Langkah Gaib Mengikuti di Jalan Raya Payakumbuh

Langkah Gaib Mengikuti di Jalan Raya Payakumbuh post thumbnail image

Awal Malam di Jalan Raya yang Sunyi

Malam di Payakumbuh sering kali terasa berbeda. Angin dari perbukitan membawa aroma tanah basah, sementara kabut tipis menari di atas jalan yang sepi. Di antara tikungan panjang Jalan Raya Payakumbuh, banyak pengendara mengaku mendengar langkah gaib yang mengikuti mereka. Walau tidak tampak sosok apa pun, suara itu terus membayang di belakang, seirama dengan detak jantung yang berdebar.

Pada suatu malam Jumat, Fajar, seorang pengemudi ojek daring dari Bukittinggi, mendapat pesanan menuju Payakumbuh. Meskipun beberapa rekan sudah memperingatkannya agar tidak lewat rute itu setelah pukul sepuluh malam, ia tetap berangkat. Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan, dan cerita mistis hanyalah takhayul belaka.

Namun, sejak awal perjalanan, suasana sudah terasa janggal. Jalanan begitu sepi hingga hanya suara mesin motornya yang terdengar. Sesekali, ia menoleh ke kaca spion, tapi di belakang tak ada siapa pun. Meskipun begitu, langkah-langkah samar seperti mengikuti dari kejauhan.


Suara yang Semakin Dekat

Ketika Fajar tiba di daerah perbukitan Pakan Sinayan, kabut semakin tebal. Lampu motornya tak mampu menembus putihnya kabut. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, terdengar suara langkah kaki. Awalnya pelan, namun perlahan semakin jelas, seolah seseorang berjalan di belakang motornya.

Ia memperlambat laju kendaraan dan menoleh. Jalan kosong, tapi suara itu tetap terdengar—“duk… duk… duk…” seperti seseorang sedang menyeret kaki. Meskipun bulu kuduknya berdiri, ia mencoba mengabaikan. Ia mempercepat motornya, namun langkah itu tetap terdengar, seirama dengan kecepatan motornya.

“Ah, mungkin cuma imajinasiku,” gumamnya. Tetapi saat itu juga, angin dingin menerpa lehernya dari arah belakang. Ia yakin, ada sesuatu yang mengikuti.


Bayangan di Tengah Kabut

Ketika jalan mulai menurun, Fajar melihat sebuah bayangan melintas cepat di depan motornya. Ia refleks mengerem, hampir terjatuh. Namun setelah diam beberapa detik, tidak ada siapa pun di sana. Meski begitu, ia merasa sedang diperhatikan.

Lalu, suara perempuan memanggil pelan dari arah semak. “Bang… tolong antar saya pulang…”

Fajar menelan ludah. Ia menatap ke arah suara itu dan melihat seorang perempuan berdiri di pinggir jalan. Rambutnya panjang menutupi wajah, dan bajunya basah seperti habis kehujanan. Walaupun instingnya mengatakan untuk pergi, rasa iba membuatnya berhenti.

“Ke mana, Mbak?” tanyanya pelan.

Perempuan itu menunjuk lurus ke depan. “Ikuti saja langkahku…” ucapnya dengan suara parau.

Begitu ia duduk di jok belakang, hawa dingin langsung menyelimuti tubuh Fajar. Mesin motornya bergetar pelan, dan dari kaca spion, ia melihat kaki perempuan itu… tidak menyentuh tanah.


Langkah yang Tak Pernah Berhenti

Sepanjang jalan, Fajar tidak berani berbicara. Ia hanya fokus pada jalan di depan, meskipun matanya terus melirik ke spion. Sementara itu, dari belakang, suara langkah terdengar kembali—padahal mereka sedang berkendara. Setiap kali ia memutar kepala, suara itu berhenti, namun saat menatap ke depan lagi, suara itu muncul lebih keras.

Ketika mereka melewati jembatan kecil di dekat sungai Batang Agam, perempuan itu tiba-tiba berbisik, “Jangan lihat ke belakang… apa pun yang terjadi.”

Namun karena rasa penasaran, Fajar tetap menoleh sedikit. Ia menyesal seketika. Di belakang, ia tidak lagi melihat perempuan itu, melainkan deretan kaki tanpa tubuh berjalan sejajar dengan motornya. Langkah-langkah itu menimbulkan suara yang menggema seperti hentakan drum kematian.

Karena panik, Fajar menambah kecepatan. Akan tetapi, meskipun motornya melaju kencang, langkah-langkah itu masih terdengar, bahkan semakin dekat.


Ritual yang Dilupakan

Akhirnya, ia tiba di pertigaan tua yang dikenal warga sebagai Simpang Empat Tigo Baleh. Di sana, perempuan itu meminta turun. Ia menatap Fajar dengan mata kosong, lalu berkata, “Terima kasih sudah mengantarku… meski kau melanggar pantangan.”

Seketika, udara menjadi dingin menusuk. Dari ujung rambut hingga kaki, tubuh Fajar menggigil. Ia mencoba menyalakan kembali motor, namun mesin tak mau hidup. Ketika ia menoleh, perempuan itu telah menghilang. Yang tersisa hanyalah suara langkah berjalan menjauh, namun anehnya… tanpa bayangan tubuh.

Pagi harinya, Fajar menceritakan kejadian itu kepada seorang warga tua bernama Pak Jamil, yang menjaga warung di dekat jalan. Setelah mendengar ceritanya, Pak Jamil hanya menggeleng pelan.

“Sudah sering terjadi,” katanya. “Itu arwah Siti Mariam. Ia tewas ditabrak truk di jalan itu tiga tahun lalu. Karena jasadnya tak pernah ditemukan, langkahnya masih berkeliaran setiap malam Jumat.”

Fajar terdiam, mulutnya kaku. Ia ingat jelas suara langkah-langkah itu—seperti seseorang yang masih mencari arah pulang.


Kembali ke Jalan Terlarang

Beberapa hari berlalu, namun pikiran Fajar tak tenang. Ia merasa langkah-langkah itu terus mengikutinya ke mana pun ia pergi. Saat ia berada di rumah, kadang terdengar suara kaki berjalan di luar pintu. Ketika ia menoleh, hanya ada bayangan yang bergerak cepat di tembok.

Karena tak tahan, ia kembali ke Jalan Raya Payakumbuh untuk mencari jawaban. Meskipun malam itu hujan rintik, ia tetap mengendarai motornya menuju jembatan tempat ia mendengar langkah tersebut pertama kali.

Sesampainya di sana, ia menyalakan senter dan berdiri di tepi jalan. Suasana sunyi, hanya suara hujan menetes di atas helmnya. Namun perlahan, dari kejauhan terdengar lagi—“duk… duk… duk…”

Semakin lama semakin dekat, hingga akhirnya berhenti tepat di belakangnya. Fajar menoleh, dan kali ini ia benar-benar melihat sosok perempuan itu, berdiri tanpa kaki, melayang di atas tanah basah dengan mata yang menangis darah.


Penyesalan yang Terlambat

“Kenapa kau kembali?” suara perempuan itu bergema seperti angin berdesir. “Aku belum selesai berjalan… kau mengikutiku.”

Fajar mundur perlahan, namun kakinya tersandung batu. Ia terjatuh dan lampu senter terlempar ke arah sungai. Dalam cahaya yang redup, ia melihat sesuatu mencuat dari air—tangan pucat yang berusaha keluar dari lumpur.

“Bantu aku… aku belum pulang…”

Suara itu memecah malam. Fajar berusaha berlari, tapi langkah-langkah itu mengejarnya, cepat dan berat. Setiap kali ia berpaling, bayangan perempuan itu semakin dekat. Hingga akhirnya, di tikungan terakhir menuju desa, sesuatu menarik pundaknya keras sekali.

Ia menjerit, dan setelah itu… sunyi.

Keesokan harinya, warga menemukan motornya tergeletak di tepi jurang. Mesin masih hidup, tapi pengendaranya hilang. Hanya jejak langkah kaki yang terlihat, berhenti di tepi jalan dan menghilang begitu saja.


Mitos yang Terus Hidup

Sejak malam itu, kisah tentang langkah gaib di Jalan Raya Payakumbuh kembali terdengar. Banyak pengendara melaporkan hal serupa: suara kaki mengikuti mereka, aroma basah yang tiba-tiba muncul, dan bayangan perempuan yang menatap dari kejauhan.

Beberapa warga bahkan membuat sesajen kecil di pinggir jalan setiap malam Jumat. Mereka percaya, selama langkah itu belum menemukan rumahnya, suara itu akan terus terdengar.

Bagi yang lewat malam hari, kabarnya cukup mengucap satu kalimat dengan hati-hati:
“Ampunilah aku yang melintas, semoga langkahmu tenang di jalannya.”

Karena jika tidak, langkah-langkah itu akan berpindah—dan mungkin, mengikuti mereka pulang.

Lifestyle : Gaya Hidup Fleksitarian Jadi Alternatif Makan Sehat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post