Bayangan di Tengah Angin Laut
Angin laut menggigit kulit, membawa aroma asin dan lembab yang menusuk hidung. Malam itu, Pelabuhan Merak tampak sepi, hanya diisi deru kapal yang sesekali bersandar. Dira, seorang mahasiswa yang tengah melakukan penelitian budaya pesisir, berdiri mematung di dermaga. Ia baru saja mendengar kisah mengerikan dari penjaga pelabuhan: tentang tarian ganas yang muncul setiap kali angin dari barat bertiup kencang.
Kisah itu menyebutkan bahwa sosok penari berambut panjang, dengan mata menyala hijau seperti batu giok, akan menari di tengah pelabuhan ketika bulan menggantung bulat sempurna. Namanya Nyi Blorong, penguasa lautan yang haus akan tumbal. Dira tidak percaya begitu saja, namun rasa ingin tahu mendorongnya untuk menunggu malam semakin larut.
Semakin waktu bergulir, angin bertiup makin kencang. Ombak menghantam tiang-tiang dermaga, dan dari kejauhan terdengar suara seruling halus, samar tapi menembus telinga. Dira merinding. Ia menoleh ke sekeliling, tapi hanya gelap dan kabut tebal yang menyelimuti.
Jejak Emas di Atas Lantai Dermaga
Tepat pukul dua belas malam, kabut mulai berputar. Dira menahan napas saat melihat butiran cahaya berwarna hijau keluar dari pusaran itu, membentuk sosok perempuan tinggi semampai. Rambutnya menjuntai sampai tanah, dan tubuhnya diselimuti kain hijau yang berkilau seperti sisik ular.
Perempuan itu melangkah ringan, dan di setiap langkahnya, muncul jejak emas di atas kayu dermaga. Musik seruling semakin jelas, bersahutan dengan bunyi gemerisik ombak. Dira terpaku. Ia tahu, ia sedang menyaksikan sesuatu yang bukan dari dunia ini.
Tarian perempuan itu perlahan berubah menjadi gerakan yang liar, meliuk cepat, melingkar seperti ular. Semakin lama, gerakannya makin tak terkendali. Air laut mulai bergolak, kapal bergoyang keras, dan tiang bendera berderak nyaring.
Tiba-tiba, mata perempuan itu menatap lurus ke arah Dira. Ia tersentak. Pandangan mata itu tajam, dingin, tapi memikat. Dira tak mampu mengalihkan pandangan, seolah tubuhnya terkunci.
Bisikan di Balik Ombak
Suara halus muncul di telinganya.
“Kau ingin tahu rahasia laut, Nak? Beranikan dirimu menari bersamaku.”
Dira terperanjat. Suara itu tak datang dari luar, tapi dari dalam kepalanya. Ia berusaha mundur, namun kakinya terasa berat seperti tertanam. Angin berputar makin kencang, membawa serpihan air asin yang mengguyur wajahnya.
Sekilas, ia melihat sisik hijau mengelilingi tubuh sang penari. Ekor panjang melilit tiang dermaga, menciptakan suara berderit keras. Dira menahan napas. Kini, ia tak lagi ragu. Sosok itu adalah Nyi Blorong, sang penguasa laut selatan yang melegenda.
“Kau memanggilku dengan rasa ingin tahumu,” bisik suara itu lagi. “Sekarang kau tak bisa lari.”
Dira berteriak, namun suaranya tenggelam oleh raungan angin. Ombak menghantam, dan tiba-tiba lantai dermaga di bawahnya basah oleh genangan air yang berputar membentuk pusaran.
Rahasia di Balik Kain Hijau
Dalam kilatan cahaya hijau, Dira melihat sekilas bayangan lain di belakang sang penari: wajah-wajah pucat manusia, seolah terperangkap di dalam pusaran air. Mereka menatap dengan mata kosong, memohon kebebasan.
Dira tahu, mereka bukan bayangan biasa. Mereka adalah tumbal—jiwa-jiwa yang terjebak karena mencoba menyingkap misteri laut yang dilindungi Nyi Blorong.
Sosok itu berhenti menari. Ia mendekati Dira perlahan, gerakannya anggun namun menyeramkan. Bau amis dan aroma dupa laut bercampur, menguar dari tubuhnya.
“Kau ingin menulis tentangku, bukan? Kau ingin bercerita kepada dunia tentang tarian ganas ini?”
Dira menggigil. Bibirnya gemetar saat mencoba menjawab, tapi tak ada suara keluar. Nyi Blorong tersenyum tipis, menyingkap gigi runcing berwarna perak.
“Maka jadilah bagian dari ceritaku.”
Dengan satu gerakan cepat, kain hijau panjangnya melilit tubuh Dira. Seketika, tubuhnya terangkat ke udara, lalu menghilang ke dalam kabut.
Fajar yang Tak Menjawab
Ketika fajar menembus kabut, pelabuhan tampak kembali seperti biasa. Hanya selembar buku catatan yang tergeletak di atas dermaga, basah oleh embun laut. Di halaman terakhir, ada tulisan goyah:
“Tarian ganas Nyi Blorong bukan legenda. Ia nyata. Ia menunggu penonton berikutnya.”
Penjaga pelabuhan menemukannya pagi itu. Ia hanya menghela napas, lalu membakar catatan itu tanpa membaca lebih jauh. Ia tahu, siapapun yang membaca terlalu dalam tentang kisah tarian ganas, akan ikut terperangkap dalam tarian abadi sang ratu laut.
Dan di tengah kabut yang mulai terangkat, samar terdengar seruling halus mengalun lagi, diiringi bayangan hijau yang menari di permukaan air.
Misteri yang Terulang
Beberapa hari kemudian, pelabuhan kembali ramai. Namun, setiap malam Jumat Kliwon, para nelayan enggan keluar. Mereka mengaku melihat cahaya hijau menari di kejauhan, disertai suara seruling yang menggema.
Satu hal yang membuat mereka ngeri—selalu ada jejak emas di dermaga keesokan paginya, seolah seseorang menari di sana semalaman.
Hingga kini, kisah tarian ganas itu tetap hidup di antara para pelaut dan warga pesisir Merak. Sebagian percaya, Nyi Blorong menari bukan sekadar menghibur laut, tapi juga mencari jiwa baru untuk menemani kesepiannya.
Mereka yang berani menyaksikan tarian itu konon tak akan kembali sama—atau bahkan tak akan kembali sama sekali.
Pesan dari Laut
Legenda ini bukan hanya kisah lama, melainkan peringatan. Laut bukan sekadar tempat untuk dikagumi, tetapi juga dihormati. Ada kekuatan gaib yang menjaga batas antara dunia manusia dan dunia roh, dan tarian ganas Nyi Blorong menjadi simbol keseimbangan itu.
Bagi mereka yang berani datang ke Pelabuhan Merak saat angin barat berhembus dan bulan purnama menggantung tinggi, berhati-hatilah. Jika terdengar suara seruling dan kilatan hijau menari di atas ombak, jangan menoleh. Karena sekali saja kau melihatnya, kau mungkin akan menjadi bagian dari tarian abadi itu.
Berita & Politik : Revisi UU ITE Mendesak untuk Hentikan Represi Digital