Awal Malam Saat Suara Itu Muncul
Kabut pekat menyelimuti kampung ketika malam turun perlahan dari arah bukit. Karena rumah nenek berada sangat dekat dengan Balai Adat Minangkabau, suara apa pun dari sana mudah terdengar. Walaupun biasanya balai sunyi pada malam hari, keadaan malam itu terasa aneh sejak awal. Tangisan lirih muncul dari arah balai, dan suaranya menyerupai keluh lirih seorang pengantin mati yang menanggung duka panjang. Nada tangisnya naik turun dengan ritme tak wajar, seolah berasal dari dunia yang terputus dari kehidupan.
Selain itu, udara yang semula hangat mendadak berubah dingin seperti selesai diguyur hujan. Aroma melati menyeruak dari arah halaman, meskipun tidak ada tanaman melati di sekitar rumah nenek. Bahkan setiap hembusan angin membawa wangi yang semakin tajam. Karena rasa penasaranku makin besar, aku memutuskan keluar rumah meskipun tubuhku bergetar kecil.
Walau langkahku sempat ragu, suara itu makin memaksa untuk diikuti. Suasana kampung juga berubah menjadi menekan, seakan semua rumah menahan napas. Ketika aku berhenti sejenak, tangisan itu terdengar lebih dekat, seakan memanggilku dengan lembut namun memerintah.
Pintu Balai Adat yang Tidak Seharusnya Terbuka
Balai adat berdiri anggun dengan ukiran khas Minangkabau yang memanjang di seluruh dinding. Meskipun kayunya sudah tua, bentuk rumah gadang itu tetap gagah. Namun sesuatu membuatku terpaku: pintunya terbuka. Biasanya para tetua mengunci gembok besar sejak sore, jadi kondisi pintu itu langsung mengusik pikiranku.
Setelah mendekat, aku menyentuh daun pintu yang dinginnya seperti batu yang direndam air sungai. Engsel balai berderit panjang ketika pintu kudorong perlahan. Pemandangan di dalam balai terlihat remang, tetapi sinar bulan yang masuk melalui celah ukiran cukup membantu melihat sebagian ruangan. Sebuah pelaminan adat berdiri tegak di tengah ruangan, lengkap dengan kain merah dan emas yang hanya dipasang ketika ada upacara adat.
Selain pelaminan yang seharusnya disimpan, tirai di depannya bergoyang halus meski udara benar-benar diam. Suara tangisan kembali terdengar dan kali ini lebih jelas. Bahkan getaran tangisnya mengguncang bagian dalam dadaku, membuat bulu kudukku berdiri perlahan.
Jejak Aneh di Lantai Kayu
Ketika aku menunduk, jejak kaki kecil terlihat jelas di lantai kayu. Jejak itu tampak datang dari arah pintu dan berhenti tepat di depan pelaminan. Karena ukurannya lebih kecil dari kaki orang dewasa, aku yakin itu bukan milik siapa pun dari warga kampung. Bahkan pasir halus melekat di sisi jejak, seakan pemilik jejak baru saja masuk dari halaman balai.
Walaupun aku mencoba menemukan jejak keluarnya, tidak ada satu pun. Jejak itu seolah berhenti di depan pelaminan dan pemiliknya lenyap begitu saja. Ketika pandanganku naik, sebuah bayangan samar menempel di dinding sebelah kiri. Bentuknya memanjang, tetapi tidak menyerupai tubuh manusia. Tak lama kemudian bayangan itu bergeser perlahan, turun ke lantai, lalu menghilang di bawah tirai pelaminan.
Rasa takut semakin menekan dadaku. Namun rasa ingin tahuku terus mendorongku maju. Saat memerhatikan tirai, ujung rambut panjang terlihat menjuntai sedikit keluar, seakan menunggu seseorang mengangkatnya.
Cerita Lama Tentang Mempelai yang Tidak Pernah Menikah
Nenek pernah menceritakan kisah seorang perempuan yang meninggal tragis pada malam akadnya. Ia jatuh pingsan saat suntiang dipasangkan, lalu tidak pernah bangun. Banyak rumor beredar setelah itu. Seseorang mengatakan ia diracun karena kecemburuan. Orang lain mengira ia melanggar pantangan adat. Namun tak satu pun rumor itu pernah terpecahkan.
Setelah kematiannya, warga mengaku mendengar suara tangis perempuan di sekitar balai. Suara itu sering datang di malam yang berkabut tebal. Selama bertahun-tahun suara itu hilang, tetapi malam ini tangisannya kembali, sama persis dengan cerita nenek tentang arwah pengantin mati. Kenyataan itu langsung membuat napasku goyah.
Meskipun suasana semakin menegangkan, aku merasa arwah itu ingin berbicara. Keinginan untuk memahami pesannya membuatku tetap tinggal di ruangan gelap itu.
Tangisan Berubah Menjadi Jeritan
Tirai pelaminan bergerak tiba-tiba, seakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Suara tangisan berubah menjadi jeritan tertahan yang memotong keheningan. Pelaminan bergoyang pelan, seperti ditarik dari dalam oleh dua tangan yang gemetar. Karena panik, aku mundur beberapa langkah.
Kakiku menyenggol objek kecil. Ketika kutengok, sebuah selop pengantin perempuan tergeletak. Selop itu lusuh, warnanya memudar, dan bagian depannya robek. Saat kugenggam, kelembapan dingin menyelimuti jari-jariku. Tepat ketika aku memegangnya, bisikan halus menyusup melalui telingaku.
“Balikkan…”
Nada itu lirih namun tajam. Aku melihat sekitar, tetapi tidak ada satu pun yang muncul. Meskipun begitu, suasana berubah menjadi lebih pekat seakan arwah itu berdiri tepat di sampingku.
Sosok Pengantin yang Menatap Tanpa Wajah
Ketika tirai kuangkat perlahan, seorang perempuan bersimpuh menghadap dinding. Rambutnya tergerai panjang hingga menyentuh lantai kayu. Tubuhnya bergetar halus mengikuti napas yang tidak beraturan. Suhu tubuhnya menggigil meski kamar balai sangat dingin.
Saat tubuhnya berhenti bergerak, bahunya naik turun seperti menahan tangis. Perlahan kepala itu berputar ke arahku, namun tubuhnya tetap diam. Retakan muncul di kulit wajahnya. Matanya kosong, tidak memantulkan cahaya. Wajahnya seperti tanah retak yang tidak pernah bisa pulih.
Senyum tipis muncul di antara retakan. Senyum yang membuat lututku melemah.
“Carikan… cincinku,” katanya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar.
Kembali ke Rumah Gadang yang Menyimpan Kepedihan Lama
Setelah mendengar permintaan itu, aku berlari keluar balai. Jalan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Ketika kupecahkan pintu rumah nenek, beliau langsung menoleh. Tak ada keterkejutan di matanya, seolah nenek sudah menduga apa yang kulihat.
Ia menyuruhku duduk sebelum mulai bercerita bahwa cincin pengantin hilang malam tragedi itu. Karena pencurian itu tidak pernah diungkap, arwah mempelai perempuan tidak bisa menemukan ketenangan. Nenek menambahkan bahwa arwah itu biasanya muncul saat seseorang mengambil benda-benda di sekitar balai yang pernah ia sentuh.
Meskipun ketakutan semakin dalam, kini aku memahami bahwa mengembalikan cincin itu mungkin satu-satunya cara mengakhirinya.
Pencarian Cincin yang Mengungkap Dendam
Pagi berikutnya kami kembali ke balai ketika cahaya matahari menyentuh atap rumah gadang. Ruangan tidak lagi semengerikan sebelumnya, namun hawa dingin masih terasa di dekat pelaminan. Kami memeriksa lantai, dan papan kayu yang tidak rata menimbulkan kecurigaan.
Setelah papan itu diangkat, sebuah kotak kayu tua muncul. Debu memenuhi permukaannya. Ketika kubuka tutupnya perlahan, cincin emas dengan ukiran motif Minangkabau terletak di dalamnya. Selain cincin itu, selembar kertas tua ditemukan.
Tulisan tangan pada kertas itu membuat bulu kudukku berdiri:
“Aku mencuri cincin ini karena cemburu. Aku tidak ingin dia menikah dengan sepupuku. Jika arwahnya mencariku… aku meminta maaf.”
Pengakuan itu menjelaskan dendam panjang yang menghantui kampung.
Mengembalikan Cincin kepada Pemiliknya
Malam berikutnya kami kembali ke balai untuk mengembalikan cincin tersebut. Ruangan kali ini terasa lebih tenang, seakan arwah itu sudah menungguku. Kami menaruh cincin di tengah pelaminan, tepat di atas kain merah emas.
Ketika cincin itu menyentuh pelaminan, angin dingin menyapu seluruh ruangan. Tirai bergerak perlahan. Sosok perempuan itu muncul dari kegelapan. Tatapannya kini tidak semenakutkan sebelumnya. Tangan pucatnya meraih cincin itu dengan lembut, lalu cahaya tipis mengitari tubuhnya.
Perlahan tubuhnya memudar, meninggalkan senyuman yang tidak lagi penuh rasa sakit.
Akhir Teror yang Tidak Sepenuhnya Berakhir
Sejak malam itu, tangisan dari balai tidak pernah terdengar lagi. Para tetua kampung akhirnya masuk tanpa merasa diawasi. Namun aroma melati terkadang tercium ketika angin bertiup dari arah balai.
Itu menjadi pertanda bahwa arwah pengantin mati masih menjaga tempatnya. Meski ia tidak lagi meminta balas atau menampilkan wajah menyeramkan, kehadirannya tetap ada—seperti benang tipis yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Setiap kali aku melintas di depan balai, langkahku terasa berat. Karena meskipun ia telah mendapatkan kembali cincinnya…
ia belum benar-benar pergi.
Teknologi & Digital : Artificial Intelligence untuk Diagnosis Cepat di Medis