Bibir Pintu Masuk yang Menghujam Jiwa Penulis di Tesso Nilo

Bibir Pintu Masuk yang Menghujam Jiwa Penulis di Tesso Nilo post thumbnail image

1. Awal dari Sebuah Naskah Terlarang

Aku tak pernah menyangka bahwa obsesi terhadap naskah kuno bisa membawaku ke tempat terkutuk itu. Semua berawal dari secarik surat tak bernama yang kutemukan di laci meja tulisku. Surat itu hanya berisi satu kalimat dengan tinta merah yang telah pudar: Bibir pintu masuk hanya terbuka bagi jiwa yang siap hancur.”

Kalimat itu menghantui pikiranku selama berhari-hari. Sebagai penulis cerita horor, aku sering menjelajahi tempat-tempat angker. Namun, nama yang tercetak samar di bawah kalimat itu membuat darahku berdesir—Tesso Nilo.

Aku tahu Tesso Nilo sebagai taman nasional yang luas di Riau. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di dalam hutannya yang lebat terdapat wilayah terlarang yang disebut warga sebagai Hutan Mati, area yang bahkan satwa enggan memasukinya.


2. Perjalanan Menuju Pintu yang Tersembunyi

Berbekal rasa penasaran dan segenggam keberanian bodoh, aku menyiapkan perjalanan menuju Hutan Tesso Nilo. Aku tidak memberi tahu siapa pun tujuanku sebenarnya, hanya mengatakan bahwa aku akan mencari inspirasi untuk novel berikutnya.

Setibanya di desa terdekat, beberapa warga memperingatkanku agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Mereka menyebutkan tentang sosok Bibir pintu masuk, tetapi tak satu pun yang menjelaskan apa maksudnya.

Dengan kompas tua, kamera, dan buku catatan, aku masuk ke hutan. Pepohonan semakin rapat dan suara alam terasa janggal. Tidak ada suara burung. Tidak ada desir angin. Hanya detak jantungku yang makin keras dan gema langkahku sendiri.


3. Sosok Mulut di Antara Dua Pohon Mati

Setelah menempuh perjalanan delapan jam, aku menemukannya—sebuah celah gelap yang berdiri di antara dua pohon mati, mirip reruntuhan gerbang. Anehnya, bagian atasnya berbentuk melengkung, seperti sepasang bibir kering yang membuka sedikit. Bibir pintu masuk itu terlihat seolah menganga, siap menelan apa pun yang mendekat.

Aku mengabadikan tempat itu dengan kameraku. Namun, saat melihat hasil fotonya, aku terhenyak. Di layar, bentuk itu benar-benar menyerupai mulut manusia, lengkap dengan gigi menghitam dan lidah yang terjulur samar.

Rasa takut menelanku, tapi dorongan untuk menyelesaikan naskah ini lebih kuat. Aku melangkah masuk. Seketika, udara berubah dingin, dan langit-langit pepohonan di atas lenyap. Dunia di dalam bibir pintu masuk seperti dimensi berbeda.


4. Bisikan yang Menggores Tulisan

Aku terus melangkah, menelusuri jalan setapak yang kini berubah menjadi tanah berlendir. Di sekitarku, batang-batang pohon berdiri layu dan membentuk siluet tubuh manusia menggantung. Aku mulai mendengar bisikan—bukan dari luar, tapi dari dalam kepalaku.

“Tulis… tulis penderitaan kami…”

Tanganku mulai bergetar. Buku catatanku terbuka dengan sendirinya. Tinta mengalir tanpa henti, membentuk kalimat-kalimat yang tak kukenali. Setiap kata yang tercipta menciptakan rasa sakit di dada, seolah-olah aku menulis dengan darahku sendiri.

Bibir pintu masuk itu tak hanya membawa fisikku, tapi juga jiwaku. Aku merasa semakin jauh dari dunia nyata. Aku lupa nama keluargaku. Aku bahkan lupa siapa aku sebenarnya.


5. Sosok Tanpa Mata di Tengah Kabut

Di tengah kabut tebal, aku melihat sosok wanita berdiri membelakangiku. Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah, dan bajunya seperti terbuat dari kulit kayu yang membusuk. Perlahan ia berbalik, dan jantungku hampir berhenti—wajahnya rata, tanpa mata, hidung, ataupun mulut.

Namun, dari dadanya menganga sebuah mulut yang besar, dan dari situlah ia bersuara.

“Kau menulis untuk kami. Maka, kau tidak akan kembali.”

Aku ingin lari, tapi tanah di bawah kakiku menjerat seperti akar. Mulut di dadanya mengisap udara, dan aku merasa seluruh tubuhku tertarik ke dalam tatapan yang tak terlihat itu. Di saat itulah aku sadar—bibir pintu masuk bukan hanya gerbang, melainkan mulut dunia yang memakan jiwaku.


6. Keluar Tanpa Pulang

Entah bagaimana, aku terbangun di depan gerbang bibir itu. Langit sudah sore, burung-burung mulai kembali terdengar. Tapi tubuhku terasa kosong. Buku catatanku penuh dengan tulisan yang tak kumengerti—huruf-huruf berlumur tinta merah, seolah ditulis dengan darah.

Aku berusaha kembali ke desa, namun warga yang kutemui tampak asing. Mereka mengaku tidak pernah melihatku sebelumnya. Saat bercermin di penginapan, aku menjerit. Wajahku mulai berubah. Bibirku menebal, mataku menghitam, dan kulitku mulai mengering seperti kayu.

Malam itu aku menulis kembali. Tulisan-tulisan itu datang sendiri. Tangan ini menari seperti milik orang lain. Aku tak bisa berhenti.


7. Warisan dari Bibir yang Tak Tertutup

Kini, sudah dua bulan sejak aku kembali dari Tesso Nilo. Namun rasanya seperti aku belum pernah benar-benar kembali. Aku tidur di siang hari, dan menulis sepanjang malam. Suara-suara itu tak pernah berhenti.

Aku sadar bahwa bibir pintu masuk telah menanamkan sesuatu dalam diriku. Sebuah kewajiban, atau kutukan. Aku menulis cerita-cerita yang membuat pembaca ketakutan—bukan karena imajinasi, tapi karena mereka mengandung bagian dari jiwa-jiwa yang terperangkap di sana.

Setiap kali seseorang membaca tulisanku, mereka ikut menarik satu langkah lebih dekat ke gerbang itu. Semakin banyak yang membaca, semakin banyak korban. Tapi aku tak bisa berhenti. Aku adalah pintu masuk selanjutnya.

Lifestyle : Resep Smoothie Sehat: Kombinasi Buah untuk Energi Optimal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post