Pendakian Menuju Danau Tiga Warna
Embun pagi masih menggantung di antara pepohonan kala Rafi, Dimas, dan Lia memulai perjalanan mereka menuju Danau Kelimutu, salah satu destinasi alam paling mistis di Indonesia Timur. Ketiganya adalah mahasiswa pecinta alam dari Kupang yang ingin merasakan sensasi berkemah di dekat danau tiga warna yang legendaris itu.
Sejak awal, penduduk lokal sudah memperingatkan mereka agar tidak berkemah terlalu dekat dengan tepi danau. “Di sana sering ada anak hilang,” kata seorang penjaga pos sambil memandangi mereka dengan sorot mata khawatir. Namun, seperti kebanyakan anak muda yang haus petualangan, mereka hanya tertawa kecil dan menganggapnya mitos belaka.
Dengan semangat, mereka terus menapaki jalan setapak berbatu yang menanjak. Burung-burung berkicau, kabut perlahan turun, dan udara pegunungan yang dingin membuat napas terasa berat namun segar. Perjalanan itu terasa menyenangkan—hingga angin berhembus kencang membawa aroma belerang yang menusuk hidung.
Tenda di Pinggir Jurang
Menjelang sore, ketiganya tiba di lokasi datar yang menghadap langsung ke salah satu kawah. Warna air danau tampak berubah-ubah, dari biru tua menjadi kehijauan. Lia memotret pemandangan itu sambil tersenyum. “Lihat, indah sekali! Tak heran orang bilang ini danau surga.”
Namun, Rafi merasa ada sesuatu yang aneh. Di balik kabut, ia melihat siluet anak kecil berlari-lari di dekat batu besar, lalu menghilang di balik semak. “Dimas, kau lihat itu?” tanyanya cepat.
“Lihat apa?” jawab Dimas tanpa menoleh, sibuk mendirikan tenda.
Rafi terdiam. Mungkin hanya penglihatannya. Tapi rasa tidak nyaman itu terus menghantui.
Malam mulai turun. Angin pegunungan menderu. Api unggun mereka berkerlap-kerlip, menari di antara bayangan kabut yang menebal. Lia menyeduh kopi, sementara Dimas memainkan gitar kecil, mencoba mengusir sepi. Namun, di tengah lagu yang belum selesai, suara tawa anak-anak terdengar samar di antara pepohonan.
Rafi langsung menoleh. “Kalian dengar itu?”
Keduanya terdiam. Hanya angin. Tapi kali ini, tawa itu terdengar lagi—lebih jelas, lebih dekat.
Malam dan Bayangan Kecil
Sekitar tengah malam, Dimas terbangun karena suara langkah kecil mengelilingi tenda. Ia menahan napas, mendengarkan. Ada suara kaki berlari, lalu berhenti tepat di belakang tenda mereka. Dengan hati-hati, ia membuka resleting pintu tenda, menyorotkan senter. Kosong.
Namun saat ia menoleh ke arah tepi danau, matanya menangkap sesuatu. Sosok anak kecil berambut kusut berdiri di tepi kawah, menatap ke arah mereka. Wajahnya pucat, bajunya robek, dan matanya kosong.
Dimas tertegun.
Anak itu perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Dimas, lalu berlari ke arah hutan.
Panik, Dimas membangunkan dua temannya. “Ada anak di luar! Aku melihatnya!”
Lia yang masih setengah sadar hanya menggeleng. “Kau pasti bermimpi.”
Namun, saat mereka keluar dari tenda, jejak kaki kecil terlihat jelas di tanah basah. Jejak itu menuju hutan, lalu hilang begitu saja.
Pagi yang Kehilangan
Ketika matahari muncul di balik kabut, Lia menyadari Rafi tak ada di dalam tenda. Hanya tasnya yang tertinggal. Mereka berdua mencari ke segala arah sambil berteriak memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban.
Di dekat tepi danau, mereka menemukan jejak sepatu Rafi berhenti di tebing yang licin. Lia menjerit saat melihat bekas tangan di tanah, seolah seseorang tergelincir dan diseret ke bawah. Namun yang membuat bulu kuduk merinding adalah sehelai sapu tangan kecil yang tergeletak di sampingnya—sapu tangan anak-anak berwarna biru muda.
Dimas mematung. Ia ingat sosok anak kecil semalam, dan tubuhnya mulai gemetar. “Dia… dia yang membawanya,” bisiknya.
Tanpa pikir panjang, mereka mencoba menuruni sisi kawah, namun kabut tebal membuat pandangan nyaris nol. Dari bawah terdengar suara—tangisan samar, seperti suara anak kecil yang tersesat. Lia menatap Dimas dengan mata lebar. “Itu Rafi?”
Dimas menggeleng pelan. “Bukan… itu bukan suaranya.”
Desa dan Peringatan Tua
Mereka akhirnya memutuskan turun dan mencari bantuan ke desa terdekat. Penduduk setempat segera menggelar pencarian, tapi hasilnya nihil. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda Rafi.
Seorang tetua desa kemudian bercerita, “Banyak yang hilang di sana. Biasanya mereka melihat anak hilang di tepi danau. Konon, itu roh penjaga yang menyamar. Ia suka menuntun orang ke dunia lain, dunia arwah di balik kabut.”
Lia menangis mendengarnya. Sementara Dimas hanya diam, memandangi kabut di kejauhan. Ia tahu, ada sesuatu di danau itu yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Tetua itu memberi mereka sesajen dan memerintahkan agar meninggalkan lokasi sebelum matahari terbenam. “Dan jangan menoleh ke belakang apa pun yang terjadi,” pesan sang tetua.
Kembali ke Kawah
Meski takut, Dimas dan Lia kembali ke lokasi kemah untuk menaruh sesajen. Mereka menata bunga, kemenyan, dan sepotong roti di tepi danau, sesuai petunjuk. Namun saat kabut kembali turun, mereka mendengar suara langkah mendekat.
“Rafi?” Lia memanggil ragu.
Tak ada jawaban. Tapi dari balik kabut, siluet seseorang muncul. Rambutnya acak-acakan, bajunya basah, dan wajahnya tampak samar. Dimas langsung menahan Lia. “Jangan dekati!”
Siluet itu tersenyum, lalu menunjuk ke arah hutan.
Suara anak kecil kembali terdengar, kali ini lebih banyak, seperti paduan suara.
Lia menutup telinga sambil menangis, sementara Dimas menariknya mundur. Namun entah kenapa, langkah kaki mereka seperti menapak tanah yang sama berulang kali. Mereka berputar di tempat. Kabut menutup pandangan.
Dalam kekacauan itu, Dimas sempat melihat Rafi berdiri di sisi kawah, dikelilingi anak-anak kecil berpakaian usang. Semuanya menatapnya kosong, seolah mengundangnya datang.
Lalu satu per satu, sosok itu menghilang bersama kabut.
Akhir yang Tak Pasti
Keesokan harinya, tim pencari menemukan Lia pingsan di dekat jalan setapak. Ia tak bisa bicara selama beberapa hari. Ketika akhirnya sadar, ia hanya berulang kali menyebut nama Rafi dan berkata, “Dia menari bersama anak-anak di air.”
Dimas tak pernah ditemukan. Hanya jejak kaki besar yang berputar di sekitar bekas api unggun mereka, dan beberapa jejak kecil seperti milik anak-anak.
Warga desa percaya, Rafi dan Dimas kini telah menjadi bagian dari dunia di balik kabut Danau Kelimutu—dunia yang hanya terbuka bagi mereka yang datang tanpa izin dan mengusik keseimbangan gaibnya.
Peringatan dari Danau
Sejak kejadian itu, para pendaki dilarang keras mendirikan tenda terlalu dekat dengan kawah. Setiap kali kabut turun tebal dan terdengar suara tawa anak-anak, warga desa segera menutup jalan menuju lokasi. Mereka percaya, anak hilang itu masih berkeliaran, mencari teman baru untuk menemaninya di kedalaman danau.
Legenda ini menyebar cepat di kalangan pendaki. Beberapa menganggapnya mitos, namun bagi yang pernah mendengar tawa kecil di antara kabut, kisah ini terasa terlalu nyata.
Dan jika suatu malam kau berkemah di tepi Danau Kelimutu dan mendengar suara anak-anak memanggil namamu, jangan pernah menjawab. Karena sekali kau merespons, kau takkan pulang lagi.
Sejarah & Budaya : Tradisi Tahlilan: Antara Budaya dan Spiritualitas Islam