Sosok Berjubah Putih di Ladang Tembakau Temanggung Malam

Sosok Berjubah Putih di Ladang Tembakau Temanggung Malam post thumbnail image

Kabut Pertama dan Janji yang Terlambat

Aku datang ke Temanggung bukan untuk mencari hantu; sebaliknya, aku hanya ingin menepati janji pada Bima, teman lama yang kini mengurus ladang tembakau keluarganya. Namun, karena bus terakhir terlambat, aku tiba saat senja sudah habis. Akibatnya, kabut turun pelan seperti kain basah yang menutup bukit, sementara lampu-lampu rumah di kejauhan tampak seperti bara kecil.

Bima menjemputku dengan motor tua. Sepanjang perjalanan, ia jarang bicara; meskipun begitu, gelisah di matanya muncul setiap kali kabut menebal. “Kalau dengar kentongan, jangan kaget,” katanya. Aku tertawa kecil, akan tetapi suaraku tenggelam dalam malam yang makin rapat. “Kentongan buat ronda, kan?”

Alih-alih menjawab cepat, ia memperlambat motor. Kemudian, dengan nada datar, ia berkata, “Di sini, ronda itu bukan cuma buat maling. Kadang-kadang, kita ronda buat jaga ladang dari yang bukan manusia.” Aku hendak menimpali; pada saat yang sama, angin membawa bau tembakau yang tajam—manis, getir, dan sedikit seperti tanah basah—hingga kata-kataku tertahan. Tanpa kusadari, istilah jubah putih yang dulu sering kudengar dalam cerita desa tiba-tiba menempel di kepala.


Ladang yang Menyimpan Suara

Keesokan paginya, kabut belum pergi. Karena itu, kami berjalan ke ladang lewat jalan setapak yang sempit; daun tembakau berdiri seperti telinga, seolah menangkap setiap napas. Di sisi lain, tanah hitam masih basah, dan jejak kecil tampak di sana-sini—mungkin milik tikus, namun mungkin juga bukan.

Awalnya aku mencoba bekerja normal. Akan tetapi, semakin siang, suasana makin ganjil. Sunyi di ladang bukan sunyi yang menenangkan; sebaliknya, sunyi itu seperti menunggu sesuatu. Burung jarang terdengar, sedangkan serangga pun seolah memilih diam.

Menjelang sore, Bima mendadak berhenti. Di antara daun, ada seikat tembakau yang dipatahkan rapi, lalu disusun seperti anak tangga kecil menuju pematang. Jelas itu bukan kerja hewan, sebab bentuknya terlalu sengaja.

“Jangan sentuh,” bisik Bima.

“Apa itu?” tanyaku.

Ia menelan ludah. “Tanda dia lewat.”

“Dia siapa?”

Bima menghela napas, lalu menyebut dua kata yang membuat tengkukku merinding: jubah putih. Sesudah itu, ia mengajakku pulang cepat, seolah sore punya batas yang tak boleh dilewati.


Kentongan yang Mendekat

Malam kedua, kabut turun jauh lebih tebal. Aku duduk di ruang tengah, mencoba mengalihkan pikiran dengan obrolan ringan. Meski demikian, setiap jeda, telingaku menangkap suara halus—gesekan kain pada papan, pelan, kemudian lenyap. Bima menatapku, seakan memastikan aku diam.

Tak lama berselang, kentongan berbunyi.

Tok. Tok. Tok.

Irama itu bukan seperti ronda biasa. Mula-mula bunyinya teratur. Setelah itu, bunyi tersebut terasa mendekat, seolah seseorang menabuhnya sambil berjalan. Aku berdiri refleks, tetapi Bima langsung menahan lenganku. “Jangan keluar,” katanya tegas.

Kentongan berhenti tepat di depan rumah. Sesudahnya, sunyi terasa lebih tajam. Di sela napas, terdengar langkah menyusuri sisi rumah—pelan, berat, dan sabar. Karena penasaran, aku merangkak ke jendela. Melalui celah tirai, kabut memang membuat halaman buram; namun, bayangan itu tetap jelas: sosok tinggi berbalut kain panjang, putih pudar, menjuntai dari kepala sampai kaki.

Sosok itu tidak menoleh. Sebaliknya, ia menatap ke arah ladang, lalu mengangkat tangan perlahan, seolah memerintah seseorang datang. Bima memejamkan mata, lalu berbisik, “Dia tahu kamu di sini.” Seketika, kata jubah putih bukan lagi cerita, melainkan undangan.


Jejak di Pematang

Pagi berikutnya, Bima tampak makin pucat. Ibunya meletakkan teh hangat, lalu berbisik, “Kalau memang dipanggil, jangan melawan, tapi jangan juga sendirian.”

Sesampainya di ladang, jejak kaki manusia terlihat jelas, telanjang, mengarah ke tengah tanaman. Jejak itu besar; sementara itu, tepi tanahnya menghitam seperti terbakar dingin. Bima menatapku lama. “Semalam kamu lihat, kan?” Aku mengangguk.

“Kalau begitu,” ucapnya, “dia sudah pilih kamu untuk dengar.”

“Apa yang harus kudengar?” tanyaku, sambil mencoba menahan gemetar.

Bima menarik napas. “Ladang ini dulu bukan ladang. Ada panen yang diambil tanpa izin, ada hutang yang tidak dibayar, lalu ada sumpah yang ditinggalkan. Itulah sebabnya, kalau musim tertentu datang, jubah putih muncul.”

Kami mengikuti jejak itu. Semakin ke dalam, kabut makin tebal, seolah ladang menyimpan cuaca sendiri. Pada saat bersamaan, daun tembakau menyentuh lenganku, dingin seperti tangan bayi.


Bisikan yang Menyebut Nama

Tiba-tiba terdengar bisikan. Pada awalnya, bunyinya bertumpuk, seperti doa yang pecah. Aku berhenti, sedangkan Bima menggenggam lenganku dan berbisik, “Jangan jawab kalau ada yang manggil nama.”

Sesaat kemudian, bisikan itu berubah menjadi kalimat yang jelas di telingaku: “Balikkan.”

Aku menoleh. Di antara daun, sosok jubah putih berdiri terlalu dekat untuk masuk akal. Wajahnya tak tampak; bagian yang seharusnya mata hanya gelap seperti sumur. Bima menunduk, lalu bergumam, “Kami datang,” dengan suara yang nyaris hilang.

Sosok itu menunjuk tanah di depan kami: gundukan kecil seperti kuburan mini, ditutup daun tembakau kering. Bima mengeluarkan cangkul kecil. “Kalau tidak dibuka,” bisiknya, “dia akan terus datang.”


Kain yang Dikubur, Hutang yang Dibuka

Bima menggali, dan tanah pun terbuka perlahan. Dari lubang itu, muncul bau tembakau yang terlalu pekat, seakan ada daun terbakar di dalam paru-paru. Di dalamnya ada bungkusan kain putih, kaku dan lembap. Tubuhku gemetar; lebih buruk lagi, kepalaku terasa panas, seperti ditekan dari dalam.

Bisikan meniru suara ibuku, lalu berganti meniru suara teman-temanku. Namaku dipanggil berulang, lembut, mengajak. Karena takut menjawab, aku menggigit bibir sampai asin. Di saat yang sama, sosok jubah putih maju satu langkah.

Bima menutup bungkusan itu rapat, kemudian menatapku seperti meminta izin. Walau tubuhku ingin lari, aku mengangguk. Sesudahnya, sosok itu menunjuk ke ujung ladang: sebuah pohon tua berdiri sendirian, sementara kabut menumpuk di bawahnya.

“Ke sana,” kata Bima lirih. “Dia mau kita bawa balik.”


Lubang di Bawah Pohon Tua

Di bawah pohon tua, ada lubang yang ditutup batu berlumut. Menariknya, bagian tengah batu bersih, seolah sering disentuh. Bima menyingkirkan batu; dari lubang hitam itu keluar hawa dingin yang membuat gigi beradu.

“Masukkan,” bisik suara yang bukan suara manusia.

Dengan tangan yang gemetar, Bima memasukkan bungkusan kain putih itu. Seketika kabut bergerak, daun tembakau bergoyang, dan ladang seolah menarik napas panjang. Sosok jubah putih berdiri tepat di belakang Bima, menunduk seperti mengendus. Lalu, tanpa membuka wajahnya, suaranya terdengar bukan dari mulut, melainkan dari seluruh ladang:

“Hutang selesai.”

Kentongan berbunyi sekali.

Tok.

Sesudah itu, sosok itu mundur. Kemudian kabut menelannya, seolah malam menutup tirai. Tak lama, sunyi kembali; bedanya, sunyi kali ini terasa ringan, seperti beban yang akhirnya dilepas.


Pesan Terakhir di Balik Jendela

Kami pulang tanpa banyak kata. Sepanjang jalan, ladang tampak biasa lagi, walau aku masih merasa kabut menyimpan mata. Malamnya, tubuhku lelah; namun pikiranku tetap terjaga, sebab bayangan itu berulang di kelopak mata.

Tepat sebelum terlelap, bisikan pelan muncul dari luar jendela, sangat dekat: “Kalau ada yang mengambil lagi… jubah putih kembali.”

Aku menutup mata kuat-kuat. Pada akhirnya, aku mengerti: di Temanggung, bukan hanya manusia yang menjaga ladang. Kadang-kadang, ladang menjaga dirinya sendiri—dengan cara yang tidak pernah diajarkan kota.

Kesehatan : Kesehatan Mental: Langkah Kecil untuk Pikiran Lebih Tenang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post