Awal Kesunyian di Pulau Weh
Pulau Weh, yang dikenal dengan keindahan alamnya, menyimpan sebuah kisah kelam yang jarang diungkapkan. Di salah satu desa terpencil, terdapat sebuah legenda yang menakutkan: rungkun kain sutra yang tiba-tiba muncul di tengah jalan desa, seolah digantung dari langit tanpa penyangga. Penduduk percaya, setiap kali kain itu mengoyak kesunyian malam, tanda malapetaka akan segera tiba.
Malam itu, angin dari laut membawa aroma asin bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Seorang pemuda bernama Azzam, yang baru kembali dari kota, menyaksikan dengan matanya sendiri lembaran kain sutra putih melayang di tengah jalan. Cahaya bulan hanya mempertegas keberadaannya, berkilau pucat, namun bergetar seakan bernyawa.
Bisikan dari Balik Kain Sutra
Rungkun kain sutra itu bukan sekadar hiasan misterius. Setiap orang yang menatapnya terlalu lama mendengar bisikan samar. Bisikan itu menyerupai suara perempuan tua yang mengulang kalimat yang sama: “Pulanglah, jangan lewat sini, atau kau akan ikut bersamaku.”
Azzam, yang penasaran, memberanikan diri mendekat. Namun langkahnya terhenti ketika kain itu bergerak seperti tangan yang meraih. Hawa dingin menyelimuti tubuhnya, dan dari ujung kain sutra terlihat noda merah yang perlahan menetes ke tanah. Desa yang biasanya hening kini seakan bergaung oleh suara jeritan samar yang entah dari mana asalnya.
Jejak Malam Berdarah
Keesokan harinya, seorang nelayan ditemukan tak bernyawa di dekat tempat rungkun kain sutra itu tergantung. Tubuhnya kaku, matanya membelalak, dan di tangannya tergenggam sehelai serat kain putih. Penduduk desa yakin, rungkun kain sutra telah memilih korban lagi.
Orang-orang mulai mengaitkan peristiwa ini dengan kisah lama tentang seorang perempuan yang mati terbakar ketika pesta pernikahannya di desa. Gaun sutra putihnya terbakar, dan tubuhnya hancur dilalap api. Sejak saat itu, kain sutra dipercaya menjadi medium arwahnya untuk kembali menuntut dendam.
Kesunyian yang Berubah Menjadi Teror
Hari demi hari, suasana desa berubah mencekam. Tidak ada lagi yang berani berjalan saat malam tiba. Anak-anak dilarang keluar rumah, dan setiap pintu dikunci rapat. Namun, meskipun pintu tertutup, bisikan kain sutra itu tetap terdengar, menembus celah-celah jendela.
Seorang ibu tua bercerita, ketika ia mencoba menutup telinganya dengan kain, justru wajah seorang perempuan hangus muncul di balik kaca jendelanya. Sorot matanya penuh kebencian, dan bibirnya bergerak mengucapkan kata yang sama: “Ikutlah denganku.”
Azzam dan Penelusuran Rahasia
Azzam tidak bisa tinggal diam. Sebagai orang yang pernah merasakan kehidupan kota, ia menolak percaya begitu saja. Ia mencari jejak sejarah tentang desa ini. Dari seorang tetua, ia mendengar kisah tentang pengantin perempuan yang mati terbakar ratusan tahun lalu. Namun ada satu bagian yang tak pernah diceritakan: perempuan itu dikorbankan, bukan kecelakaan.
Desa kala itu percaya pada persembahan untuk menolak bencana laut. Pengantin muda itu dipaksa mengenakan gaun sutra putih, lalu dibakar sebagai “tumbal”. Arwahnya yang dipenuhi amarah kini menjadi penguasa malam. Rungkun kain sutra yang muncul bukan sekadar simbol, melainkan undangan bagi arwah itu untuk memilih korban.
Ritual yang Gagal
Malam purnama berikutnya, penduduk mencoba melakukan ritual penolak bala. Mereka membakar dupa, menabur bunga, dan berdoa di bawah cahaya bulan. Namun, ketika doa mulai dilantunkan, kain sutra yang tergantung itu bergetar hebat. Dari balik lipatan kain, keluar tangan hitam berlapis arang, meraih salah seorang pemimpin ritual hingga tubuhnya terhempas dan terdiam tanpa nyawa.
Ketakutan pun memuncak. Ritual gagal. Tidak ada lagi cara menghentikan. Rungkun kain sutra semakin sering muncul, bahkan pada siang hari, meski hanya terlihat oleh mereka yang “terpilih”.
Malam Terakhir di Desa
Azzam menyadari sesuatu: satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan adalah mengungkap kebenaran kepada semua orang. Malam itu, ia berkumpul bersama warga desa di balai. Ia menceritakan sejarah kelam tentang pengantin yang dikorbankan. Namun sebelum ia selesai berbicara, kain sutra itu muncul tepat di dalam balai desa.
Seketika ruangan menjadi beku. Jeritan terdengar dari segala arah. Kain itu membentang lebar, seperti sayap hitam berlapis putih, meraih satu per satu warga. Suara perempuan itu semakin jelas: “Kalian semua adalah utangku.”
Azzam mencoba melawan. Ia meraih kain itu, berniat merobeknya. Namun, yang dirasakannya hanyalah panas api yang membakar kulit. Wajah perempuan hangus itu muncul, menempel di depannya, menyeringai, lalu berbisik: “Kau yang berikutnya.”
Akhir yang Tak Pernah Jelas
Esok pagi, desa itu sunyi. Rumah-rumah kosong, pintu terbuka, dan tak ada satu pun orang yang tersisa. Hanya kain sutra putih yang tergantung di pohon besar, melambai pelan diterpa angin laut. Bagi para pelancong yang datang ke Pulau Weh, desa itu dikenal sebagai “desa hilang”. Tidak ada yang berani tinggal di sana, sebab setiap malam terdengar jeritan perempuan dari kejauhan, seolah minta ditemani.
Lifestyle : Manajemen Waktu jadi Kunci Gaya Hidup Produktif Urban