Piket Malam dan Lorong yang Terlalu Panjang
Malam itu aku kebagian piket, sementara tangan hitam cuma jadi bahan candaan anak kamar yang suka menakut-nakuti. Karena listrik asrama sering turun naik, aku membawa senter kecil, daftar cek pintu, dan kunci cadangan yang digantung di pinggang. Sementara itu, hujan Tarakan turun pelan, lalu membuat dinding asrama lembap, sehingga bau cat tua bercampur tanah basah masuk ke hidung.
Di lantai dua, lorong memanjang lurus seperti garis penggaris. Selain itu, lampu neon berkelip sesekali, seolah lelah mempertahankan terang. Namun demikian, suasana masih terasa normal, sampai aku lewat depan kamar mandi bersama.
Lantas suara pipa terdengar “tok” sekali, seperti ada yang mengetuk dari dalam dinding. Kemudian bunyi itu disusul tetesan air yang tidak konsisten, padahal kran sudah dicek sore tadi. Walaupun terlihat sepele, pola bunyi seperti itu sering jadi awal cerita yang tidak enak.
Sesudah itu, aku membuka pintu kamar mandi untuk mengecek. Di dalam, cermin besar di atas wastafel memantulkan lorong dengan sudut yang agak salah, seakan frame-nya sedikit miring.
Cermin, Kabut Tipis, dan Pantulan yang Tidak Sinkron
Pertama-tama aku menyalakan lampu kamar mandi. Berikutnya, aku memeriksa kran dan bak, memastikan tidak ada kebocoran besar. Setelah itu, mataku tertarik ke cermin, karena ada noda gelap di sudut bawah.
Akan tetapi, noda itu bukan noda biasa. Di sisi lain, noda tersebut tampak seperti bekas telapak tangan yang ditekan kuat, terlalu lebar untuk anak kecil, tetapi terlalu panjang jarinya untuk orang dewasa normal. Akibatnya, aku spontan mencuci tangan sendiri, seolah takut menular.
Lantas pantulan di cermin bergerak sedikit lebih lambat daripada tubuhku. Kemudian aku mengangkat tangan kanan, dan pantulan mengangkatnya setengah detik terlambat. Walaupun selisihnya kecil, itu cukup membuat kepala seperti dipukul pelan.
Sesudah itu, suhu kamar mandi turun. Selain itu, embun tipis muncul di permukaan cermin, padahal air hangat tidak mengalir dan pintu terbuka.
Kemudian suara halus terdengar, seperti dari balik kaca.
“Di sini….”
Aku menelan ludah. Namun demikian, aku memilih diam, karena suara seperti itu biasanya memancing jawaban.
Ketukan Pipa dan Bercak yang Membesar
Di belakang wastafel, pipa mengetuk lagi: tok… tok… tok…. Sementara itu, ketukannya bukan seperti air mengalir, melainkan seperti jari memukul logam. Selain itu, bunyi tersebut berirama, seolah ada yang mengetuk untuk dipersilakan masuk.
Akibatnya, aku mundur sedikit. Lantas bercak gelap di cermin membesar pelan, seperti tinta yang merambat di air. Kemudian bentuknya jelas: jari-jari panjang, telapak melebar, dan warna hitam pekat—bukan bayangan, melainkan sesuatu yang “menempel”.
Pada detik itulah aku paham: ini tangan hitam yang sering diceritakan senior, dan aku sedang berdiri tepat di depannya.
Walaupun panik, aku tidak langsung lari. Sesudah itu, aku menahan napas dan menatap lurus pada pantulan sendiri, mencoba memastikan aku tidak berhalusinasi.
Namun pantulan di cermin tidak menatap balik. Sebaliknya, pantulan mataku terlihat seperti melihat ke belakangku.
Bayangan di Belakang dan Larangan Menoleh
Rasa dingin menjalar ke leher. Selain itu, bulu kuduk berdiri keras seolah ada angin yang menusuk dari jauh. Lantas satu insting muncul: jangan menoleh.
Namun demikian, otak tetap memaksa membayangkan apa yang ada di belakang. Akibatnya, bahuku menegang, dan tangan kiri refleks meraba gagang pintu.
Saat itulah tangan hitam di cermin bergerak.
Jari-jari hitam itu bergeser turun, lalu naik, seperti mengetuk kaca dari sisi dalam. Kemudian telapak itu menekan lebih kuat, sehingga embun di cermin membentuk garis-garis seperti retakan halus, walau kaca tidak pecah.
Lantas suara lembut muncul lagi, lebih dekat.
“Sebut… nama….”
Aku menggigit ujung lidah. Walaupun ingin bertanya “nama siapa?”, aku menahan karena sadar satu kata bisa menjadi pintu.
Panggilan Meniru Teman Kamar
Hening beberapa detik. Sementara itu, bunyi hujan seperti menjauh, seolah dunia di luar kamar mandi dipindahkan. Selain itu, lampu neon berkedip sekali, lalu stabil.
Kemudian suara memanggil menggunakan nada yang familiar, tepat seperti teman sekamarku.
“Bro, bukain….”
Akibatnya, aku hampir membalas, karena panggilan itu terdengar wajar seperti orang minta tolong. Namun demikian, cermin memperlihatkan fakta yang menahan: tidak ada siapa pun berdiri di belakangku, tetapi pantulan tetap memperlihatkan “ada” sesuatu di sisi kiri bahuku, gelap dan tinggi.
Lantas tangan hitam merayap ke tengah cermin. Sesudah itu, ia berhenti tepat di belakang pantulan kepalaku, seolah ingin “memegang” dari balik kaca.
Aku menahan tangis. Selain itu, napas terasa pendek seperti diperas. Namun, aku tetap diam.
Kunci Piket dan Air Garam yang Diajarkan Senior
Dari ingatan, aku teringat pesan senior yang dulu dianggap bercanda: kalau ada kejadian aneh di kamar mandi, jangan sendirian, dan gunakan air garam kalau bisa. Karena senterku masih menyala, aku meraih botol minum, lalu menciduk air dari wastafel.
Sementara itu, aku membuka kantong kecil berisi garam—bekal mie instan yang belum kupakai. Selain itu, telapak tanganku gemetar saat menuang. Lantas aku menaburkan garam ke lantai di depan cermin, membentuk garis tipis.
Kemudian tangan hitam berhenti bergerak. Akibatnya, aku merasa ada jeda, seperti makhluk itu menimbang. Walaupun tidak yakin, aku mengambil kesempatan untuk mundur perlahan menuju pintu.
Sesudah itu, pipa membunyikan satu ketukan keras: TOK! Selain itu, lampu kamar mandi padam sesaat, lalu menyala lagi.
Dalam satu kedipan gelap itu, aku melihat sesuatu di cermin: tangan hitam bukan satu, melainkan dua.
Dua Telapak, Satu Tarikan
Begitu lampu menyala, dua telapak hitam menempel di cermin. Selain itu, jarinya bergerak seolah mencari celah. Lantas embun membentuk pola seperti tulisan yang tidak selesai.
Kemudian suara itu berubah lebih berat.
“Masuk….”
Akibatnya, aku tersedot maju satu langkah, bukan karena aku mau, tetapi karena tubuh seperti ditarik oleh rasa pusing. Namun demikian, garis garam di lantai seperti menahan kaki, membuat langkahku berhenti tepat sebelum batas.
Walaupun jantung memukul keras, aku tidak menoleh. Sesudah itu, aku mengangkat senter dan mengarahkannya ke cermin, berharap cahaya mematahkan ilusi.
Namun cahaya justru membuatnya lebih jelas: kulit tangan itu hitam pekat tanpa kilap, seperti arang yang tidak pernah dingin.
Penyobekan Sunyi dan Cermin yang Meminjam Suara
Dari balik kaca, terdengar bunyi seperti kain disobek pelan. Selain itu, suara itu datang berlapis, seakan ada banyak jari menggaruk dari dalam. Lantas pantulan wajahku tersenyum tipis, padahal bibirku tidak bergerak.
Akibatnya, tubuhku membeku. Namun demikian, aku memaksa menutup mata sebentar, lalu membuka lagi untuk memastikan. Kemudian bibir pantulan tetap tersenyum, sementara tangan hitam bergeser menuju pinggir cermin, seperti mencari tempat keluar.
Lantas suara berbisik paling jelas malam itu:
“Sebutin….”
Aku menggigit lidah lebih keras, sampai terasa asin. Sesudah itu, aku mengucap doa dalam hati tanpa suara, karena aku takut suara apa pun bisa ditafsir sebagai jawaban.
Sementara aku menahan, pintu kamar mandi di belakangku menutup sendiri dengan pelan. Selain itu, bunyinya tidak keras, tetapi kepastian geraknya membuat panik.
Pintu Terbuka dengan Aturan: Jangan Menjawab
Dalam kondisi hampir pingsan, aku mengetuk pintu tiga kali dengan gagang senter, berharap orang luar mendengar. Lantas suara langkah cepat muncul dari lorong. Kemudian suara senior piket malam terdengar, “Siapa di dalam?”
Akibatnya, aku hampir menjawab. Namun demikian, tangan hitam menekan kaca lebih kuat tepat saat aku mau bicara, seolah menunggu suaraku keluar.
Karena takut, aku tidak menyebut namaku. Sebaliknya, aku mengetuk lagi tiga kali sebagai kode. Sesudah itu, senior membuka pintu dari luar, dan udara lorong yang lebih hangat masuk seperti pertolongan.
Selain itu, saat pintu terbuka, embun di cermin menghilang cepat. Lantas dua telapak hitam memudar, seolah ditarik balik ke dalam kaca.
Namun senyum pantulan masih tertinggal satu detik lebih lama, sebelum akhirnya kembali normal.
Pagi yang Biasa, tetapi Noda Tidak Hilang
Kami keluar dari kamar mandi. Sementara itu, senior mengomel pelan karena aku masuk sendirian. Selain itu, ia menyuruhku cuci muka dengan air garam lagi, lalu duduk di lorong sampai napas stabil.
Keesokan paginya, kamar mandi tampak biasa. Namun demikian, di sudut bawah cermin ada bekas telapak yang tidak bisa hilang meski digosok. Akibatnya, aku sadar kejadian itu bukan mimpi.
Lantas senior berkata, “Kalau kamu tadi jawab, mereka punya pegangan.” Kemudian ia menepuk bahuku. “Ingat, kalau ada yang minta nama dari cermin, jangan kasih.”
Aku mengangguk. Walaupun sudah terang, aku tetap merasa seolah ada sesuatu memandang dari balik kaca.
Sesudah itu, aku menatap cermin sekali lagi dari jauh. Selain itu, aku memilih tidak terlalu lama, karena aku paham: tangan hitam tidak selalu datang untuk menakut-nakuti, kadang ia datang untuk mencari satu hal sederhana—jawaban—dan jawaban itu bisa menjadi jalan pulang yang salah.
Sejarah & Budaya : Seni Tari Tradisional Sebagai Cerminan Kearifan Lokal Daerah