Cakram Mata Jam yang Menggigit Sanubari Malam di Pantai Kuta

Cakram Mata Jam yang Menggigit Sanubari Malam di Pantai Kuta post thumbnail image

Jejak Malam yang Membeku

Pantai Kuta selalu dipenuhi cerita, baik tentang keindahan senja maupun kegelapan malam yang menyembunyikan rahasia. Pada malam tertentu, saat angin membawa hawa asin yang menusuk tulang, seseorang akan mendengar dentuman asing. Dentuman itu bukan ombak, bukan pula langkah manusia. Itu adalah mata jam yang berputar, menggigit sanubari mereka yang mendengar.

Bayangan tipis yang menyelubungi cakrawala tampak lebih kelam dari biasanya. Saat bulan tertutup awan, cahaya lampu-lampu hotel tak mampu menembus pekat. Dari kejauhan, suara berdentang samar terdengar. Satu kali. Dua kali. Lalu tiga kali. Suara itu membawa hawa dingin yang tak biasa, seakan waktu berhenti.


Cakram Misterius di Pasir Hitam

Seorang pemuda bernama Raka, yang kerap berkunjung untuk menenangkan diri, malam itu melihat sesuatu terpendam setengah di pasir. Benda itu berbentuk lingkaran hitam menyerupai jam dinding tua, namun kaca depannya retak, dan jarumnya bergerak liar tak beraturan.

Raka meraih benda itu, dan ketika jarinya menyentuh pinggirannya, tubuhnya tersentak. Ia mendengar detakan cepat, terlalu cepat untuk ukuran jam normal. Saat menutup mata, bayangan wajah-wajah asing muncul: mereka yang seolah pernah hidup, namun kini menatap kosong. Dari mulut mereka keluar bisikan: “Waktumu milikku…”


Sanubari yang Digigit Waktu

Sejak membawa pulang benda itu, Raka tak pernah sama. Setiap malam, ia mendengar mata jam berdentum di kepalanya. Telinganya berdenging, tubuhnya terasa seolah ditarik dari dalam.

Ia mencoba membuang jam itu kembali ke laut, namun esok paginya benda tersebut kembali tergeletak di meja kamarnya, basah oleh air asin. Detaknya semakin keras. Jarumnya berputar ke belakang, menghancurkan batas nyata dan ilusi.

Raka mulai kehilangan waktu. Ia sering bangun bukan di tempat tidur, melainkan di bibir pantai, dengan pasir menempel di wajahnya. Pada suatu malam, ia menemukan jejak kakinya sendiri, berjalan memutari jam itu di pasir, membentuk lingkaran tak sempurna.


Jerat di Pantai Kuta

Masyarakat sekitar sudah lama berbisik tentang legenda jam kutukan yang terdampar di Pantai Kuta. Mereka menyebutnya “cakram mata jam”—benda peninggalan seorang pelaut Belanda yang mati terbawa gelombang. Konon, jam itu menyimpan roh orang-orang yang waktunya terhenti di tengah perjalanan hidup.

Siapa pun yang menyentuhnya akan merasakan waktunya dicuri perlahan. Semakin lama mendengar detaknya, semakin besar bagian sanubari yang digigit, hingga yang tersisa hanyalah bayangan diri.

Raka mulai melihat sosok asing mengikuti setiap langkahnya. Bayangan itu berjalan bersamanya, namun wajahnya hampa, menyerupai dirinya sendiri tanpa mata.


Jejak Terakhir

Malam itu, bulan purnama muncul setelah lama bersembunyi. Cahaya putih menyinari pantai, dan jam itu berputar semakin cepat. Raka berteriak, mencoba menghancurkannya dengan batu, namun setiap pukulan justru menggandakan jumlah jam di hadapannya.

Puluhan cakram dengan jarum berdarah mengelilinginya. Suara dentuman bergema, melumat seluruh inderanya. Detik-detik terakhir yang ia dengar bukan lagi jantungnya, melainkan mata jam yang terus berdentang.

Paginya, masyarakat menemukan lingkaran pasir terbakar di bibir pantai. Di tengahnya, hanya ada jam tua yang retak, berdetak pelan, seakan menunggu korban berikutnya.

Berita & Politik : Polarisasi Politik RI: Narasi Agama hingga Isu Primordial

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post