Suara Pertama yang Tidak Datang dari Dunia Orang Terjaga
Muara Enim sudah gelap ketika Aisha pertama kali mendengar tangis ibu. Awan menggantung rendah, memeram bulan, dan angin dari tepi Sungai Lematang merayap lembap di sela dinding papan rumah panggung warisan keluarga itu. Walau letaknya tidak jauh dari pemukiman, rumah itu selalu terasa lebih jauh dari seharusnya—seperti dipisahkan oleh jarak yang tidak tercatat di peta.
Awalnya, Aisha mengira ia sedang setengah mimpi. Namun kemudian, suara itu kembali, tipis, parau, dan terputus-putus, seolah sang pemilik suara ragu antara memanggil atau menahan luka. Di saat bersamaan, lantai papan di bawah kakinya melepaskan bunyi kruut…kruut…, bukan karena diinjak, melainkan seperti ikut merespons ratapan itu.
Alih-alih alarm bahaya, yang muncul dalam diri Aisha justru keinginan mendengar lebih lama. Meski begitu, bulu kuduknya tetap berdiri, bukan karena takut, tetapi karena kesadaran mendadak bahwa suara itu tidak memantul… seakan tidak pernah meninggalkan ruangan.
Rumah Panggung yang Tidak Pernah Benar-Benar Kosong
Rumah panggung ini dibangun pada masa kakek buyutnya, dengan tiang ulin yang menghitam oleh usia dan lantai kayu yang selalu merintih di musim hujan. Namun, di balik suara kayu tua itu, terselip hal lain—ritme kesedihan yang pernah terjadi, tetapi tidak pernah selesai.
Aisha pindah ke sana bukan karena pilihan, melainkan karena warisan. Sesudah ibunya wafat dua tahun lalu, rumah itu menjadi satu-satunya tempat yang mempertahankan jejak keluarga. Akan tetapi, setiap kali angin lewat kolong rumah, terdengar bunyi seperti orang membersihkan tenggorokan sebelum menangis.
Tidak jarang, suara itu muncul menjelang pukul dua dini hari, terlalu larut bagi orang terjaga, namun terlalu sadar bagi mimpi. Dari sanalah legenda kecil itu tumbuh tanpa pernah diumumkan: bahwa ada tangis ibu yang tidak lagi punya raga, tetapi tetap kembali ke rumah untuk mencari sesuatu yang tertinggal.
Tetangga tidak banyak bicara, bukan karena tidak tahu, tetapi karena semua tahu bahwa ada kisah yang tidak boleh disentuh sembarangan. Walaupun hidup di kampung yang ramah, dalam hal ini, penduduk memilih untuk tidak menyebutnya, seolah menjaga pintu yang seharusnya tidak dibuka.
Lantai yang Merekam Langkah Tanpa Kaki
Malam ketiga, suara itu berkembang menjadi lebih dari ratapan. Kini, ada hentakan kecil—dua langkah cepat, lalu jeda panjang, kemudian satu langkah yang seolah ragu melanjutkan. Bukan langkah orang dewasa. Bukan pula langkah hewan. Itu seperti langkah seseorang yang berusaha sampai, tetapi selalu kehabisan jarak.
Sesekali, papan lantai melengkung sedikit, padahal tidak ada beban. Di kesempatan lain, sudut tikar pandan berdesir sendiri, seperti tersingkap oleh lutut seseorang yang sedang bersimpuh.
Anehnya, udara justru tidak menjadi dingin. Malah, ada kehangatan tipis yang menyusup ketika tangis ibu terdengar, seperti dekapan yang lupa wujudnya sendiri. Dengan begitu, rasa takut tidak tumbuh sebagai ancaman, melainkan sebagai kepedihan yang tak dimengerti sepenuhnya.
Meski Aisha ingin mengabaikannya, setiap malam suara itu kembali—tidak mengganggu, tidak pula bergeser menjauh. Ia hadir seperti janji yang belum terucap.
Tetangga yang Menatap Tanpa Menjawab
Suatu pagi, Aisha memberanikan diri bertanya kepada Mak Sariah, perempuan tertua di kampung yang hafal silsilah keluarga lebih panjang dari sungai desa. Alih-alih menjawab, Mak Sariah hanya menyentuh pergelangan tangan Aisha, lalu menarik napas panjang yang lebih berat dari embusan dapurnya.
“Kalau sudah memanggilmu, berarti kau bagian dari rindu itu,” katanya akhirnya.
Aisha mengerjap. “Rindu siapa, Mak?”
Namun begitu, Mak Sariah menoleh ke arah kebun, bukan menjawab. Karena itu, kalimat itu terasa seperti pengunci, bukan penjelas.
“Kehilangan yang paling sunyi bukan yang membuat orang menjerit,” tambahnya perlahan. “Tapi yang membuat orang berhenti bersuara selamanya.”
Dan tanpa menatap lagi, Mak Sariah menutup pintu sebelum penjelasan lebih jauh sempat diminta.
Foto dalam Kotak Kayu Jati
Berbekal kegelisahan yang tidak lagi pas hanya disimpan sendiri, Aisha membongkar peti tua peninggalan ibu. Di dalamnya ada selimut songket, sisir gading, dokumen tanah, dan satu kotak jati kecil yang terkunci. Meskipun awalnya sulit dibuka, Aisha menemukan kunci cadangannya terselip di lipatan kain jumputan.
Ketika tutupnya terangkat, aroma kapur barus bercampur wangi bunga kering. Tetapi yang membuat napasnya tertahan bukan baunya, melainkan isinya: satu foto keluarga yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di dalam foto itu, ibunya berdiri di depan rumah panggung dengan seorang perempuan lain yang wajahnya buram seperti disamarkan oleh waktu.
Di belakang foto, tertulis satu kalimat pendek dengan tinta yang memudar:
“Kalau suaraku hilang, pulangkan aku ke lantai rumah.”
Tanpa konteks, kalimat itu tidak menjelaskan apa pun. Namun, dengan konteks suara yang mulai Aisha kenali setiap malam, pesan itu berubah menjadi segalanya.
Malam Ketika Tangis Tidak Lagi Berjarak
Setelah menemukan foto itu, tangis ibu bukan hanya terdengar, melainkan terasa—seolah udara bergetar di sekitar wajah, bukan hanya di sekitar telinga. Pada malam ke-8, suara itu turun dari ruang ingatan, naik ke ruang nyata.
Tidak lagi lirih, namum tidak juga meledak. Ia tetap tertahan, seperti seseorang menangis sambil menutup mulutnya sendiri agar dunia tidak mendengar.
Alih-alih berlari, Aisha duduk bersila di tengah ruang utama rumah panggung. Dengan demikian, ia menunggu bukan sebagai penolak, tetapi sebagai penerima. Namun anehnya, ketika telapak tangannya menyentuh lantai papan, panas halus menyusup dari kayu ke kulitnya, seperti darah yang kembali mengalir ke tempat beku.
Lantas, suara itu berhenti.
Tetapi tidak hilang.
Ia berhenti sebagai jawaban.
Jejak yang Tidak Pernah Terekam Sejarah
Keesokan harinya, Aisha mencari arsip keluarga ke kantor desa. Tak ada catatan tragis, tak ada nama yang hilang, dan tak ada laporan kematian yang janggal. Akan tetapi, pada bundel dokumen tahun 1979, ada satu map yang tidak diberi judul, hanya simbol berupa titik hitam besar di sampulnya.
Di dalamnya, hanya terdapat satu catatan, tanpa tanda tangan:
“Suara terakhir seorang ibu tidak pernah keluar dari rumah. Yang hilang bukan orangnya. Yang hilang keberanian mendengarkan.”
Kalimat itu tidak menyebut nama, tetapi menyebut yang lebih besar: konteks yang lebih nyeri dari sekadar identitas.
Ritual Tanpa Mantra, Doa Tanpa Mengusir
Alih-alih memanggil dukun atau ritual yang memisahkan, Aisha memilih sebaliknya: mengulang momen yang tidak pernah selesai. Ia menata piring, menyalakan lampu kecil dari minyak, lalu meletakkan foto buram itu di tengah lantai.
Bukan ia ingin memanggil apa pun, melainkan memberi ruang jika sesuatu ingin pulang.
Dengan suara yang tidak ditinggikan, Aisha berbicara pada rumah, bukan pada udara:
“Kalau suaramu hilang di sini… kau boleh menemukannya lagi. Aku mendengar.”
Kemudian, bukan lantai yang merespons, melainkan keheningan yang berubah suhu. Hangat. Lembap. Hadir.
Dan dari sudut tiang rumah, tangis ibu kembali terdengar, tetapi kali ini tanpa jarak, tanpa ditahan, tanpa bersembunyi di sela papan.
Itu bukan tangis teror.
Itu tangis pertama yang diizinkan keluar sejak puluhan tahun.
Tanpa aba-aba, Aisha ikut meneteskan air mata, bukan karena takut, tetapi karena akhirnya mengerti: ada suara yang tidak hilang, ia hanya menunggu telinga yang tidak lagi menutup.
Ketika Rindu Selesai, Rumah Kembali Menjadi Rumah
Malam-malam berikutnya, suara itu tidak kembali dalam bentuk tangis. Kalaupun muncul, ia hanya hadir sebagai dengus napas yang pendek—seperti orang yang selesai menangis setelah akhirnya dipeluk tanpa disentuh.
Lantai papan tetap berderit, tetapi ritmenya kini datar, tak lagi memanggil. Angin yang lewat kolong rumah tidak membawa sesak, hanya udara kampung yang wajar. Bahkan suara jangkrik kini kembali lebih lantang, seolah mendapat izin dari hal yang semula mendominasi ruang sunyi.
Di sisi lain, rumah panggung itu tidak kehilangan keangkerannya sepenuhnya. Rumah tua selalu menyimpan gema. Tetapi gema itu kini punya nama, punya akhir, dan tidak lagi menagih telinga siapa pun.
Karena Aisha tahu: beberapa ibu tidak pernah benar-benar hilang.
Sebagian hanya menunggu anaknya cukup berani untuk duduk, hening, dan mengizinkan mereka menangis tanpa disuruh pergi.
Flora & Fauna : Mengenal Satwa Langka Indonesia yang Terancam Punah di Alam