Pintu Gaib Menuju Malam
Saat langit senja memburam di atas atap genteng Pasar Beringharjo, aura kelam pasar beringharjo mulai terasa menebal. Bahkan sebelum kaki menjejak koridor batu, hembusan angin dingin membisikkan kata tak berwujud. Selain itu, lampu-lampu tua berpendar kuning remang, menciptakan bayangan panjang di lorong penuh kios antik. Dengan begitu, malam ini menjanjikan teror yang menghancurkan nalar, bukan sekadar deretan lapak dan rempah-rempah.
Headline: Kehadiran Bayangan Tanpa Wajah
Lebih lanjut, Raka—penulis urban legend—mengaku melihat sosok tinggi tanpa wajah melintas di ujung lorong kain batik. Sementara itu, toko kerajinan kayu berderit seakan digoyang tangan gaib. Kemudian, lantai keramik tua menampakkan bercak-bercak hitam, seakan sisa darah yang membeku. Meskipun demikian, suara langkah kaki bergema tak beraturan, seolah banyak entitas bergerak di antara deretan kios. Oleh karena itu, aura kelam pasar beringharjo bukan sekadar mitos.
Headline: Jeritan di Balik Meja Kuno
Nadya, fotografer city tour, menyalakan kamera inframerahnya. Namun demikian, satu jepretan menangkap kilau putih di balik meja ukir kuno—bukan pantulan lampu. Setelah itu, terdengar jeritan melengking, sangat dekat, hingga membuat telinga berdenging. Bahkan, rak-rak bermaterial tembaga bergetar, seakan ada kekuatan merasuknya. Oleh karenanya, mereka memutuskan menggelar matras darurat, berharap perlahan meraba sumber suara.
Headline: Bisikan Dagang yang Terhenti
Lebih jauh, saat rombongan memasang tenda darurat di tengah pasar sepi, seorang pedagang tua muncul. Ia mematung mematung sambil menatap kosong. Dengan suara parau, ia membisikkan: “Jangan menyingkap pintu malam… atau kau takkan pernah pulang…” Setelah itu, ia menghilang secepat angin yang menyusup celah pintu kayu. Tidak ada sisa jejak, kecuali aroma dupa basi menguar di udara. Maka, mereka tersadar bahwa aura kelam pasar beringharjo memerlukan ritual lama untuk melewati malam.
Headline: Ritual Terlarang di Lorong Rempah
Selanjutnya, Eko—mahasiswa antropologi—membuka catatan kuno tentang pasar. Ia menemukan petunjuk ritual “Nglaras Sajarah” yang membacakan mantra dari naskah bahasa Jawa kuno. Oleh karena itu, mereka menyiapkan dupa akar wangi dan air suci yang dibawanya dari Pura terdekat. Namun demikian, saat mantera dilafalkan, suara tangisan dan tawa mengerikan bergantian memekakkan telinga. Bahkan, kilatan lampu tiba-tiba padam, meninggalkan mereka dalam kelam mutlak.
Headline: Korban Pertama dalam Kabut Daga
Tidak lama kemudian, kabut tipis merayap dari lantai ubin, lalu meremukkan akal. Adit—videografer—melompat mundur ketika bayangan sosok wanita berkain putih memeluknya dari belakang. Jeritan Adit mengguncang hati, sementara kamera yang direkamnya hanya menampilkan kabut dan tangan lengan kain putih. Selain itu, tubuhnya ringkih seketika, seakan darah menghilang dalam semalam. Oleh karenanya, aura kelam pasar beringharjo telah menebar kutukan pertama.
Headline: Penelusuran Jejak Darah
Kemudian, lintasan jejak darah menuntun mereka ke sudut timur pasar, di mana bekas kios rempah berubah jadi altar darurat. Di sana tergeletak pecahan gerabah antik, diselimuti kain hitam lusuh. Selain itu, ukiran relief Hariti dan Batara Kala—pelindung pasar kuno—terlihat terbalik, menandakan pelanggaran sakral. Dengan demikian, mereka menyadari kesalahan fatal: membuka pintu gaib tanpa izin leluhur.
Headline: Puncak Teror di Lorong Sutra
Lebih jauh, suara gesekan sutra dan tawa lirih memenuhi lorong batik. Bayangan bergumpal menyerupai kelelawar besar berkelompok di atas hanggar kain. Sementara itu, lampu neon berkelip seirama pancaran kilat malam. Meskipun panik, mereka berusaha berlari ke pintu keluar pasar. Namun demikian, jalan seakan berubah labirin, kios silih berganti, membuat arah kabur tak jelas. Oleh karenanya, aura kelam pasar beringharjo memerangkap mereka dalam mimpi buruk.
Headline: Pengorbanan Terakhir
Akhirnya, di ruang gudang rempah, mereka menemukan prasasti batu bertuliskan mantra penutup pintu gaib. Meski tulisan luntur, Eko berhasil membaca sebagian: “Sira tutup lawang wengi…” Tanpa menunggu lama, mereka melantunkan bersama sambil membakar semua dupa yang tersisa. Dalam detik terakhir, bayangan mengeras, menghasilkan raungan panjang, lalu menghilang ditelan asap. Kemudian, lorong perlahan kembali normal dan pasarnya sunyi.
Epilog: Fajar dan Luka Psikis
Ketika fajar merekah, pintu besar Pasar Beringharjo terbuka otomatis oleh matahari. Mereka keluar dengan tubuh gemetar dan mata merah, membawa catatan dokumentasi lengkap. Meskipun selamat secara fisik, luka psikis mereka abadi—setiap kali melewati pasar, aura kelam pasar beringharjo masih merembet di indera ketiga. Dengan begitu, kisah ini menjadi pengingat bahwa beberapa warisan gaib lebih baik dibiarkan terkunci rapat.
Teknologi & Digital : Aplikasi Telemedis: Inovasi Pemantauan Kesehatan Mandiri