Kuburan Tua di Ujung Desa
Di Tuban Barat, ada pemakaman tua yang jarang dikunjungi. Warga menyebutnya Makam Waru Sepuh karena di tengah area makam berdiri sebatang pohon waru besar yang rimbun. Di batangnya, melilit erat kain putih panjang yang tampak usang, kotor, dan berlumut.
Orang-orang percaya, kain putih itu bukan sekadar kain biasa. Dulu, konon digunakan untuk membungkus jenazah seorang perempuan yang mati tanpa keluarga. Sejak penguburannya, banyak keanehan terjadi—terutama saat bulan purnama muncul.
Kedatangan Seorang Peneliti Muda
Laras, seorang mahasiswi jurnalistik, datang ke Tuban Barat untuk menulis artikel tentang ritual pemakaman kuno di Jawa Timur. Ia mendengar cerita tentang kain putih di makam waru dan merasa itu bisa jadi bahan menarik.
Warga desa awalnya menolak membantunya. Hanya Pak Sastro, juru kunci makam yang sudah berusia 70 tahun, bersedia menemani.
“Nak, kalau memang mau lihat kain putih itu, jangan disentuh. Banyak yang coba, tapi semua jatuh sakit.”
Laras mengangguk, mencatat setiap ucapan. Dalam hatinya, ia tak terlalu percaya, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut. Ia berjanji hanya akan mengambil foto untuk dokumentasi.
Malam Pertama: Suara dari Pohon Waru
Sore itu, Laras dan Pak Sastro berangkat ke makam. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Di tengah area pemakaman, pohon waru menjulang dengan akar yang menjalar seperti tangan.
Kain yang melilit batangnya tampak berkilau samar terkena cahaya senja. Entah mengapa, Laras merasa kain putih itu seperti berdenyut lembut, seolah hidup.
Saat malam tiba, mereka beristirahat di gubuk dekat pemakaman. Tepat pukul dua belas, angin berembus lebih kencang. Dari arah makam terdengar suara seperti kain diseret di tanah.
“Sreeekk… sreeekk…”
Laras terbangun. Dari celah jendela, ia melihat kain putih di pohon waru bergoyang sendiri, padahal angin tidak berembus ke arah situ. Lalu terdengar suara lirih perempuan menangis dari bawah pohon.
Pagi yang Membawa Pertanda Buruk
Keesokan harinya, Pak Sastro tampak gelisah.
“Nak, semalam kamu lihat apa?”
“Kain itu bergerak. Saya dengar suara orang menangis.”
“Berarti dia tahu kamu datang.”
Pak Sastro kemudian bercerita bahwa kain putih itu dulunya milik perempuan bernama Sarni, seorang biduan desa yang mati mengenaskan karena difitnah mencuri emas tuannya. Tidak ada yang mau menguburnya, hingga akhirnya seorang penggali makam menemukan jenazahnya di pinggir sungai.
“Waktu dimakamkan, kain kafan yang dipakai tiba-tiba melilit sendiri ke pohon waru di tengah makam. Tidak bisa dilepas sampai sekarang.”
Laras mendengarkan dengan tegang. Ia memutuskan untuk datang lagi malam itu, kali ini sendirian. Ia ingin membuktikan sendiri misteri kain putih itu.
Malam Kedua: Bayangan di Antara Kabut
Kabut mulai turun ketika Laras tiba di makam. Ia menyalakan senter dan menatap batang waru besar di tengah. Kain putih itu kini tampak lebih panjang dari sebelumnya, ujungnya menjuntai sampai menyentuh tanah.
Saat ia mendekat, udara mendadak dingin. Aroma melati busuk menyeruak. Senter di tangannya berkelip—lalu mati total. Dalam kegelapan, Laras mendengar suara napas berat tepat di belakangnya.
“Jangan… lepaskan…”
Ia menoleh cepat, tapi tak ada siapa-siapa. Namun saat menatap ke arah pohon, kain putih itu kini terlepas sebagian, seperti baru saja disentuh.
Laras mundur perlahan, tapi ujung kain tiba-tiba bergerak sendiri, melingkar di pergelangan kakinya. Ia menjerit, menarik kakinya kuat-kuat hingga berhasil melepaskan diri, lalu berlari keluar makam.
Di belakangnya, terdengar suara tawa perempuan memecah keheningan malam.
Hari Ketiga: Mimpi dan Luka di Pergelangan
Pagi harinya, Laras terbangun dengan luka merah melingkar di kakinya, tepat di tempat kain putih itu melilit semalam. Bekas itu terasa panas seperti terbakar.
Ia menemui Pak Sastro, yang langsung pucat melihat luka itu.
“Kamu disentuh dia… seharusnya kamu tidak kembali semalam.”
Pak Sastro kemudian membawanya ke rumah seorang dukun tua bernama Mbah Ningrum. Perempuan tua itu menatap kaki Laras lama, lalu berkata pelan:
“Dia belum tenang. Arwahnya terikat pada kain itu. Siapa pun yang menyentuhnya akan diikuti sampai mati.”
Laras ketakutan, tapi tetap ingin menulis laporannya. Ia merasa semakin harus tahu kisah lengkap di balik kain putih itu.
Penemuan Foto Lama
Sore itu, Laras menelusuri gudang arsip kecamatan. Di sana, ia menemukan foto lama tahun 1952. Foto itu menampilkan seorang perempuan muda mengenakan kebaya putih, tersenyum sambil duduk di bawah pohon waru.
Di belakangnya tampak kain panjang yang sama, tergantung dari dahan pohon. Tulisan di belakang foto berbunyi:
“Sarni – sebelum malam terakhir.”
Tangan Laras gemetar. Ia menatap foto itu lama. Seolah dari gambar itu, mata perempuan itu menatap balik—datar, kosong, tapi menyimpan kesedihan.
Malam Ketiga: Ritual Terlarang
Meski dilarang, Laras kembali ke makam membawa kamera dan perekam suara. Ia menyalakan lilin kecil dan meletakkannya di bawah pohon waru.
“Aku hanya ingin tahu siapa kamu sebenarnya,” bisiknya.
Udara menjadi sangat dingin. Daun-daun waru bergetar pelan. Lalu, dari ujung kain, muncul noda merah gelap seperti darah segar. Suara perempuan mulai terdengar jelas:
“Mereka… mengikatku di sini…”
Kain itu bergerak, melilit perlahan ke arah batang pohon, seolah memperlihatkan bagaimana dulu Sarni mati terjerat. Laras mundur dengan mata terbelalak, tapi kamera di tangannya tetap merekam.
Tiba-tiba, dari dalam tanah di bawah pohon, muncul tangan pucat penuh tanah yang menggenggam ujung kain putih itu.
Teror di Penginapan
Laras kembali ke penginapan dengan tubuh gemetar. Ia menutup semua jendela dan memutar hasil rekaman. Namun, di tengah suara angin, terdengar bisikan pelan:
“Kenapa kau lepaskan ikatanku?”
Lampu kamar padam. Ketika Laras menyalakan senter, kain putih yang tadi di makam kini tergantung di pojok kamar, basah dan meneteskan air merah.
Ia menjerit, tapi pintu kamar terkunci dari luar. Suara langkah kaki berputar di luar pintu, disusul tawa lirih perempuan.
Akhir yang Menggetarkan
Keesokan paginya, pemilik penginapan menemukan kamar Laras terbuka. Di dalamnya hanya ada laptop yang masih menyala, menampilkan video terakhir: Laras menatap kamera sambil berbisik,
“Dia ingin pulang…”
Lalu layar bergoyang dan jatuh, memperlihatkan sekilas kain putih panjang yang melilit tubuh seseorang di sudut ruangan.
Jenazah Laras tidak pernah ditemukan. Namun beberapa hari kemudian, kain putih di pohon waru tampak bertambah panjang, seolah ada sesuatu yang baru saja ditambahkan.
Warga desa kini menaruh sesajen di bawah pohon setiap malam Jumat, berharap roh Sarni dan Laras tidak berkeliaran lagi. Tapi banyak yang bersumpah, setiap purnama, dua suara perempuan terdengar menangis di antara akar pohon waru itu.
Sejarah & Budaya : Upacara Kasada Suku Tengger di Gunung Bromo yang Sakral