Malam dan Bau Kemenyan
Malam itu, lorong-lorong Pasar Beringharjo sudah ditutup setengah, lampu neon menggantung berkedip lelah, dan bau rempah bercampur kemenyan menempel di udara seperti kabut. Hujan baru saja reda, menyisakan kilau tipis pada lantai tegel tua. Di sudut paling belakang, tepat sebelum lorong menuju gudang tekstil, seorang pedagang kain bernama Sakti menghentikan langkahnya. Ia merasa dilihat, seolah mata tak kasatmata mengawasinya dari balik gulungan batik. Di benaknya terngiang cerita lama yang sering dibisikkan para kuli angkut: ada santet pasar yang berkelana di jam-jam dingin, mencari “tumbal” di antara kios yang lupa membayar janji.
Sakti menelan ludah. Dalam hening yang menggema, terdengar bunyi halus—seperti jarum jatuh. Lalu, angin yang tak wajar berhembus dari arah lorong buntu. “Cuma hembusan dari atap bocor,” pikirnya. Namun bau kemenyan yang tiba-tiba pekat memaksa logikanya mundur, dan ia tahu: malam ini, sesuatu sedang mulai.
Riwayat Sudut Gelap Beringharjo
Konon, puluhan tahun silam, ada seorang dukun pasar, Nyai Sumarni, yang membuka jasa “penglaris” dan “pembersih sial” untuk para pedagang. Awalnya, minyak wangi dan sesaji beras kuning—ritual ringan yang dibalut pantun Jawa halus. Namun permintaan pasar berubah liar: ada yang ingin merebut pelanggan tetangga, ada yang minta pesaing sakit, ada pula yang ingin dagangan tetangga mereka membusuk tanpa sebab. Nyai Sumarni pun turun ke jalur gelap. Jarum ditanam di ambang pintu, rambut dililit kain putih, foto diselipkan di perut boneka jerami, dan santet pasar pun beredar seperti arus bawah tanah.
Sampai suatu malam, seorang pedagang muda ditemukan kejang-kejang di depan kios Nyai Sumarni. Orang-orang marah, mengepung, tapi Nyai menghilang ke lorong tekstil dan tak pernah kembali. Sejak itu, setiap kali hujan turun di pasar tua, suara jemari yang mengetuk papan kios akan terdengar seperti hitungan arwah—satu, dua, tiga—seraya menagih janji yang dikhianati.
Kios Sakti dan Persaingan yang Mendidih
Sakti baru dua tahun di Beringharjo. Kiosnya kecil, tapi ia terkenal jujur. Ia menolak ritual pemikat pelanggan yang ditawarkan calo-calo malam. Sayangnya, kesuksesannya memicu benci. Di deretan sebelah, Bu Srie, pedagang lawas dengan jaringan lebar, kehilangan pembeli sedikit demi sedikit. “Gara-gara bocah baru itu,” gumamnya. Ia mencoba mencari kompromi, tapi pelanggannya justru memuji kain-kain Sakti yang “terasa bersih”. Kata “bersih” menyayat telinganya.
Pada sore yang gerimis, seorang lelaki pendek bertopi flat—yang konon “tahu jalur”—datang ke kios Bu Srie. “Mau manis? Atau pahit?” katanya samar. Bu Srie terdiam. “Manis untukmu, pahit untuk dia,” lelaki itu tersenyum tanpa gigi. Di meja, ia menaruh bungkusan kecil berisi jarum halus, segenggam tanah bercampur rambut, dan kain batik lusuh jurai parang. “Letakkan di celah lantai depan kiosnya saat malam. Besok, daganganmu akan kembali laris. Tenang, ini jalan lama, jalan santet pasar.”
Bu Srie menutup mata, menimbang hati yang lelah. Kemudian, karena takut kehilangan mata pencaharian, ia berkata pelan, “Berapa?”
Malam Penanaman Jarum
Saat pasar mereda, suara hujan menyamar menjadi tirai bagi langkah-langkah kecil. Bu Srie menyelinap ke kios Sakti. Lantai basah memantulkan cahaya neon yang miskin. Di ambang kios, ada celah tipis. Dengan tangan gemetar, ia menyelipkan jarum—satu per satu—bersama segumpal tanah dan rambut. Bau anyir tiba-tiba menyambar, padahal tak ada daging di sekitar. Bau itu seperti memori yang busuk. Bu Srie hampir muntah.
Ketika ia berbalik untuk kabur, dari ujung lorong terdengar suara kain diseret. “Ssst…” desis halus, bukan dari manusia. Ia menoleh: gulungan batik di rak-rak tua tampak bergoyang, seperti dada orang yang sedang bernapas. Lampu berkedip sekali, dua kali, lalu padam. Dalam gelap, Bu Srie mendengar desis kemenyan dinyalakan—padahal ia tak membawa korek.
Ada yang meniup telinganya. “Kau menabur, maka kau menuai.”
Ia berlari tanpa melihat ke belakang.
Tiga Tanda Pertama
Pagi berikutnya, tiga hal terjadi di kios Sakti.
Pertama, seorang pembeli tua tiba-tiba terjatuh tepat di depan rel kasir, mengigau tentang “nyai yang menyisir rambut di antara kain”. Kedua, kain mori yang baru datang berbau busuk—bukan jamur, lebih mirip bau kuburan setelah digali. Ketiga, Sakti menemukan jarum-jarum kecil memantulkan cahaya dari celah lantai—padahal semalam ia mengepel hingga bersih.
Sakti menahan panik. Ia memungut jarum-jarum itu dengan tang lembut, memasukkannya ke kaleng biskuit kosong, lalu menghubungi Mbah Tamin, pedagang herbal paling tua di blok rempah. Mbah Tamin datang dengan tongkat jati, matanya tajam. “Ini jarum larangan,” katanya. “Pindahkan daganganmu ke papan kayu, jangan langsung ke lantai. Dan malam nanti, tutuplah cermin harga. Santet suka berlubang lewat pantulan.”
Sakti menurut. Tapi saat siang menjelang, kabar aneh menyapu kios-kios: dua pedagang di blok barang antik mendadak mimisan tanpa henti. Ada yang bilang mereka “ikut terpanggil” oleh sentakan gaib. Ada pula yang berbisik: “Nyai Sumarni menoleh lagi.”
Hujan yang Tidak Basah
Menjelang Magrib, hujan turun lagi. Aneh, airnya tipis, seperti jarum-jarum halus yang menusuk kulit tanpa membasahi kain. Sakti yang sedang menurunkan terpal melihat sesuatu di ujung lorong: bayangan seorang perempuan tua duduk di bangku kayu. Rambutnya panjang, selendangnya polos, dan di pangkuannya ada boneka kain yang dibungkus batik jurai parang—sama motifnya dengan kain dalam bungkusan Bu Srie. Mata perempuan itu memantul pucat, tak punya batas antara hitam dan putih.
“Daganganmu bersih,” suaranya serak, “tapi lantai ini ingat janji yang dilanggar orang-orangmu.”
Sakti mundur setapak. “Siapa… Nyai—?”
Perempuan itu tersenyum samar. “Aku cuma penjaga. Yang menunggumu bukan aku.”
Di belakangnya, gulungan kain bergerak seolah ada tangan kecil menyentuhnya satu per satu. Sekaligus, angin dingin menyapu lorong seperti napas yang panjang. Bau melati bercampur kemenyan menembus masker yang dipakai Sakti. Ia memejam mata, merapalkan doa pendek. Ketika membuka mata lagi, bangku itu kosong. Tetapi boneka kain tertinggal, diletakkan rapi, dan pada perut boneka itu tertulis dengan benang merah: “Bayar janji.”
Bu Srie dan Harga yang Mencari Jalan
Malam kedua, kios Bu Srie ramai pembeli. Aneh, padahal hujan. Ia tersenyum lega, tetapi setiap kali ia menimbang kain, jarinya terasa kebas. Pembeli meminta potongan batik, ia melayani; pembeli lain minta remisi harga, ia beri. Hingga jam delapan malam, ia mengantongi uang berkali lipat dari hari biasa.
Namun begitu pasar menipis, suara yang sama datang: jemari mengetuk papan—satu, dua, tiga. Dari bawah meja kasir, suara kain diseret, pelan sekali, seperti anak belajar merangkak. Bu Srie menelan ludah. “Mungkin tikus.” Ia menyingkap kain… dan melihat kaki kecil di bawah meja, pucat seperti lilin. Kaki itu berhenti, lalu mundur ke kegelapan. Dari sana ada bisikan kecil, seperti anak memanggil ibunya dari balik kelambu: “Ibu… dingin…”
Bu Srie membanting meja, memadamkan lampu, lari ke luar. Di ambang kios, jarinya tergores seng. Darahnya menetes. Lantai tegel “meminum” darah itu dengan lahap, dan di kejauhan, perempuan tua yang semalam duduk di bangku melintas, menyisir rambut, tak menoleh.
Mbah Tamin Membuka Kembali Pintu Lama
Sakti mengajak Mbah Tamin ke sudut lorong yang ditinggalkan itu. Mereka membawa garam kasar, kendi air, dan seikat daun sirih. “Santet pasar tak pernah sendirian,” kata Mbah Tamin. “Ia menunggui janji: antara pedagang dan dagangan, antara mulut dan harga. Kalau janji diinjak, sesuatu mintai imbalan.”
Mereka membersihkan celah lantai. Ketika garam menyentuh tegel, terdengar desis, seperti minyak tersentuh air panas. Dari retakan lantai, asap tipis keluar dan membentuk simbol-simbol kuno yang tak dimengerti Sakti. Mbah Tamin menekan tungkai tongkat. “Ini bekas jalur Nyai Sumarni. Ia membuat ‘pintu’ di sini. Dan seseorang telah membukanya semalam.”
“Siapa?” tanya Sakti, meski ia sudah menebak.
“Yang ketakutan kehilangan nafkah. Ketakutan kerap jadi kunci.”
Mbah Tamin lalu meletakkan boneka kain yang mereka temukan. “Kita kembalikan harga pada tempatnya. Kau harus minta maaf, meski bukan kau yang menabur.” Sakti mengangguk. Dalam batin ia memaafkan tetangga yang belum sempat mengaku.
Namun pasar, sebagaimana pasar, menuntut transaksinya sendiri.
Tawar-Menawar dengan Yang Tak Tampak
Malam ketiga adalah malam penentu. Hujan turun lagi, kali ini deras. Listrik sempat padam, menyisakan lampu-lampu darurat menyala hijau pucat. Sakti menunggu bersama Mbah Tamin, duduk di lantai yang kini terasa hangat tak wajar. Tepat pukul sebelas, suara jemari mengetuk datang lagi—satu, dua, tiga. Kemudian empat, lima, enam. Seperti tawar-menawar yang panjang.
“Berikan yang kau janji,” bisik angin.
“Apa janjiku?” tanya Sakti, gemetar.
“Bukan kau. Pasarmu. Orang-orangmu.”
Sakti menatap boneka kain. Ia teringat wajah-wajah pembeli yang percaya, pedagang yang iri, dan kata-kata yang sering meluncur di sela cengkerama: “Dagangan bersih—dagangan kotor.” Ia menghela napas. “Kalau yang kau ingin adalah diingat, kami akan mengingat. Tetapi jangan lagi ada yang disakiti.”
Lampu berkelip. Dari ujung lorong, perempuan tua yang menyisir rambut berdiri, kali ini dekat sekali. Ia mengangkat tangan, dan di telapak tangannya ada pecahan cermin kecil. “Lihat, Nak.” Dalam pecahan itu, Sakti melihat refleksi kios-kios pasar: tawa, dusta kecil, janji besar, dan tangan-tangan menanam jarum. Ia juga melihat Bu Srie, berlutut di kiosnya, menangis memanggil nama anaknya—yang meninggal bertahun lalu karena demam saat hujan. “Aku hanya ingin daganganku ramai kembali,” isaknya. “Aku… aku salah.”
Air mata Sakti menggenang. “Kalau begitu, ambil dariku,” katanya, “biarkan yang lain pulang.”
Hening. Perempuan tua menutup telapak tangan. Bau kemenyan berubah menjadi bau hujan pertama. Lantai mendingin.
“Tidak perlu tumbal baru,” katanya lembut. “Hanya perlu ingat. Santet lahir dari lupa: lupa pada janji, lupa pada harga diri, lupa pada batas.”
Ia menoleh pada bayang-bayang yang bergerak di antara gulungan kain. “Pulanglah.”
Dan untuk pertama kalinya, lorong itu terasa kosong betulan.
Pengakuan dan Harga yang Dibayar
Keesokan paginya, pasar ramai dengan kabar: Bu Srie mendatangi Sakti, membungkuk dalam-dalam, suaranya pecah. Ia mengakui perbuatannya, menyebut nama lelaki bertopi flat, menunjukkan bungkusan jarum sisa. “Aku takut bangkrut,” kata Bu Srie, “aku lupa bahwa harga bukan hanya di uang.”
Para pedagang berdatangan. Ada yang marah, ada yang lega, ada yang mengeluh takut. Mbah Tamin menengahi. “Pasar ini tua. Ia punya ingatan. Kalau kita saling memakan, ia muntah.”
Mereka sepakat membuat kesepakatan baru: siapa pun yang ketahuan menabur jarum atau membawa bungkusan gaib akan diusir dari blok. Setiap hari Rabu, mereka menaruh sedikit beras kuning di persimpangan lorong, bukan sebagai sesaji pada sesuatu yang jahat, tetapi sebagai tanda ingat bahwa rezeki milik bersama—dan iri adalah paku pertama di peti mati pasar.
Lorong yang Masih Berbisik
Hidup pun kembali mengalir. Tetapi Beringharjo tetap Beringharjo: tua, harum, berisik, dan penuh rahasia. Di sudut yang dulu dipakai Nyai Sumarni, orang masih merasakan dingin ketika melintas. Kadang-kadang saat hujan rintik, terdengar lagi suara jemari mengetuk—satu, dua, tiga. Hanya saja, kini suaranya seperti isyarat lembut, bukan ancaman.
Sakti menyimpan kaleng biskuit berisi jarum-jarum itu di bawah etalase—bukan sebagai pusaka, melainkan pengingat. Ia mengganti cermin harga dengan papan tulis, supaya pantulan tak jadi lubang. Ia juga menambahkan kebiasaan kecil: setiap selesai transaksi, ia mengucapkan “matur nuwun” sambil menatap mata pembeli. Beberapa mengira itu sekadar ramah-tamah. Sakti tahu itu lebih dari itu: itu adalah penutup pintu—sebuah “selesai” yang wajib diucap, agar tidak ada yang menggantung di udara.
Bu Srie perlahan pulih. Kiosnya tidak seramai dulu, tapi cukup. Terkadang ia meletakkan bunga melati di sudut lorong, lalu pergi tanpa kata. Pernah, saat ia hendak pulang, ia melihat perempuan tua menyisir rambut di bangku kayu. Mereka tak saling sapa. Hanya saling mengangguk, seperti dua orang yang mengerti betapa mahalnya harga lupa.
Epilog: Pasar yang Mengajar
Di Beringharjo, orang datang dan pergi, dagang naik dan turun, namun lorong-lorong menyimpan kelas-kelas sunyi yang tak ada di buku. Santet pasar bukan hanya ritual gelap; ia adalah bahasa lain dari rasa iri, takut, dan janji yang tak ditepati. Malam ketika hujan menulis garis-garis pada tegel tua, suara jemari mengetuk mungkin masih terdengar. Satu, dua, tiga—seperti aba-aba untuk mengingat.
Dan bila suatu kali kau melintas di sudut paling belakang Beringharjo, tempat lampu neon kedap-kedip dan bau kemenyan menolak padam, jangan bawa pulang jarum dalam hatimu. Karena pasar ini, seperti kota ini, adalah cermin yang selalu memantulkan apa yang kita letakkan di hadapannya—manis atau pahit, berkat atau balas.
Jika kau mendengar napas panjang dari sela gulungan batik jurai parang, cukup bisikkan terima kasih, lalu berlalu. Sebab beberapa janji sudah ditebus, dan sisanya—biarlah lorong tua yang menjaganya.
Teknologi & Digital : Teknologi Bantu Difabel Akses Informasi dan Mobilitas