Jeritan Malam Di Dermaga Kayu Pulau Seribu Tersisa

Jeritan Malam Di Dermaga Kayu Pulau Seribu Tersisa post thumbnail image

Ombak Malam dan Dermaga Terlupakan

Angin asin menampar wajah Rafi ketika perahu kecil yang ia tumpangi merapat pelan ke dermaga kayu paling sepi di sudut Pulau Seribu. Lampu penginapan di kejauhan masih berkelip, tetapi di sekitar papan-papan kusam itu gelap menggantung seperti kabut tipis yang menolak pergi. Papan lapuk berderit setiap kali ombak memukul tiang, seolah mengeluh karena dipaksa berdiri terlalu lama. Walaupun ia sudah sering meliput tempat wisata, malam itu suasana terasa berbeda, seakan pulau menyimpan sesuatu yang ingin disembunyikan dari brosur-brosur ceria.

Sejak menerima tugas menulis artikel tentang “pesona sunyi Pulau Seribu”, Rafi justru tertarik pada sisi yang jarang disentuh. Karena itu, ia sengaja meminta penginapan yang menghadap langsung ke dermaga kayu, bukan ke hamparan pasir penuh kafe. Meskipun begitu, sejak perahu menubruk pelan sisi dermaga, telinganya seperti menangkap gema jeritan yang sangat jauh, bercampur dengan suara angin. Akalnya menepis, tetapi bulu kuduknya sudah lebih dulu berdiri.


Legenda Jeritan yang Tertinggal

Setelah meletakkan ransel di kamar, Rafi duduk di teras penginapan yang sempit. Dari situ, garis dermaga kayu tampak memanjang ke laut gelap, seperti anak panah yang ditembakkan ke perut malam. Pemilik penginapan, pria tua bernama Pak Narto, datang membawa kopi hitam dan ikut menatap ke arah yang sama. Awalnya mereka hanya mengobrol tentang musim sepi pengunjung, tetapi percakapan bergeser ketika Rafi bertanya kenapa di ujung dermaga ada bagian papan yang dibiarkan bolong.

Pak Narto terdiam sebelum menjawab. Ia lalu menceritakan tragedi ulang tahun yang berakhir buruk: Lala, seorang gadis muda, jatuh ke laut setelah papan di ujung dermaga kayu patah saat pesta berlangsung. Tubuhnya tak pernah ditemukan. Sejak itu, masyarakat percaya jeritan terakhir gadis itu masih tinggal di sela-sela tiang.


Malam Pertama: Suara dari Bawah Papan

Malam turun perlahan. Rafi yang duduk di teras penginapan kembali menangkap suara aneh. Meskipun awalnya samar, suara itu kemudian berubah menjadi jeritan yang seolah memanggil dari ujung dermaga kayu. Suara itu melengking, tercekik, dan berulang seperti nama yang terbelah di air: “la…la…”


Foto Lama dan Bayangan yang Mengintai

Keesokan paginya, Pak Narto mengajak Rafi melihat foto-foto lama. Di antara deretan foto, satu gambar membuatnya merinding: foto pesta ulang tahun Lala. Senyumnya cerah, tetapi bayangan gelap di air di bawah kakinya tampak seperti tangan yang terulur. Pola itu terlalu jelas untuk dianggap kebetulan.


Tengah Malam di Ujung Dermaga

Malam kedua, rasa penasaran Rafi berubah menjadi tekad berbahaya. Ia berjalan pelan menyusuri dermaga kayu. Papan berderit, angin berhenti, dan laut menjadi terlalu sunyi untuk malam tropis. Tepat di ujung dermaga yang patah, jeritan itu kembali — lebih dekat, lebih nyata. Kemudian, sesuatu muncul dari bawah air.

Wajah pucat, mata terbuka lebar, rambut melayang seperti rumput laut. Suara itu berlapis-lapis, seakan berasal dari banyak mulut sekaligus. Bahkan, sesuatu dingin meraba pergelangan kakinya di bawah papan.


Pelarian Panik di Bawah Bulan Gelap

Rafi berlari kembali ke daratan. Pak Narto yang melihat kepanikannya menolongnya masuk penginapan. Malam itu tubuh Rafi menggigil tak berhenti. Dalam tidurnya yang gelisah, ia terus mengigau memanggil nama Lala.


Harga Sebuah Cerita

Besoknya, ia menulis artikel dengan detail-detail yang bahkan ia sendiri tak yakin pernah ia dengar. Editor memujinya, tetapi setelah Rafi kembali ke Jakarta, jeritan itu ikut pulang bersamanya. Setiap tengah malam, ia mendengar ombak, dentuman papan kayu, dan suara Lala memanggil-manggil namanya.

Rekaman ponselnya menangkap suara serupa. Pembaca artikelnya pun melaporkan mendengar suara jeritan samar meski tidak ada audio terlampir.


Jeritan yang Mengikuti ke Daratan

Email pembaca datang hampir setiap minggu. Sebagian mengirim foto ujung dermaga kayu saat malam. Dalam beberapa foto, pola samar terlihat di permukaan air: bentuk kepala yang setengah terangkat, atau rambut yang melayang seperti ingin keluar ke udara.

Rafi kini menghindari laut. Namun, ia tahu satu hal: jeritan itu tidak lagi terikat pada satu tempat. Suara itu hidup karena ada yang mengingatnya.

Bagi yang ingin berkunjung ke Pulau Seribu, ia hanya memberi satu peringatan:

Jangan pernah berdiri terlalu lama di ujung dermaga mana pun saat malam terlalu sunyi. Sebab jika kalian mendengar jeritan itu, mungkin bukan hanya satu arwah yang memanggil — tetapi semua yang tenggelam di bawah dermaga kayu yang tidak pernah benar-benar beristirahat.

Inspirasi & Motivasi : Menemukan Inspirasi dari Orang Biasa dengan Kisah Luar Biasa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post