Jerit askar tua yang mengusik kesadaran di Pantai Senggigi

Jerit askar tua yang mengusik kesadaran di Pantai Senggigi post thumbnail image

Awal Malam di Pantai Senggigi

Pantai Senggigi, Lombok, dikenal dengan keindahan pasir putih dan ombaknya yang tenang. Namun, ketika matahari terbenam, keindahan itu berubah menjadi panggung kegelapan. Malam itu, Ardi dan tiga temannya memutuskan untuk berkemah di bibir pantai. Mereka tidak menyadari bahwa kawasan tersebut menyimpan kisah kelam tentang jerit askar tua yang telah lama mengusik kesadaran para pengunjung.

Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung. Suara deburan ombak terdengar seperti bisikan rahasia. Ketika api unggun mulai menyala, suasana sedikit menghangat. Namun, dari kejauhan, terdengar suara samar seperti teriakan panjang yang menggema di antara deru ombak.

Bisikan Legenda Askar Tua

Penduduk sekitar pernah memperingatkan bahwa Pantai Senggigi dulunya menjadi tempat persinggahan pasukan kolonial. Beberapa di antara mereka tewas terbunuh di pertempuran sengit, jasadnya hilang ditelan ombak, tak pernah dimakamkan layak. Konon, salah satu prajurit tua masih gentayangan, terjebak di antara dunia nyata dan alam gaib. Ia dikenal sebagai roh yang sering melontarkan jerit askar tua, suara yang dapat membuat orang kehilangan kesadaran.

Ardi mengingat cerita itu sambil mencoba menertawakan rasa takutnya. Namun, seiring malam semakin larut, suara jeritan kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, seperti teriakan seseorang yang sedang merasakan sakit luar biasa.

Api Unggun yang Padam Tiba-Tiba

Api unggun mereka tiba-tiba meredup meski kayu masih banyak. Suasana gelap menyelimuti, membuat rasa dingin menembus tulang. Dalam kegelapan, Ardi melihat siluet tubuh renta mengenakan seragam lusuh, wajahnya penuh luka, matanya kosong menatap mereka. Dari mulutnya keluar jeritan panjang, jerit askar tua yang menggetarkan jantung.

Teman-temannya panik, salah satu berusaha menyalakan senter, namun cahaya itu malah bergetar lalu padam begitu saja. Hanya ada kegelapan, ombak, dan jerit memilukan yang terus menggaung.

Jejak Pasir yang Tak Wajar

Ketika mereka mencoba lari menjauh dari pantai, jejak kaki muncul di pasir, berjalan di depan mereka seakan menuntun ke arah tertentu. Anehnya, jejak itu terlihat seperti tapak sepatu tentara tua. Semakin jauh mereka mengikuti jejak itu, semakin keras jeritan terdengar.

Tiba-tiba, jejak itu berhenti tepat di dekat batu karang besar. Dari balik batu, sosok askar tua muncul. Tubuhnya kaku, darah menetes dari pelipis, dan tangannya gemetar sambil menunjuk ke arah laut. Sekali lagi, jeritannya mengguncang malam.

Kesadaran yang Mulai Terkikis

Ardi merasakan kepalanya pusing, pandangan kabur, seperti ada kekuatan gaib yang menghisap kesadarannya. Temannya, Dina, pingsan seketika setelah mendengar jeritan itu terlalu dekat. Sementara dua lainnya berteriak histeris.

Suara askar tua itu bukan sekadar jeritan biasa, melainkan panggilan dari roh yang terjebak. Semakin lama mereka mendengarnya, semakin sulit menjaga kewarasan.

Pertemuan dengan Nelayan Tua

Ketika keadaan semakin mencekam, seorang nelayan tua datang membawa lampu petromaks. Ia langsung melantunkan doa-doa dan memercikkan air laut ke arah sosok menyeramkan itu. Perlahan, siluet askar tua memudar, namun jeritan terakhir yang ia lontarkan terdengar jauh lebih memilukan, seperti ratapan seseorang yang ingin bebas dari penderitaan.

Nelayan itu berkata, “Ia tidak bisa tenang karena jasadnya tak pernah ditemukan. Jeritannya akan terus terdengar hingga ada yang mendoakan.”

Malam yang Tak Terlupakan

Ardi dan teman-temannya kembali ke perkemahan dengan wajah pucat. Mereka berjanji tak akan lagi meremehkan kisah gaib. Sejak malam itu, jerit askar tua di Pantai Senggigi selalu menjadi pengingat bahwa keindahan alam sering menyimpan rahasia kelam yang tak terlihat mata.

Bagi mereka, malam itu bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan pengalaman yang mengusik kesadaran, meninggalkan trauma mendalam, dan kisah yang tak akan pernah terlupakan.

Food & Traveling : Liburan Anti-Mainstream di Desa Wisata Tertinggal yang Unik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post