Perjalanan ke Lereng Gunung Lawu
Kabut tipis menutupi lereng Gunung Lawu ketika Lintang, seorang mahasiswa arkeologi dari Semarang, memulai penelitiannya tentang Candi Sukuh. Candi bercorak Hindu ini dikenal memiliki arsitektur yang unik, bahkan berbeda dari candi-candi lain di Jawa. Namun, bukan hanya bentuknya yang menarik perhatian Lintang, melainkan cerita-cerita gaib yang beredar di kalangan penduduk lokal.
Sejak lama, warga percaya bahwa pada malam-malam tertentu, di permukaan batu candi sering muncul wajah hantu, menggambarkan roh-roh yang dulu dikurung oleh para leluhur. “Itu bukan sekadar pahatan,” ujar penjaga situs dengan nada serius. Tapi bagi Lintang, hal-hal seperti itu hanya legenda. Ia lebih tertarik pada simbolisme dan pesan spiritual dari relief-relief kuno yang terpahat di batu.
Sore itu, bersama dua rekannya, Bima dan Rara, ia menyiapkan alat dokumentasi untuk memotret ukiran. Angin dingin mulai turun, membawa aroma belerang samar dari arah gunung. Suasana hening. Hanya suara daun kering dan langkah kaki mereka di antara batu-batu tua yang menjadi saksi peradaban masa lalu.
Ukiran yang Berubah Bentuk
Ketika matahari hampir tenggelam, Lintang menemukan sesuatu yang aneh di sisi barat candi. Sebuah relief berbentuk wajah manusia tampak menonjol dari dinding batu. Ia mengamati dengan seksama, lalu mencatat bentuknya di buku penelitian. “Lihat,” katanya pada Bima, “ukiran ini sepertinya baru muncul. Tidak ada dalam data registrasi.”
Bima mendekat. “Kau yakin? Mungkin kau salah lihat.”
Namun, saat mereka berdua menyorot dengan lampu senter, ukiran itu tampak berubah. Tatapan matanya menjadi lebih dalam, hidungnya menonjol, dan bibirnya seperti menyeringai. Rara yang berdiri sedikit jauh tiba-tiba memekik, “Lintang! Batu itu… bergerak!”
Lintang menoleh cepat. Namun saat diperhatikan lagi, wajah itu tampak biasa. Hanya pahatan kasar di batu tua. Mereka saling berpandangan, mencoba menepis rasa takut. Tapi suasana malam yang mulai gelap membuat bulu kuduk meremang.
Malam di Sekitar Candi
Karena jarak penginapan cukup jauh, mereka memutuskan bermalam di pos penjagaan dekat candi. Di tengah kegelapan, api unggun menjadi satu-satunya sumber cahaya. Angin pegunungan yang menusuk membuat Rara menggigil. “Apa menurutmu benar ada roh di sini?” tanyanya pelan.
Lintang menjawab singkat, “Tidak ada. Yang kita lihat hanya efek bayangan dan kelelahan.” Namun, dalam hatinya, ia tidak bisa menghapus bayangan wajah hantu yang tadi terlihat jelas.
Tiba-tiba terdengar suara seperti bebatuan digesek. Mereka semua menoleh. Dari arah candi, cahaya remang muncul, seperti pantulan dari sesuatu yang mengilap. Bima berdiri, mencoba menelusuri sumbernya, tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara bisikan lirih di telinganya: “Pulanglah… jangan ganggu…”
Bima mundur beberapa langkah, wajahnya pucat. “Ada yang berbisik di telingaku,” katanya terbata. Rara langsung memegang tangannya, sementara Lintang menatap gelap di kejauhan, berusaha rasional, meski dadanya mulai sesak.
Penampakan di Tengah Kabut
Menjelang tengah malam, kabut tebal turun dari puncak Lawu. Suhu menurun drastis. Lintang terbangun karena mendengar langkah kaki di luar tenda. Ia menyangka itu Bima atau Rara, tapi saat ia keluar, tak ada siapa pun di sekitar. Hanya kabut, batu, dan udara dingin.
Namun, di sisi timur candi, ia melihat sesuatu yang membuatnya tertegun: sebuah sosok tinggi berdiri membelakanginya. Rambutnya panjang, jubahnya compang-camping, dan wajahnya—saat berbalik—adalah wajah yang sama seperti ukiran di batu tadi.
Lintang terpaku. Sosok itu menatap langsung ke arahnya. Matanya merah menyala, dan bibirnya menyeringai menampakkan gigi hitam. Wajah itu tidak manusiawi—itu benar-benar wajah hantu seperti yang diceritakan warga desa.
Ia mundur perlahan, tapi sosok itu bergerak cepat mendekat. Lintang berteriak, membangunkan Bima dan Rara. Ketika keduanya keluar, kabut menebal, dan sosok itu menghilang begitu saja. Hanya tersisa aroma bunga kamboja yang tajam di udara.
Jejak Darah di Batu
Pagi harinya, mereka memeriksa area sekitar. Di tempat di mana sosok itu berdiri, tampak bercak merah di batu—seperti bekas darah. Rara menjerit kecil, sementara Bima berusaha mencari penjelasan. “Mungkin ini lumut merah atau zat besi.” Tapi Lintang tahu, bentuknya terlalu nyata untuk disebut kebetulan.
Lebih mengerikan lagi, ukiran di batu kini berubah. Jika sebelumnya hanya wajah biasa, kini terdapat tetesan seperti air yang keluar dari mata, seolah ukiran itu sedang menangis. Lintang memotret cepat, tapi setiap kali ia memindai gambar, bentuknya tampak berbeda. Kadang tersenyum, kadang marah, kadang lenyap sama sekali.
Lintang mulai percaya, candi ini bukan sekadar situs sejarah. Ada sesuatu yang hidup di dalamnya—roh kuno yang terperangkap, menunggu seseorang untuk melepaskan dendamnya.
Kisah Leluhur yang Terlupakan
Sore itu, mereka bertemu kembali dengan penjaga candi. Pria tua itu tampak gelisah. “Kalian melihat sesuatu semalam, ya?” tanyanya. Lintang mengangguk. Wajah penjaga itu menegang. “Dulu, ada kisah lama. Saat pembangunan candi, seorang pemahat meninggal tertimpa batu besar. Mereka tak sempat memakamkannya. Konon, rohnya menyatu dengan pahatan. Ia menampakkan diri dalam bentuk wajah hantu di batu, memperingatkan siapa pun yang datang tanpa izin.”
Lintang tercekat. Ia teringat ucapan penjaga itu di awal—peringatan yang tak ia hiraukan. “Apa yang harus kami lakukan?” tanyanya.
“Beri penghormatan. Jangan ambil foto lagi. Dan jangan tinggal saat senja,” jawabnya cepat.
Upacara di Tengah Hening
Mereka memutuskan mengikuti nasihat itu. Di bawah langit yang mulai memerah, mereka menaruh bunga, dupa, dan air di depan relief batu. Lintang menunduk, memohon maaf dalam hati. Angin tiba-tiba berhenti, dan kabut yang sedari tadi menggantung mulai terangkat.
Namun, sesaat sebelum mereka beranjak, suara berat terdengar dari arah batu. “Kalian… telah melihatku…”
Rara menutup mata, menangis ketakutan. Bima menariknya menjauh, sementara Lintang mematung. Dari permukaan batu, wajah itu tampak menonjol perlahan, menatap mereka dengan sorot tajam, lalu kembali lenyap ke dalam dinding.
Lintang terjatuh lemas. Di tangannya, buku catatan terbuka, menampilkan sketsa wajah yang ia gambar semalam. Kini gambar itu memiliki mata—mata merah menyala seperti sosok tadi malam.
Kembali Tanpa Kepastian
Mereka meninggalkan Candi Sukuh dalam diam. Sepanjang perjalanan turun, suasana terasa berat. Tidak ada yang berani bicara. Saat tiba di desa, Lintang menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di kejauhan, kabut kembali turun, menyelimuti candi tua itu seperti tirai.
Beberapa hari kemudian, saat mereka memeriksa hasil dokumentasi di kampus, Lintang terhenyak. Foto relief yang diambilnya kini menampilkan sosok samar berdiri di antara batu-batu. Bukan manusia, melainkan bayangan dengan wajah yang sama—wajah hantu itu.
Bima mencoba menghapus file, tapi setiap kali, gambar itu muncul lagi di layar. Seolah ia ingin tetap dilihat, diingat, dan tidak dilupakan.
Lintang menutup laptop dengan tangan gemetar. Ia tahu, beberapa misteri tidak seharusnya diungkap. Dan Candi Sukuh akan selamanya menyimpan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang berani menatap batu-batunya terlalu lama.
Flora & Fauna : Ragam Fauna Laut dalam Ekosistem Terumbu Karang Tropis