Awal dari Malam yang Tenang
Malam di Ambon terasa lembap. Udara laut menyusup lewat celah jendela tua Museum Maluku. Tempat itu sudah tutup sejak pukul lima sore, namun Lukas—penjaga malam baru—masih berkeliling memastikan semua ruangan terkunci. Ia menyalakan senter kecilnya, menelusuri lorong panjang yang dipenuhi patung, lukisan, dan perabot peninggalan kolonial Belanda.
Museum itu dulunya adalah rumah pejabat Hindia Belanda yang berubah fungsi menjadi ruang pamer sejarah. Namun, beberapa warga percaya bahwa roh para penghuni lamanya masih menetap di sana. Lukas sempat menertawakan cerita itu. Namun, malam pertama kerjanya justru memperlihatkan hal yang tak pernah bisa ia lupakan—malam saat lilin berdarah menyala di ruang pamer utama.
Suara Langkah dari Ruang Kolonial
Sekitar pukul sebelas malam, saat Lukas sedang duduk di pos penjaga, lampu museum tiba-tiba meredup. Dari arah ruang pamer kolonial terdengar suara langkah kaki pelan, seperti seseorang berjalan dengan sepatu kulit di lantai kayu tua.
Ia mengerutkan kening. “Mungkin tikus,” pikirnya. Namun suara itu terlalu berat dan berirama seperti langkah manusia.
Dengan hati-hati, ia mengambil kunci dan berjalan menyusuri lorong gelap. Di setiap langkah, suara itu seolah berpindah tempat, seakan mengajaknya menuju ruangan paling ujung—ruang pamer benda peninggalan gereja tua. Di sanalah lilin-lilin antik dari abad ke-18 disimpan, lengkap dengan altar kayu dan patung Madonna yang konon ditemukan di reruntuhan benteng Portugis.
Saat Lukas membuka pintu, aroma dupa lama dan besi karatan menyeruak.
Lilin yang Menyala Sendiri
Lampu ruangan padam seluruhnya, tetapi di tengah ruangan, satu lilin berdarah menyala terang di atas meja kaca. Warna merahnya bukan dari api, melainkan dari lelehan lilin yang menetes seperti darah segar.
Lukas tertegun. Ia tahu semua lilin itu hanya replika dan tak pernah dinyalakan karena alasan keamanan. Ia menatap sekitar, berharap menemukan orang lain, tapi ruangan itu kosong.
Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari arah patung Madonna. “Dia belum tenang…” bisik suara itu pelan, seolah keluar dari balik kayu.
Lukas membeku. Ia menatap patung itu, dan untuk sesaat, ia melihat mata patung itu bergerak. Seketika, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Ia ingin lari, tetapi kakinya tak bisa digerakkan.
Kisah dari Penjaga Lama
Keesokan paginya, Lukas bercerita kepada kepala museum, Pak Salim, tentang apa yang terjadi. Bukannya tertawa, Pak Salim justru terdiam lama. Ia lalu berkata, “Kau bukan yang pertama melihat lilin itu menyala.”
Rupanya, bertahun-tahun lalu, penjaga lama bernama Taufan juga pernah melapor hal serupa. Setiap kali malam hujan turun dan udara lembap, salah satu lilin di ruang kolonial menyala sendiri. Ketika diperiksa, selalu ada bekas lelehan merah seperti darah manusia.
Menurut arsip lama, lilin itu berasal dari gereja yang terbakar pada tahun 1743. Saat ditemukan, di dasar lilin masih tertanam potongan rambut perempuan. Banyak yang percaya lilin itu digunakan dalam ritual penebusan dosa oleh seorang biarawati yang dikutuk karena membunuh anak hasil hubungannya dengan pejabat kolonial.
“Sejak lilin itu disimpan di sini, selalu ada kejadian aneh,” kata Pak Salim. “Namun kami tak bisa membuangnya karena itu artefak bersejarah.”
Malam Kedua yang Lebih Gelap
Malam berikutnya, Lukas diminta tetap berjaga. Walaupun takut, ia mencoba menenangkan diri. Ia membawa rosario kecil dan doa saku pemberian ibunya. Namun sekitar tengah malam, listrik museum kembali padam. Hanya suara angin laut yang terdengar di luar.
Kali ini, langkah kaki terdengar lebih jelas, diikuti suara kursi kayu bergeser dari ruang pamer kolonial. Lukas menyalakan senter dan berjalan pelan ke arah sumber suara. Ketika sampai di pintu ruangan, udara di dalam terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Begitu ia menyorotkan senter, terlihat lima lilin berdarah kini menyala bersamaan di depan patung Madonna. Lelehan merahnya mengalir ke lantai, membentuk simbol salib terbalik.
Dari bayangan dinding, tampak sosok perempuan berjubah hitam berdiri menghadap altar. Rambutnya terurai panjang, dan di tangannya ia membawa rosario patah. Lukas menelan ludah. Sosok itu perlahan menoleh, memperlihatkan wajah pucat penuh luka bakar.
Bisikan dari Masa Lalu
“Kenapa kau menyalakan lilin itu?” tanya Lukas lirih, meski suaranya bergetar.
Sosok itu tersenyum samar. “Aku tidak pernah memadamkannya,” jawabnya pelan. “Lilin ini adalah penebusanku.”
Suaranya seperti berasal dari dua arah—dari udara sekaligus dari dalam kepala Lukas. Ia mundur, namun lilin-lilin itu tiba-tiba padam bersamaan, meninggalkan aroma besi dan darah. Dalam kegelapan, bisikan itu kembali terdengar:
“Setiap kali lilin padam, satu jiwa harus menggantikannya.”
Tak lama, salah satu lilin menyala kembali, kali ini tanpa sumbu. Api muncul di udara, menari pelan, kemudian membentuk siluet tubuh manusia. Lukas memejamkan mata dan berdoa, tetapi doa itu justru terdengar terbalik dalam kepalanya.
Kebenaran yang Tersembunyi di Lantai Kayu
Ketika pagi tiba, Lukas ditemukan pingsan di dekat altar. Namun yang paling mengejutkan, di bawah tempat lilin ditemukan noda merah yang baru—hasil pemeriksaan laboratorium memastikan itu darah manusia.
Pak Salim memutuskan untuk menutup ruang pamer itu sementara. Namun rasa ingin tahu membuatnya memeriksa catatan inventaris lama. Di sana, ia menemukan sesuatu yang selama ini disembunyikan: lilin-lilin itu bukan milik gereja, melainkan peninggalan keluarga Van Houtzen, pejabat Belanda yang membakar gereja untuk menutupi kejahatannya sendiri. Istrinya, seorang biarawati yang bunuh diri setelah kehilangan anaknya, dikubur diam-diam di bawah lantai ruang pamer.
Mendengar hal itu, Lukas merasa ngeri. Ia menyadari bahwa lilin-lilin itu bukan sekadar benda sejarah, tetapi medium bagi arwah perempuan itu untuk mencari kedamaian.
Ritual Terakhir
Beberapa hari kemudian, Lukas bermimpi. Dalam mimpinya, perempuan berjubah hitam itu memanggil namanya. Ia memintanya menyalakan lilin satu kali lagi, agar arwahnya bisa “beristirahat.”
Meski ragu, Lukas merasa harus melakukannya. Malam itu, ia kembali ke ruang pamer membawa korek api dan dupa. Ketika lilin dinyalakan, ruangan dipenuhi cahaya merah lembut. Suara bisikan memenuhi udara: doa, nyanyian, dan tangisan menyatu.
Patung Madonna tampak berubah. Dari matanya menetes darah, tetapi senyumnya terlihat damai. Sementara itu, cahaya lilin semakin redup, lalu padam perlahan.
Setelah itu, semuanya hening. Untuk pertama kalinya, udara di ruangan itu terasa hangat dan tenang. Lukas berlutut, memejamkan mata, dan berdoa panjang.
Namun saat ia membuka mata, satu lilin tetap menyala—api kecil berwarna merah tua, seolah menatap balik kepadanya.
Penutup yang Menggantung
Pagi harinya, ketika staf museum datang, mereka menemukan ruang pamer dalam keadaan bersih dan terang. Namun di atas meja kaca, tersisa satu lilin yang belum padam. Di sisi bawahnya terdapat tulisan baru yang tergores:
“Api ini menyala untuk penjaga berikutnya.”
Sejak malam itu, Lukas menghilang tanpa jejak. Hanya bau darah dan dupa yang tertinggal di udara. Sampai kini, setiap malam Jumat, warga sekitar museum melihat cahaya merah berpendar dari jendela ruang pamer, seolah lilin berdarah itu kembali menyala untuk memanggil jiwa baru.
Kesehatan : Perubahan Iklim Ancam Populasi Penyu di Pantai Selatan