Jejak Pertama di Desa Adat
Desa Sade di Lombok dikenal sebagai desa adat yang masih memegang erat tradisi. Rumah-rumahnya berdinding anyaman bambu, atapnya jerami, dan jalanan tanahnya berliku. Saat senja turun, keindahan itu berubah menjadi misteri.
Bagi pendatang, malam desa Sade bukan hanya sekadar gelap. Ia membawa rasa dingin yang menyusup hingga ke tulang, seolah-olah ada sesuatu yang mengintai dari balik bayangan rumah adat.
Raka, seorang penulis yang mencari inspirasi, memutuskan untuk bermalam di desa itu. Ia ingin merasakan sendiri keaslian budaya yang banyak dibicarakan orang. Namun ia tidak tahu bahwa di balik keindahan desa, tersimpan rahasia yang tak pernah tidur.
Malam Desa Sade yang Pertama
Begitu matahari lenyap, suara jangkrik bersahut-sahutan. Raka keluar dari rumah panggung tempatnya menginap. Ia melihat langit berbintang, tetapi suasana terasa menekan.
Seorang tetua desa berkata padanya sebelum malam tiba:
“Jika kau mendengar langkah di luar pintu, jangan dibuka. Jika kau melihat bayangan di jendela, jangan dipanggil.”
Raka hanya menganggap itu sekadar mitos. Namun ketika malam desa Sade kian larut, ia mendengar suara-suara aneh. Ada ketukan pelan di pintu, lalu suara wanita berbisik, seolah memanggil namanya.
Bayangan yang Menyulam Rasa Takut
Raka menutup mata, mencoba tidur. Tapi dari celah bambu, ia melihat bayangan bergerak di luar rumah. Bayangan itu tinggi, dengan rambut panjang menutupi wajah. Suaranya lirih, seakan memanggil dari jauh sekaligus dekat.
Tiba-tiba, pintu bergetar keras. Ia ingat pesan tetua: jangan dibuka. Dengan jantung berdegup kencang, ia menahan diri. Namun rasa takut menyelubungi tubuhnya, membuat napasnya semakin pendek.
Malam itu seakan menyulam ketakutan demi ketakutan. Malam desa Sade bukan lagi sekadar malam, melainkan jendela menuju sesuatu yang tidak semestinya.
Rahasia di Balik Nyali
Keesokan harinya, Raka bertemu kembali dengan tetua desa. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Tetua itu bercerita tentang seorang perempuan bernama Nyali, seorang penenun kain yang dulu tinggal di desa. Nyali meninggal dengan cara tragis setelah dituduh menggunakan ilmu hitam. Mayatnya tidak pernah ditemukan, hanya kain tenun yang gosong terbakar di dalam rumahnya.
Sejak saat itu, setiap malam tertentu, bayangan Nyali akan berjalan di antara rumah adat. Suaranya menggema, memanggil nama orang yang dianggap lemah hati. Dan siapa pun yang menjawab, tidak akan pernah kembali.
Malam Kedua yang Penuh Teror
Malam berikutnya, Raka mencoba menulis kisah itu. Namun semakin ia menulis, semakin kuat aroma aneh memenuhi ruangan. Aroma kain terbakar, bercampur dengan wangi bunga yang membusuk.
Ketika jam melewati tengah malam, suara tenunan terdengar. “Ceklek… ceklek… ceklek…” seperti suara alat tenun tradisional yang bergerak sendiri. Raka menoleh, dan di pojok ruangan ia melihat sosok wanita dengan rambut panjang, tangannya sibuk menenun kain hitam.
Wajahnya hancur, matanya kosong, dan mulutnya berbisik:
“Berani kau menulis tentangku? Malam desa Sade akan jadi saksi.”
Lingkaran Asap dan Jeritan
Raka berlari keluar rumah, namun desa itu seakan berubah. Jalanan yang tadi lurus menjadi berputar-putar. Setiap rumah tampak serupa, dan dari setiap pintunya terdengar tangisan.
Asap hitam mengepul dari tanah, membentuk lingkaran yang mengurungnya. Di dalam lingkaran itu, Raka melihat sosok-sosok lain: bayangan pria, anak-anak, hingga wajah-wajah asing yang menangis tanpa suara. Mereka semua seolah terjebak di dalam malam yang sama.
Dan dari tengah lingkaran asap itu, Nyali muncul dengan kain hitam terbentang. Kain itu bergerak seolah hidup, melilit tubuh Raka perlahan.
Usaha Melawan
Raka mengingat pesan tetua: satu-satunya cara melawan Nyali adalah menolak rasa takut. Ia harus menahan diri untuk tidak berteriak, tidak menjawab, tidak melawan.
Dengan tubuh bergetar, ia memejamkan mata, lalu membaca doa dalam hati. Kain itu semakin kuat melilit, namun tiba-tiba angin besar bertiup. Suara ayam jantan terdengar dari kejauhan, menandai fajar mendekat.
Seketika, semua bayangan menghilang. Lingkaran asap lenyap. Raka terjatuh, tubuhnya penuh keringat dingin. Ia selamat, tetapi hatinya tahu — malam itu hanyalah awal.
Akhir yang Tidak Pernah Benar-Benar Usai
Ketika fajar menyingsing, Raka meninggalkan desa dengan langkah gontai. Ia membawa catatan, tapi juga membawa trauma yang sulit dihapus.
Tetua hanya berkata singkat:
“Kau beruntung. Malam desa Sade memilih untuk tidak mengambilmu. Namun, jejakmu kini sudah dikenali.”
Hingga kini, siapa pun yang berani bermalam di Desa Sade sering mendengar suara langkah di luar pintu, suara kain ditenun di tengah malam, atau bayangan yang berdiri diam di jendela. Dan jika kau berani menatapnya lebih lama, kau mungkin akan ikut disulam dalam kain hitam Nyali.
Berita & Politik : Konflik Kepentingan di Parlemen Semakin Sulit Dihindari