Bayangan Wajah Berdarah di Cermin Kawah Ijen Tengah Malam

Bayangan Wajah Berdarah di Cermin Kawah Ijen Tengah Malam post thumbnail image

Malam Asing di Lereng Kawah Ijen

Kabut tipis menggantung di udara saat Dira, seorang fotografer alam, memutuskan untuk bermalam di kawasan Kawah Ijen. Ia tidak sendirian—dua temannya, Rafi dan Nina, ikut menemaninya dalam perjalanan mendaki itu. Mereka berniat memotret fenomena blue fire, namun karena keterlambatan waktu, mereka baru sampai di puncak menjelang tengah malam.

“Tenang aja, kita camping di sini dulu. Pagi baru turun,” kata Rafi sambil menyiapkan tenda di pinggir jalur berbatu. Udara dingin menggigit kulit, sementara suara angin bergesek dengan dinding kawah seperti bisikan halus dari masa lalu.

Namun sesuatu yang lain menarik perhatian Dira. Di antara kabut dan batuan belerang, ia melihat pantulan aneh—seolah ada sesuatu berkilau di balik semak kering.

Ketika ia mendekat, benda itu ternyata cermin tua dengan bingkai retak, tertancap setengah di tanah. Permukaannya buram, tapi saat Dira mengusapnya, ia melihat sekilas bayangan wajah berdarah menatap balik dari dalam pantulan.


Cermin dari Masa Silam

“Nina, sini deh, liat ini,” panggil Dira dengan suara bergetar. Namun saat temannya datang, pantulan itu hilang—yang tersisa hanya wajah mereka sendiri yang samar.

“Cuma pantulan bayangan lo, Dir. Jangan halu,” canda Nina. Tapi Dira tahu apa yang ia lihat. Wajah itu bukan bayangannya—kulitnya pucat, matanya merah seperti mengalirkan darah, dan bibirnya robek hingga ke pipi.

Malam itu, mereka memutuskan menyimpan cermin tersebut di tenda untuk difoto esok pagi. Tapi sejak benda itu masuk ke tenda, suasana berubah. Angin berhenti bertiup, dan udara menjadi sangat hening.

Dira berbaring sambil menatap cermin yang bersandar di pojok. Di tengah kantuknya, ia melihat bayangan di pantulan itu mulai bergerak pelan, meskipun tidak ada siapa pun yang bergerak di dunia nyata.


Bisikan dari Dalam Cermin

Sekitar pukul dua dini hari, Dira terbangun oleh suara seperti desahan. Suara itu terdengar sangat dekat, namun samar. Ia menoleh ke arah teman-temannya—keduanya tertidur pulas.

Kemudian suara itu terdengar lagi, lebih jelas.

“Kembalikan aku…”

Dira menegakkan tubuhnya. Suara itu datang dari arah cermin. Saat ia mendekat, cahaya lampu senter memantul samar, dan dalam pantulan itu muncul bayangan wajah berdarah yang kini tersenyum—senyum yang dingin dan tidak manusiawi.

Dira berteriak, membangunkan Nina dan Rafi. Tapi ketika mereka menatap cermin itu, hanya terlihat bayangan tenda mereka sendiri.

“Lo kebanyakan kopi kali,” kata Rafi sambil menguap. Mereka menganggap Dira hanya lelah. Namun Dira tahu apa yang ia lihat—dan dalam pantulan itu, matanya sendiri tampak lebih gelap dari biasanya.


Jejak Darah di Sekitar Kawah

Keesokan paginya, Dira pergi sendiri ke tepi kawah untuk menenangkan diri. Tapi langkahnya berhenti saat ia melihat jejak darah segar di antara bebatuan belerang. Bekas itu menurun hingga ke arah kawah yang berasap.

Di sana, ia menemukan batu besar dengan ukiran samar menyerupai huruf Belanda kuno. Sebagian terbaca:

“Voor Anna – 1923”

Dira merasa merinding. Ia tahu sedikit sejarah Kawah Ijen dari risetnya—pada masa kolonial, banyak pekerja tambang yang meninggal di kawasan itu akibat kecelakaan dan keracunan gas. Salah satunya, menurut catatan lama, adalah seorang wanita Belanda bernama Anna, istri mandor tambang yang tewas misterius saat mencari suaminya di kawah.

Mereka bilang jasadnya tak pernah ditemukan. Hanya cermin pribadinya yang tertinggal di sekitar lokasi kematian.


Malam Kedua: Pantulan Tak Terhindarkan

Sore menjelang, kabut turun lagi. Cermin itu kini disimpan dalam tas Dira, namun terasa semakin berat seolah menolak dibawa pergi. Rafi dan Nina sibuk memasak di luar tenda, sementara Dira duduk di dalam, menatap pantulan samar dirinya sendiri.

Perlahan, bayangan di dalam cermin mulai berubah. Ia melihat wajahnya sendiri, tapi dengan darah mengalir dari mata dan hidung. Saat ia mundur ketakutan, bayangan itu tersenyum lebih lebar, lalu menggerakkan bibirnya:

“Bukan kamu yang seharusnya di sini.”

Lampu senter padam tiba-tiba. Dira berteriak memanggil teman-temannya, tapi suaranya tertelan kabut. Ketika Rafi membuka tenda, Dira sudah tak ada—hanya cermin tua yang berdiri tegak di tengah tenda, memantulkan tiga bayangan, padahal hanya dua orang di sana.


Hilangnya Dira

Keesokan harinya, tim penyelamat lokal datang setelah laporan warga mendengar jeritan di lereng Kawah Ijen. Mereka menemukan tenda yang hancur sebagian, serta cermin tua yang berdarah di sisi dalam bingkainya.

Namun tak ada tanda-tanda Dira. Hanya ditemukan kamera miliknya yang masih menyala dengan baterai hampir habis.

Ketika rekaman diperiksa, terlihat Dira merekam dirinya sendiri di tengah malam, wajahnya pucat dan matanya kosong. Dalam video itu, ia berkata pelan:

“Dia memanggilku… dia ingin kembali. Tapi hanya bisa melalui wajah… yang sama.”

Setelah itu, video berakhir dengan suara retakan kaca dan teriakan panjang.


Bayangan Wajah Berdarah Kembali

Beberapa minggu kemudian, Rafi dan Nina mencoba melanjutkan hidup. Namun keduanya mulai diganggu mimpi aneh—mimpi tentang wajah berdarah yang menatap dari balik cermin kamar mandi mereka.

Suatu malam, Nina menatap cermin setelah mencuci muka, dan tiba-tiba melihat bayangan Dira berdiri di belakangnya, wajahnya penuh luka, bibirnya robek, matanya hitam mengalirkan darah.

“Aku sudah melihat… dari baliknya…”

Nina menjerit dan pingsan. Saat Rafi datang, cermin kamar itu sudah retak membentuk pola seperti retakan mata manusia.

Keesokan harinya, Nina hilang—tanpa jejak, seperti Dira sebelumnya. Di dinding rumahnya tertulis dengan darah:

“Cermin bukan hanya pantulan… tapi jalan pulang.”


Legenda Lama Tentang Cermin Ijen

Seorang pemandu lokal, Pak Gondo, menceritakan pada polisi bahwa legenda cermin Kawah Ijen sudah beredar sejak lama.

Menurutnya, pada awal abad ke-20, seorang wanita Belanda bernama Anna van de Meer tinggal bersama suaminya, mandor tambang sulfur di Ijen. Suaminya ditemukan tewas terbakar gas, dan Anna menghilang ke dalam kabut, hanya meninggalkan cermin antik berhias perak di dekat kawah.

Warga percaya, arwah Anna terperangkap di dalam cermin itu, menunggu wajah baru untuk menggantikan dirinya agar bisa bebas. Mereka menyebutnya wajah berdarah karena setiap kali arwah itu muncul, pantulan wajah manusia yang menatap akan mengalirkan darah di mata dan mulut.

Sejak itu, siapa pun yang menemukan cermin tersebut tak pernah kembali.


Pantulan yang Tidak Hilang

Setahun kemudian, kawasan Kawah Ijen kembali ramai oleh wisatawan. Tapi di salah satu jalur pendakian, beberapa orang melaporkan fenomena aneh.

Ketika mereka mengambil foto di tengah kabut, selalu ada bayangan tambahan di belakang mereka—wajah seorang wanita berdarah, dengan mata kosong menatap kamera.

Salah satu foto bahkan viral di media sosial, memperlihatkan Dira, atau seseorang yang sangat mirip dengannya, berdiri di tepi kawah dengan cermin di tangannya.

Pihak pengelola wisata menganggapnya hoaks, namun warga lokal tahu lebih baik. Mereka percaya bahwa cermin itu belum berhenti mencari wajah baru.

Dan bila suatu malam kau mendaki ke Kawah Ijen, lalu melihat benda berkilau di tanah—jangan pernah menatapnya terlalu lama. Karena di balik pantulan itu, mungkin ada wajah berdarah yang sedang menatapmu kembali.

Food & Traveling : Rekomendasi Menu Vegetarian Khas Tradisi Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post