Langkah Pertama di Tanah Berkabut
Desa di lereng Bukit Sikunir terkenal karena keindahan matahari terbitnya. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ada satu bagian dari desa itu yang selalu diselimuti kabut, bahkan saat siang hari. Sejak kecil, aku sering mendengar cerita tentang langkah kuda hitam yang menapak di tanah basah desa itu. Konon, suara itu menjadi pertanda akan datangnya malapetaka.
Pada suatu sore bulan Agustus, aku—seorang penulis dokumenter horor—memutuskan untuk menelusuri cerita tersebut langsung ke sumbernya. Desa Sikunir menyambutku dengan dingin yang menggigit, dan tatapan curiga dari para penduduk. Tidak ada yang mau bicara tentang langkah kuda hitam. Mereka hanya berkata, “Jangan naik ke bukit selepas Magrib.”
Suara di Malam Pertama
Malam itu, aku menginap di rumah Pak Rahman, satu-satunya warga yang masih tinggal di sisi timur desa, dekat hutan bambu. Ia seorang duda tua yang tampaknya sudah tak peduli akan mitos yang mengitari tempat itu.
Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun oleh suara dentum berat seperti sepatu besi menghantam tanah kering. Langkah kuda hitam. Jelas sekali ritmenya. Perlahan, suara itu mendekat ke halaman depan. Aku mengintip dari celah jendela, tapi hanya melihat kabut tebal bergulung seperti asap mendidih.
Tiba-tiba, suara itu berhenti. Hening. Tapi ketika aku berbalik, ada bekas tapak sepatu kuda berwarna hitam di lantai kayu tempat aku berdiri. Tidak mungkin! Aku tidak membuka pintu sama sekali!
Jejak yang Menuju Bukit
Keesokan harinya, aku mengikuti jejak itu. Tapak kuda tersebut menanjak menuju Bukit Sikunir, tapi bukan lewat jalur wisata. Jejak itu mengarah ke hutan bambu, jalur yang sudah ditutup warga dengan pagar kayu berduri. Dengan rasa penasaran yang makin membuncah, aku langkahi pagar itu. Aku terus menyusuri jejak kuda hitam yang terlihat jelas di tanah berlumut.
Di dalam hutan, suasana menjadi dingin secara tidak wajar. Awan gelap menutupi langit meski belum lewat tengah hari. Aku mendengar suara helaan napas berat, seakan ada makhluk besar di dekatku. Tapi yang terlihat hanya bayangan hitam berkelebat di balik batang bambu. Kemudian, aku temukan sebuah batu nisan tua dengan ukiran nama: “Radena Kirna, penunggang kuda hitam.”
Cerita Lama yang Terlupakan
Aku kembali ke rumah Pak Rahman, memaksa bertanya tentang nama itu. Ia akhirnya menyerah dan menceritakan kisah kelam di balik langkah kuda hitam.
Radena Kirna adalah penjaga bukit pada zaman kolonial. Ia dikenal sangat kejam. Siapa pun yang mencoba masuk ke kawasan bukit tanpa izin, akan diseret oleh kudanya, lalu dihukum mati tanpa proses. Malam sebelum penjajahan berakhir, warga membakar rumahnya di bukit. Namun, Radena tak ditemukan—hanya kuda hitamnya yang tertinggal, berdiri di antara abu dan arang.
Sejak saat itu, setiap kali kabut turun terlalu tebal, suara langkah kuda hitam akan terdengar, seolah sang penjaga bangkit mencari mangsa baru.
Teror Menjelang Fajar
Malam berikutnya, ketukan berat di pintu kembali terdengar. Kali ini aku tidak berani mendekat. Namun, saat subuh, pintu depan rumah Pak Rahman hangus terbakar sebagian, dan sebuah tapak kuda terbakar terlihat di lantainya.
Aku memutuskan untuk merekam semuanya. Aku pasang kamera malam, dan duduk di balik tirai dengan ponsel di tangan. Pukul 01:47, suara tapak kuda datang lagi. Kamera mulai merekam dengan getaran aneh, seperti ada gelombang elektromagnetik di sekitarnya. Bayangan kuda hitam muncul di layar—tidak memiliki kepala, hanya tubuh besar dan suram, dengan penunggang berselendang merah darah.
Tiba-tiba, layar kamera hitam. Dan… langkah kaki itu berhenti di balik tirai tempat aku bersembunyi. Nafasku tercekat. Tirai berkibar perlahan.
Namun, sosok itu tidak masuk. Ia hanya berbisik, “Jangan tulis ini…”
Bangkitnya Penunggang Gelap
Aku memutuskan untuk meninggalkan desa esok paginya. Namun, jalan keluar ditutup kabut tebal. Mobilku mogok tanpa sebab. GPS mati. Bahkan sinyal pun lenyap. Aku kembali ke rumah Pak Rahman dan menemukan rumah itu kosong. Tidak ada jejak kehidupan. Bahkan fotonya yang sebelumnya tergantung di dinding pun telah mengelupas menjadi abu.
Aku berlari ke bukit, memanggil siapa saja yang bisa mendengar. Di puncak bukit, aku lihat batu nisan Radena Kirna kembali berdiri, tapi sekarang dengan kalimat baru: “Penulis terakhir telah datang.”
Suara langkah kuda kembali terdengar, kali ini dari segala arah.
Akhir dari Kesunyian
Tulisan ini kutinggalkan di laci rumah tua itu. Jika kau menemukannya, jangan coba mencari aku. Jangan lanjutkan penelusuran ini. Biarkan langkah kuda hitam tetap menjadi legenda. Karena ketika suara itu menyentuh telingamu… jiwamu tak akan kembali.
Berita & Politik : Investasi Asing: Peluang dan Risiko bagi Perekonomian Lokal