1. Tarian yang Tak Pernah Usai
Di lereng Dataran Tinggi Dieng, di tengah kabut yang turun perlahan setiap sore, terdapat kisah kelam yang tak lekang oleh waktu. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai misteri hilangnya penari ronggeng. Sebuah tragedi yang hingga kini masih diceritakan dari mulut ke mulut — kisah tentang seorang gadis penari yang lenyap tepat saat matahari tenggelam di balik candi kuno.
Konon, dahulu kala, Desa Karangjati yang terletak tidak jauh dari komplek Candi Dieng memiliki seorang penari ronggeng terkenal bernama Sulastri. Parasnya jelita, gerakannya lemah gemulai, dan senyum yang selalu memikat setiap mata yang memandang. Namun, di balik keanggunannya, tersimpan luka dan rahasia masa lalu yang tidak diketahui banyak orang.
Sulastri bukan hanya sekadar penari. Ia dianggap sebagai pewaris tarian sakral yang dipercaya bisa memanggil roh para leluhur Dieng. Setiap tahun, saat perayaan panen tiba, ia menari di pelataran candi sebagai bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang. Namun, siapa sangka, tarian itu pula yang menjadi awal dari tragedi yang menakutkan itu.
2. Persiapan Menjelang Senja Terakhir
Sore itu, kabut tebal mulai turun lebih cepat dari biasanya. Angin dingin menembus kulit dan membawa aroma belerang yang pekat. Warga desa sibuk mempersiapkan upacara adat tahunan. Di tengah keramaian itu, Sulastri tampak duduk diam di tepi danau kecil di belakang rumahnya, menatap bayangan dirinya yang bergoyang di permukaan air.
“Aku akan menari untuk terakhir kalinya,” gumamnya pelan, seolah berbicara kepada seseorang yang tak kasat mata.
Dari jauh, seorang lelaki tua, Ki Sudarto, sang tetua desa, memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Ia tahu tarian yang akan dilakukan malam itu bukan tarian biasa. Ada versi kuno dari tari ronggeng yang sudah dilarang sejak puluhan tahun lalu — Tari Ronggeng Pusaka, yang dipercaya mampu membuka gerbang antara dunia manusia dan arwah.
Namun, Sulastri bersikeras melakukannya. Katanya, ia mendengar suara gaib yang memanggilnya setiap malam. Suara itu selalu berbisik, “Tarianku belum selesai… bantu aku menyelesaikannya.”
3. Senja di Candi Dieng
Menjelang malam, kabut semakin pekat. Bayangan candi berdiri gagah namun mencekam di bawah langit oranye yang perlahan berubah keabu-abuan. Warga berkumpul membawa dupa dan sesaji. Di tengah pelataran, Sulastri muncul mengenakan kebaya merah darah, dengan selendang hitam berhiaskan benang emas.
Suara gamelan tua bergema, nadanya lirih dan lambat, seolah berasal dari masa lalu. Saat kaki Sulastri menjejak tanah batu, udara di sekitar seakan berhenti berputar. Gerakannya lembut namun penuh energi, matanya menatap kosong ke depan.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang, dan dari arah barat candi terdengar suara seperti rintihan panjang — “Aaaaaahhh…” — membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Namun Sulastri tetap menari. Semakin lama, gerakannya makin cepat dan liar, seperti kehilangan kendali. Api obor berkelap-kelip seolah merespons energi aneh yang muncul di pelataran. Ki Sudarto berusaha menghentikannya, tapi langkah kakinya terasa berat.
Ketika matahari terakhir benar-benar menghilang di balik kabut, terdengar bunyi gendang keras diikuti teriakan orang-orang. Sulastri tiba-tiba lenyap, seolah ditelan udara. Hanya selendangnya yang tertinggal di tanah — basah, dingin, dan berbau bunga melati yang menyengat.
4. Pencarian yang Menjadi Teror
Keesokan harinya, warga desa beramai-ramai mencari Sulastri. Mereka menyusuri lembah, hutan, dan gua di sekitar Candi Dieng. Namun hasilnya nihil. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda. Hanya kabut yang semakin pekat, seolah menutupi sesuatu.
Malam harinya, beberapa warga mengaku mendengar suara gamelan di kejauhan, diiringi tawa lirih perempuan. Ada pula yang melihat bayangan seorang penari berkelibat di antara pilar candi, menari sendirian di bawah cahaya bulan.
Ki Sudarto, dengan berbekal dupa dan kitab kuno warisan leluhur, memutuskan melakukan ritual pemanggilan arwah di tempat Sulastri menghilang. Dalam keheningan malam, ia membacakan mantra dan menyalakan dupa. Namun, bukannya kedamaian yang datang, suara gamelan kuno kembali terdengar, kali ini jauh lebih jelas.
Kabut menebal dan dari dalamnya muncul sosok perempuan berpakaian merah. Wajahnya cantik namun pucat, matanya kosong menatap Ki Sudarto. “Aku belum selesai menari, Ki…” katanya dengan suara yang berat dan serak.
5. Arwah Penari Ronggeng
Semenjak kejadian itu, Candi Dieng tidak pernah lagi digunakan untuk upacara ronggeng. Namun banyak pendaki dan wisatawan yang berkemah di sekitar area melaporkan kejadian aneh.
Beberapa mengaku mendengar suara gamelan tua di tengah malam, padahal tak ada siapa pun di sana. Ada pula yang melihat sosok perempuan menari di atas batu candi dengan cahaya aneh berpendar di sekelilingnya. Bila diperhatikan lebih lama, sosok itu perlahan memudar dan menghilang bersama kabut.
Suatu malam, sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan penelitian arkeologi di kawasan tersebut merekam suara misterius. Dalam rekaman itu terdengar jelas dentingan gamelan dan suara langkah kaki, diikuti bisikan lirih perempuan:
“Selendangku… kembalikan selendangku…”
Salah satu mahasiswa menemukan potongan kain hitam di antara bebatuan, sama persis dengan selendang yang pernah dikenakan Sulastri. Begitu kain itu disentuh, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti tubuhnya, dan dalam sekejap, ia pingsan. Saat sadar, matanya menatap kosong dan ia hanya mengulang satu kalimat: “Dia masih menari…”
6. Rahasia di Balik Tarian Terlarang
Bertahun-tahun kemudian, seorang peneliti budaya bernama Dr. Ratna Widiyanti datang ke desa tersebut untuk mempelajari asal-usul tarian ronggeng Dieng. Dalam risetnya, ia menemukan naskah kuno yang menyebutkan bahwa tarian itu awalnya merupakan bentuk pemujaan terhadap roh leluhur.
Tarian terakhir yang dibawakan Sulastri ternyata adalah versi terlarang yang disebut Tari Ronggeng Pusaka Leluhur. Menurut naskah, tarian ini harus dilakukan oleh dua orang: seorang penari hidup dan satu arwah penjaga candi. Bila hanya satu yang menari, maka batas antara dunia roh dan manusia akan terbuka.
Dr. Ratna juga menemukan catatan bahwa puluhan tahun sebelumnya, pernah ada penari bernama Nyi Mirah, yang juga menghilang dalam keadaan serupa saat menarikan tarian itu. Beberapa warga bahkan percaya bahwa arwah Nyi Mirah kini merasuki tubuh Sulastri, memaksanya untuk menyelesaikan tarian yang tak pernah selesai sejak ratusan tahun lalu.
7. Tarian di Senja yang Terulang
Suatu sore, Dr. Ratna memutuskan melakukan penelitian langsung di pelataran candi. Ia membawa kamera, alat perekam suara, dan beberapa dupa untuk ritual penghormatan. Saat matahari mulai condong ke barat, kabut turun perlahan, dan suasana hening menyelimuti seluruh area.
Tiba-tiba, dari arah belakang candi terdengar suara gamelan samar. Ratna menoleh, dan matanya terpaku melihat sosok perempuan berbusana merah menari dengan gerakan lembut namun penuh kesedihan.
Ia mencoba mendekat sambil berbisik, “Sulastri?”
Namun sosok itu hanya tersenyum. Gerakannya semakin cepat, lalu berhenti tiba-tiba di depan Ratna. Wajahnya memucat, matanya hitam pekat, dan bibirnya bergetar pelan, “Kau datang untuk menyelesaikan tarian kami…”
Angin bertiup kencang, kabut menutup pandangan, dan Ratna pun kehilangan kesadaran. Saat ia terbangun keesokan paginya, kameranya rusak, tetapi alat perekam suaranya masih berfungsi. Di dalamnya terdengar suara gamelan yang disertai bisikan halus:
“Senja telah datang… waktunya menari kembali…”
8. Warisan yang Terlarang
Setelah kejadian itu, Dr. Ratna menghilang selama beberapa hari. Ketika akhirnya ditemukan oleh warga di pinggir Danau Warna, ia tampak linglung, mengenakan kain selendang hitam yang sama dengan milik Sulastri.
Saat ditanya apa yang terjadi, Ratna hanya menjawab pelan, “Tarian itu belum selesai. Dia masih di sana, menunggu penari berikutnya…”
Sejak saat itu, warga kembali melarang siapa pun untuk melakukan tarian ronggeng di kawasan Candi Dieng menjelang senja. Mereka percaya, setiap kali matahari tenggelam, roh Sulastri masih menari — menunggu seseorang yang berani menggantikan langkahnya, agar ia bisa beristirahat dengan tenang.
Hingga kini, bila kamu berkunjung ke sana menjelang sore, dan kabut mulai turun perlahan, jangan terkejut bila terdengar suara gamelan dari kejauhan… dan bayangan seorang penari ronggeng menari perlahan di antara pilar-pilar tua, di bawah langit senja yang tak pernah benar-benar padam.
Kesehatan : Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Mata Anak-Anak