Jeritan Penari Legong Undang Arwah Penasaran di Gunung Bromo

Jeritan Penari Legong Undang Arwah Penasaran di Gunung Bromo post thumbnail image

Awal Malam di Lereng Gunung Bromo

Gunung Bromo selalu identik dengan keindahan matahari terbit dan ritual adat. Namun, di balik panorama yang memukau, tersimpan cerita kelam yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Malam itu, seorang mahasiswa bernama Dimas dan teman-temannya mendaki lereng Bromo untuk melakukan penelitian budaya. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan itu akan mempertemukan mereka dengan sesuatu yang tak kasat mata.

Di perkemahan, saat kabut mulai turun, terdengar suara gamelan samar-samar dari kejauhan. Suara itu lembut namun ganjil, seolah datang dari dalam kabut. Dimas mendengarkan dengan saksama, dan entah mengapa bulu kuduknya berdiri. Malam yang harusnya tenang berubah menjadi mencekam ketika tiba-tiba terdengar jeritan penari di antara bunyi gamelan itu.


Penari Legong dari Dunia Lain

Suara jeritan itu diikuti bayangan samar seorang perempuan yang menari dengan gerakan gemulai, mengenakan busana legong berwarna emas dan hijau. Gerakannya indah, tetapi wajahnya pucat, matanya kosong menatap jauh.

Teman-teman Dimas awalnya mengira itu hanya pengunjung lain yang melakukan pementasan untuk ritual. Namun, semakin diperhatikan, tubuh penari itu tidak pernah benar-benar menyentuh tanah. Ia melayang beberapa inci di atas rumput basah.

Ketika gerakan tarinya mencapai puncak, ia kembali berteriak panjang, jeritan penari itu begitu menyayat, membuat seluruh rombongan membeku ketakutan.


Bisikan dari Kabut

Setelah jeritan mereda, kabut semakin pekat. Dari balik kabut, terdengar bisikan halus, seakan banyak suara yang berbicara sekaligus.
“Datanglah… ikutlah bersama kami…”

Dimas merasakan udara menjadi dingin menusuk tulang. Suara itu semakin dekat, bercampur dengan aroma dupa yang terbakar. Penari legong itu menoleh perlahan, dan matanya yang kosong tiba-tiba menatap lurus ke arah mereka. Seketika dada Dimas terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mencoba meraih jiwanya.


Jejak Mistis di Padang Pasir

Keesokan paginya, setelah malam yang mencekam, Dimas memutuskan menyusuri padang pasir Bromo. Ia menemukan jejak kaki kecil-kecil yang membentuk lingkaran, seolah penari itu benar-benar menari di sana semalaman. Anehnya, jejak itu tidak menuju ke mana pun, hanya berputar-putar dan berakhir di sebuah batu besar yang dikenal warga sebagai batu persembahan.

Warga sekitar yang mereka temui bercerita bahwa sejak lama ada kisah penari legong yang meninggal dalam keadaan tragis ketika melakukan persembahan. Konon, arwahnya terjebak di antara dunia manusia dan dunia gaib, dan hanya muncul lewat jeritan penari yang menggema di malam tertentu.


Terjebak di Ritual Gaib

Malam berikutnya, Dimas terbangun karena mendengar gamelan kembali. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Ia keluar dari tenda meski teman-temannya mencoba menahannya. Dan di situlah, ia melihat penari legong itu berdiri hanya beberapa meter darinya.

Dengan gerakan lambat, penari itu mengulurkan tangannya. Bibirnya tersenyum samar, namun dari mulutnya keluar suara jeritan panjang yang memekakkan telinga. Dimas merasa tubuhnya kaku, seperti ada yang mengikat seluruh sendinya.

Dalam sekejap, ia seakan berada di dunia lain: dikelilingi cahaya remang, penari-penari tanpa wajah menari berputar di sekitarnya. Mereka semua menjerit, serempak, suara itu membentuk gema yang menelan kesadarannya.


Pertarungan Jiwa

Teman-temannya berusaha membangunkan Dimas. Mereka melihat tubuhnya gemetar, matanya terpejam, mulutnya bergetar seakan melafalkan sesuatu. Seorang pemandu lokal yang kebetulan berada di area itu segera menghampiri, menaburkan bunga sesajen dan membakar dupa sambil berdoa.

Perlahan, Dimas terlepas dari cengkeraman dunia gaib itu. Penari legong yang tadi menjerit menatapnya sekali lagi, lalu lenyap dalam kabut bersama suara gamelan.


Misteri yang Tak Pernah Usai

Sejak kejadian itu, Dimas membawa trauma mendalam. Setiap kali mendengar musik tradisional Bali, ia merasakan kembali jeritan penari yang menghantui telinganya. Warga sekitar Bromo percaya bahwa arwah penari itu masih mencari pengganti, seseorang yang bisa menemaninya menari di alam gaib.

Gunung Bromo memang indah, tetapi keindahan itu menyimpan sisi gelap. Malam di sana tidak hanya menyuguhkan kabut tebal dan suara alam, melainkan juga jeritan yang mengundang arwah penasaran.


Kisah jeritan penari di Gunung Bromo adalah pengingat bahwa setiap budaya memiliki sisi mistis yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Dimas dan teman-temannya beruntung masih bisa kembali, namun tidak semua orang seberuntung mereka.

Bagi para pendaki dan peziarah, Bromo bukan hanya gunung dengan pemandangan magis, melainkan juga gerbang antara dunia manusia dan dunia tak kasat mata, di mana jeritan seorang penari legong terus menggema, memanggil jiwa-jiwa yang lengah.

Flora & Fauna : Mengenal Tarsius: Primata Kecil dengan Mata Terbesar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post