Senja yang Menyimpan Tawa
Langit sore Surabaya tampak muram ketika Arvin melangkah masuk ke kawasan pemakaman Belanda di bilangan Peneleh. Udara terasa lembap, disertai bau tanah basah yang kuat. Di antara nisan-nisan tua berlumut, ia mencari objek untuk tugas fotografinya tentang peninggalan kolonial. Namun, semakin dalam ia melangkah, suasana di sekitar menjadi makin sunyi, seperti dunia luar telah menutup diri.
Lalu, samar terdengar suara tertawa kecil di ujung gang sempit di antara batu nisan. Tawa itu bukan tawa gembira, melainkan seperti ejekan halus, terputus-putus, dan bergema di udara yang dingin. Arvin menoleh, tapi tak melihat siapa pun. Angin berhenti, daun-daun pun diam.
Ia menelan ludah. Jantungnya berdetak cepat. Ia mencoba menenangkan diri dan menganggapnya sebagai suara anak kecil dari luar pagar. Namun, suara itu kembali, kali ini lebih dekat, seperti tepat di belakang telinganya.
“Hi-hi-hi…”
Arvin menoleh cepat, tapi hanya menemukan nisan berlumut bertuliskan nama “Johannes Van Deen, 1889–1923.” Ia mundur perlahan, menyadari bahwa mungkin ia tak sendirian di antara arwah yang belum tenang.
Legenda Kuburan Belanda Peneleh
Warga sekitar sudah lama mempercayai bahwa kuburan Belanda di Surabaya menyimpan banyak misteri. Sejak zaman kolonial, tempat itu menjadi pemakaman elit bagi pejabat dan prajurit Belanda yang gugur atau meninggal di Hindia Timur. Namun, tidak semua arwah di sana beristirahat damai.
Konon, ada satu roh yang dikenal suka mengganggu pengunjung malam. Ia disebut “Si Penertawa,” arwah seorang serdadu Belanda yang kehilangan akal sehat setelah terlibat pembantaian massal. Sebelum meninggal, ia dikurung di ruang bawah tanah dan terus tertawa histeris hingga ajal menjemput. Setelah dimakamkan, suara tertawa itu tetap terdengar di sekitar kuburannya, terutama menjelang malam.
Penduduk kampung sering memperingatkan, “Jangan pernah membalas tawanya, atau kau akan ikut bersamanya dalam kegelapan.” Tapi Arvin, dengan logika modernnya, menepis anggapan itu. Ia datang hanya untuk memotret, bukan untuk memanggil roh.
Namun malam itu, garis batas antara logika dan mistis mulai kabur.
Langkah di Antara Nisan
Matahari turun lebih cepat dari biasanya. Arvin menyadari ia sudah terlalu lama di dalam. Ia hendak kembali, tapi jalan keluar terasa berbeda. Gang nisan yang tadi lurus kini bercabang. Ia memilih arah kiri, tapi justru masuk lebih dalam. Semakin jauh, nisan-nisan makin tua, banyak yang patah dan roboh, beberapa tertutup akar pohon besar.
Lalu, di antara kabut tipis, ia melihat sosok duduk di atas nisan sambil memegang topi koboi tua. Tubuhnya membungkuk, bahunya bergerak pelan, seolah sedang tertawa pelan. Arvin memicingkan mata, mencoba memastikan.
Sosok itu perlahan menoleh. Wajahnya pucat, matanya kosong, bibirnya tersenyum lebar tak wajar. Dan ya, dari mulutnya terdengar suara tertawa lirih yang perlahan membesar menjadi histeris.
Arvin terpaku. Kakinya tak bisa digerakkan. Tawa itu kini berubah menjadi jeritan tawa, menusuk telinga dan menggema di seluruh pemakaman. Nisan-nisan bergetar, daun kering berputar di udara. Arvin menutup telinga, tapi suara itu seolah muncul dari dalam kepalanya sendiri.
Tawa yang Mengundang Arwah
Dalam kepanikan, Arvin berlari tanpa arah. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah bangunan kecil, seperti kapel tua dengan jendela kaca pecah. Ia masuk, berharap bisa bersembunyi. Namun di dalam, suasananya lebih mencekam. Dindingnya dipenuhi coretan tangan dan bekas lilin yang sudah leleh.
Ketika ia menyalakan senter, bayangan di dinding tampak bergerak sendiri. Lalu, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih lembut, seperti bisikan dari balik bahu:
“Sudah kudengar tawamu… sekarang giliranmu membalas…”
Arvin terhuyung, menjatuhkan senter. Dari kegelapan, muncul beberapa sosok mengenakan seragam kolonial. Wajah mereka hancur, mata cekung, bibir merekah lebar dengan darah mengering. Mereka berjalan mendekat, menatap Arvin sambil tertawa bersamaan.
Tawa itu tak lagi terdengar seperti manusia. Suaranya berat, bergema, menimbulkan sensasi geli yang memaksa otak ikut tertawa meski hati takut. Arvin berteriak, tapi suaranya hilang ditelan gema.
Ia mencoba membaca doa, namun lidahnya kelu. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berlari keluar dari kapel, meski kabut semakin tebal dan arah semakin tak jelas.
Rahasia di Balik Tawa
Ketika kabut mulai menipis, Arvin tiba di area tengah pemakaman, di mana terdapat nisan besar dengan ukiran unik berbentuk ular melingkar. Di depannya, lilin-lilin kecil menyala sendiri. Angin berhenti. Suara jangkrik lenyap.
Arvin menatap nama di batu itu: “Cornelis Van Steen, 1875–1923.” Ia teringat kisah yang diceritakan penjaga museum kota dulu: Cornelis adalah prajurit yang menjadi gila setelah perang, tertawa tak berhenti selama berminggu-minggu hingga meninggal.
Mungkin inilah kuburan sang “Penertawa.” Arvin menunduk hormat, lalu berucap lirih, “Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya datang untuk belajar.”
Sesaat, semuanya diam. Tapi kemudian, di antara kesunyian, muncul suara anak kecil tertawa, diikuti tawa perempuan, dan akhirnya tawa berat seorang pria. Tawa-tawa itu menyatu, berputar di udara, lalu menghilang satu per satu.
Udara kembali hangat. Angin kembali berhembus. Jalan keluar kini tampak jelas di depan matanya. Arvin melangkah cepat tanpa menoleh lagi.
Kembali ke Dunia Nyata
Begitu keluar dari gerbang pemakaman, Arvin mendapati langit sudah terang. Ia memeriksa jam tangannya—baru pukul enam sore. Padahal ia merasa sudah berjam-jam terjebak di dalam.
Ia menghela napas lega, lalu duduk di trotoar sambil memeriksa kameranya. Tapi betapa terkejutnya ia saat melihat hasil foto-fotonya: sebagian menampilkan sosok-sosok samar di antara nisan, sebagian lagi memperlihatkan wajah-wajah tersenyum lebar di balik bayangan.
Dan di foto terakhir, tepat di belakang dirinya, ada sosok pria pucat tanpa mata, dengan mulut menganga tertawa.
Arvin gemetar. Ia memutuskan untuk menghapus semua foto itu. Tapi setiap kali dihapus, foto-foto itu muncul lagi, bahkan bertambah. Kini ada satu foto baru: dirinya sedang duduk di trotoar dengan ekspresi ketakutan, diambil dari belakang.
Ia menoleh cepat, tapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya angin sore yang berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan… sepotong tawa kecil yang menggantung di udara.
“Hi-hi-hi…”
Jejak Suara yang Tak Hilang
Sejak malam itu, hidup Arvin tidak lagi sama. Ia sering mendengar tawa lirih di kamar kosnya, terutama saat lampu dimatikan. Barang-barangnya sering berpindah tempat, dan kadang ia melihat bayangan seseorang duduk di sudut ruangan sambil tersenyum.
Ia mencoba mencari pertolongan ke orang pintar. Menurut sang paranormal, roh di pemakaman itu menandainya karena ia menatap langsung ke matanya ketika tertawa. Satu-satunya cara melepaskan diri adalah kembali ke sana, membawa bunga putih dan meminta maaf di depan nisan Cornelis.
Namun hingga kini, Arvin belum berani melakukannya. Ia hanya berharap suara tertawa itu perlahan menghilang. Sayangnya, setiap kali ia mencoba tidur, suara itu selalu kembali, terkekeh lembut di telinganya:
“Hi-hi-hi… Kau belum menjawab tawaku…”
Lifestyle : Kuliner Pagi Paling Dicari di Kota-Kota Besar Indonesia