Awal dari Langkah yang Salah
Benteng Pendem di Anyer menyimpan celah dinding yang rapuh dimakan usia. Namun, siapa sangka celah dinding itu menyimpan lebih dari sekadar keretakan tua? Malam itu, langkah kaki Raka dan teman-temannya mengawali sebuah kisah yang tak pernah mereka duga. Celah dinding menjadi saksi bisu dari suara-suara asing yang berbisik, mengiringi perjalanan mereka di bangunan purbakala yang terlupakan.
Bayangan yang Tak Mengikuti Tubuh
Saat senter menyapu dinding lembap, muncul bayangan yang tidak sesuai arah tubuh mereka. Bayangan itu seolah keluar dari celah dinding, bergerak pelan, lalu menempel pada lantai. Nafas Raka tercekat, sebab semakin lama bayangan itu seakan memandang ke arahnya.
Suara dari Dalam Retakan
Di antara celah dinding, terdengar suara lirih seperti seseorang berbisik pelan. Kata-katanya tak jelas, namun intonasinya menyerupai panggilan. Semakin dekat mereka mendekat, suara itu semakin nyaring, menyerupai orang menangis meminta tolong.
Hembusan Dingin yang Menyergap
Udara di sekitar mereka berubah. Dari hangat lembap menjadi dingin menggigit tulang. Celah dinding tampak berdenyut seolah bernapas, mengeluarkan embusan dingin yang menyapu wajah mereka. Salah satu dari mereka merasa ada jari-jari panjang menyentuh bahunya, namun saat menoleh, tidak ada siapa pun.
Penampakan di Balik Celah
Cahaya senter menyorot retakan lebar. Dari celah dinding itu, tampak sebuah wajah pucat penuh luka, matanya kosong, namun bibirnya bergerak. Suara lirih menggema: “Kamu akhirnya datang…” Tubuh Raka membeku, teman-temannya menjerit, tetapi langkah kaki mereka seolah terkunci di tempat.
Jejak yang Tidak Pernah Ada
Ketika akhirnya mereka berlari keluar dari lorong benteng, tanah basah di sekitar pintu keluar penuh jejak kaki. Namun, jumlahnya lebih banyak daripada mereka berlima. Ada puluhan jejak yang mengikuti, lebih kecil, lebih dalam, seolah-olah jejak itu datang dari arah celah dinding.
Malam yang Tak Pernah Usai
Setelah keluar dari benteng, mereka merasa lega. Namun jam tangan menunjukkan sesuatu yang ganjil. Mereka masuk sekitar pukul sepuluh malam, namun saat keluar, jam tangan semua orang masih menunjukkan pukul sepuluh lewat lima. Waktu seakan berhenti di dalam benteng, meninggalkan mereka dalam lingkaran malam yang tak berujung.
Bisikan yang Menghantui Hari-Hari Berikutnya
Sejak kejadian itu, Raka mendengar suara bisikan di kamarnya setiap malam. Suara itu sama seperti dari celah dinding purbakala di Benteng Pendem Anyer. Tidak peduli sejauh apa ia mencoba melupakan, bisikan itu tetap datang, seolah mengingatkan bahwa apa yang menunggu di celah itu belum selesai.
Food & Traveling : Nasi Bakar Tradisional Kembali Diminati Generasi Muda