Awal Malam Saat Kabut Menelan Jalan
Kabut malam itu turun dengan kecepatan yang tidak biasa, padahal beberapa jam sebelumnya cuaca terlihat sangat cerah. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah seorang teman di Imogiri, dan seperti biasanya, aku melewati jalur Mangunan karena rutenya lebih sepi. Namun, ketenangan itu berubah menjadi ketegangan ketika jarak pandang menyempit hingga hanya beberapa meter. Pada saat itulah, suara gending jawa terdengar jauh dari balik pepohonan gelap.
Alunan itu terdengar pelan, tetapi nadanya tidak menyerupai gending yang sering dimainkan pada upacara desa. Irama tersebut berjalan lambat, lalu berpindah menjadi berat, seolah-olah dipukul oleh tangan yang kehilangan tenaga. Ketika aku menurunkan kecepatan motor, gending itu berubah semakin jelas seakan mendekat. Walaupun aku mencoba menyangkalnya dengan logika, bulu kudukku berdiri tanpa bisa dikendalikan.
Selain suara gending yang semakin kuat, kabut juga menebal sampai menelan bentuk pepohonan. Aroma tanah basah bercampur wangi bunga setaman tiba-tiba hadir di udara. Wangi itu terasa asing karena tidak seharusnya ada di tengah hutan ketika malam larut. Semua hal tersebut membuat suasana berubah drastis dari sekadar dingin menjadi mencekik.
Alunan Gending yang Mengikuti dari Jauh
Walaupun aku berusaha mempercepat laju motor, gending itu tetap terdengar. Bunyi kenong yang dalam menggema pelan, seperti dipukul dari jarak beberapa puluh meter. Ketika aku menoleh sebentar ke belakang, kabut yang mengepul justru memperlihatkan sinar kekuningan samar—mirip cahaya obor lama. Sinar itu bergerak seolah mengikuti ritme musik yang terus mengalun dan tidak pernah berhenti.
Aku mulai merasakan dingin menusuk hingga tulang. Setiap hembusan angin malam terdengar seperti bisikan berat. Sesekali, alunan gending berubah cepat, lalu kembali lambat dalam sekejap. Perubahan tempo itu tidak mungkin dimainkan manusia secara normal. Nada-nadanya bergetar dengan frekuensi yang aneh, seolah ada kekuatan lain yang memaksanya terus berbunyi.
Walaupun rasa takut semakin kuat, aku tetap memaksa motor melaju. Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar sangat dekat, seperti berasal dari belakang tubuhku sendiri. Ketika aku menoleh sekali lagi, kabut mulai bergerak memutar, membentuk pusaran kecil yang perlahan berubah menyerupai siluet seseorang memegang pemukul gamelan.
Motor Mogok Saat Irama Menjadi Mencekam
Aku mencoba mengabaikan siluet itu dan terus menambah kecepatan. Namun motor yang kutunggangi tiba-tiba tersentak. Mesin batuk keras, lalu mati begitu saja. Semua lampu padam, menyisakan kegelapan total. Meskipun aku mencoba menstarter berulang kali, mesin tetap tidak merespons.
Pada saat itu, gending berhenti. Keheningan yang tersisa justru lebih menakutkan, terutama karena di tengah keheningan itu terdengar suara langkah perlahan dari arah belakang. Langkah itu sangat ritmis, seperti mengikuti ketukan kendang yang tidak terdengar. Kabut di sekitarku berputar pelan, menunjukkan garis samar tubuh seseorang yang semakin mendekat.
Aku menahan napas ketika melihat sosok itu lebih jelas. Ia memakai pakaian Jawa kuno dengan kain lusuh yang tampak basah. Rambutnya panjang tak terurus, menutupi sebagian besar kepala. Namun bagian wajahnya adalah yang paling membuatku takut. Tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Wajahnya seperti kabut pekat yang mengambil bentuk manusia tanpa identitas.
Sosok Penabuh Gamelan Tanpa Wajah
Sosok itu berhenti sekitar tiga meter di depanku. Gending yang sebelumnya lenyap kembali terdengar, tetapi kali ini suaranya berasal dari tubuhnya sendiri. Seolah-olah gamelan dimainkan dari dalam dadanya, menciptakan getaran yang membuat tanah di bawahku bergoyang halus. Nada-nadanya berlapis, tidak wajar, dan terdengar seperti berasal dari dunia lain.
Ketika sosok itu mengangkat tangan kanannya, cahaya samar muncul di ujung pemukul gamelan yang dibawanya. Alunan gong yang sangat pelan kemudian terdengar, meski tidak ada gong di tempat itu. Suara itu membuat kepalaku berdenyut, seakan memaksa pikiranku terbuka pada sesuatu yang kelam dan asing.
Aku terdorong mundur hingga jatuh. Lututku gemetar hebat. Namun sosok itu hanya berdiri dan mengamati. Meskipun ia tidak memiliki wajah, aku benar-benar merasakan tatapannya menusuk lurus ke dalam benakku. Rasa dingin yang menusuk membuat dadaku sesak, seolah udara di sekitar mulai terhisap oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Melarikan Diri ke Rumah Tua di Pinggir Hutan
Tenaga yang tersisa kupakai untuk bangkit dan berlari. Aku meninggalkan motor begitu saja. Jalan setapak yang membelah hutan terasa lebih panjang daripada biasanya, tetapi aku tidak berhenti sampai melihat lampu kuning remang di kejauhan. Itu adalah rumah tua yang sering dianggap angker oleh warga sekitar. Namun malam itu, tempat itu justru terlihat seperti satu-satunya harapan.
Seorang perempuan tua membuka pintunya begitu aku mengetuk dengan tergesa. Ia memandangku dari atas ke bawah, lalu menarikku masuk tanpa bertanya banyak. Begitu pintu ditutup, ia langsung menurunkan tirai dan mematikan lampu depan.
Barulah ia bertanya dengan suara pelan, “Kamu mendengar gending jawa, ya?”
Pertanyaannya membuat seluruh tubuhku terasa lemas. Aku tidak bisa berkata-kata. Ketika aku mengangguk, perempuan tua itu menutup mulutnya dengan tangan seperti menahan ketakutan. Ia lalu mengajakku duduk di ruang belakang yang hanya diterangi lampu minyak kecil.
Kisah Penabuh Gamelan yang Hilang di Mangunan
Perempuan itu mulai bercerita. Nada suaranya pelan tetapi jelas, seolah ia sudah menceritakan kisah itu berkali-kali kepada orang lain sebelumku.
Dulu, puluhan tahun lalu, ada seorang penabuh gamelan yang terkenal karena permainannya yang sangat halus. Namun suatu malam, ketika kelompoknya pulang dari pentas, ia memutuskan mengambil jalan pintas melalui Mangunan. Teman-temannya memperingatkan bahwa jalur itu berbahaya ketika berkabut, tetapi ia tetap nekat.
Keesokan paginya, ia tidak pernah sampai rumah. Warga hanya menemukan serpihan kayu gamelannya di dekat sebuah pohon besar. Tidak ada mayat, tidak ada jejak darah, tidak ada bekas perkelahian. Namun sejak hari itu, gending aneh sering terdengar dari dalam hutan ketika kabut turun. Gending itu tidak pernah selesai, tidak pernah berpola, dan tidak pernah berhenti dengan cara yang wajar.
Menurut perempuan itu, roh sang penabuh gamelan masih mencari “pengganti”. Ia tidak ingin bermain sendirian, dan siapa pun yang mendengar alunannya dengan jelas berarti sudah terpilih.
Gending yang Memasuki Rumah Seperti Angin Buruk
Ketika perempuan itu selesai bercerita, suara dari luar jendela membuat jantungku serasa berhenti. Gending kembali terdengar—lebih dekat daripada sebelumnya. Nada-nadanya menembus dinding rumah, masuk ke dalam ruangan, lalu bergema di telinga kami.
Piring di rak dapur bergetar. Tirai jendela berkibar meski tidak ada angin. Lampu minyak meredup seolah kehilangan oksigen. Bahkan lantai kayu di bawah kakiku bergetar sangat halus, seperti sedang ditepuk mengikuti ritme kendang tak terlihat.
Perempuan tua itu mengambil segenggam bunga setaman dari sebuah mangkuk dan berdoa dalam bahasa Jawa halus yang sulit kupahami. Ketika ia menaburkan bunga itu ke arah pintu belakang, suara gending tiba-tiba berubah. Nadanya menjadi keras dan kacau, lalu tidak beraturan seperti seseorang yang marah.
Ketukan muncul di pintu depan. Tiga ketukan panjang, disusul dua ketukan pendek—irama yang sama dengan pola gending yang baru saja berhenti. Pintu itu bergoyang seolah ada sesuatu yang menekan dari luar.
Ketika Wajah Tanpa Mata Menempel di Jendela
Tirai jendela bergerak sedikit, memperlihatkan celah tipis. Di balik celah itu terlihat sesuatu seperti wajah tanpa bentuk menempel pada kaca. Wajah itu berupa kabut pekat yang berkumpul, dengan cekungan gelap di bagian yang seharusnya menjadi mata.
Sosok itu tidak diam. Ia mencondongkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seakan mencoba melihat ke dalam. Walaupun aku tidak dapat melihat detailnya, aku merasakan tatapan itu, dingin dan menelusup hingga ke sumsum tulang.
Tiba-tiba, suara lirih keluar dari jendela.
“Main… bersama…”
Kalimat itu tidak jelas, tetapi cukup untuk membuat tubuhku menggigil hebat.
Puncak Teror di Tengah Kabut yang Membuka Diri
Perempuan tua itu berdiri mendadak. Ia mengangkat segenggam bunga kedua, lalu berlari menuju pintu belakang. Dengan cepat ia membuka pintu itu dan melempar bunga ke dalam kabut sambil melafalkan doa yang lebih panjang dari sebelumnya.
Kabut yang menyelimuti halaman rumah bergolak seperti air mendidih. Suara gending berhenti seketika. Dalam tiga detik yang terasa seperti selamanya, sosok tanpa wajah itu memudar perlahan. Namun sebelum hilang sepenuhnya, bayangannya memberi kesan seolah sedang memutar tubuhnya dan mengarahkan tatapan kabut pekat itu kepadaku.
Setelah itu, jalan setapak kembali normal. Kabut menipis secara perlahan.
Perempuan tua itu menutup pintu dengan cepat. Ia kemudian menatapku dengan sorot mata yang lelah, seolah menghadapi hal seperti ini bukan pertama kali baginya.
“Kamu belum aman,” katanya dengan suara gemetar. “Dia sudah mengenal suaramu.”
Akhir yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Aku menghabiskan sisa malam di rumah perempuan tua itu karena rasa takut membuat kakiku tidak sanggup berdiri stabil. Ketika fajar datang, gending itu sudah benar-benar hilang. Namun perasaan aneh masih menempel, seperti ada sesuatu yang menunggu di balik pepohonan.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke rumah. Namun suara gending jawa tetap mengikuti, meski sangat pelan. Kadang suaranya muncul pada tengah malam, kadang pada dini hari ketika angin lewat perlahan di samping jendela. Suaranya selalu samar, tetapi cukup untuk mengingatkanku pada malam di hutan Mangunan.
Hingga kini, musik itu masih datang dalam jarak yang tidak menentu. Kadang nada-nadanya halus, kadang kacau, kadang terdengar seperti dimainkan oleh banyak tangan sekaligus. Aku tahu suara itu bukan sekadar gema masa lalu. Ia adalah panggilan.
Dan suatu hari nanti, mungkin aku harus menjawab panggilan itu. Karena gending itu…
tidak pernah berhenti mencari yang hilang.
Olahraga : Teknik Berlari Efisien agar Tidak Cepat Lelah dan Cedera