Wajah Di Kaca Mobil Saat Melintasi Alas Roban

Wajah Di Kaca Mobil Saat Melintasi Alas Roban post thumbnail image

Perjalanan yang Mulanya Terlihat Aman

Perjalanan pulang dari Pekalongan sebenarnya tidak direncanakan berlangsung larut malam. Akan tetapi, pekerjaan mendadak memaksaku pulang lebih lambat dari biasanya. Waktu itu sudah melewati pukul sebelas ketika mobilku meninggalkan batas kota. Jalanan tampak cukup sepi dan langit gelap tanpa bintang. Walau rasa lelah mulai terasa, pikiranku hanya ingin segera tiba di Semarang.

Ketika mobil mendekati kawasan Alas Roban, perubahan suasana langsung terasa. Udara yang tadinya hangat berubah menjadi dingin lembap. Bahkan pepohonan besar di kiri kanan jalan tampak seperti menutup langit. Meskipun jalanan lurus, kesan mencekam mulai muncul secara perlahan. Walaupun aku mencoba tetap fokus, firasat tidak enak muncul di tengkuk.

Lampu mobil menjadi satu-satunya sumber cahaya. Setiap bayangan dari pepohonan terlihat seperti sosok yang bergerak. Terlebih lagi, tidak ada kendaraan lain yang melintas. Dalam kondisi itu, rasa tenang semakin sulit ditemukan.


Bayangan Pertama yang Tiba-Tiba Muncul

Karena suasana terasa terlalu senyap, radio kuhidupkan untuk mengalihkan perhatian. Sayangnya, suara gemerisik muncul dan menelan seluruh siaran. Walaupun kucoba mengganti gelombang, suara itu tidak berubah sama sekali. Akhirnya radio kumatikan agar pikiranku tidak semakin kacau.

Saat menatap spion tengah, aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku menegang seketika. Sosok berambut panjang berdiri di kursi belakang. Rambutnya menjuntai menutupi wajah. Bayangannya tidak bergerak sedikit pun. Aku menoleh cepat ke kursi belakang, namun kursi itu kosong tanpa siapa pun. Saat kembali menatap spion, sosok itu masih ada, meski bentuknya makin samar.

Beberapa detik kemudian, sosok itu memudar. Namun rasa tidak nyaman justru meningkat. Ketika spion kuperiksa lagi, wajah di kaca muncul dengan sangat jelas. Wajah pucat itu menatap lurus ke arahku. Matanya terlihat gelap, begitu gelap hingga tidak terlihat pupilnya. Mulutnya tertutup rapat tanpa ekspresi apa pun.

Walaupun aku berusaha mengabaikannya, tatapan itu terasa menusuk dari balik kaca.


Cerita Lama yang Mendadak Menghantui

Ingatan tentang cerita ayah mulai muncul. Ia pernah memperingatkan agar menghindari jalan itu saat malam, terutama mendekati tengah malam. Menurutnya, beberapa pengendara melihat wajah di kaca sebelum kecelakaan. Bahkan ada sopir truk yang pernah mengira penumpang misterius naik ke bak belakang sebelum wajah itu muncul dalam pantulan spion.

Sebagian besar orang menganggap cerita itu hanya untuk menakut-nakuti. Namun suasana malam itu membuat cerita tersebut terasa lebih masuk akal. Kegelapan sekeliling, sunyi yang tiba-tiba, dan penampakan di spion membuat setiap kata dari cerita lama itu serasa hidup.

Meskipun ingin percaya itu hanya pikiran lelah, wajah pucat itu masih bertahan di spion, seolah menunggu momen tertentu.


Kemunculan di Jendela Kiri

Setelah beberapa menit, wajah itu menghilang. Aku mencoba mengatur napas dan mengembalikan fokus ke jalan. Namun perasaan diawasi tetap ada. Ketika kaca samping kiri kulirik sekilas, sesuatu menempel di permukaannya.

Wajah pucat tadi muncul kembali, kali ini berada tepat di luar jendela. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, namun matanya tampak jelas melalui celah rambut. Mata itu kosong dan dingin. Meskipun mobil melaju cukup cepat, wajah itu bergerak mengikutiku tanpa tertinggal sedikit pun.

Mulutnya tampak bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Bentuk bibirnya perlahan berubah seolah sedang membentuk kata-kata yang sulit ditebak. Karena kengerian itu terlalu kuat, pandanganku kembali ke jalan tanpa berani melihat kaca samping lagi.

Hawa dingin merayap dari arah jendela, menembus kulit seakan asalnya dari luar dunia.


Ketukan dari Arah Bagasi

Ketika pikiran mulai kacau, suara ketukan terdengar dari belakang.

Tok…
Tok…
Tok…

Ritmenya teratur seolah seseorang berada di dalam bagasi. Saat ketukan berhenti, suara lain mengambil alih. Goresan tajam terdengar memanjang dari sisi kiri ke sisi kanan mobil. Suara itu diikuti getaran kecil di lantai kabin. Semua itu terasa seperti ada tangan panjang yang sedang meraba permukaan mobil.

Getaran tiba-tiba muncul di kursi penumpang sebelahku. Kain kursi itu menekan ke bawah, membentuk lekukan samar, seperti seseorang sedang duduk di sana. Namun tidak ada tubuh yang terlihat. Hanya tekanan tanpa wujud.

Udara di dalam kabin berubah menjadi lebih dingin. Jari-jariku mulai mati rasa karena suhu yang ekstrem.


Tangan dari Bawah Dashboard

Ketegangan mencapai puncak ketika sesuatu merayap keluar dari bawah dashboard. Tangan pucat kurus menjulur perlahan, jari-jarinya panjang dan tampak membusuk. Tangan itu bergerak menuju setir dengan cara yang aneh, seperti tidak memiliki tulang.

Ketika jari-jari itu menyentuh setir, mobil mulai berbelok sendiri. Aku berusaha mengembalikan kemudi, tetapi kekuatan tangan itu sangat kuat. Posisi mobil mulai bergeser ke arah kiri, mendekati tepi jalan berbatu. Jurang kecil tampak hanya beberapa meter di sisi mobil.

Bisikan muncul dari belakang kursi pengemudi. Suaranya lembut, tetapi sangat mengganggu.

“Jangan lihat kaca… jangan lihat belakang…”

Peringatan itu justru membuat rasa ingin tahu meningkat. Ketika spion kulirik sekali lagi, wajah di kaca memenuhi seluruh permukaan spion. Jaraknya begitu dekat, seakan ia berada tepat di belakang kepalaku. Rahangnya turun sangat rendah, menampilkan luka sobek di sisi mulut.


Berhenti di Sekitar Jurang

Mobil semakin sulit dikendalikan. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, aku menginjak rem. Ban berdecit cukup keras, menimbulkan suara panjang yang memantul di antara pepohonan. Mobil berhenti hanya beberapa sentimeter dari ujung jalan.

Keheningan menyelimuti kabin. Namun keheningan itu hanya berlangsung singkat. Rambut panjang tiba-tiba menutup kaca depan dari arah atas. Rambut itu bergerak lambat, seolah pemiliknya sedang merayap di atap mobil.

Tidak lama kemudian, goresan kembali terdengar. Namun kali ini jauh lebih cepat dan lebih panjang. Goresan itu bergerak secara acak, membuat kaca jendela bergetar.

Karena ketakutan semakin tak tertahankan, mesin mobil kembali kuhidupkan. Sesaat setelah mesin menyala, suara tawa lirih muncul. Suara itu terdengar rusak, seperti keluar dari tenggorokan yang hancur.


Munculnya Wajah untuk Terakhir Kali

Saat meninggalkan lokasi itu, aku tetap waspada. Namun rasa waspada itu berubah menjadi teror baru ketika spion tengah memperlihatkan sesuatu lagi. Wajah perempuan itu kembali muncul. Bentuknya kini jauh lebih jelas. Kulit di pipinya tampak sobek dan mengelupas, menampilkan jaringan gelap di bawahnya.

Mulutnya bergerak lambat. Kata-kata yang terbentuk membuat bulu kudukku meremang:

“Kau… tidak boleh… kembali.”

Begitu kalimat itu terbentuk sempurna, wajah tersebut memudar perlahan. Walaupun hilang, bayangan matanya masih terasa menatap dari balik bayang-bayang spion.


Setelah Semua Terjadi

Begitu keluar dari Alas Roban, suasana kembali terasa normal. Radio menyala seperti biasa dan udara tidak lagi dingin. Namun suasana normal itu tidak membuat rasa takut hilang. Perasaan diikuti tetap menempel sangat kuat.

Sejak malam itu, pantulan kaca tidak pernah terasa sama. Kadang wajah itu muncul sekilas saat aku melihat cermin kamar mandi. Kadang rambut panjangnya terlihat di jendela saat malam sedang sunyi. Bahkan sekali waktu, bisikan halus terdengar dari kaca mobil ketika aku memarkir kendaraan.

Semua kejadian itu membuatku menyadari satu hal:
walaupun aku berhasil keluar dari Alas Roban, wajah di kaca itu sepertinya belum beranjak pergi sepenuhnya.

Dan entah kapan, ia mungkin akan muncul lagi di pantulan kaca…
menunggu seseorang yang kurang beruntung seperti diriku.

Otomatif : Tren Modifikasi Mobil yang Populer di Kalangan Anak Muda

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post