Jejak Berdarah di Dermaga Makassar yang mengaburkan Kenangan

Jejak Berdarah di Dermaga Makassar yang mengaburkan Kenangan post thumbnail image

Pendahuluan

Malam itu, jejak berdarah di dermaga makassar menjadi awal dari ketakutan yang sulit dihapus. Saat aku menjejak papan kayu lapuk, kilau merah mencolok di bawah sinar lampu pelabuhan. Bahkan meski angin laut membawa aroma asin yang menenangkan, darah itu menebarkan hawa mencekam. Pertama-tama, kupikir itu hanya tumpahan—namun seketika, langkahku membeku ketika merasakan keberadaan sosok di balik bayang.

Suara Ombak dan Langkah Sepi

Selanjutnya, ombak kecil berdesir lembut, kontras dengan langkah kakiku yang terdengar berat. Selain itu, suara derit papan bertambah nyaring setiap kali aku maju sedikit. Kemudian, lampu pelabuhan berkelip tak beraturan, menimbulkan bayangan semakin menari. Oleh karena itu, aku menahan napas, berusaha mendengar apakah ada bisikan mengerikan yang menyertai jejak berdarah di dermaga makassar.

Sosok di Ujung Dermaga

Kemudian, kulihat sosok berjalan di ujung dermaga—wajahnya terselubung kain putih, kakunya terbalut darah kering. Bahkan, bayangannya memanjang di permukaan air. Lebih jauh, perempuan itu mengangkat tangan ke arah teluk seakan memanggil. Seketika, darah yang kusebut di awal seolah bergerak, mengalir menuju perahu kosong yang terombang-ambing.

Jejak yang Terus Membara

Lebih lanjut, aku menelusuri jejak berdarah itu satu per satu. Setiap langkah menimbulkan pertanyaan: siapa korban dan mengapa darahnya berpindah? Meski jalan setapak sempit, aku terus maju. Namun ketika aku menoleh, jejak baru bermunculan, membentuk pola lingkaran di sekitar tiang dermaga. Suasana makin mencekam, seakan malam berusaha mempertahankan rahasia kelamnya.

Bisikan dari Gelap

Selanjutnya, terdengar bisikan samar, “Tolong bebaskan aku…” Suara itu bergema setajam pisau. Bahkan, ketika aku menutup telinga, bisikan tetap merasuk ke kepala. Sementara itu, jejak berdarah di dermaga makassar berdenyut bagai nadi hidup. Oleh karena itu, aku menangkup telinga dan berteriak, namun suaraku justru tenggelam oleh gemuruh malam.

Kilasan Kenangan Kelam

Kemudian, pandanganku kabur oleh kilas memori: seorang nelayan tewas tenggelam puluhan tahun lalu di dermaga yang sama. Meskipun cerita itu terdengar usang, aku merasakan ikatan kuat dengan kejadian masa lalu. Bahkan, darah yang menetes seakan ingin mengaburkan kenangan lama yang tak pernah hilang.

Perburuan Bayangan

Lebih jauh, bayangan perempuan itu bergerak lebih cepat, menghilang di antara tumpukan tali kapal. Kulanjutkan pengejaran, namun kaki sekerat napas sudah menolak. Seketika, aku terjatuh, menghentakkan lutut di papan basah. Namun dari balik gelap, sosok menghampiri, tatapannya dingin menembus jiwa.

Benturan Realita dan Mimpi

Selanjutnya, kulitku kesemutan ketika sosok itu menjulurkan tangan. Rasanya seperti menyentuh kabut—dingin dan hampa. Dalam hitungan detik, segala kenyataan larut ke dalam mimpi buruk. Bahkan, aku tak bisa membedakan apakah kaki masih menapak papan dermaga atau hanyut di lautan gelap.

Usaha Melarikan Diri

Kemudian, naluri bertahan hidup mendorongku bangkit. Meskipun pandangan masih goyah, aku berlari menuruni deretan tiang kapal. Saat kaki menjejak beton pelabuhan, deburan ombak seolah memberi jalan keluar. Namun saat menoleh sekali, jejak berdarah itu sudah mengelilingi tiap tiang—menandakan bahwa kengerian ini tak mudah ditinggalkan.

Pengungkapan Misteri

Akhirnya, aku tiba di kantor pelabuhan yang tertutup rapat. Dengan tangan gemetar, kupukul pintu hingga terbuka. Lampu ruang jaga menyorotku penuh tanya. Saat kutunjukkan foto jejak dan sosok misterius, kepala petugas menunduk. Ia menceritakan legenda: misteri pembunuhan nelayan yang mayatnya tenggelam tak pernah ditemukan, hingga arwahnya gentayangan di dermaga, meninggalkan jejak berdarah di dermaga makassar untuk menuntut keadilan.

Epilog yang Mengaburkan Kenangan

Akhirnya, pagi menyingsing dan kabut laut memudar. Meski telah selamat, ingatanku tentang malam itu kian kabur. Bahkan jejak darah di dermaga seakan tertelan air pasang. Namun tatapan hantu perempuan itu masih terpatri di benak, mengaburkan kenangan tanpa bisa kau hapus.

Inspirasi & Motivasi : Kisah Relawan Sosial: Inspirasi Aksi Nyata untuk Lingkungan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post