Patung Dewi Sri yang Terlalu Nyata
Reno datang ke Blora Tengah untuk mendokumentasikan tradisi panen dan situs budaya desa. Namun ia tidak menyangka perjalanan itu akan menyeretnya ke dalam misteri paling gelap yang pernah ia temui. Ketika ia pertama kali memasuki pendopo desa, ia langsung tertarik pada patung Dewi Sri tua yang berdiri di tengah ruang. Patung itu terbuat dari batu kapur yang telah menguning, namun matanya tampak terlalu hidup, seperti terus memandang siapa pun yang melintas.
Namun yang membuat Reno tidak tenang sejak awal adalah ini: meskipun ruangan itu terang dan bebas debu, telapak kaki patung itu tampak basah, seolah pernah direndam dalam sesuatu. Karena rasa penasaran, ia mendekat, tetapi bau anyir samar langsung menyentuh hidungnya. Meski bau itu cepat hilang, Reno mengetahuinya: itu bau darah.
Lebih aneh lagi, patung itu seperti memiliki bayangan yang berbeda arah dengan bayangan benda lain di ruangan. Dan patung berdarah itu seakan bergerak sedikit setiap kali ia mengalihkan pandangan.
Cerita Penjaga Pendopo
Ketika malam tiba, penjaga pendopo bernama Mbah Karta mendekati Reno sambil membawa lampu minyak. Dengan suara pelan namun terus bergetar, ia bertanya apakah Reno sudah mendekati patung itu terlalu lama. Reno mengatakan iya, dan Mbah Karta menutup mulutnya sejenak dengan ketakutan nyata.
“Kau harus hati-hati,” ucapnya. “Patung itu bukan sekadar pelengkap. Itu wadah. Ada yang tinggal di dalamnya. Dan kadang… ia lapar.”
Mbah Karta bercerita bahwa puluhan tahun lalu, seorang wanita desa hilang setelah datang pada malam hari untuk berdoa di depan patung. Ketika warga mencarinya, mereka hanya menemukan bercak darah kecil yang mengalir dari jari patung itu. Namun warga tidak pernah memperbaiki, memindahkan, atau menurunkan patung tersebut. Menurut mereka, Dewi Sri tidak boleh diganggu.
Karena penasaran, Reno menanyakan apakah patung itu pernah mengeluarkan darah lagi.
Mbah Karta menatap lurus ke matanya.
“Hanya ketika seseorang menyentuh batu itu tanpa izin.”
Malam Ketika Segalanya Berubah
Reno malam itu memutuskan menginap di pendopo karena ingin mengambil gambar patung saat suasana sepi. Ia menyiapkan kamera, tripod, recorder, dan lampu kecil. Saat ia menyalakan lampu kamera, patung Dewi Sri tampak lebih hidup daripada sebelumnya. Mata batu itu memantulkan cahaya seolah memiliki cairan di baliknya.
Karena ingin mendapatkan detail ukiran, Reno mendekat dan mengusap permukaan batu itu dengan pelan. Sentuhannya hanya sekejap—tetapi mendadak, seluruh udara di pendopo menegang. Angin berhenti. Suara jangkrik lenyap. Dan dari ujung jari patung itu, setetes cairan merah perlahan muncul dan jatuh ke lantai.
Plip.
Reno kaget karena yakin ia tidak sedang berhalusinasi. Ia bertanya-tanya apakah itu cat lama atau lumut bercampur air. Namun saat ia mendekatkan jarinya ke tetesan itu, bau darah menyengat sampai membuatnya mual.
Patung itu berdarah.
Dan tetesan berikutnya jatuh, lalu berikutnya—hingga alurnya membentuk garis tipis yang turun dari jari menuju lantai.
Tiba-tiba lampu kamera berkedip tiga kali dan mati.
Suara dari Dalam Batu
Dalam kegelapan, Reno mendengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya merinding: suara helaan napas dari arah patung. Napas itu berat, dalam, dan seperti berasal dari rongga besar. Ketika Reno mundur perlahan, suara itu berubah menjadi bisikan halus.
“Kau… menyentuhku…”
Reno terpaku. Suara itu bukan suara manusia, tetapi bukan pula suara gema. Itu suara yang terlalu dekat, seolah keluar langsung dari jari patung yang masih berdarah.
Tiba-tiba lampu kamera menyala kembali selama sepersekian detik. Pada momen singkat itu, Reno melihat wajah patung berubah sedikit. Mulutnya terbuka setengah, seperti baru saja mengucapkan sesuatu.
Ketika lampu padam lagi, pendopo berubah menjadi sangat dingin. Jam di dinding berhenti berdetak. Dan Reno merasakan sesuatu berjalan pelan di belakangnya. Ia menoleh perlahan, namun pendopo kosong.
Namun di lantai, ada jejak kaki basah—lebih kecil dari ukuran kaki manusia dewasa—mengarah ke patung itu.
Bayangan yang Tidak Menurut Fisika
Karena panik, Reno menyalakan lampu ponselnya. Namun ketika cahaya ponsel menyinari patung, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya serasa berhenti: bayangan patung itu bergerak sendiri. Bayangannya tidak mengikuti arah cahaya ponsel, tetapi justru menjauh seperti sedang melarikan diri.
Bayangan itu menempel di dinding, kemudian memanjang ke arah langit-langit seperti makhluk tanpa tulang. Reno terpaku ketika bayangan itu bergetar, lalu melangkah turun kembali ke patung. Gerakannya seperti makhluk hidup yang tidak terikat hukum realitas.
Saat bayangan itu kembali pada posisi semula, patung tiba-tiba terdengar retak halus. Dari retakan kecil di bagian leher patung, darah kembali mengalir keluar—lebih banyak dari sebelumnya. Tetesannya kini jatuh ke kaki patung dan mengalir seperti aliran kecil.
Dan pada titik itu, Reno sadar bahwa darah itu bukan darah baru.
Itu darah yang lama, terlalu gelap dan terlalu pekat.
Ritual yang Seharusnya Tidak Dilanggar
Reno berusaha pergi, tetapi pintu pendopo seperti terkunci dari luar. Ia mencoba memanggil Mbah Karta, namun tidak ada jawaban. Meski ia mencoba menendang pintu, suara yang keluar justru seperti ketukan dari sisi lain. Ketukan itu lambat dan teratur—bukan ketukan manusia yang meminta dibuka.
Namun setelah ketukan terakhir, suara lain muncul: suara kuku panjang yang menggores kayu dari dalam pintu. Goresan itu mengikuti setiap napas Reno. Semakin ia panik, semakin cepat goresannya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, patung Dewi Sri mengeluarkan suara retakan keras. Reno menoleh dengan terkejut saat melihat patung itu mulai berubah bentuk. Lehernya memanjang sedikit, bahunya bergeser, dan mata batu itu perlahan berputar ke arah Reno.
Mata patung itu kini menghadap lurus padanya.
“Mengapa… kau bangunkan aku…” suara itu terdengar dari batu.
Reno berlari ke sudut pendopo sambil menjerit. Namun suara itu terus mengikuti—bukan lewat udara, tetapi lewat lantai, tembok, dan bahkan melalui tulang tubuhnya. Suara itu berbisik, memohon, dan memerintah dalam waktu bersamaan.
Patung yang Mencari Pengganti
Patung Dewi Sri mulai melepaskan potongan batunya. Dari sela pecahan itu, keluar tangan kecil berwarna abu-abu pucat, basah oleh darah lama. Tangan itu meraba-raba udara seperti mencari sesuatu. Ketika tangan itu bergerak ke lantai, suaranya seperti tikus besar merayap, namun lebih cepat dan lebih berat.
Reno mencoba memanjat meja kayu besar agar tidak dijangkau, tetapi meja itu bergeser sendiri ke arah patung seolah didorong kekuatan tak terlihat. Bahkan lantai pun terasa bergetar kecil, seperti ada sesuatu yang hidup di bawahnya.
Reno memandang sekeliling dengan panik. Setiap bayangan di ruangan tampak bergerak mengikuti gerak patung, bukan mengikuti cahaya ponselnya. Bayangan-bayangan itu merangkak, mengecil, dan memanjang seperti sedang memanggil satu entitas besar keluar dari batu.
Ketika retakan di patung semakin besar, wajah seseorang—bukan wajah dewi, tetapi wajah manusia perempuan dengan mata kosong—muncul dari dalamnya. Wajah itu sepucat kain kafan, rambut hitamnya keluar panjang, dan darah terus menetes dari mulutnya.
Malam Ketika Desa Sunyi Total
Pada pukul 2 pagi, jeritan Reno terdengar sampai ke rumah-rumah warga. Namun tidak satu pun warga yang berani keluar. Semua orang tahu apa yang terjadi jika patung itu marah. Semua orang tahu bahwa ia bukan hanya patung, melainkan penjara bagi sesuatu yang lebih tua dari ritual desa.
Ketika fajar menyingsing, Mbah Karta membuka pendopo dengan tangan gemetar. Ia menemukan patung itu kembali utuh, tanpa retakan. Tidak ada darah sedikit pun. Lantai bersih. Udara tidak lagi dingin.
Namun Reno menghilang.
Yang tersisa hanyalah kamera yang tergeletak di lantai. Di layar kamera, rekaman terakhir menampilkan patung Dewi Sri berdiri diam. Namun selama tiga detik terakhir rekaman, patung itu tampak menoleh perlahan—dan senyum kecil muncul di sudut bibir batu itu.
Senyum yang tidak pernah ada sebelumnya.
Dan setiap malam setelah itu, patung Dewi Sri di Blora Tengah meneteskan darah dari ujung jarinya lagi.
Namun kali ini, alirannya lebih deras.
Seolah sedang menyambut seseorang baru yang sudah bergabung di dalamnya.
Otomatif : Perawatan Aki Mobil agar Umur Pakainya Lebih Panjang