Bayang Tua Duduk di Kursi Pendopo Bangkalan Tengah

Bayang Tua Duduk di Kursi Pendopo Bangkalan Tengah post thumbnail image

Pendopo yang Tak Pernah Sepi di Malam Hari

Di jantung Bangkalan Tengah, berdiri sebuah pendopo tua peninggalan masa kolonial. Bangunan itu dikenal masyarakat sebagai Pendopo Surya Kencana — sebuah bangunan kayu jati berukir indah yang kini dibiarkan kosong. Namun, keindahan itu menyembunyikan sesuatu yang menggetarkan: sosok bayang tua yang kerap terlihat duduk di kursi besar di tengah ruangan, menatap ke arah siapa pun yang berani lewat setelah tengah malam.

Warga sekitar percaya, bayang tua itu bukan sekadar penampakan biasa, melainkan arwah penjaga sekaligus saksi bisu masa lalu kelam yang menelan nyawa banyak orang di tempat itu.


Kedatangan Peneliti dan Awal Keanehan

Suatu sore di bulan Oktober, Rafi, seorang mahasiswa antropologi dari Surabaya, datang ke Bangkalan untuk penelitian tentang bangunan bersejarah. Ia tertarik dengan cerita rakyat setempat, terutama tentang bayang tua di Pendopo Surya Kencana.

Warga yang ia temui di warung kopi menatapnya dengan heran ketika mendengar niatnya.

“Mas, jangan sembarangan ke pendopo itu malam-malam,” kata Pak Leman, penjaga masjid dekat lokasi. “Banyak yang lihat bayang tua duduk di kursi tengah. Kalau dia noleh ke kamu, katanya umurmu nggak bakal lama.”

Namun, Rafi tidak percaya hal-hal mistis. Ia merasa semua itu hanyalah bagian dari kepercayaan lokal yang bisa dijelaskan dengan logika. Ia memutuskan untuk bermalam di rumah penduduk dan berencana mendatangi pendopo itu saat malam tiba.


Malam Pertama: Kursi Kosong yang Tak Pernah Kosong

Pendopo itu besar dan lapang, hanya diterangi cahaya bulan. Kursi besar dari kayu jati berada tepat di tengah ruangan, tampak berdebu dan retak. Udara di sekitar terasa dingin menusuk, seolah waktu berhenti di tempat itu.

Rafi mengeluarkan kamera dan mulai merekam suasana. Namun, begitu jam menunjukkan pukul 23.55, kamera mendadak bergetar sendiri. Layar menampilkan siluet samar di kursi tengah—seseorang duduk membelakangi kamera.

Rafi menoleh ke kursi itu, tapi kosong. Saat ia kembali melihat layar, bayang tua itu muncul lagi—kali ini menatap lurus ke arah kamera, matanya gelap dan wajahnya tanpa bentuk.

Aroma kayu terbakar dan wangi bunga kenanga menyeruak. Di kejauhan terdengar suara langkah pelan menuju arahnya, disusul suara kursi bergeser. Rafi mematikan kamera dan melarikan diri keluar pendopo dengan napas tersengal.


Penelusuran Kedua: Jejak Masa Lalu dan Saksi Tua

Keesokan harinya, Rafi mendatangi Mbah Warto, sesepuh desa yang dianggap tahu sejarah pendopo. Lelaki berusia hampir sembilan puluh tahun itu memandangi Rafi lama sebelum bicara.

“Dulu, pendopo itu rumah bupati zaman Belanda. Banyak rakyat ditahan dan disiksa di ruang bawah tanahnya. Setelah perang usai, bupati tua itu bunuh diri di kursinya sendiri. Sejak itu, muncul bayang tua yang duduk setiap malam Jumat.”

Rafi mencatat semua dengan saksama. Ia merasa perlu membuktikan apakah fenomena bayang tua ini bisa dijelaskan dengan sisa energi atau ilusi optik. Maka malam berikutnya, ia kembali ke pendopo, kali ini membawa alat perekam suhu dan kamera inframerah.


Malam Kedua: Suara dari Kursi dan Nafas di Telinga

Langit mendung. Petir menyambar di kejauhan saat Rafi menyalakan alat perekam. Suhu ruangan tiba-tiba turun drastis dari 29 menjadi 17 derajat. Layar kamera inframerah memperlihatkan siluet manusia duduk di kursi dengan suhu tubuh dingin tak normal.

Ia mendekat perlahan, tapi suara lirih membuatnya berhenti.

“Kembalikan… kursiku…”

Rafi membeku. Tidak ada siapa pun di sana, tapi suara itu jelas berasal dari arah kursi tengah. Lampu senter di tangannya redup, dan di balik cahaya samar itu, bayang tua muncul sepenuhnya—berpakaian seperti bangsawan Madura zaman dulu, dengan wajah gelap tak berwujud.

Sosok itu menunduk, lalu perlahan mendongak. Udara di sekitarnya bergetar. Rafi merasakan hembusan nafas dingin di telinganya, seolah seseorang berdiri sangat dekat di belakangnya. Ia berlari keluar pendopo, tapi dari arah dalam, terdengar suara kursi bergeser keras, disusul suara tawa parau.


Hari Ketiga: Wawancara yang Membuka Luka Lama

Rafi mulai percaya bahwa bayang tua itu nyata. Ia mendatangi arsip desa dan menemukan dokumen lama bertuliskan nama Raden Wirakusuma, bupati Madura yang menguasai Bangkalan Tengah pada 1940-an.

Catatan itu menyebutkan bahwa Raden dikenal kejam dan sering menghukum rakyatnya tanpa pengadilan. Ia dikabarkan bunuh diri setelah pemberontakan rakyat menggulingkannya. Namun, anehnya, dalam catatan resmi, tubuhnya tidak pernah ditemukan.

Seorang warga tua, Bu Saminah, mengaku pernah melihat sosok bayang tua itu tiga puluh tahun lalu.

“Dia duduk di kursi besar itu, Mas. Tangan kirinya seperti terbakar, dan dari matanya keluar asap hitam. Sejak malam itu, orang yang lihat langsung selalu sakit atau hilang.”

Rafi mulai merasa gelisah, tapi rasa ingin tahunya menahan ketakutannya. Ia memutuskan untuk menginap di pendopo satu malam lagi—kali ini dengan doa dan niat tulus untuk mencari kebenaran.


Malam Ketiga: Kursi Berdarah dan Bayangan yang Mengikutinya

Rafi menyiapkan kamera di empat sudut ruangan. Malam itu sunyi sekali, hanya suara jangkrik dan angin yang menyelinap lewat celah kayu tua. Pukul 00.15, aroma menyengat menyeruak—perpaduan antara asap dan darah.

Dari kamera utama, terlihat kursi tengah perlahan bergoyang sendiri, lalu berhenti tiba-tiba. Rafi menyorot dengan senter, dan matanya membelalak: ada noda merah segar di sandaran kursi.

Tiba-tiba bayangan besar muncul di lantai, meski tidak ada sumber cahaya yang membuatnya. Bayang tua itu berdiri di belakang kursi, memegang tongkat, menatap Rafi dengan mata hitam kosong.

“Kau sudah memanggilku… sekarang duduklah di kursiku.”

Rafi terpaku. Kursi itu seolah berdenyut, seperti bernyawa. Udara jadi pekat, dan dari arah belakang terdengar langkah kaki berat, seperti orang berjalan dengan tongkat kayu.

Ia mencoba lari, tapi pintu pendopo tertutup sendiri dengan suara keras. Di dalam kegelapan, bayang tua itu mendekat perlahan, hingga hanya berjarak satu langkah.

“Kau ingin tahu sejarahku? Sekarang, kau bagian darinya.”

Tangan hitam dingin menempel di bahu Rafi. Seketika pandangannya gelap.


Pagi yang Mengerikan: Pendopo yang Kembali Hidup

Pagi harinya, warga menemukan kamera Rafi tergeletak di tengah pendopo, merekam ruangan kosong. Namun di rekaman terakhir, selama 15 detik terakhir sebelum baterai habis, terlihat sesuatu:

Kursi besar itu kini tidak kosong. Rafi duduk di sana, matanya kosong, kulitnya pucat kebiruan. Di sampingnya, berdiri bayang tua dengan wajah kabur.

Beberapa detik sebelum video berhenti, sosok itu menepuk bahu Rafi, dan dua-duanya menghilang.

Pendopo kini tidak lagi kosong. Setiap malam Jumat, dua bayangan terlihat duduk di kursi besar itu—satu tua, satu muda. Warga menyebutnya “penjaga baru”.


Epilog: Kutukan Kursi Kayu Jati

Setelah kejadian itu, pemerintah desa menutup akses ke Pendopo Surya Kencana. Namun, beberapa orang yang melintas malam hari masih sering melihat cahaya samar dari dalam ruangan, seperti lampu minyak yang menyala pelan.

Bagi yang nekat mendekat, mereka mengaku mencium bau kayu terbakar dan mendengar suara kursi bergeser dari dalam.

Di dinding pendopo kini terpampang peringatan sederhana:

“Jangan duduk di kursi yang bukan milikmu.”

Dan di tengah ruangan, kursi jati tua itu masih berdiri kokoh, menunggu siapa pun yang cukup berani untuk menantang kutukan bayang tua.

Berita & Politik : Kinerja DPR Dinilai Rendah oleh Lembaga Independen

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post