Kelam Candi Tua yang Memekik di Sudut Kamar Pulau Weh

Kelam Candi Tua yang Memekik di Sudut Kamar Pulau Weh post thumbnail image

Awal Perjalanan ke Pulau Weh

Pulau Weh terkenal sebagai surga penyelam dengan laut biru jernih dan terumbu karang memikat. Namun, di balik pesona alamnya, tersimpan kisah menyeramkan tentang sebuah kelam candi tua yang sudah lama terkubur dalam legenda masyarakat setempat.

Kisah ini bermula ketika Dara, seorang penulis muda, datang ke Pulau Weh untuk mencari inspirasi. Ia menyewa sebuah rumah sederhana yang berhadapan langsung dengan pantai. Dari kamar yang ia tempati, Dara sering mendengar suara-suara aneh di malam hari, seolah ada yang berbisik dari sudut ruangan.


Suara Pertama dari Sudut Kamar

Malam pertamanya di rumah itu, Dara terbangun oleh suara lirih seperti batu digesek. Suara itu berasal dari sudut kamar, tepat di dekat meja tulis tempat ia menyimpan buku catatan. Dengan berani, ia menyalakan lampu, namun tidak menemukan apa pun.

Saat ia kembali berbaring, suara itu berubah menjadi pekikan lirih, nyaring, dan menusuk telinga. Dara menutup telinganya, tapi suara itu terus menggema, seolah berasal dari dalam kepalanya sendiri.

Keesokan paginya, ia menemukan sebuah ukiran kecil di meja kayu, berbentuk candi tua dengan relief samar. Ukiran itu tak pernah ia lihat sebelumnya.


Misteri Kelam Candi Tua

Penduduk setempat menyebut ukiran itu mirip dengan reruntuhan candi kuno yang tersembunyi di hutan Pulau Weh. Konon, candi itu dibangun sebagai tempat pemujaan arwah penguasa laut. Namun, karena tragedi berdarah pada masa lalu, candi tersebut ditutup rapat dan tak lagi dijamah manusia.

Menurut cerita, siapa pun yang tak sengaja bersentuhan dengan simbol atau peninggalan dari kelam candi akan diganggu arwah penghuni. Mereka akan mendengar pekikan tanpa henti, hingga batas kewarasan runtuh.

Dara, yang penuh rasa ingin tahu, justru merasa tertantang untuk menelusuri kebenaran.


Perjalanan ke Reruntuhan

Dengan bantuan seorang pemandu lokal, Dara memasuki hutan lebat di Pulau Weh. Hawa di dalam hutan terasa berat, seolah setiap langkah disambut tatapan tak kasat mata. Setelah berjalan beberapa jam, mereka tiba di reruntuhan candi.

Bangunan itu berdiri kelam, dindingnya ditutupi lumut, dan ukiran batu tampak retak di sana-sini. Namun yang paling aneh adalah suara lirih yang terdengar dari dalam candi, suara serupa pekikan yang pernah Dara dengar di kamarnya.

Pemandunya menolak masuk lebih jauh, meninggalkan Dara seorang diri.


Pertemuan Pertama dengan Bayangan

Saat melangkah ke dalam candi, Dara merasakan hawa dingin menusuk tulang. Relief di dinding menggambarkan manusia berlutut di hadapan sosok raksasa yang bermata merah menyala.

Di tengah ruangan, Dara melihat sebuah batu altar. Di atasnya tergeletak berlian hitam kecil. Ketika tangannya hampir menyentuh batu itu, pekikan menggema keras, membuat seisi candi bergetar.

Bayangan hitam menjelma di pojok ruangan, memanjang, lalu berubah menjadi sosok perempuan berwajah pucat dengan mulut ternganga lebar. Sosok itu menatap Dara tajam, sebelum lenyap seketika.


Kembali ke Rumah, Teror Berlanjut

Dara pulang dengan tubuh gemetar. Ia berharap teror berhenti setelah meninggalkan candi, namun justru sebaliknya. Malam itu, suara pekikan terdengar lebih keras dari sudut kamarnya.

Ketika menoleh, ia melihat bayangan perempuan pucat itu berdiri tegak di pojok ruangan, kali ini lebih jelas. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, namun matanya memantulkan cahaya merah.

Setiap malam, sosok itu semakin dekat, seolah bergerak perlahan ke arah tempat tidurnya.


Kejatuhan ke Dunia Kelam

Semakin hari, batas antara nyata dan mimpi mulai kabur bagi Dara. Ia sering terbangun di luar rumah tanpa mengingat bagaimana bisa sampai ke sana. Tubuhnya penuh goresan, seolah ia berjalan di hutan lebat saat tidur.

Dalam mimpinya, ia selalu berada di dalam kelam candi. Pekikan menggema di sekelilingnya, diiringi bisikan:
“Kau sudah memanggil kami… kini kau harus tinggal bersama kami.”


Upaya Melawan

Putus asa, Dara kembali menemui pemandu yang dulu menemaninya. Lelaki tua itu terkejut mendengar bahwa Dara membawa pulang ukiran candi. Ia mengatakan satu-satunya cara menghentikan teror adalah mengembalikan ukiran itu ke altar di candi sebelum bulan purnama.

Malam itu juga, Dara membawa ukiran kembali ke hutan. Langkahnya terasa berat, seakan sesuatu menahan kakinya.


Ritual di Malam Purnama

Ketika ia tiba di candi, bulan purnama menggantung besar di langit. Dara meletakkan ukiran di atas altar. Seketika, tanah bergetar dan pekikan menggelegar dari segala arah.

Sosok perempuan pucat muncul kembali, kali ini lebih nyata, tubuhnya dipenuhi luka dan darah mengalir dari mulutnya. Dengan teriakan melengking, ia meraih tangan Dara, mencoba menyeretnya masuk ke dalam batu altar.

Dara berteriak sekuat tenaga, namun suaranya tenggelam dalam kegelapan.


Akhir yang Menggantung

Keesokan harinya, warga desa menemukan rumah yang disewa Dara kosong. Semua barang-barangnya masih tertata, kecuali ukiran candi yang kini hilang.

Beberapa nelayan bersumpah melihat bayangan perempuan berambut panjang berdiri di jendela kamar Dara pada malam terakhir. Hingga kini, rumah itu dibiarkan kosong, dan orang-orang percaya bahwa roh kelam candi masih berkeliaran, memekik dari sudut kamar.

Pulau Weh tetap indah, namun di balik keindahannya, ada cerita yang membuat siapa pun merinding hanya dengan menyebut kata kelam candi.

Teknologi & Digital : E-commerce Lokal Berbenah Hadapi Persaingan Global

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post