Tangan Pucat Keluar dari Bak Mandi di Rumah Depok Malam Hari

Tangan Pucat Keluar dari Bak Mandi di Rumah Depok Malam Hari post thumbnail image

Awal Kembalinya Clara ke Rumah Lama

Hujan deras mengguyur Depok malam itu, sementara petir berulang kali menyambar langit yang kelabu. Clara baru saja turun dari taksi, menatap rumah peninggalan neneknya yang berdiri di ujung jalan kecil. Meskipun cat dindingnya sudah mengelupas dan jendela-jendelanya kusam, rumah itu tetap memancarkan aura aneh. Angin bertiup kencang, membuat daun beringin tua di samping rumah bergoyang seperti tangan-tangan yang melambai.

Saat membuka pintu, aroma lembap langsung menyeruak. Clara melangkah pelan, menyalakan lampu yang berkedip sebelum menyala lemah. Di setiap langkah, lantai kayu berderit lirih, seolah mengeluh karena lama tak diinjak manusia. Ia sempat tersenyum getir, namun rasa dingin di tengkuknya membuatnya segera menutup pintu rapat-rapat.

Kemudian, matanya terarah pada lorong kecil di sisi kanan—lorong menuju kamar mandi. Seketika, kenangan masa kecil menyeruak. Neneknya dulu sering melarangnya masuk ke sana, terutama saat malam tiba. Namun malam ini, rasa penasaran Clara lebih besar daripada rasa takutnya.


Suara Aneh dari Kamar Mandi

Setelah beberapa menit berkeliling, Clara mendengar sesuatu dari arah kamar mandi. Mula-mula samar, namun kemudian jelas: suara air menetes—tik… tik… tik…—terdengar berirama di antara hujan di luar. Ia melangkah perlahan, menyalakan lampu kamar mandi yang langsung membuat ruangan itu tampak lebih suram dari yang ia bayangkan.

Bak mandi besar berwarna biru tua masih berisi air hingga hampir penuh. Aneh, karena rumah ini sudah lama kosong. Clara menatap permukaannya yang tenang. Sekilas ia berpikir mungkin atap bocor, namun air itu tampak jernih dan tak berbau. Ia berjongkok, menatap pantulan wajahnya sendiri di air, lalu—

Tiba-tiba.

Sesuatu bergerak di dalam air. Permukaannya bergolak pelan, lalu muncul tangan pucat—amat pucat, dengan kuku panjang dan membiru—meraih ke permukaan seolah hendak keluar dari kedalaman yang tak seberapa itu. Clara tersentak mundur, napasnya tertahan. Ia menatap, tak percaya. Tangan itu bergerak perlahan, gemetar, lalu menghilang begitu saja ketika ia menjerit keras.

Namun, yang membuatnya makin ketakutan adalah air di bak itu kini memantulkan bayangan wajah yang bukan miliknya.


Malam Pertama yang Tak Tenang

Clara memutuskan menginap karena hari sudah larut. Ia menyalakan lilin di kamar, sebab listrik sering mati di rumah itu. Namun setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia mendengar suara langkah kaki basah menyusuri koridor. Suara itu berhenti tepat di depan kamarnya, kemudian terdengar seperti sesuatu yang menetes—pluk… pluk…—seolah ada air menetes dari tubuh seseorang.

Ia menegakkan tubuhnya, menatap pintu kamar yang tertutup. Pegangan pintu itu tiba-tiba berputar perlahan. Clara menahan napas. Pintu berderit terbuka, namun tak ada siapa pun. Hanya hawa dingin yang menyusup dan bau amis yang menguar samar.

Malam itu ia tak bisa tidur hingga fajar menyingsing.


Temuan dari Lemari Tua

Keesokan harinya, dengan cahaya matahari yang mulai masuk, Clara mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah halusinasi. Namun rasa penasarannya mengalahkan logika. Ia mulai menyusuri rumah, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan kejadian aneh itu.

Di ruang belakang, ia menemukan sebuah lemari tua penuh debu. Setelah membuka satu per satu laci yang berderit, ia menemukan album foto lama. Di dalamnya terdapat gambar seorang gadis muda berambut panjang dengan senyum kaku. Di balik foto itu, tertulis dengan tulisan tangan yang goyah:

“Rina — pembantu yang hilang tahun 1989.”

Clara menggigil. Ia samar-samar mengingat nama itu. Dulu neneknya pernah menyebut Rina, seorang asisten rumah tangga yang kabarnya pergi tanpa pamit. Namun kini, Clara mulai menduga sesuatu yang jauh lebih kelam.


Suara dari Dalam Air

Menjelang malam, Clara kembali mendengar suara air dari kamar mandi. Kali ini bukan tetesan, melainkan seperti seseorang sedang mengguyur tubuhnya. Suara cipratan terdengar jelas, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia membawa senter dan membuka pintu perlahan.

Bak mandi itu kini setengah kosong. Namun di dalamnya, air masih beriak meski tidak ada angin. Ia menyorot senter ke dalam air, lalu sesuatu muncul—tangan pucat itu lagi, tapi kini dua. Satu menahan pinggiran bak, dan yang lain meraih ke arahnya. Dari dalam air, muncul kepala perempuan dengan rambut panjang menutupi wajah, matanya terbuka lebar, mulutnya mengeluarkan air dan darah sekaligus.

Clara menjerit, melempar senter, lalu berlari keluar. Namun meskipun ia telah keluar dari kamar mandi, suara cipratan air itu masih terdengar.


Cerita dari Tetangga Lama

Keesokan paginya, Clara mendatangi Bu Ratmi, tetangga lama yang dulu sering datang membantu neneknya. Begitu Clara menyebut nama “Rina,” wajah Bu Ratmi langsung berubah pucat.

“Nak, jangan sebut-sebut nama itu,” katanya pelan. “Rina tidak pernah pergi. Dulu dia ditemukan meninggal di kamar mandi itu. Katanya bunuh diri, tapi… banyak yang bilang dia dibunuh oleh majikannya sendiri karena ketahuan hamil.”

Clara terdiam. “Tapi… kenapa nenek saya tak pernah cerita?”

“Karena rasa malu dan rasa bersalah, mungkin. Setelah kejadian itu, nenekmu selalu mendengar suara dari kamar mandi, makanya pintunya disegel.”

Clara mengangguk pelan, sementara perasaan bersalah merayapi dadanya. Ia merasa roh itu belum tenang dan kini mencoba bicara padanya.


Rahasia di Bawah Bak Mandi

Saat malam tiba, Clara memberanikan diri kembali ke kamar mandi. Hujan di luar mengguyur keras, sementara kilatan petir sesekali menerangi ruangan. Dengan linggis kecil, ia mulai menggeser bak mandi yang berat itu. Setelah bersusah payah, ia melihat tanah basah di bawahnya.

Ia mulai menggali perlahan. Bau busuk langsung menyeruak, membuatnya hampir muntah. Namun ia terus menggali, hingga ujung sekopnya menyentuh sesuatu yang keras. Ia menyingkirkan tanah di sekitarnya, dan…

Sebuah tulang tangan muncul dari balik tanah, terbungkus kain putih yang sudah membusuk. Clara menjerit kaget, menjatuhkan sekopnya. Di dinding, samar-samar terlihat tulisan dari darah kering: “Aku tidak bunuh diri.”

Saat itu juga, air dari keran mulai menetes deras tanpa ia buka. Bau amis memenuhi ruangan, sementara dari permukaan bak mandi yang kosong muncul genangan air sendiri, melingkar dan berputar.


Arwah yang Muncul

Petir menyambar keras. Saat cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan, Clara melihat sosok perempuan berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin kamar mandi. Sosok itu berambut panjang, wajahnya pucat seperti mayat, dan air menetes dari ujung jarinya. Matanya kosong, tapi air mata mengalir deras dari sana.

“Rina…” bisik Clara gemetar.

Sosok itu mengangkat tangan—tangan pucat yang sama seperti dari bak mandi—dan menunjuk tepat ke arah lantai tempat tulang itu ditemukan. Kemudian, dengan suara serak yang menusuk telinga, ia berkata, “Dia masih di sini…”

Seketika ruangan bergetar. Dinding retak, lampu padam, dan air meluap membanjiri kamar mandi. Clara berlari keluar, menjerit sekuat tenaga. Namun sebelum ia berhasil menutup pintu, sesuatu menarik pergelangan kakinya. Ia menoleh dan melihat tangan itu lagi—dingin, basah, dan menggenggam kuat. Ia menendang keras hingga terlepas, lalu pintu langsung tertutup sendiri dengan suara dentuman keras.


Kebenaran yang Tersingkap

Pagi harinya, polisi datang setelah Clara melapor. Mereka menggali di bawah bak mandi dan menemukan kerangka manusia lengkap dengan kain kafan robek. Dari hasil penyelidikan diketahui, tulang itu milik Rina. Namun yang mengejutkan, di antara tulang-tulang itu ditemukan kerangka bayi kecil yang masih menempel di dada Rina.

Petugas mengangguk pelan. “Dia tidak bunuh diri. Ini pembunuhan.”

Clara menangis. Ia merasa Rina akhirnya mendapatkan keadilan. Namun di sisi lain, ia tak bisa menghapus bayangan tangan pucat yang terus menghantuinya.


Akhir yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Beberapa minggu kemudian, rumah itu berhasil dijual. Sebelum meninggalkan tempat itu, Clara menyalakan lilin kecil di kamar mandi dan meletakkan bunga melati di atas tanah yang kini bersih. “Tenanglah, Rina,” bisiknya lembut.

Namun malam itu, di apartemen barunya, suara air kembali terdengar dari kamar mandi. Clara membuka pintu perlahan. Air dalam bak mandinya bergolak sendiri, padahal keran tertutup.

Ia menatap, tubuhnya membeku. Perlahan, dari dalam air muncul tangan pucat itu lagi—masih sama, tapi kali ini disertai suara berbisik, “Terima kasih… tapi dia belum selesai.”

Cahaya lampu berkelip, air berubah merah, dan cermin di dinding mulai berembun membentuk tulisan samar:
“Dia masih di antara kalian.”

Petir menyambar, dan semuanya gelap.

Inspirasi & Motivasi : Mahasiswa Wirausaha yang Jadi Inspirasi Satu Kampus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post