Asrama Sunyi dan Ketukan Pertama
Angin malam berhembus lembut di kawasan Universitas Indonesia. Dari kejauhan, danau tampak tenang, memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Namun, suasana damai itu berhenti tepat di depan bangunan asrama putra lama yang sudah jarang ditempati. Dindingnya kusam, catnya retak, dan udara di sekitarnya terasa lembap seperti menyimpan napas masa lalu.
Aku, Arga, mahasiswa tingkat dua, mendapat jatah kamar di lantai dua—kamar 217, tepat di ujung timur yang sepi. Begitu membuka pintu pertama kali, hawa dingin langsung menyergap. Dinding asrama di sisi kanan tampak aneh: warnanya sedikit kemerahan dan basah di beberapa bagian. Saat kusentuh, kulitku terasa seperti menempel pada es.
Malam itu aku tidur bersama Dito, teman sekamarku. Tepat pukul 01.27, terdengar tiga ketukan pelan dari balik dinding. Awalnya kukira tikus, tapi suaranya terlalu ritmis—seperti seseorang yang memberi tanda. Aku menahan napas. Dito membuka matanya setengah sadar dan bergumam, “Jangan dijawab, Ga. Kalau lo jawab, dia bakal tahu lo dengar.”
Ketukan berhenti, tapi udara berubah. Kelembapan meningkat, dan dari celah cat dinding muncul garis merah tipis. Kami menatap satu sama lain tanpa berani bicara. Saat fajar tiba, garis itu lenyap, meninggalkan bekas seperti urat darah di antara retakan.
Peringatan dari Petugas Malam
Keesokan malamnya, aku sengaja turun ke pos jaga untuk bertanya. Pak Sutar, penjaga malam berusia senja, menyambut dengan pandangan tajam. “Kamar 217?” katanya datar. “Dulu, di situ pernah ada mahasiswa yang hilang. Namanya Eki.”
Ia menyalakan rokok, lalu melanjutkan, “Waktu renovasi tahun 1995, pekerja nemuin tulang manusia di balik dinding timur. Katanya korban demo yang diculik. Sejak itu, tiap malam Jumat, jam 01.27, dindingnya suka ngetuk.”
Aku tercekat. “Berarti… yang ngetuk minta tolong?”
Pak Sutar menggeleng perlahan. “Bukan. Dia minta ditemani. Tapi kalau dijawab, kau bakal diganti jadi dia.”
Dalam perjalanan naik ke kamar, kata-kata itu menempel di kepalaku seperti kutukan. Malam semakin larut. Sementara itu, hujan turun pelan, membasahi jendela. Aku berusaha fokus membaca jurnal kuliah, tapi mata terus melirik dinding. Saat jarum jam bergerak ke 01.27, suara ketukan itu datang lagi—kali ini disertai bisikan samar: “Arga…”
Darah yang Muncul dari Cat
Aku meloncat dari kursi. Dito, yang sudah setengah tidur, mendengus, “Dia udah mulai.”
“Siapa?” tanyaku panik.
“Yang di dinding.”
Ketukan berubah menjadi goresan lembut, lalu terdengar bunyi tetes. Dari atas dinding, cairan merah tua mulai menetes pelan ke lantai. Bau besi memenuhi kamar. Aku memegang napas, menatap cairan itu—dan menyadari bentuknya seperti tulisan: Buka aku.
Dito langsung berdiri, menyalakan lampu. Namun cahaya malah berkedip-kedip sebelum padam total. Dalam kegelapan, suara napas berat terdengar dari balik tembok, seperti seseorang yang berjuang keluar dari liang sempit. Aku menekan telinga ke dinding. Seketika, suara parau berbisik, “Aku masih di sini…”
Seketika aku mundur. “Dito, ada suara!”
“Ya, aku juga dengar,” katanya dengan suara bergetar. “Tapi jangan jawab. Kau bisa nyesal.”
Aku menatap dinding. Garis merah itu meluas, membentuk siluet wajah samar. Tetes darah berhenti, tapi udara berubah dingin menusuk. Tak lama, terdengar ketukan tiga kali lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Rahasia Lama yang Terungkap
Keesokan paginya, aku mencari tahu di perpustakaan fakultas. Beberapa arsip lama menyebutkan nama Eki Rahmad, mahasiswa Fakultas Sastra angkatan 1992 yang “hilang saat kerusuhan kampus.” Tidak ada berita lanjutan—hanya catatan bahwa “renovasi asrama timur dihentikan mendadak setelah penemuan material tak dikenal di dalam dinding.”
Saat kembali ke kamar sore itu, aku menemukan pesan di pintu: Jangan tidur di dalam malam ini. Tulisan itu ditulis dengan spidol merah dan tak bertanda tangan. Aku langsung menemui Pak Sutar. Namun, ia menatapku dengan wajah kosong. “Saya nggak nulis apa-apa. Tapi kalau sudah ada yang kasih pesan, ikuti saja.”
Malam itu aku dan Dito memutuskan tidur di ruang TV bersama penghuni lain. Sekitar pukul dua dini hari, terdengar suara keras dari lantai atas. Beberapa penghuni berlari keluar. Dinding kamar 217 retak besar di tengah, dan dari celahnya mengalir darah segar. Tidak ada orang di dalam, tapi di lantai kamar, ada tulisan baru: Terima kasih sudah mendengarku.
Kembali ke Kamar 217
Dua hari kemudian, pihak kampus menutup kamar itu untuk penyelidikan. Tapi aku belum tenang. Rasa bersalah membuatku kembali diam-diam. Saat masuk, aroma logam kembali menyerang. Retakan sudah diplester, tapi catnya mengelupas lagi, dan di baliknya masih tampak merah gelap.
Aku menempelkan tangan ke dinding. Dingin menusuk tulang, tapi kali ini ada denyut kecil, seperti detak jantung. Suara napas itu muncul lagi, sangat dekat. “Kau sudah membuka,” katanya. “Sekarang gantian.”
Tubuhku kaku. Dari pojok tembok, sebuah tangan pucat perlahan muncul, mencengkeram udara. Aku menjerit dan berlari keluar, tapi pintu terkunci dari dalam. Tangan itu meraih pergelangan kakiku, menarikku hingga jatuh. Saat kutatap, wajah tanpa mata menatapku dari celah retakan. Bibirnya bergerak pelan, membentuk kata yang sama: Eki.
Dengan seluruh tenaga, aku menendang dan berhasil melepaskan diri. Aku berlari menabrak pintu, dan entah bagaimana pintu terbuka. Saat aku menoleh lagi, dinding itu sudah utuh kembali—tanpa retak, tanpa noda, seolah tak terjadi apa-apa.
Akhir yang Tak Pernah Benar-Benar Usai
Seminggu setelah kejadian itu, asrama 217 resmi disegel. Pihak universitas menyebutnya “renovasi struktur lama,” tapi semua penghuni tahu kebenarannya. Tiap malam Jumat, petugas jaga masih mendengar ketukan tiga kali dari arah dinding timur. Tak ada kamar di sana sekarang—hanya dinding tebal yang menutup lorong kosong.
Beberapa tahun kemudian, aku lulus. Namun setiap kali melewati jalan belakang kampus, hawa dingin itu kembali. Terkadang aku mencium bau besi samar. Kadang, di kaca jendela bus kampus, kulihat pantulan wajah samar—seolah seseorang masih memandangi dari balik dinding yang tertutup.
Malam ini, aku menulis semuanya dari kamar kos baruku. Tapi saat jarum jam mendekati pukul 01.27, ada tiga ketukan pelan di dinding sebelah kanan meja. Aku berhenti mengetik. Udara berubah dingin, dan dari celah cat terdengar suara lirih memanggil namaku.
Tok… tok… tok.
“Arga…”
Aku menutup laptop perlahan, menatap tembok yang kini bergetar halus, dan tahu satu hal pasti: dinding tidak pernah benar-benar diam.
Food & Traveling : Tips Aman dan Sehat Berwisata saat Musim Liburan Panjang