Bayangan di Balik Senja
Senja menurunkan tirainya perlahan di atas Candi Borobudur, menebarkan cahaya keemasan yang menenangkan. Namun, bagi sebagian orang yang sering melintas di kawasan ini menjelang malam, suasananya bukan sekadar tenang. Ada bisikan samar, langkah kaki tanpa arah, dan bayangan yang melayang di antara relief batu. Cerita lama tentang dendam pria yang tak pernah terhapus mulai muncul di antara warga sekitar.
Raka, seorang mahasiswa arkeologi, datang sore itu untuk meneliti tentang simbol-simbol di relief candi. Ia tahu kawasan itu sering dikaitkan dengan hal mistis, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar dari ketakutannya. Ia membawa kamera, senter, dan buku catatan. Langit semakin jingga, dan kabut mulai turun pelan, menutupi kaki candi dengan tirai lembut.
Ketika Raka mulai memotret salah satu sisi relief, tiba-tiba udara di sekitarnya berubah dingin. Suara desir angin terdengar, namun tidak ada pohon yang bergerak. Dari arah barat, tampak sesosok bayangan tinggi melayang, mengenakan jubah panjang, tanpa mata, hanya rongga hitam menganga di wajahnya. Raka terdiam. Ia menatap sosok itu dan merasakan tatapan kosong namun menusuk langsung ke jantungnya.
Asal Usul Dendam yang Terlupakan
Menurut cerita warga desa di sekitar, sosok itu dulunya adalah seorang pemahat batu bernama Saka Wira, hidup pada masa pembangunan Candi Borobudur. Ia dikenal sebagai pekerja yang jujur, tapi nasib buruk menimpanya. Ia dituduh mencuri perhiasan milik seorang bangsawan. Padahal, pencuri sesungguhnya adalah teman sekerjanya sendiri yang iri dengan kemampuan Saka.
Tanpa bukti kuat, Saka dijatuhi hukuman buta. Kedua matanya dicungkil dan tubuhnya dibuang di sekitar hutan di barat candi. Namun, sebelum ajal menjemput, ia bersumpah akan kembali dengan dendam pria yang membara, menghantui siapa pun yang berbuat curang di tempat itu. Konon, setiap senja, arwahnya akan melayang di antara kabut, menatap mereka yang berniat buruk di kawasan tersebut.
Cerita itu diceritakan turun-temurun, dianggap sekadar legenda oleh sebagian orang. Namun, ada pula yang percaya penuh, karena beberapa pengunjung dan penjaga malam sering melihat sosok tanpa mata mengitari batu candi, terutama saat langit berwarna oranye kemerahan.
Penelusuran Raka yang Terjebak Waktu
Raka, yang mendengar kisah ini dari penduduk setempat, awalnya menertawakannya. Tapi setelah pertemuannya tadi, ia mulai curiga. Ia memutuskan untuk merekam fenomena itu dengan kameranya. Sayangnya, setiap kali ia mengangkat kamera, layar berubah menjadi gelap. Hanya suara napas berat yang terdengar di sekitarnya.
Dengan langkah hati-hati, ia menuruni tangga candi, mencari tempat lebih terang. Namun, semakin jauh ia berjalan, ia merasa seperti berjalan di tempat yang sama. Relief yang dilalui berulang. Ia menyadari sesuatu: waktu seolah berhenti. Burung-burung membeku di udara, angin tak lagi bergerak, dan matahari berhenti tenggelam.
Ketika ia menoleh, sosok pria buta itu kini berdiri di belakangnya, sangat dekat. Suara gemerisik terdengar dari jubah hitamnya, lalu bisikan lirih menyusup di telinga:
“Siapa yang berani menatap mata dendamku?”
Raka berusaha berlari, tapi tanah di bawahnya berubah menjadi bayangan hitam. Kakinya tenggelam perlahan. Ia menjerit, tapi suaranya terpantul tanpa arah. Sosok itu terus mendekat, mengangkat tangan seolah ingin menyentuh wajahnya.
Dendam yang Tak Bisa Ditebus
Dalam keputusasaan, Raka memejamkan mata dan mulai berdoa. Saat itulah, ia mendengar suara lain—suara perempuan tua, samar tapi menenangkan.
“Jangan takut, anak muda. Ia hanya mencari kebenaran.”
Raka membuka mata. Di depannya berdiri sosok nenek dengan pakaian putih lusuh. Ia berkata bahwa roh pria buta itu tidak bisa pergi karena dendamnya belum ditebus. Selama kebenaran tak terungkap, ia akan terus bergentayangan di antara batu-batu tua itu.
Tiba-tiba, Raka teringat sesuatu. Dalam catatan sejarah, memang ada kisah pemahat buta yang difitnah dan hilang tanpa jejak. Ia mungkin bisa membantu roh itu menemukan ketenangan. Maka dengan sisa tenaga, ia menyalakan kamera lagi dan mulai merekam relief yang menggambarkan adegan keadilan kuno di masa itu.
Ketika rekaman selesai, sosok buta itu berhenti melayang. Dari wajahnya yang kosong, muncul air mata darah menetes ke tanah.
“Terima kasih… kini aku bisa melihat terang…”
Suara itu lenyap bersama kabut. Raka pun pingsan, tak sadarkan diri di tangga candi.
Kebangkitan di Fajar Baru
Ketika Raka terbangun, matahari sudah tinggi. Ia masih berada di tangga Candi Borobudur, tapi suasana kini berbeda. Hangat dan cerah. Di tangannya, kamera masih hidup, menampilkan rekaman relief tadi. Namun, anehnya, dalam rekaman itu, tampak sosok samar seorang pria sedang tersenyum, lalu menghilang perlahan.
Sejak saat itu, Raka merasa hidupnya berubah. Ia menjadi lebih menghargai kejujuran dan menolak segala bentuk manipulasi dalam pekerjaannya. Ia percaya bahwa dendam pria buta itu bukan sekadar kutukan, melainkan pesan tentang pentingnya keadilan dan kebenaran yang harus dijaga.
Warga desa yang mendengar kisahnya menjadi lebih waspada. Mereka menjaga kawasan candi dengan penuh rasa hormat, tidak lagi bersenda gurau atau berlaku curang di sekitar situs suci itu. Setiap kali senja tiba, mereka menyalakan dupa dan berdoa agar arwah yang tersisa di sana mendapat kedamaian.
Jejak Terakhir Sang Pria Buta
Meski kini tak banyak yang mengaku melihat sosok melayang itu lagi, namun pada waktu-waktu tertentu, terutama saat senja di hari Selasa Kliwon, beberapa peziarah mengaku mendengar suara langkah kaki tanpa arah di sekitar relief barat. Suara itu lembut, namun penuh kesedihan.
Mereka percaya, roh pria buta itu tidak sepenuhnya pergi. Ia tetap berkeliling, bukan untuk menakuti, tapi menjaga agar tak ada lagi kejahatan dan kebohongan terjadi di tanah yang pernah membuatnya menderita.
Dan di setiap akhir hari, ketika langit berubah jingga, bayangan panjang di dinding batu kadang tampak bergerak sendiri—seolah menyapa mereka yang datang dengan hati tulus.
Inspirasi & Motivasi : Penjual Koran yang Kini Jadi Pengusaha Percetakan