Langkah Sunyi di Pasar Beringharjo yang Menebar Ketakutan

Langkah Sunyi di Pasar Beringharjo yang Menebar Ketakutan post thumbnail image

Awal Raga Tersesat

langkah sunyi pasar beringharjo menuntun Ayu ke lorong terpencil yang biasanya kosong selepas jam tutup. Gerimis tipis menempel di kanopi kain peneduh, memantulkan siluet gerobak tua yang berderit. Setiap kali sepatu karet Ayu menginjak kerikil basah, gema itu seolah memanggil—menyusup ke kepala, mengubah detak jantungnya menjadi dentum tak beraturan. Ia menengok ke kiri dan kanan, hanya melihat kios-kios terkunci dan bayang-bayang panjang di tembok bata. Namun, sesuatu di ujung lorong menahan langkahnya: sekilas bayangan berjalan melawan arah.

Dalam keheningan itu, Ayu mengeraskan pendengaran. Suara tapak kaki lain mengikutinya, lembut namun tak bersuara. Dorongan penasaran menuntunnya maju, meski perutnya dikuyup rasa takut. lorong remang di Pasar Beringharjo ini berubah jadi labirin kengerian. Asap kemenyan dari sebuah petilasan kecil tercium samar, menambah aura mistis. “Apakah aku benar-benar sendiri?” gumamnya, berharap menemukan teman, tapi ia hanya memanggil gema sendiri.


Bisikan Semu di Lorong

Begitu memasuki lorong sempit di belakang kios batik, Ayu dikejutkan oleh bisikan pelan: “Tinggallah…” Kata itu terdengar seperti keluhan panjang, parau dan penuh penyesalan. Ia menggigil, meraih senter kecil di tas. Cahaya sempit menari di permukaan kayu lapuk dan batik kusam, menyibak tulang-tulang kayu yang bisa jadi saksi bisu tragedi lampau. bayangan turun temaram dari kain batik seakan hidup, bergerak pelan seperti menari dalam kebisuan.

Hatinya menjerit agar berbalik, tetapi kaki seolah terpaku. Bisikan itu terus memanggil—lebih lirih, tapi menancap tajam di telinga. Sesekali, Ayu menangkap arus angin dingin yang merambat di balik pilar beton, menyalurkan kabut tipis yang melilit kakinya. Ia meneguk ludah, bersiap menahan napas jika terjadi sesuatu yang tak terduga. Namun naluri reporter dalam dirinya justru menggeliat: inilah momen untuk menggali kisah arwah yang tersembunyi di balik pasar tua Yogyakarta.


Jejak Tak Berujung

Dengan hati-hati, Ayu menelusuri jejak samar di lantai batu—tapak kaki yang tak sepenuhnya manusia. Batu bata berpola batik purba menyimpan ceceran puing kecil dan potongan kain lusuh yang berlumut. Jejak itu semakin dalam memasuki lorong penyimpanan, hingga sepasang pintu kayu berkarat menyambutnya. Tangan Ayu gemetar saat mendorongnya; suara engsel memekik seperti amukan makhluk tersakiti.

Di balik pintu, gudang sempit terisi rak kayu yang retak. Kabel lampu padam total. Hanya sinar senter yang menebar lingkaran terang, memperlihatkan puluhan kain batik tergantung—semuanya berlukis siluet wajah kesakitan. Mata Ayu melebar: setiap wajah tampak menjerit tanpa suara. Jejak itu terhenti, seolah pemiliknya menatap balik dari kain. Meski logika berkata “itu hanya motif,” naluri horornya berteriak bahwa arwah penasaran tengah menyorot.


Tatapan dari Pedagang Bayangan

Tiba-tiba, sosok kurus berkerudung putih muncul di ujung lorong. Wanita tua itu memandang Ayu tanpa berkedip, mengusap dagu dengan kuku panjang. “Kau dengar langkahku?” tanyanya pelan, suaranya serak menembus telinga. Ayu kaku, menelan ludah. Sosok itu menyingkirkan kain batik, memperlihatkan rak kosong: hanya batang kayu yang menancap sinar lampu remang. Namun, bayangan wanita itu tercecer di lantai—tampak berkali lipat.

Aroma dupa semakin pekat, berlomba dengan bau tanah basah. Pedagang bayangan itu menepuk-nepuk senter Ayu, membuat cahaya terpantul ke segala arah. Cahaya kecil memunculkan bayangan kaki lain di sekitarnya, berjalan berbalik-arah. Ayu tersentak mundur, terperosok di antara tumpukan keranjang bambu. Perempuan itu tertawa lirih, nyaris tak terdengar, sebelum menghilang begitu saja, meninggalkan suara sendu yang menyesakkan.


Dentum Krajan

Di dekat pintu keluar gudang, Ayu melangkah ke halaman samping. Suara musik gamelan menggema, anehnya dari radio tua yang tercuri oleh tanaman rambat. Dentum pelan memanggil ia menari dalam bayang-bayang. Tiupan angin di sela-sela kerangka atap memperdengarkan denting logam, selaras dengan irama mistis itu. Ayu memejamkan mata, merasakan denyut ketakutan memuncak.

Ketika matanya terbuka, ia menjumpai sosok pria berpakaian kramat Jawa, topeng putih menutupi wajah. Ia menari lambat, instrumentalis gaib yang mengiringi langkah Ayu tanpa henti. Setiap ayunan tangan pria bertopeng menimbulkan gelombang kabut, menutupi kerlip lampu temaram. Ayu berbisik, “Ini tidak mungkin nyata.” Namun ia tahu, dentum krajan di pasar tua ini jauh melampaui nalar manusia.


Lorong Pengorbanan

Kegelapan memanggilnya kembali ke lorong batchok—jalur sempit yang dulu dipakai untuk memindah barang dagangan antik. Bayangan kain putih bergelombang, menutupi dinding bata. Ayu merunduk melewati tumpukan peti kayu. Terdengar suara ranting patah, dan ia menoleh: sosok anak kecil dengan wajah pucat, mata hitam panjang, berdiri membelakang. “Tolong…” suara itu kecil, memelas. Ayu merogoh saku, mengeluarkan kamera—ia ingin merekam, tapi lensa buram oleh uap dingin.

Anak itu berjalan menjauh, meninggalkan jejak kaki mungil di lantai berdebu. Setiap langkah menciptakan percikan api kecil yang padam seketika. Ayu mengikuti, merasa dipimpin ke ruang inti kegelapan. Di depan pintu besi korosi, ia membaca tulisan kuno: “Korban tak bernama”. Rasa ngeri melintas—apakah ada ritual kuno yang menghuni pasar ini?


Konfrontasi dalam Kabut

Di balik pintu besi, sebuah halaman lapuk terbuka. Kabut putih pekat melayang di antara tugu-tugu kayu tua. Sosok pedagang, pria bertanduk, menunggu dengan cerek tua berisi air keruh. “Minumlah,” ujarnya serak. Ayu menolak, namun kaki melangkah sendiri. Seteguk air itu mengalir dingin, menelusup ke tenggorokan, membuka ingatan kelam yang tersembunyi: dulu pasar ini pernah jadi saksi pemenggalan jenazah tanpa identitas.

Langit semakin gelap, kabut mengganas menutupi wajah. Pedagang bertanduk memekik, gelombang suara memecah kesunyian, menimbulkan gaung yang menebar ke seluruh lorong. Ayu merasa kepalanya terbelah oleh dentum-suara itu, pikirannya terombang-ambing antara realita dan kematian.


Pengorbanan Terakhir

Dengan segenap sisa kesadaran, Ayu meraih batu kerikil besar. Ia menghantamkan ke lantai, memecah resonansi gaib. Kabut terbelah, menyingkap sebentuk altar batu berlumut. Di sana, sosok anak kecil pucat terbaring, membeku dalam diam. Air dari cerek tumpah, merembes ke halaman, menghilang tanpa jejak. “Maafkan aku…” gumam Ayu, menunduk. Dengan cepat, kabut mereda, dan segala bisikan lenyap bak mimpi buruk.

Ayu meratapi altar batu itu, mengenang jejak langkah sunyi yang membawanya ke ambang kematian. Dari reruntuhan pasar, cahaya lampu jalan menembus kabut, membelah kegelapan.


Fajar Membawa Luka

Saat fajar menyingsing di langit Yogyakarta, Ayu terjaga di depan gerbang utama Pasar Beringharjo. Tubuhnya lembap, pakaian basah oleh embun pagi. Ia menatap lorong yang barusan disusuri—sepi dan normal seperti biasanya. Tak ada jejak ritual, tak ada kabut menyesakkan, hanya aroma rempah dan batik hangat yang biasa tercium. Namun di dalam hatinya, luka dan ingatan mistis tetap membekas.

Dalam note terakhirnya, Ayu menulis:

Langkah sunyi pasar beringharjo memang menebar ketakutan, namun kengerian terburuk adalah ingatan yang tak pernah lenyap.”

Malam itu, pasar tua ini kembali beristirahat, menanti pengunjung berikutnya yang cukup nekat menapaki jejak bayangannya.

Kesehatan : Suplemen Alami: Fungsi dan Cara Konsumsi Tepat Setiap Hari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post