Awal Perjalanan Menuju Kampung Naga
Aku masih ingat jelas pertama kali menapakkan kaki di Kampung Naga, desa adat yang seolah berhenti di waktu. Jalanan berliku, kabut tipis menyelimuti, dan aura mistis menyelimuti setiap sudutnya. Dari mulut ke mulut, cerita tentang penjaga selalu terdengar.
Orang-orang bilang, setiap pengunjung harus berhati-hati. Ada mata yang selalu mengawasi dari balik kegelapan. Mata itu bukan sekadar manusia, melainkan entitas gaib yang menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan yang tak terlihat.
Pertanda Aneh di Gerbang Desa
Ketika melewati gerbang bambu yang sederhana, tubuhku merinding. Sekilas, aku melihat kilatan mata yang menyorot tajam. Warga hanya tersenyum samar ketika kutanyakan hal itu. Mereka menolak bicara banyak, hanya menyebut satu kata: penjaga. Katanya, roh itu menjaga desa dan menegakkan aturan yang tak tertulis.
Malam Pertama yang Mencekam
Malam pertama menginap di rumah warga, suasana berubah drastis. Suara jangkrik dan gemericik sungai terdengar damai, tapi ada hening yang menekan.
Tiba-tiba, aku melihat dua kilatan mata merah di kejauhan. Sosok tinggi dengan bayangan hitam muncul di bawah pohon besar. Tubuhku kaku, napas tersengal. Saat aku berkedip, sosok itu lenyap, tapi tatapannya tetap menghantui pikiranku.
Cerita Warga Tentang Penjaga
Keberadaan penjaga bukan mitos belaka. Warga menjelaskan bahwa roh itu adalah leluhur yang berubah menjadi entitas gelap. Siapa pun yang melanggar adat desa, akan mendapat tatapan yang mampu menenggelamkan harapan dan keberanian.
Setiap keluarga punya aturan tak tertulis: hormati penjaga, jangan memancingnya, dan jangan menantang kekuatan gaib yang mengitari desa.
Kilatan Mata yang Mengintai
Setiap hari, kilatan mata itu muncul di berbagai tempat—di balik semak, dekat sumur tua, atau di ujung jalan. Anehnya, hanya aku yang menyadarinya. Setiap kali mata itu menatap, ada perasaan seperti seluruh energi hidupku tersedot. Tatapan penjaga seakan menelan sedikit demi sedikit harapanku.
Ritual Rahasia
Malam ketiga, aku mengikuti suara gamelan samar dari hutan bambu. Sekelompok warga sedang melakukan ritual, membakar dupa dan memanjatkan doa. Di tengah asap, mata merah itu muncul lagi. Sosok tinggi, wajah tak berbentuk, hanya mata yang bersinar. Mereka menunduk hormat, menyebutnya: penjaga.
Teror Semakin Intens
Setelah ritual itu, gangguan semakin nyata. Mimpi buruk sering menghampiri, kilatan mata semakin dekat. Bayangan hitam mengikutiku di siang hari, bisikan di telinga menyuruh meninggalkan desa. Tapi rasa penasaran membuatku tetap bertahan, meski tubuh semakin lemah dan pikiranku diliputi putus asa.
Penjaga Menampakkan Diri
Malam kelima, puncak teror tiba. Hujan deras dan kilat menyambar langit. Ketukan keras di pintu rumah membuatku terbangun. Di depan pintu, sosok hitam tinggi menjulang dengan mata merah menyala. Tatapannya begitu dalam, seakan menenggelamkan seluruh harapanku.
Suara bergema: “Aku penjaga… tak ada yang bisa lari dari mataku.” Tubuhku gemetar, rasanya seperti terperangkap dalam jurang tanpa dasar.
Rahasia Kampung Naga
Seorang tetua akhirnya menjelaskan. Dahulu, desa membuat perjanjian dengan roh penjaga untuk melindungi wilayah dari bahaya. Sebagai imbalannya, roh itu menjadi abadi, menjaga desa sekaligus menelan harapan siapa pun yang dianggap menentang aturan.
Tidak semua orang bisa melihatnya—hanya mereka yang “dipilih”. Sayangnya, aku termasuk yang bisa melihat, sehingga hidupku tak akan sama lagi setelah menginjak desa ini.
Jalan Keluar yang Mustahil
Aku mencoba meninggalkan desa. Tapi jalan yang sama berulang, membuatku kembali ke titik semula. Kampung Naga seolah menolak melepaskanku. Kilatan mata penjaga terus mengikuti, semakin dekat, menekan harapanku hingga nyaris padam.
Teror yang Tak Pernah Usai
Kini aku menulis kisah ini dengan tangan gemetar. Penjaga masih mengintai dari sudut ruangan, siap menelan sisa harapan yang kumiliki.
Jika suatu hari kau menginjak Kampung Naga, berhati-hatilah. Jangan menantang aturan desa, jangan mencari kebenaran yang tersembunyi. Sekali melihat kilatan mata penjaga, hidupmu tak akan pernah sama lagi.
Berita & Politik : Oposisi Melemah, Demokrasi Substansial Terus Dipertaruhkan