Suara Ketukan Dari Bawah Lantai Gelap Museum Balanga

Suara Ketukan Dari Bawah Lantai Gelap Museum Balanga post thumbnail image

Malam Jaga di Museum Balanga

Malam itu, langit Palangkaraya tampak berat oleh awan, seolah hujan bisa turun kapan saja. Di dalam Museum Balanga yang sudah tutup sejak pukul empat sore, Arga duduk di kursi kayu dekat meja resepsionis, mencoba mengusir kantuk dengan menatap layar ponsel yang redup. Ia baru sebulan bekerja sebagai penjaga malam tambahan di museum itu, dan sejauh ini, semuanya selalu biasa saja. Namun, malam itu, ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu ketika suara ketukan pelan terdengar entah dari mana.

Awalnya, ia mengira itu hanya bunyi kayu memuai karena udara lembap. Meskipun begitu, ketukan itu terdengar teratur, seperti pola yang sengaja dibuat. Selain itu, bunyinya datang dari arah ruang pameran etnografi yang lantainya masih berupa papan kayu tua. Karena rasa penasaran pelan-pelan mengalahkan kantuk, Arga akhirnya bangkit dari kursinya dan meraih senter kecil yang tergantung di tembok.


Ruang Pameran yang Terlalu Sunyi

Koridor menuju ruang pameran terasa lebih panjang dari biasanya. Sementara itu, lampu hemat energi yang menyala seadanya menciptakan cahaya kuning pucat yang merayap di dinding-dinding penuh poster sejarah Dayak. Di salah satu poster, ada penjelasan singkat tentang rumah adat panggung dan ritual kuno yang konon memanggil roh penjaga. Arga menelan ludah, lalu berusaha tertawa pada dirinya sendiri karena mulai merasa terbawa suasana.

Ketika ia mendorong pintu kayu ruang pameran, hawa di dalam terasa berbeda. Udara lebih dingin, dan bau kayu tua bercampur debu memenuhi hidungnya. Di tengah ruangan, deretan patung, perisai, mandau, dan guci tua berdiri diam seperti saksi bisu masa lampau. Namun, di antara keheningan itu, suara ketukan kembali terdengar, kali ini lebih jelas, berasal dari lantai kayu di dekat vitrin besar berisi tengkorak dan tulang belulang.

Arga menyorotkan senter ke arah lantai. Papan kayu itu tampak biasa, sedikit menghitam karena usia. Akan tetapi, ketukan itu terus terdengar, pelan namun teratur, seperti seseorang mengetuk dari bawah sana.


Cerita Penjaga Tua

Beberapa jam sebelumnya, Sarman, penjaga senior yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun di museum itu, sempat bercerita banyak kepada Arga. Saat itu suasana masih sore, dan suara anak sekolah yang berkunjung membuat museum terasa hidup. Sarman menyinggung sebuah kisah yang jarang ia ceritakan pada orang baru.

Konon, sebelum museum direnovasi puluhan tahun lalu, bangunan ini dibangun di atas lahan yang pernah menjadi tempat penahanan sementara di masa konflik. Menurutnya, ada beberapa tahanan yang tidak pernah tercatat keluar. Selain itu, lantai kayu di ruang pameran utama dulunya menutupi ruang sempit yang entah digunakan untuk apa. Sarman hanya mengatakan, kalau malam-malam tertentu, ada suara ketukan muncul dari bawah lantai, seperti seseorang yang meminta dilepaskan.

Saat itu, Arga menganggap cerita itu hanya cara Sarman menakut-nakuti anak baru. Namun, sekarang, ketika dirinya berdiri sendiri di tengah ruang pameran yang sepi, dengan ketukan pelan mengalun dari bawah telapak kakinya, cerita itu terasa jauh lebih nyata.


Ketukan yang Mengikuti Langkah

Arga mencoba berpikir rasional. Mungkin itu tikus besar, mungkin itu pipa yang memuai, mungkin juga hanya ilusi karena ia terlalu lelah. Walaupun begitu, ia memutuskan untuk mendekat dan menguji sumber bunyi. Dengan hati-hati, ia melangkah pelan ke arah papan yang paling sering mengeluarkan bunyi. Saat ia berdiri tepat di atasnya, suara ketukan seketika berhenti.

Untuk beberapa detik, keheningan menelan seluruh ruangan. Sementara itu, denyut jantung Arga terdengar jelas di telinganya sendiri. Kemudian, ketika ia melangkah mundur satu langkah, ketukan itu muncul lagi, tepat di bawah posisi kakinya tadi. Seolah sesuatu di bawah sana mengikuti posisi tubuhnya dari bawah lantai.

Ia mencoba bergerak ke kiri. Lagi-lagi, bunyi itu berpindah mengikuti langkahnya. Polanya selalu sama: ketika ia berhenti, ketukan berhenti; ketika ia bergeser, suara ketukan muncul lagi, tepat di bawah papan yang diinjak.


Bayangan di Vitrin Tengkorak

Karena rasa takut mulai bercampur dengan rasa penasaran yang makin menjadi-jadi, Arga menyorotkan senter ke segala arah. Namun, bayangan yang dihasilkan justru membuat ruang pameran semakin menyeramkan. Patung kayu seolah menatapnya, dan tengkorak di dalam vitrin tampak berkilat aneh tertimpa cahaya. Di salah satu kaca vitrin, ia menangkap pantulan dirinya berdiri di tengah ruangan, tampak kecil di antara peninggalan masa lalu.

Namun, di pantulan itu, sesuatu tampak janggal. Di belakang dirinya, ada bayangan lain yang tidak ada di dunia nyata: sosok gelap yang terlihat seolah duduk atau meringkuk di bawah lantai, tepat di garis lantai kayu yang memantul di kaca. Bayangan itu tampak menengadahkan kepala, seakan menatap ke atas, ke arah Arga, dari balik papan.

Seketika, suara ketukan terdengar lagi, lebih cepat, lebih mendesak, seperti seseorang yang kehilangan kesabaran. Arga mundur satu langkah refleks, lalu hampir tergelincir menabrak vitrin. Kaca itu bergetar pelan, dan suara gemeretaknya membuat bulu kuduknya meremang.


Lampu Padam dan Bisikan Dalam Bahasa Asing

Saat ia berusaha menenangkan diri, lampu ruangan tiba-tiba berkedip, lalu padam total. Sementara itu, suara generator tua di belakang gedung mendadak terhenti. Museum tenggelam dalam kegelapan yang hampir sempurna, hanya menyisakan cahaya senter Arga yang bergetar di tangannya.

Di tengah gelap itu, suara ketukan berubah ritme. Tidak lagi pelan dan teratur, melainkan cepat, seperti seseorang menggedor pintu dari dalam. Bersamaan dengan ketukan itu, terdengar bisikan lirih dari bawah lantai. Bisikan itu tidak jelas, namun terdengar seperti bahasa daerah yang tidak ia pahami, mungkin dialek tua yang pernah hanya ia dengar di acara adat.

Walaupun tidak mengerti, Arga bisa merasakan emosi yang menyertai bisikan itu: marah, tersiksa, dan meminta perhatian. Makin lama, bisikan itu makin keras, seperti banyak suara yang berbicara bersamaan dari dalam ruang sempit.


Lantai yang Mulai Mendingin

Arga berjongkok, meski seluruh tubuhnya gemetar. Ia menempelkan telapak tangan ke lantai kayu, berharap bisa meyakinkan dirinya bahwa ini hanya getaran dari mesin atau pipa di bawah. Namun, yang ia rasakan justru dingin yang tidak wajar, seperti menyentuh permukaan batu nisan yang lama tak terjamah matahari.

Semakin lama ia menempelkan tangan, dingin itu menjalar naik ke lengan. Selain itu, tiba-tiba ada sensasi lain: sesuatu di bawah papan seolah menyentuh balik, seperti jari-jari yang menyapu pelan dari sisi sebaliknya. Ia langsung menarik tangan, napasnya memburu.

Di saat yang sama, suara ketukan berhenti mendadak. Keheningan yang muncul setelahnya justru lebih menakutkan. Ia menatap papan lantai di depannya, menunggu sesuatu terjadi. Beberapa detik berlalu, lalu pelan-pelan, satu per satu, papan kayu di sepanjang ruangan mulai berderit, seakan ada yang merayap di bawah, mencari-cari celah untuk keluar.


Pintu yang Tidak Bisa Dibuka

Karena perasaan terjebak semakin menguat, Arga memutuskan untuk keluar dari ruang pameran. Ia berlari kecil menuju pintu, sambil mengarahkan senter ke depan. Namun, ketika ia memutar gagang pintu, pintu itu tidak bergeming sama sekali. Ia mencoba lebih keras, menekan bahunya ke daun pintu. Namun tetap saja, pintu seperti menolak terbuka, seolah sesuatu dari luar menahannya.

Sementara itu, dari belakangnya, suara ketukan muncul lagi, kini tidak lagi hanya di satu titik, tetapi di banyak titik lantai sekaligus. Bunyi itu seperti hujan batu kecil yang menghantam kayu dari bawah, tak henti-henti. Di antara bunyi itu, bisikan lirih kembali terdengar, kali ini bercampur erangan seperti seseorang yang kehabisan napas.

Arga berteriak memanggil nama Sarman, berharap penjaga tua itu masih ada di sekitar bangunan. Namun, tidak ada jawaban. Yang menjawabnya justru ketukan yang berubah ritme, seakan meniru pola suaranya yang panik.


Jejak Luka di Bawah Lantai

Di tengah kepanikan, senter Arga menyorot sebuah papan lantai yang tampak berbeda. Papan itu memiliki bekas goresan panjang seperti cakaran, tersusun sejajar, seakan seseorang mencoba memahat kayu dari dalam dengan kuku atau benda tajam. Goresan-goresan itu tampak sudah lama, namun baru terlihat jelas ketika cahaya senter jatuh tepat di atasnya.

Ia merangkak mendekat, meski rasa takut terus merayap di tulang belakang. Di sela-sela papan yang tergores, tampak sesuatu yang menghitam, seperti bekas cairan yang pernah meresap lalu mengering. Meskipun ia menggertakkan gigi, pikirannya langsung mengarah ke satu hal: darah.

Ketika jemarinya hampir menyentuh sela papan, suara ketukan tiba-tiba berhenti lagi. Namun kali ini, keheningan diikuti satu getaran kecil dari bawah lantai, seperti seseorang mendorong sesuatu yang berat. Sesaat kemudian, udara di ruangan berubah pengap, dan aroma anyir samar tercium, bercampur bau lembap kayu lapuk.


Sosok di Antara Benda Pamer

Arga berdiri dan menoleh ke sekeliling, berharap bisa menemukan sumber lain dari semua gangguan ini. Namun, yang ia lihat justru sesuatu yang jauh lebih membuatnya ingin lari. Di ujung ruangan, di antara vitrin berisi patung kayu, tampak sosok berdiri. Sosok itu kurus, kepalanya menunduk, dan seluruh tubuhnya tampak seperti diselimuti kain lusuh yang menempel karena basah.

Senter di tangan Arga sedikit bergoyang, dan cahaya jatuh tepat ke wajah sosok itu. Wajahnya pucat keabu-abuan, dengan mata cekung yang hitam pekat. Bibirnya terkatup rapat, namun rahangnya tampak kaku, seakan pernah terkunci dalam jeritan yang tak pernah selesai. Di pergelangan tangannya, tampak bekas luka menghitam menyerupai ikatan rantai.

Sosok itu tidak bergeming. Namun, ketika Arga mundur satu langkah, lantai di bawah kaki sosok itu mengeluarkan suara ketukan, pelan namun tegas, seperti peringatan.


Kebenaran dari Penjaga Tua

Tepat saat Arga merasa lututnya hampir menyerah, suara berat yang familiar terdengar dari luar pintu. Seseorang memutar kunci dari luar, dan dalam sekejap, pintu terbuka dengan keras. Senter tambahan menyorot ke dalam, diikuti suara Sarman yang parau memanggil namanya.

Arga menoleh ke arah pintu. Namun, ketika ia kembali melihat ke ujung ruangan, sosok tadi sudah tidak ada. Hanya deretan patung dan vitrin yang berdiri diam seperti semula. Suara ketukan pun lenyap, digantikan dengus napas Arga yang masih tersengal.

Sarman mengajaknya keluar dengan wajah serius. Di koridor, lelaki tua itu menatap Arga lama, sebelum akhirnya berbicara pelan. Ia mengaku sebenarnya sengaja tidak menceritakan bagian paling gelap dari sejarah ruangan itu. Dahulu, kata Sarman, ada beberapa orang yang ditahan di ruang bawah lantai tersebut. Karena dianggap berbahaya, mereka dikurung tanpa catatan resmi. Ada yang tidak pernah diadili, ada yang hanya menghilang begitu saja.

Konon, pada suatu malam yang kacau, lantai itu sengaja dipaku dari atas, dan pintu ruang bawahnya ditutup permanen. Sejak saat itu, kadang-kadang, pengunjung dan penjaga mendengar suara ketukan datang dari bawah, seolah mereka yang tak pernah bebas masih mencoba menyampaikan sesuatu.


Malam-Malam Setelah Ketukan

Sejak kejadian itu, Arga tidak lagi ditugaskan sendirian di Museum Balanga. Sementara itu, lampu-lampu di ruang pameran diperbaiki, dan beberapa papan lantai yang paling lapuk diganti. Namun, meski renovasi dilakukan, sebagian area lantai dibiarkan utuh karena dianggap bagian penting dari bangunan asli.

Setiap kali melewati ruang pameran, Arga merasakan hawa dingin yang berbeda di area tertentu. Selain itu, sesekali, ketika museum sudah sepi dan suara pengunjung menghilang, ia kembali mendengar suara ketukan, pelan dan teratur, seakan mengingatkannya bahwa sesuatu masih tertinggal di bawah sana.

Pada suatu malam, ketika ia sudah pulang dan mencoba tidur di kamarnya yang jauh dari museum, ia terbangun oleh bunyi halus di lantai. Ketukan itu hanya tiga kali, pelan, namun ritmenya persis sama dengan yang ia dengar di museum. Ia menahan napas, menatap lantai kamar yang terbuat dari keramik, bukan kayu.

Meski logikanya berteriak bahwa itu hanya ilusi, bagian lain dari dirinya tahu: beberapa pintu, sekali dibuka, tidak akan pernah tertutup sepenuhnya. Dan beberapa suara ketukan tidak hanya datang dari bawah lantai, tetapi juga dari tempat yang lebih dalam, dari sisi lain sejarah yang menolak dilupakan.

Flora & Fauna : Peran Lebah dalam Menjaga Keseimbangan Ekosistem Lingkungan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post