Kedatangan ke Bali dan Penemuan Topeng Aneh
Aku datang ke Bali demi istirahat setelah bekerja terlalu keras di Jakarta. Karena ingin mencari oleh-oleh, aku pergi ke Pasar Sukawati pada siang hari yang terik. Ketika menelusuri lorong-lorongnya, aku menemukan sebuah kios kecil yang terlihat lebih tua dibanding kios lain. Anehnya, kios itu jauh lebih sepi.
Di dinding kios, sebuah topeng hidup tampak menunggu. Sorot matanya terasa berbeda, seolah memeriksa siapa pun yang mendekat. Bibirnya tersenyum tipis, namun sudut mulutnya terlihat seperti memiliki noda merah gelap. Selain itu, harganya tidak masuk akal untuk ukiran serumit itu—terlalu murah, bahkan mencurigakan.
Penjualnya adalah lelaki tua dengan rambut memutih. Ia hanya berkata, “Topeng ini menunggu orang kota.” Tanpa penjelasan lain, ia menyerahkannya begitu saja setelah aku membayar. Meskipun merasa sedikit tidak nyaman, aku tetap membawanya pulang.
Perjalanan kembali ke penginapan terasa aneh. Tas punggung tempat topeng itu disimpan seperti semakin berat. Meski aku mengabaikannya, perasaan tidak enak mulai muncul sejak detik itu.
Peringatan yang Terlambat Kudengarkan
Ketika menunggu ojek di depan pasar, seorang tukang ojek tua menatap tas yang kubawa dengan mata waspada. Ia mendekat dan bertanya apakah aku membeli sesuatu dari kios dalam lorong sempit. Setelah kujelaskan, ia menarik napas panjang.
“Kalau bisa, kembalikan saja,” katanya pelan. “Ada barang tertentu dari pasar ini yang seharusnya tidak dibawa keluar malam hari.”
Aku menganggapnya terlalu percaya takhayul. Namun, caranya berbicara membuatku ragu sejenak. Walaupun begitu, aku tetap membawa topeng itu ke penginapan.
Saat memasuki kamar, udara mendadak lebih dingin. Lampu kamar berkedip sekali sebelum stabil. Aku menaruh topeng itu di dinding tepat di atas ranjang karena berpikir itu hanya hiasan lucu. Rupanya, keputusan itu menjadi awal malam-malam yang mengerikan.
Malam Pertama: Perubahan pada Senyum Topeng
Ketika malam tiba, aku tertidur cepat. Akan tetapi, suara gamelan lirih membangunkanku. Suara itu datang dari arah dinding tempat topeng tergantung. Karena suasana kamar gelap, bentuk topeng tampak lebih menyeramkan.
Saat menatapnya dengan saksama, aku sadar bahwa senyum tipisnya berubah menjadi lebih lebar. Lakunya seolah bergerak meskipun aku jelas tidak menyentuhnya. Selain itu, matanya tampak lebih cekung, seperti menyerap cahaya ruangan.
Aku bangkit, mengambil topeng itu, dan menaruhnya di meja. Walaupun sudah tidak menatap dinding, aku tetap merasa objek itu mengikuti gerakanku. Bahkan ketika mencoba tidur kembali, rasanya seperti ada seseorang yang berdiri tepat di samping ranjang, menunggu aku memejamkan mata.
Bayangan Penari Bergerak Tanpa Irama
Malam berikutnya tidak lebih baik. Walaupun topeng kusimpan di meja, bayangan aneh mulai muncul pada dinding seberang kamar. Bayangan itu menari dengan gerakan tidak wajar—patah-patah, terputus, dan sangat tidak manusiawi.
Kadang bayangan itu bergerak mendekat ke arah meja, seolah mencoba menarik topeng kembali ke dinding. Selain itu, suara napas berat terdengar dari sudut kamar, disusul tawa lirih yang menggores telinga.
Ketika akhirnya memberanikan diri memotret topeng itu dengan ponsel, hasil foto memperlihatkan hal lain: bayangan topeng pada foto bukan penari tunggal, tetapi sosok berjubah hitam tanpa wajah. Sosok itu berdiri di belakangku dalam foto.
Aku segera menghapus foto itu. Namun, rasa takutnya tidak dapat kuhapus semudah itu.
Mencari Penjual di Pasar Sukawati
Setelah tidak tahan lagi, aku kembali ke Pasar Sukawati untuk mengembalikan topeng. Namun, kios tempat aku membelinya sudah tidak ada. Pedagang sekitar pun tidak mengenali deskripsi lelaki tua yang menjualkannya.
Ketika mencoba bertanya pada pedagang yang berbeda, semuanya hanya menggeleng. Bahkan beberapa di antara mereka tampak tidak nyaman mendengar ceritaku. Mereka menyarankan agar aku meninggalkan topeng itu di pura tertentu jika ingin tenang.
Saat melangkah keluar pasar, tukang ojek tua yang pernah menegurku muncul lagi. Ia menatapku dengan iba. “Kios itu tidak selalu ada. Ia muncul hanya untuk orang yang dicari topeng itu.”
Perkataannya membuat punggungku dingin. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin membuang topeng itu, namun takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi jika melakukannya sembarangan.
Kepulangan yang Membawa Teror
Ketika kembali ke kota asal, aku berharap segalanya mereda. Namun, bahkan di pesawat pun, tas berisi topeng bergetar pelan. Terkadang terdengar bunyi gesekan kayu dari dalam, seperti kuku panjang menggaruk plastik.
Di apartemen, aku menyimpan topeng itu dalam lemari, membungkusnya dengan kain tebal. Meskipun begitu, suara gamelan tetap muncul pada tengah malam. Selain itu, langkah kaki tidak terlihat sering berjalan mengelilingi tempat tidurku.
Beberapa kali ketika melihat cermin, refleksiku tampak terlambat mengikuti gerakan. Bahkan ada momen ketika mataku terlihat lebih gelap dari biasanya, seperti ada ruang kosong di baliknya.
Rekan Kerja yang Menyadari Perubahan
Seiring hari berlalu, temanku di kantor mulai memperhatikan perubahanku. Rina, salah satu rekan dekatku, menatapku lama saat jam istirahat. Dengan suara berat ia berkata ia bermimpi melihatku memakai topeng kayu dengan mata gelap dan mulut menyeringai.
Ia kemudian menambahkan, “Sekarang pun rasanya seperti ada wajah lain di balik wajahmu.”
Aku tidak berani menyangkal, sebab aku sendiri mulai merasa gerakan tubuhku terkadang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali. Jika ada suara ritmis—bahkan ketukan meja—kakiku bergerak seperti mengikuti pola tari yang tidak pernah kupelajari.
Ritual Pembersihan yang Gagal
Dalam keputusasaan, aku memanggil seorang ahli spiritual. Ketika ia melihat topeng itu, ekspresinya tegang. Menurutnya, ada jiwa penari tua yang terjebak dalam topeng tersebut; jiwa itu menyatu dengan kayu melalui ritual gelap dan membutuhkan tubuh baru.
Ia mencoba merapalkan doa, menyalakan dupa, dan memercikkan air kembang. Meskipun demikian, topeng itu bergetar hebat. Cairan hitam merembes keluar dari sudut bibirnya. Lampu ruangan mati menyala berkali-kali, seolah ada sesuatu yang menghisap energi kamar.
Pada akhir ritual, ia berkata dengan suara serak, “Ia sudah mulai menempel padamu. Waktumu tidak banyak.”
Asal Usul Kutukan Penari
Setelah beberapa hari, ahli spiritual itu membawa kabar tentang penari topeng legendaris dari Sukawati. Menurut catatan lama, penari tersebut terobsesi pada kemudaan dan kekuasaan. Ia melakukan ritual terlarang agar jiwanya bertahan dalam topeng. Namun, ritus itu gagal dan ia tewas dengan cara tragis.
Sejak itu, topeng miliknya muncul dan menghilang di Pasar Sukawati, memilih pengganti dari waktu ke waktu. Siapa pun yang membawanya akan dilatih secara tak kasatmata untuk menari dalam ritus lama. Tubuh pemilik baru akan dipakai sebagai wadah, sedangkan jiwa asli pemiliknya akan terperangkap.
Mendengar itu, aku merasa seluruh bagian tubuhku dingin. Kini aku mengerti mengapa bayangan penari itu mengikuti setiap malamku.
Malam Terakhir: Tubuh Baru untuk Penari Lama
Pada malam itu, aku memutuskan menghancurkan topeng tersebut. Dengan palu besar di tangan, aku berdiri di atasnya. Namun, sebelum palu turun, seluruh ruangan bergoyang. Bayangan penari muncul dari dinding, bergerak cepat, membentuk lingkaran di sekelilingku.
Suara gamelan memenuhi ruangan, begitu keras hingga telingaku berdengung. Topeng itu tiba-tiba mengangkat dirinya sendiri, melayang setinggi wajahku. Sebuah tarikan kuat menyeretku maju. Palu jatuh dari tanganku.
Topeng menempel ke wajahku dan membakar kulit seperti bara panas. Dalam hitungan detik, pandanganku berubah. Warnanya terang seperti cahaya panggung. Di depan, sosok penari tanpa wajah berdiri menunduk, memegang kedua tanganku. Ia menarikku masuk ke dalam tarian ritual itu.
Saat aku mencoba berteriak, tubuh asli milikku roboh ke lantai seperti boneka. Kesadaranku terjebak di balik kayu. Dari dalam lubang mata topeng, aku melihat dunia sebagai penonton abadi, sementara penari itu mulai memakai tubuhku.
Epilog: Korban Berikutnya di Pasar Sukawati
Beberapa minggu kemudian, apartemenku ditemukan kosong. Tidak ada tanda perlawanan, hanya topeng kayu yang tergantung rapi di dinding. Senyumnya lebih lebar dibanding sebelumnya.
Di Bali, seorang wisatawan baru berjalan melalui lorong Pasar Sukawati. Ia menemukan kios kayu yang sepi. Lelaki tua di dalamnya menawarkan topeng cantik dengan harga yang terlalu murah. Topeng itu tersenyum miring, seolah memanggilnya.
Di balik kayu itu, aku menjerit sekeras mungkin, namun suara itu hanya menjadi angin kecil yang tidak pernah sampai pada siapa pun.
Kesehatan : Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Penyakit Degeneratif Dini