seperti tulisan yang ditulis ulang oleh cairan yang merayap. Hurufnya perlahan, namun jelas.

“Aku masih di sekolah.”

Aku menatap kata itu tanpa berkedip. Sementara itu, di belakangku, kipas angin berhenti sendiri. Selain itu, rumah mendadak hening, sampai suara detik jam dinding terdengar seperti langkah.

Lalu, ponselku bergetar. Ada notifikasi dari akun lama grup angkatan SMA. Padahal, grup itu sudah mati bertahun-tahun.

Pesannya hanya satu: “Kamu ingat Arman?”

Kembali ke SMA dengan Alasan yang Terlalu Tipis

Besok paginya, dengan alasan mengantar ibu ke pasar, aku meminjam motor sepupu lalu menyimpang sendirian ke arah SMA lamaku. Aku berbohong pada diri sendiri: aku bilang aku hanya ingin menutup rasa penasaran. Namun, sebenarnya, ada tarikan halus yang membuatku merasa harus pergi.

Gerbang sekolah tampak sama: cat hijau, papan nama pudar, dan pos satpam kecil. Karena sedang libur, sekolah sepi. Namun, satpam mengenal keluargaku, sehingga ia mengizinkan aku masuk sebentar, asal tidak ke gedung belakang.

“Ada apa ke sini?” tanyanya.

Aku tersenyum canggung. “Nostalgia, Pak. Mau lihat lapangan.”

Satpam mengangguk, tetapi matanya curiga. Lalu, ia menambahkan, “Kalau kamu dengar suara dari UKS lama, jangan dideketin.”

Aku menelan ludah. Karena peringatannya terlalu pas, aku merasa surat itu sedang menuntunku.

UKS Lama dan Bau Besi yang Sama

Aku berjalan menuju gedung lama. Pertama melewati lapangan, lalu melewati lorong kelas, kemudian belok ke arah ruangan UKS yang sudah jarang dipakai. Pintu UKS setengah tertutup, dan kaca jendelanya buram.

Saat aku mendekat, bau besi itu kembali. Bahkan, lebih kuat dari di rumah. Selain itu, udara di sekitar pintu terasa lembap, seperti ada hujan yang tidak terlihat.

Aku merogoh tas, mengeluarkan surat, dan tanpa sadar membukanya. Noda merahnya tampak lebih segar, seolah surat itu baru ditulis semalam.

Lalu, huruf baru muncul di bawah kalimat “Aku masih di sekolah.”

“Masuk.”

Tanganku gemetar. Namun, kaki melangkah sendiri. Aku mendorong pintu UKS pelan.

Di dalam, ranjang UKS masih ada, tetapi sprei sudah digulung. Lemari obat kosong. Namun, di lantai, ada jejak tetesan kecil berwarna cokelat kemerahan, seperti percikan yang sudah lama mengering.

Aku menutup hidung. Karena bau itu menusuk, mataku berair.

Kursi Wali Kelas dan Surat yang Mengaku Punya Darah

Di sudut ruangan, ada kursi tua. Di atasnya tergeletak map plastik biru bertuliskan: Kelas XI-2. Map itu terbuka, seolah seseorang baru saja menaruhnya. Aku mendekat, lalu melihat selembar kertas lain di dalamnya—surat kedua, dengan amplop yang sama kusam.

Namun kali ini, pengirimnya ada.

Nama pengirim tertulis: Arman.

Aku mundur setapak. Karena panik, aku hampir menjatuhkan surat pertamaku. Akan tetapi, ketika aku menatapnya, noda merah di surat pertama merambat lebih cepat, lalu menetes—jatuh ke lantai UKS.

Tetesan itu membentuk huruf di lantai, seperti pesan terakhir:

“BACA.”

Aku menahan napas, lalu membuka surat kedua dengan tangan kaku.

Kalimat pertama membuat dadaku runtuh:

“Aku menulis ini pakai yang tersisa dariku.”

Rahasia yang Terkunci di Balik Jam Pulang

Surat kedua menjelaskan dengan potongan kalimat, seperti orang menulis sambil kehabisan tenaga. Ia menulis tentang hari terakhir di sekolah, tentang ruang UKS yang kosong, dan tentang seseorang yang menyuruhnya “diam” agar aib tidak tersebar. Ia tidak menyebut nama, tetapi ia menulis ciri: cincin besar, bau rokok manis, dan suara langkah yang selalu dihitung.

Aku membaca sambil gemetar. Namun, di tengah bacaan, suara langkah terdengar dari luar UKS—pelan, teratur, seperti orang yang sedang memastikan aku benar-benar masuk.

Satu… dua… tiga…

Aku menutup surat cepat. Namun, pintu UKS menutup sendiri dengan pelan, seperti tangan yang sopan.

Kemudian, dari belakang tirai kecil, terdengar suara napas lain—pendek, kedinginan—seperti napas seseorang yang terlalu lama berbaring.

Aku mundur. Akan tetapi, lantai terasa lengket, seperti ada cairan tipis menahan telapak sepatuku.

Nama yang Dilarang dan Harga yang Harus Dibayar

Di kepalaku, kata-kata surat pertama kembali: “Jangan sebut namaku.” Namun, karena takut dan marah bercampur, aku justru berbisik, “Arman, kamu di mana?”

Pada detik itu, bau besi meledak seperti pintu dibuka. Lampu UKS—yang seharusnya mati—menyala redup. Lalu, di kaca lemari obat, muncul bayangan anak laki-laki berseragam, wajahnya pucat, bibirnya biru, dan matanya menatapku tanpa berkedip.

Bayangan itu tidak bergerak seperti pantulan. Ia bergerak lebih lambat, seperti video yang tersendat.

Kemudian, di belakangku, ada suara kursi diseret.

Aku menoleh cepat.

Di kursi tua, ada noda merah baru, membentuk sidik jari. Dan di atasnya, surat kedua terbuka sendiri pada kalimat penutup:

“Kalau kamu mau aku pulang, bawa aku keluar.”

Aku menelan ludah. Karena itu, aku memasukkan dua surat itu ke tas, lalu mencoba membuka pintu. Namun, pintu tidak mau terbuka. Seolah ruangan itu menuntut satu hal lagi: pengakuan.

Akhirnya, aku berbisik, “Aku bawa kamu pulang, Man.”

Saat kalimat itu keluar, pintu UKS terbuka sendiri, dan angin masuk seperti orang menghembuskan napas lega.

Pulang dengan Amplop yang Masih Basah

Aku berjalan keluar sekolah tanpa menoleh. Di gerbang, satpam memanggil, tetapi suaranya terdengar jauh. Aku hanya mengangguk, lalu naik motor, dan pulang.

Di rumah, aku menyimpan surat-surat itu dalam kotak kecil, lalu menaruhnya di atas lemari, dekat foto ayah. Karena aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdoa, lalu menyalakan lampu kamar sepanjang malam.

Namun, menjelang tengah malam, terdengar bunyi pelan dari atas lemari, seperti tetes air jatuh.

Tik… tik…

Aku menatap ke sana. Tidak ada kebocoran. Akan tetapi, di bawah kotak kecil itu, ada satu noda merah baru yang merembes turun, perlahan, seperti jam pasir yang bocor.

Lalu, ponselku bergetar lagi. Notifikasi grup angkatan muncul:

“Besok ada yang mau reuni kecil? Bahas Arman.”

Aku menelan ludah. Karena kalimat itu muncul tepat saat noda darah merambat, aku merasa ini belum selesai.

Sebab darah surat cinta bukan sekadar noda. Ia seperti pengikat janji yang terlambat—janji yang menuntut dibuka, dibaca, dan akhirnya… dibalas.

Otomatif : Panduan Dasar Merawat Motor agar Tetap Irit dan Responsif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post