Kabut Turun, dan Pencarian Dimulai Terlalu Cepat
Malam itu aku ikut tim pencarian, sementara jeritan anak baru terdengar sebagai kabar yang berputar dari pos ronda ke warung. Karena seorang bocah belum pulang sejak sore, warga membentuk relawan kecil dan membagi senter, jaket, serta peluit. Sementara itu, kabut Pangalengan turun cepat dari arah kebun, lalu menutup garis perbukitan seperti selimut tebal yang tidak mau diangkat.
Di pos, orang tua si bocah duduk memeluk diri. Selain itu, matanya merah, tetapi suaranya sudah habis. Namun demikian, mandor kebun berusaha tenang, lalu memerintahkan kami berjalan berpasangan dan tidak memisah. Lantas ia menekankan aturan yang terdengar sederhana: bila mendengar jeritan anak, jangan langsung mengejar sendirian.
Aku mengangguk, walau dada terasa sempit. Sesudah itu, kami mulai berjalan masuk jalur utama kebun, mengikuti lampu-lampu kecil yang sengaja dipasang sebagai penanda.
Barisan Teh, Bunyi Peluit, dan Suara yang Menipu Arah
Pertama-tama kami menelusuri jalan tanah yang membelah barisan teh. Berikutnya, peluit mandor ditiup sekali sebagai tanda jarak aman. Setelah itu, kami berhenti tiap beberapa menit, karena kabut membuat jarak pandang pendek dan langkah mudah salah arah.
Akan tetapi, suara malam anehnya “bersih.” Di sisi lain, jangkrik tidak seramai biasanya. Akibatnya, setiap bunyi kecil jadi terdengar besar: gesek daun teh, batu yang tersenggol, dan napas sendiri.
Lantas terdengar jeritan tipis dari arah kiri.
“Emaaak….”
Aku merinding, sebab suara itu menyerupai anak kecil yang kesakitan. Namun demikian, mandor mengangkat tangan memberi tanda berhenti. “Jangan lari,” katanya pelan. “Kabut suka ngelempar suara.”
Selain itu, jeritan yang sama muncul lagi, tapi kali ini seperti dari belakang. Akibatnya, kami saling menatap, karena arah berubah tanpa alasan. Lantas peluit ditiup dua kali, lalu mandor memerintahkan kami rapatkan barisan.
Jejak Kecil di Tanah Basah yang Terlalu Rapi
Di tikungan jalur, senterku menangkap jejak kaki kecil di tanah lembap. Sementara itu, jejak itu bukan satu dua, melainkan rangkaian yang rapi seperti anak berjalan pelan. Selain itu, ada bekas seret halus di sampingnya, seperti sesuatu diseret atau dituntun.
Akibatnya, aku ingin mengikuti. Namun, aturan mandor menahan kakiku. Lantas aku memanggil dua relawan agar melihat. Kemudian mandor mendekat, menunduk, dan menghela napas.
“Jejaknya terlalu bersih,” katanya. “Kalau beneran bocah lewat sini, harusnya ada lari-lari, ada jejak loncat, bukan rapi begini.”
Aku menelan ludah. Walaupun tidak paham, kalimat itu membuat bulu kuduk berdiri. Sesudah itu, mandor menabur sedikit garam dari kantong kecil—entah kebiasaan, entah keyakinan—di sisi jejak.
“Biar batas,” ucapnya singkat.
Jeritan Mendekat, tetapi Tidak Pernah Sampai
Kami lanjut berjalan, tetapi jarak antara suara dan kami terasa aneh. Selain itu, setiap kali jeritan anak terdengar, suaranya seolah dekat sekali, namun ketika kami maju beberapa langkah, suara itu justru menjauh.
Akibatnya, emosi tim naik turun. Lantas ada relawan muda yang tidak tahan dan mulai melangkah cepat. Kemudian mandor menahan bahunya. “Kalau kamu kejar sendirian, kamu bisa masuk jalur lain,” katanya keras.
Walaupun relawan itu kesal, ia berhenti. Sesudah itu, peluit ditiup lagi, memberi tanda agar semua tetap bersama. Sementara kabut menebal, senter kami seperti menusuk kapas basah, bukan menerangi ruang.
Lantas suara kecil muncul, bukan jeritan kali ini, melainkan tangis yang terputus-putus.
“Dingin….”
Aku merinding. Namun demikian, mandor kembali mengingatkan, “Suara bisa pinjam apa saja, termasuk rasa kasihan.”
Pondok Mandor dan Lampu yang Berkedip Sendiri
Kami sampai di pondok kecil di tengah kebun. Sementara itu, pondok itu biasanya dipakai istirahat pemetik teh. Selain itu, pintunya setengah terbuka, padahal mandor yakin ia menguncinya sore tadi.
Akibatnya, kami berhenti. Lantas mandor masuk lebih dulu, menyorot sudut dengan senter. Kemudian ia menemukan sesuatu di lantai: sandal anak kecil, basah, dan tertutup lumpur.
Wajah orang tua si bocah berubah. Namun demikian, mandor menahan agar ia tidak lari. “Sandal bisa jatuh, tapi orangnya belum tentu di sini,” katanya hati-hati.
Sesudah itu, lampu kecil di pondok berkedip, padahal tidak ada listrik, hanya lampu baterai yang digantung. Selain itu, udara jadi lebih dingin, seperti ada angin yang masuk dari celah papan.
Lantas, dari luar pondok, terdengar jeritan anak paling jelas malam itu.
“Paaak…!”
Aku menoleh cepat. Walaupun ingin melompat keluar, mandor menyuruh kami menunggu tiga detik. “Dengar dulu,” katanya. “Kalau suaranya pindah dalam tiga detik, itu bukan dari satu mulut.”
Tiga detik lewat. Jeritan itu muncul lagi dari arah berbeda.
Akibatnya, aku merasa lantai seperti turun.
Jalur Setapak dan “Suara Ibu” yang Paling Berbahaya
Kami menuju jalur setapak yang biasa dipakai pemetik. Selain itu, jalur ini lebih sempit dan menurun, sehingga kabut terasa lebih berat. Lantas mandor meminta semua orang memegang ujung jaket orang di depan, agar barisan tidak putus.
Kemudian suara itu berubah. Alih-alih jeritan anak, kini terdengar suara perempuan, halus, seperti ibu yang memanggil anaknya.
“Nak… sini…”
Akibatnya, orang tua si bocah bergetar. Namun demikian, mandor menutup mulutnya dengan telapak tangan sendiri, bukan kasar, melainkan menyelamatkan. “Jangan jawab,” katanya tegas. “Kalau jawab, kamu jadi penunjuk jalan.”
Sementara itu, suara ibu itu memanggil lagi, lebih lembut, lebih meyakinkan. Selain itu, nama si bocah disebut tepat, seolah yang memanggil tahu semuanya.
Lantas beberapa relawan saling menatap ketakutan. Walaupun ragu, kami tetap diam. Sesudah itu, suara itu mendadak berhenti, dan sunyi terasa seperti lubang.
Anak Kecil di Antara Teh, tetapi Tanpa Wajah Jelas
Kabut sedikit membuka. Di sela barisan teh, terlihat sosok kecil berdiri. Sementara itu, tubuhnya seperti anak, memakai jaket gelap. Selain itu, ia tidak bergerak, hanya menunduk.
Akibatnya, orang tua si bocah hampir berlari. Lantas mandor menahan lagi dan berkata, “Lihat kakinya.” Kemudian kami menyorot ke bawah.
Kaki sosok itu tidak menekan tanah. Ia seperti “mengambang” beberapa senti, tetapi kabut menipu mata, sehingga bentuknya samar. Namun demikian, ada satu hal yang jelas: ketika senter menyinari kepala, tidak terlihat wajah yang utuh, hanya gelap yang menolak cahaya.
Lantas jeritan anak muncul lagi, namun kali ini datang dari belakang kami, bukan dari sosok itu.
Akibatnya, bulu kudukku berdiri keras. Walaupun ingin lari, kaki terasa berat. Sesudah itu, mandor meniup peluit panjang, lalu memerintahkan mundur pelan.
Garam, Peluit, dan Batas yang Memutus Jalur
Mandor menabur garam membentuk garis tipis di tanah. Selain itu, ia menyuruh kami melewati garis itu satu per satu tanpa menoleh. Lantas ia memukul tanah tiga kali dengan ujung tongkat kecil, seperti menutup pintu.
Kemudian sosok kecil di sela teh bergerak. Namun, geraknya bukan berjalan; geraknya seperti bergeser tanpa langkah. Akibatnya, aku merasa tenggorokan tercekat.
Lalu terdengar bisikan yang lebih dekat, memakai suara anak kecil yang sama:
“Temenin….”
Aku menggigit ujung lidah. Walaupun kasihan, aku tidak menjawab. Sesudah itu, kami mundur sampai jalur utama.
Sementara kabut menutup lagi, peluit mandor ditiup dua kali sebagai tanda aman sementara.
Pagi Membuka Jejak yang Sebenarnya
Menjelang subuh, pencarian resmi dihentikan sementara. Sementara itu, mandor menyuruh kami kembali saat terang, karena kebun di kabut malam bisa mengubah jalur. Selain itu, orang tua si bocah dibawa pulang agar tidak tumbang.
Pagi harinya, kami kembali. Di jalur dekat pondok, ditemukan jejak kaki kecil yang benar-benar kacau—jejak lari, jejak jatuh, dan bekas gesek lutut. Akibatnya, semua orang diam, karena ini baru terlihat nyata.
Lantas di bawah semak dekat parit kecil, bocah itu ditemukan—pingsan, menggigil, tetapi hidup. Sesudah itu, ia dibawa ke puskesmas, dan napas kami baru terasa kembali.
Namun, saat mandor ditanya apa yang terjadi, bocah itu hanya berkata pelan, “Aku dengar ada yang nangis kayak aku… jadi aku ikut….”
Akibatnya, kami saling memandang, karena kalimat itu mirip pola tadi malam. Lantas mandor menatap kebun dan berkata, “Itu sebabnya jeritan anak tidak boleh dikejar. Suara bisa jadi umpan. Jalan bisa jadi pintu. Kabut bisa jadi tangan.”
Pelajaran dari Kebun: Jangan Menjawab, Jangan Memisah
Siang itu kebun kembali normal. Namun demikian, normalnya kebun tidak menghapus kejadian semalam. Selain itu, bunyi peluit mandor terasa seperti doa kecil, bukan sekadar kode kerja.
Lantas aku menyadari satu hal: jeritan anak di Pangalengan bukan hanya soal anak hilang, melainkan soal kabut yang memelintir arah, serta rasa kasihan yang dipakai sebagai tali. Walaupun kami berhasil menemukan bocah itu, malam semalam meninggalkan bekas, karena beberapa relawan mengaku masih mendengar jeritan yang sama saat hujan turun.
Sesudah semuanya selesai, aku pulang dengan dada berat. Sementara itu, satu kalimat terus berulang di kepala: di kebun berkabut, keselamatan bukan ditentukan oleh kecepatan berlari, melainkan oleh disiplin untuk tetap bersama, menjaga batas, dan menolak menjawab panggilan yang terlalu pandai meniru manusia.
Berita & Politik : Reformasi Pajak dan Dampaknya terhadap Pelaku UMKM Lokal