Datang ke Kasongan dan Bisikan Malam Pertama
Aku pindah ke Desa Kasongan bukan karena ingin, melainkan karena keadaan. Pekerjaan di kota hilang begitu saja, sehingga satu-satunya pilihan adalah kembali ke rumah peninggalan kakek di pinggir desa. Malam pertama, udara lembap bercampur bau tanah basah, dan, anehnya, dari kejauhan terdengar tangis bayi yang terputus-putus.
Awalnya, aku mengira suara itu berasal dari rumah tetangga yang memiliki anak kecil. Namun, semakin diperhatikan, suara tersebut terdengar menggema, seperti datang dari ruang kosong yang dalam. Selain itu, ada getar tipis di ujung suara, seolah-olah bayi itu menjerit sambil ditahan oleh sesuatu yang dingin dan kejam.
Karena lelah, aku berusaha mengabaikannya. Akan tetapi, tepat ketika mataku hampir terpejam, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seperti berada di belakang dinding kamar. Meskipun bulu kudukku meremang, aku memaksa diri untuk percaya bahwa itu hanya halusinasiku yang dipengaruhi suasana baru.
Sumur Tua di Belakang Rumah Kakek
Keesokan paginya, sinar matahari menyibak kabut yang menyelimuti pekarangan. Saat itu, barulah aku menyadari bahwa di belakang rumah kakek berdiri sebuah sumur tua yang nyaris tertutup ilalang. Tembok batunya retak, talinya putus, dan katrol kayunya menggantung miring.
Tetangga sebelah, Pak Darmin, tiba-tiba muncul sambil membawa karung pakan ayam. Sambil tersenyum kaku, ia bertanya apakah aku tidur nyenyak. Ketika aku menjawab bahwa malam tadi terdengar tangis bayi, wajahnya seketika mengeras.
“Kalau malam, jangan keluar ke belakang rumah,” ucapnya pelan. “Sumur itu bukan sumur biasa. Lebih baik kamu pura-pura tidak dengar.”
Aku berusaha tertawa, meski terasa hambar. Namun, rasa ingin tahu justru makin tumbuh. Sementara itu, angin yang lewat membuat ember tua di bibir sumur berderit pelan, seperti ada yang perlahan menyentuhnya dari dalam.
Cerita Lama yang Tidak Pernah Selesai
Siangnya, aku menyempatkan diri mampir ke warung kopi di ujung gang. Di sana, beberapa warga tua sedang mengobrol. Dengan hati-hati, aku menyinggung soal sumur di belakang rumah kakek.
Salah satu dari mereka, Mbah Sarni, memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia bercerita bahwa puluhan tahun lalu, Kasongan pernah diguncang kabar menghilangnya seorang bayi. Menurut cerita, ibu sang bayi mengalami gangguan jiwa setelah suaminya meninggal tertimpa runtuhan saat menggali sumur baru.
“Katanya, bayi itu tenggelam di sumur yang sekarang ada di belakang rumahmu,” bisik Mbah Sarni. “Tetapi, tidak pernah ada yang menemukan jasadnya. Sejak saat itu, tangis bayi suka terdengar menjelang tengah malam.”
Walaupun cerita itu terdengar seperti legenda desa yang klise, nada suara Mbah Sarni membuat suasana warung tiba-tiba menjadi dingin. Selain itu, beberapa warga lain yang mendengar tampak enggan menambahkan apa pun, seakan ada bagian cerita yang sengaja mereka sembunyikan.
Malam Kedua: Jeritan dari Dasar Gelap
Malam kedua, aku sengaja tidak menutup jendela kamar. Langit berwarna kelabu, sementara suara serangga menggema dari sawah. Pada awalnya, hanya ada bunyi angin yang menyusup di sela-sela genting. Namun, perlahan, suara itu datang lagi: tangis bayi, pelan namun tajam, menusuk gendang telinga.
Kali ini, suara tersebut jelas berasal dari arah sumur. Setiap beberapa detik, tangisan itu tersendat, seolah-olah mulut kecilnya terisi air. Selain itu, ada bunyi sesuatu yang terbentur dinding batu, seperti kuku kecil mencakar permukaan licin.
Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju pintu belakang. Meskipun tubuhku gemetar, rasa penasaran menuntunku keluar. Ketika aku berdiri beberapa meter dari sumur, tangisan itu berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang pekat.
Aku menyorotkan senter ke dalam sumur. Air di bawah sana tampak hitam dan diam. Akan tetapi, sesaat kemudian, lingkaran kecil beriak, dan di permukaannya samar-samar terlihat sesuatu yang putih seperti telapak tangan mungil. Lalu, secepat muncul, bayangan itu pun lenyap.
Aku mundur tergesa, jantung berdegup tidak karuan. Meskipun begitu, entah mengapa, di tengah ketakutan itu aku merasakan sesuatu yang lain: sejenis panggilan minta tolong yang tidak selesai.
Jejak Nama yang Dihapus dari Batu Nisan
Keesokan harinya, aku mendatangi Pak Darmin. Dengan nada memohon, aku meminta penjelasan lebih rinci. Setelah beberapa kali menghela napas panjang, ia akhirnya setuju mengantarku ke pemakaman lama di tepi desa.
Di sana, di antara rumput liar dan batu nisan yang miring, ia menunjuk satu nisan tanpa nama. Hanya tersisa bekas ukiran yang tampak sengaja dikikis hingga rata. Di bawahnya, tertulis tanggal kematian hampir bersamaan dengan kisah sumur tua yang diceritakan Mbah Sarni.
“Ini seharusnya makam bayi itu,” ujar Pak Darmin. “Namun, keluarganya meminta namanya dihapus. Mereka percaya, kalau namanya disebut-sebut, arwahnya akan sulit tenang.”
Aku bertanya mengapa suara tangis bayi masih terdengar jika sudah ada makamnya. Pak Darmin memalingkan wajah, seolah-olah menahan sesuatu. Kemudian ia berbisik bahwa ada gosip gelap: bukan bayi itu yang dikubur di sana, melainkan keranjang kayu kosong yang mereka turunkan hanya demi menipu warga.
“Katanya, jasadnya tetap di sumur,” tambahnya. “Orang-orang tua memilih menutup cerita itu, karena mereka takut kutukannya.”
Buku Harian Nenek dan Rahasia Keluarga
Malamnya, karena tidak bisa tidur, aku membereskan lemari tua di kamar depan. Di sudut laci, aku menemukan buku harian nenek yang sampulnya sudah rapuh. Meskipun tulisannya pudar, beberapa kalimat masih terbaca.
Semakin aku membaca, semakin jelas bahwa nenek dulu bersahabat dengan ibu bayi yang hilang. Dalam beberapa catatan, nenek menulis tentang tekanan ekonomi yang membuat teman dekatnya itu hampir putus asa. Selain itu, ada catatan mengenai hutang kepada seorang tengkulak kaya yang terkenal kejam.
Pada halaman yang mendekati akhir, tulisan nenek berubah tergesa-gesa. Ia menulis bahwa pada suatu malam hujan lebat, ia mendengar tangis bayi dari arah rumah temannya. Ketika ia hendak keluar, kakek menahan dan memintanya berpura-pura tidak mendengar.
“Esoknya, sumur di belakang rumah mereka ditutup sementara, lalu digali ulang sebagai sumur desa,” tulis nenek. “Tidak ada yang bertanya mengapa.”
Tulisan itu berhenti mendadak, seolah-olah nenek tidak sempat menyelesaikannya. Atau, mungkin ia sengaja menghentikannya.
Eksperimen Gila di Tepi Sumur
Setelah membaca buku harian itu, rasa bersalah seakan turun-temurun menempel di dinding rumah. Karena penasaran bercampur marah, aku memutuskan melakukan sesuatu yang bodoh: mencoba berkomunikasi dengan apa pun yang ada di dalam sumur.
Malam berikutnya, aku menyiapkan rekaman lullaby Jawa yang dulu sering dinyanyikan nenek, lalu memutarnya pelan di dekat sumur. Selain itu, aku menyalakan lilin kecil di sekeliling bibir sumur, membentuk lingkaran yang goyah diterpa angin.
Pada mulanya, hanya ada bunyi serangga malam. Tetapi, perlahan, dari dasar sumur muncul riak air yang tidak wajar. Di sela-sela alunan lagu, terdengar lagi tangis bayi, kali ini bercampur suara perempuan yang lirih, seperti melenguh menahan sesal.
Udara di sekelilingku mendadak menjadi dingin menusuk. Lilin-lilin satu per satu padam tanpa sebab jelas. Kemudian, tanpa peringatan, tali timba tua yang tergantung di katrol bergerak sendiri, seolah-olah seseorang di bawah sana sedang menariknya.
Aku hampir lari, namun sesuatu menahanku. Suara perempuan itu berubah menjadi bisikan putus-putus yang menyebut namaku. Bagaimana mungkin? Nenek sudah lama meninggal, dan tidak banyak orang di desa yang tahu aku akan kembali. Bisikan itu memintaku “mengangkatnya” sebelum ada yang lain yang dijadikan pengganti.
Desakan Warga dan Makam yang Terbuka
Pagi harinya, desas-desus cepat menyebar. Mungkin ada yang melihat lilin-lilin di belakang rumah. Beberapa warga datang, termasuk Mbah Sarni dan Pak Darmin. Mereka memperingatkan bahwa bermain-main dengan sumur tua adalah tindakan nekat yang bisa membangunkan kutukan lama.
Namun, aku tidak bisa lagi diam. Dengan suara bergetar, aku menceritakan tentang buku harian nenek dan bisikan yang menyebut namaku. Awalnya mereka saling pandang ragu, tetapi akhirnya Mbah Sarni mengaku bahwa dulu kakekku dan beberapa lelaki desa memang ikut menutup kasus bayi itu.
“Waktu itu, orang-orang takut pada tengkulak yang menekan ibu bayi itu,” ucapnya. “Katanya, bayi itu dijual, lalu… entah bagaimana, berujung di sumur. Kami tidak berani campur tangan.”
Karena rasa bersalah yang menumpuk, Mbah Sarni mengusulkan sesuatu yang berani: membuka kembali nisan tanpa nama di pemakaman dan melakukan doa bersama. Mereka berharap, dengan begitu, suara tangis bayi akan berhenti.
Menjelang sore, kami berkumpul di pemakaman lama. Tanah di sekitar nisan digali perlahan. Aneh, meski puluhan tahun telah berlalu, tanah di bawah bagian tertentu terasa lebih lembap, seolah baru saja ditutup. Selain itu, bau anyir samar-samar menyelinap keluar, membuat beberapa orang mundur sambil menutup hidung.
Apa yang Sebenarnya Ada di Dalam Peti
Setelah beberapa saat, cangkul mengenai sesuatu yang keras. Dengan hati-hati, mereka mengangkat sebuah peti kayu kecil yang mulai lapuk. Paku-pakunya berkarat, dan di beberapa bagian terdapat bekas goresan seperti dicakar dari dalam.
Ketika peti itu dibuka, kami tidak menemukan kerangka bayi, seperti dugaan awal. Sebaliknya, di dalamnya hanya ada kain putih yang menghitam, sebongkah batu besar, dan seikat rambut yang telah berubah warna menjadi cokelat kusam.
Suasana menjadi semakin mencekam. Sebagian warga mulai berbisik, menuduh bahwa peti ini memang sengaja dibuat untuk mengubur rasa bersalah mereka sendiri, bukan untuk memberi tempat bagi arwah bayi itu.
Mbah Sarni memejamkan mata dan merapalkan doa dengan suara bergetar. Namun, angin tiba-tiba berputar di sekeliling kami, membawa suara lirih tangis bayi yang seolah berasal dari segala arah. Bahkan, bumi di bawah kaki bergetar tipis, seperti menyimpan sesuatu yang ingin keluar.
Malam Terakhir: Saat Sumur Meminta Pengganti
Malam itu, hujan turun deras, namun udara terasa lebih panas dari biasanya. Petir sesekali menyambar, menerangi pekarangan rumah. Di sela-sela gelegar langit, tangis bayi kembali terdengar, jauh lebih keras dan menyayat daripada sebelumnya.
Aku menutup semua jendela, tetapi suara itu justru terdengar seolah berasal dari dalam rumah. Selain itu, ada bau anyir air sumur yang menyusup dari celah lantai kayu. Tiba-tiba, lampu padam, meninggalkanku dalam gelap total.
Di tengah kegelapan, aku merasakan lantai bergetar pelan. Dari arah dapur, terdengar bunyi seret, seperti sesuatu yang berat ditarik menuju pintu belakang. Rasa takut membuat kakiku hampir lumpuh, tetapi aku terpaksa mengikuti suara itu.
Ketika pintu dapur terbuka sendiri, angin dingin menerpa wajahku. Di luar sana, di tepi sumur, berdiri sosok perempuan berambut panjang dengan kain basah menempel di tubuhnya. Wajahnya tertutupi bayangan, namun di lengannya ia menggendong sesuatu yang terbungkus kain putih.
Ia menoleh perlahan ke arahku. Dari balik kain, tangis bayi menggema, kali ini disertai batuk kecil seperti orang tenggelam. Perempuan itu mengulurkan “bayi” itu ke arahku, seolah memintaku mengambilnya.
Suara di kepalaku, yang mirip dengan suara nenek, berbisik bahwa inilah kesempatan terakhir untuk mengakhiri semuanya. Jika aku menolak, sumur akan mencari pengganti—mungkin anak dari keluarga lain di desa.
Dengan gemetar, aku melangkah mendekat. Namun, ketika jariku hampir menyentuh kain putih itu, petir menyambar sangat dekat. Cahaya menyilaukan menyingkap wajah perempuan tersebut: matanya kosong, kulitnya membiru, dan mulutnya dipenuhi lumpur hitam.
Sekejap kemudian, kain di lengannya terlepas. Bukan bayi yang jatuh, melainkan bongkahan batu besar yang sama seperti dalam peti kayu di makam. Batu itu bergulir ke arah bibir sumur, lalu jatuh, menimbulkan suara kecipak keras.
Perempuan itu menjerit, tetapi jeritannya berubah menjadi suara banyak orang—suara lelaki, perempuan, dan anak-anak—seolah seluruh dosa desa ikut meledak keluar. Lantas sosoknya lenyap, digantikan oleh kegelapan pekat. Hanya suara hujan yang tersisa.
Setelah Tangis Itu Reda… atau Belum?
Pagi menyingsing dengan langit yang pucat. Ajaibnya, untuk pertama kalinya sejak aku datang, malam berlalu tanpa tangis bayi. Warga desa yang mendengar gemuruh dan kilat malam tadi mengira hanya badai biasa, meski beberapa mengaku bermimpi didatangi perempuan berambut basah.
Sumur di belakang rumah kini tampak lebih tenang. Walaupun begitu, airnya berubah keruh, seakan-akan baru saja mengangkat sesuatu dari dasar. Pak Darmin menyarankan agar sumur itu ditutup selamanya dan pekarangannya dijadikan ruang terbuka tanpa bangunan.
Beberapa bulan berlalu, hidup di Kasongan perlahan kembali normal. Tidak ada lagi suara bayi di malam hari, dan warga mulai berani melewati belakang rumahku tanpa rasa waswas. Selain itu, pemerintah desa berencana menjadikan area sekitar sumur sebagai taman kecil untuk mengenang “peristiwa yang tidak pernah benar-benar tercatat”.
Namun, sesekali, ketika hujan turun sangat lebat dan angin membawa aroma tanah basah, aku masih mendengar sesuatu yang samar dari arah sumur—bukan tangis bayi, melainkan suara gemericik air yang terasa… hidup.
Setiap kali itu terjadi, aku teringat batu besar yang jatuh dari gendongan perempuan berwajah biru malam itu. Mungkin, batu itu bukan sekadar benda penipu. Mungkin, di dalamnya tersimpan seluruh rasa bersalah, dendam, dan kebohongan yang selama ini mengikat Desa Kasongan.
Dan, meskipun tangis bayi sudah berhenti, aku tahu benar bahwa sumur tua itu belum benar-benar diam. Ia hanya menunggu seseorang yang cukup bodoh—atau cukup bersalah—untuk kembali berdiri terlalu dekat di tepiannya.
Flora & Fauna : Peran Lumut dan Paku sebagai Indikator Kualitas Lingkungan