Desing cakram baja yang memekik di sudut kamar Goa Jomblang

Desing cakram baja yang memekik di sudut kamar Goa Jomblang post thumbnail image

Kedatangan di Goa Jomblang

Desing cakram baja yang memekik di sudut kamar di Goa Jomblang menjadi mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku datang ke daerah itu hanya untuk liburan singkat, mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota. Namun, setiap langkah yang kuambil justru membawaku ke dalam lingkaran teror yang tak kasat mata.

Perjalanan menuju Goa Jomblang sudah cukup melelahkan. Udara di sekitar lembah begitu lembap, dan kabut tipis menggantung di udara. Aku menginap di sebuah penginapan kecil milik warga lokal. Bangunannya terbuat dari kayu tua, dengan aroma lembab yang merayap masuk ke paru-paru. Malam pertama terasa sunyi, hingga suara itu mulai terdengar.


Bab 1: Suara Pertama

Sekitar pukul sebelas malam, ketika aku hampir terlelap, terdengar desing cakram baja dari sudut kamar. Awalnya samar, seperti benda logam diputar di udara. Suaranya tajam, memotong kesunyian malam. Aku membuka mata, mencoba mencari sumbernya, tapi sudut kamar hanya gelap, dindingnya tertutup bayangan pekat.

Aku mencoba menenangkan diri, berpikir itu hanya suara dari luar. Namun, getaran tipis di udara membuatku yakin bahwa suara itu berasal dari dalam kamar. Semakin lama, desing itu berubah menjadi pekikan melengking yang membuat telinga terasa berdengung.


Bab 2: Cerita Penjaga Penginapan

Keesokan paginya, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada pemilik penginapan, seorang pria tua bernama Pak Surya. Tatapannya langsung berubah ketika aku menyebutkan desing cakram baja itu.

“Kau dengarnya di sudut kamar?” tanyanya dengan suara serak. Aku mengangguk. Ia lalu bercerita bahwa penginapan itu dulunya adalah rumah seorang peneliti yang hilang di Goa Jomblang. Peneliti itu terobsesi dengan benda logam berbentuk cakram yang konon ditemukan di kedalaman gua. Saat ia mencoba meneliti di kamarnya, terdengar suara desing yang memekik setiap malam, hingga suatu hari ia menghilang tanpa jejak.


Bab 3: Malam Kedua dan Bayangan

Malam kedua, aku mencoba tidur lebih awal. Namun, pukul sepuluh lewat lima belas menit, desing cakram baja itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Dari sudut mata, aku melihat bayangan melengkung, seperti piring logam berputar cepat. Aku menatap langsung ke arah sudut kamar, dan saat itu juga suara mendadak berhenti.

Namun, udara terasa berat. Nafasku menjadi sesak, dan aku merasakan hembusan dingin di leher. Perlahan, dari sudut itu, muncul cahaya tipis berwarna biru kehijauan yang berputar. Cakram itu seakan menatapku, meski tidak punya mata.


Bab 4: Jejak ke Goa

Tak tahan dengan rasa penasaran, aku memutuskan mengikuti cerita Pak Surya. Ia memberitahuku bahwa jika aku ingin mengerti sumber desing cakram baja itu, aku harus pergi ke Goa Jomblang pada siang hari, saat cahaya matahari masuk ke lubang gua.

Goa Jomblang menyambutku dengan aroma tanah basah dan suara gemericik air jauh di bawah. Turunan tali yang licin membawaku ke kedalaman. Di salah satu dinding gua, aku melihat pahatan melingkar yang menyerupai cakram. Saat jemariku menyentuhnya, telingaku kembali dipenuhi suara desing, kali ini jauh lebih keras. Aku terhuyung mundur, merasa seolah seseorang berbisik di telinga, “Jangan bawa pulang…”


Bab 5: Teror Memuncak

Malam ketiga adalah yang terburuk. Desing cakram baja terdengar sejak senja, bahkan sebelum matahari tenggelam. Aku duduk di ranjang, menatap sudut kamar yang kini berdenyut dengan cahaya aneh. Cakram itu perlahan muncul, mengambang setinggi kepala, berputar dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Dari permukaannya, keluar suara tangisan bercampur jeritan. Aku melihat wajah-wajah yang seolah terperangkap di dalamnya—terdistorsi, memohon, dan menatapku dengan mata kosong. Bau besi berkarat memenuhi ruangan. Aku ingin lari, tapi kakiku seperti menempel ke lantai.


Bab 6: Rahasia yang Terungkap

Pak Surya datang mengetuk pintu saat aku hampir pingsan. Ia membawa sebuah kalung logam kecil. Katanya, itu satu-satunya benda yang bisa membuat cakram itu berhenti. Kalung itu dulunya milik peneliti yang hilang. Saat kalung menyentuh udara di depan cakram, suara desing langsung melemah, dan bayangan itu menghilang.

Namun, Pak Surya memperingatkan bahwa ini hanya menghentikan sementara. Cakram itu akan mencari lagi… dan kali ini mungkin akan mengikuti sampai jauh dari Goa Jomblang.


Penutup: Bayangan yang Mengikuti

Aku meninggalkan penginapan keesokan harinya, berharap semua teror itu berakhir. Namun, di kamar hotel tempatku menginap di kota berikutnya, tepat sebelum aku memejamkan mata, samar-samar terdengar desing cakram baja dari sudut ruangan.

Aku mengerti satu hal—teror itu sudah menempel padaku.

Food & Traveling : Staycation Unik: Liburan Dekat Kota dengan Nuansa Alam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post